JANJI JIWO

JANJI JIWO
Kejutan


__ADS_3

"Beneran?!" Ruslan bertanya dengan tubuh hampir terlonjak dari duduknya. Jiwo mengangguk pelan.


Sepulang dari rumah Ifah, Jiwo berakhir di teras rumah kontrakan sahabatnya ini ditemani segelas tinggi kopi hitam dan martabak telur sebagai pengganjal perut.


"Kamu nggak papa?" tanya Ruslan berganti perhatian kepada kelesuan Jiwo.


"Nggak papa. Biasalah, orang habis putus cinta kan emang kayak gini bentukannya." kelakar Jiwo mencoba melucu namun malah membuat Ruslan meringis iba.


"Broken heart fresh from the hell." kikik Ruslan membuat Jiwo menyeringai kesal.


"Ifah nerima gitu aja pas kamu ajak bubar?" tanya Ruslan sambil kembali melihat wajah Jiwo. Dia tahu Jiwo sedang berusaha tampil di depannya dengan raut wajah baik- baik saja agar luka putus cintanya tak terlalu kentara.


"Enggak juga sih. Dia bilang nggak mau putus. Mau nyoba ngomong lagi sama orangtuanya soal lamaran. Telat." kata Jiwo sambil mendengus kesal. Ruslan mengangguk mengerti dengan kekesalan Jiwo itu.


"Kamu sebenarnya tahu nggak sih siapa yang mendekati Ifah selama ini?" tanya Jiwo sambil memicing menatap Ruslan dengan tatapan menyelidik.


Ruslan melirik Jiwo sesaat sebelum mengangguk kecil.


"Sialan! Kenapa nggak bilang sama aku?!" seru Jiwo dengan suara gemas.


Dia tak marah, itu yang yang membuat Jiwo keheranan sendiri. Tahu kabar kekasihnya dulu di dekati oleh orang lain,kenapa nggak kesal ya? Apa karena tahunya setelah mereka putus?


"Yang deketin Ifah banyak. Tapi setahuku dia nggak pernah nanggepin. Aku denger sendiri dari para lelaki itu.Mereka sampai kesal sendiri karena kesulitan mendekati Ifah yang setia sama pacarnya yang di Jakarta." kata Ruslan sambil tersenyum tipis saat melihat kilasan bangga di wajah Jiwo walau sesaat.


Ya,siapa yang nggak berbangga hati memiliki kekasih setia bukan?


Walaupun kenyataannya kini mereka telah berpisah, itu sudah soal lain.


"Yang bikin kamu akhirnya memutuskan untuk berpisah sama Ifah apa sebenarnya?" tanya Ruslan penasaran. Namun saat beradu pandang dengan Jiwo yang menatapnya bimbang, Ruslan kembali meneruskan ucapannya. " Kalau aku boleh tahu sih." katanya sambil tersenyum kikuk. "Kalau kamu nggak mau cerita juga nggak papa." sambungnya.


Jiwo menghembuskan nafasnya berat.


"Aku pikir akan jadi nggak enak ke depannya kalau aku memaksa aku teruskan. Terutama buat ego aku sebagai laki- laki." kata Jiwo memulai bercerita.


"Maksudnya?" tanya Ruslan sambil menggerakkan tubuhnya agar lebih condong ke arah Jiwo.


Tangannya meraih sepotong martabak telur yang tadi jadi buah tangan Jiwo saat berkunjung Sedang oleh- oleh lain khas Jakarta bawaan Jiwo yang lain telah aman di di dalam rumah.


"Ada sekian syarat yang diajukan keluarga Ifah padaku kalau aku akan menikahi Ifah. Untuk beberapa syarat aku pribadi masih bisa mentolelir walau saat aku cerita ke keluargaku, aku lihat mereka sedikit keberatan walau tetap menyerahkan keputusan akhirnya padaku." Jiwo berhenti untuk menarik nafasnya. Sedikit sesak dirasanya di dada. Diliriknya Ruslan yang nampka serius mengangguk- angguk mendengarkannya.


Sesungguhnya dia sangat kepo soal detail syarat- syarat apa saja yang di bilang Jiwo barusan. Tapi dia yakin Jiwo nggak bakalan mau membeberkannya. Karena kalau ingin bercerita, Jiwo pasti langsung gamblang membicarakan itu. Apalagi kalau itu hal yang dianggapnya mempermalukan orang lain.


