JANJI JIWO

JANJI JIWO
Menuju


__ADS_3

"Mau kemana lagi, Mas?" tanya Wildan yang melintasi kamar Jiwo - melihat pintu kamarnya terbuka kemudian iseng melongok- mendapati Jiwo tengah memasukkan beberapa potong baju ke dalam travel bag nya.


"Mau ke Aceh." jawab Jiwo tanpa menoleh ke arah adiknya.


"Kapan?" tanya Wildan sambil duduk di kursi kerja Jiwo.


"Nanti. Jam delapan aku berangkat." jawab Jiwo sambil menutup tasnya dengan tersenyum.


"Halaaaah...Baru sampai rumah dinihari tadi, merem berapa jam, udah mau terbang lagi?! Sibuk amat hidupmu, Mas. Baru musim kampanye, Pak?" ledek Wildan sambil menggeleng- gelengkan kepala. Jiwo hanya tersenyum kecil.


"Kenapa nggak sekalian dari Jepang turunnya di Aceh aja?" sungut Wildan bergaya merajuk.


"Emang ada pesawat jurusan Tokyo- Banda Aceh?" tanya Jiwo penasaran.


"Meneketehek! Seumur hidup aku naik pesawat baru dua kali doang. Itu juga jurusannya sama, Jakarta- Jogja, kelas ekonomi pula." jawab Wildan sambil melirik Jiwo sadis yang malah membuat Jiwo tertawa ngakak.


"Curcol, Mas?" ledek Jiwo.


"Nggak! Nyindir!" jawab Wildan ketus. Jiwo masih terkikik geli.


"Berapa hari di Aceh?" tanya Wildan kemudian.


"Dua hari. Paling lama tiga hari. Bonus liburku cuma tiga hari." jawab Jiwo santai.


"Ke Aceh mau liburan?! Ya Allah...tega banget sih sama adiknya..." seru Wildan dengan nada merengek.


"Bukan liburan, Daaaan. Aku memanfaatkan bonus liburanku buat mengurusi urusan pribadiku." sahut Jiwo sambil ngeloyor keluar kamar menuju sarapannya. Wildan tadi sudah mencegat abang lontong opor keliling buat beli sarapan mereka.


"Liburan kan juga urusan pribadi." sungut Wildan masih dengan wajah kesal.


"Ini lebih penting dari liburan. Ini urusan masa depan." sahut Jiwo sambil tersenyum manis. Wajahnya bahkan terlihat sedikit tersipu, membuat Wildan keheranan.


Apa kakaknya ini sedang jatuh cinta?


"Ke rumah gebetan?" tebak Wildan.


"Atau...calon istri?" sambungnya.


"Doakan saja. Semoga aku pulang membawa hasil yang baik. Kalau aku pulang dengan hasil baik, liburan besok kalau mau mudik kubeliin tiket bisnis." janji Jiwo.


"Tiket pesawat?! Beneran?!" seru Wildan bahkan sampai berdiri dari duduknya saking senangnya.


"Tiket odong- odong." jawab Jiwo santai yang membuat Wildan langsung lemah lunglai.


"Nyebai ( nyebelin)" gumam Wildan semakin cemberut.


"Kereta api nggak papa, Mas. Tapi yang eksekutif." tawar Wildan dengan wajah yang masih penuh harap.


"Dua hari ini kencangkan saja mendoakan Masmu ini agar misinya berhasil, biar impianmu itu terwujud." sahut Jiwo yang sudah ada di dapur.


"Siyaaap!!!" jawab Wildan penuh semangat.


Terserah nanti mau dibeliin tiket pesawat kelas bisnis atau tiket kereta kelas eksekutif, yang penting pulangnya ke Jogja besok moda transportasinya naik kelas dari sebelumnya,. hihihi....

__ADS_1


Tapi memangnya Mas Jiwo mau ada acara apa ke Aceh? Acara pribadi pula...


Setengah terkejut Wildan bergegas menyusul Jiwo ke dapur.


"Mas mau nembak cewek ya?" tanya Wildan sambil menatap Jiwo yang tengah menghabiskan minumannya.


"Pokoknya soal masa depan." jawab Jiwo tetap tak mau mengaku.


"Urusan cinta?" kejar Wildan tetap penasaran.


"Ehmmm..." Jiwo sejenak berpikir sebelum menjawab "Ya. Soal cinta." sambil tersenyum.


"Teman kerja?" tanya Wildan lagi. Jiwo menggeleng kemudian meninggalkan Wildan yang ternyata masih mengikutinya.


"Kalau bukan teman kerja, trus teman apa? Teman main? Emang Mas pernah main?" ledek Wildan.


"Teman jaman masih piyik ( anak burung merpati, bahasa Jawa kiasan yang artinya kecil/ ingusan) dulu." kekeh Jiwo.


"Temen sekolah?!" tanya Wildan kian penasaran.


"Kepo ya kamu lama- lama!" seru Jiwo yang membuat Wildan meringis.


"Pasti korban WAG alumni sekolah nih. Yakin aku...CLBK..." gumam Wildan sambil mengelus-elus dagunya seolah tak ada orang disitu.


"Ngawur!" sahut Jiwo sambil ngeloyor masuk ke kamarnya. Dia harus segera mandi dan berangkat ke bandara.


"Aku berangkat ya, Dan. Doakan misiku ini berhasil." pamit Jiwo pada Wildan yang kini sedang mejeng di taman depan sambil berjemur bersama kucingnya.


"Aku doakan,Mas. Tapi akan lebih afdol doanya kalau aku tahu siapa nama yang harus aku doakan jadi jodohmu." rayu Wildan coba menjebak kakaknya.


"Wa' alaikumsalam...Ati- ati!" seru Wildan sambil melambai.


Begitu Jiwo berlalu, Wildan yang masih kepo maksimal bergegas menelpon Mbak Rini. Dia yakin kakak tertuanya itu tahu sesuatu tentang cinta masa lalu Jiwo, secara selama ini dia tahu Jiwo sangat dekat dengan kakak pertamanya