Memang sebaik itu sahabatnya ini.


"Sekian syarat yang diungkapkan di awal sudah aku setujui. Tapi kok semakin kesini semakin bikin emosi syarat mereka." kata Jiwo sambil menggeleng lelah. Juga sedikit tertawa kesal.


"Syarat apa yang bisa bikin Mas yang penyabar ini sampai emosi?" tanya Ruslan semakin berani menunjukkan wajah keponya.


"Mereka mewajibkan Ibuku sendiri yang harus hadir untuk melamar Ifah secepatnya. Padahal aku sudah bilang kalau Ibuku habis operasi besar dan harus bed rest setidaknya dua bulan. Nggak mungkin diberi ijin dokter untuk perjalanan jauh. Tapi mereka nggak mau tahu." jawab Jiwo dengan nada kesal dan nafas memburu menahan emosi yang seperti langsung tersulut begitu saja saat mengingat bagaimana cara keluarga Ifah mengintimidasinya.


"Ngadi- adi itu sih." kata Ruslan langsung berkomentar.


"Kamu udah coba ajuin sesepuh lain di keluargamu untuk mewakili Ibumu melamar?" tanya Ruslan seperti baru sja diingatkan.


"Udah." jawab Jiwo sambil menatap Ruslan. "Dan mental." Jiwo tersenyum miris.


"Aku kok jadi berpikir kalau kayaknya itu cuma akal- akalan mereka untuk menolakmu secara halus, Wo." kata Ruslan dan nampak langsung menyesal mengatakan itu saat dilihatnya wajah terkejut Jiwo. "Sorry..." kata Ruslan sambil menatap salah tingkah pada Jiwo.


"Bisa jadi. Kayaknya mereka memang sudah punya kandidat yang lebih tajir daripada aku yang cuma karyawan biasa ini." kata Jiwo sambil matanya menatap ke arah Ruslan namun pikirannya mundur ke omongan bapaknya Ifah yang membicarakan seorang pria yang sudah mapan.

__ADS_1


"Kok kamu berpikir begitu?" tanya Ruslan kembali kaget.


"Bapaknya yang tadi bilang sendiri. Kalau ada yang mau melamar Ifah juga. Bahkan jauh lebih mapan dari aku." jawab Jiwo sambil meletakkan punggungnya ke sandaran kursi dengan lemah.


Kembali dia merasakan sedikit nyeri di benaknya. Masih sedikit tak terima dibanding- bandingkan. Apalagi sudah diberitahu kalau posisinya jelas lebih kalah.


Ibarat sudah dipaksa kalah sebelum memulai bertanding.


"Siapa?" tanya Ruslan kepo sekaligus keheranan.


Kayaknya di kantor Ifah nggak ad dekat sama atasan.


Atau kenalan Ifah di luar?


Bisa jadi sih.


"I don' t know." jawab Jiwo sambil mengangkat bahunya.


"Kamu nggak nanya Ifah, lelaki itu siapa?" tanya Ruslan dengan penasaran.


"Enggak. Malas. Udah bukan urusanku juga dia mau sama siapa." jawab Jiwo datar.


"Kok malah aku yang penasaran ya..." gumam Ruslan sambil mengelus dagunya.


"Orang kantor kita bukan ya, Wo?" tanya Ruslan penasaran.


"Kantor kalian. Bukan kantorku." ralat Jiwo cepat.


"Halah. Dulu kan juga kantormu. Gitu aja protes." sahut Ruslan sebel sambil melempar remah martabak yang jatuh saat digigitnya.


"Kepo banget, kayak emak- emak." kekeh Jiwo meledek sahabatnya itu.


Obrolan keduanya terhenti karena suara panggilan dari ponsel Ruslan yang diletakkan di atas meja.


Ada nama IFAH ♥️ JIWO tertera di layar ponsel Ruslan. Jiwo meringis melihat nama itu. Tiba- tiba saja dia ingat dengan sebutan JIWO JAWI di jaman SDnya dulu.


"Assalamualaikum...Hallo, Fah..." Ruslan mengangkat panggilan setelah mendapat kode dari Jiwo.


"...."


"Ada sih tadi kesini." jawab Ruslan sambil menatap Jiwo dan bilang "Nyari kamu." tanpa bersuara. Jiwo menggeleng menolak untuk bicara saat ini.


"Nggak bisa, Fah." kata Ruslan santai


"..."


"Kan aku bilang tadi kesini. Sekarang dia udah nggak lagi." kata Ruslan sambil melirik Jiwo yang tersenyum aneh menurutnya.


"..."


"Oh...mungkin low bat." kata Ruslan sambil menatap Jiwo yang langsung merogoh saku depan celananya dan mengeluarkan ponselnya yang ternyata mati.


"OK, Fah."


"..."


"Nggak papa. Belum tidur ini. Wa'alaikumussalam." Ruslan kemudian kembali meletakkan ponselnya di atas meja.


"Katanya kamu di kirimi pesan, di telpon, nggak diangkat." kata Ruslan sambil menatap Jiwo yang sedang meneguk kopinya yang telah dingin.

__ADS_1


"Biar aja." kata Jiwo santai.


"Kamu nggak mau liat dia ngomong apa?" tanya Ruslan dengan wajah penuh harap.


"Enggak." jawab Jiwo cuek sambil meraih sepotong martabak di meja kemudian mengunyahnya santai.


"Liat aja dulu,Wo. Siapa tahu penting." saran Ruslan.


"Nanti aja. Aku masih malas berurusan sama dia." jawab Jiwo bersikeras.


Ruslan memiringkan sedikit kepalanya karena sudah malas membujuk Jiwo.


"Tega amat sama anak orang kalau udah nggak cinta." gumam Ruslan yang disambut kekehan Jiwo.


"Ya nggak gitu juga maksudnya. Cuma aku sendiri butuh untuk tenang dulu. Biar nggak emosional ngadepin semuanya." jelas Jiwo yang mendapat anggukan mengerti oleh Ruslan.


Keduanya masih sedikit berbincang sebelum akhirnya Jiwo pamit kembali ke penginapannya nyaris tengah malam.


Tawaran Ruslan untuk menginap saja di rumahnya tak di terima oleh Jiwo.


Malam ini dia butuh sendirian untuk secepatnya membenahi hatinya.


Dia tidak ingin berlama- lama terpaku pada kekecewaan karena gagalnya kisah cintanya.


Malam ini dia ingin membereskan perasaannya. Mengemas semua kenangan dan harapan yang pernah tercipta, kemudian menjauhkannya sejauh mungkin dari angan dan harapannya atas masa depan...


Ifah kini tak beda dengan Witri yang harus jadi sejarah untuknya meski tetap saja berbeda cara dia menempatkannya di sudut kenangan.


Jiwo baru dua jam terlelap saat di dengarnya panggilan dari ponsel.


Sekali dua kali dia abaikan. Namun di panggilan ketiga dia akhirnya menyerah dan dengan malas meraih ponsel di nakas. Ada nama Ruslan disana.


"Ngapain subuh- subuh gini dia nelpon? Iseng banget sih." gumam Jiwo kesal kemudian mengangkat panggilan itu.


"Assalamualaikum...Ada apa pagi buta gini ganggu orang tidur?" sapa Jiwo dengan mata setengah terpejam


"Wa'alaikumussalam... Alhamdulillah ya Allah ..Akhirnya diangkat juga!" seru Ruslan dengan nada lega.


Jiwo sampai harus menjauhkan ponselnya dari telinga mwndwngar kehebohan di sambungan telpon.


"Ada apa sih happy banget gitu?" tanya Jiwo keheranan.


"Kamu segera ke rumah sakit MITRA SEHAT Wo!" seru Ruslan tanpa basa- basi.


Jiwo mendudukkan dirinya dengan cepat.


"Ngapain? Siapa yang sakit?"tanya Jiwo kebingungan.


""Ifah masuk rumah sakit." kata Ruslan to the point.


"HAH?!"


"Masuk ICU tadi."


"Jangan becanda, Rus!" seru Jiwo kesal.


"Dia mau bunuh diri."


"WHAT???!!!" Jiwo langsung meloncat dari ranjangnya.

__ADS_1


Apa- apaan ini?!


...💧💧b e r s a m b u n g 💧💧...


__ADS_2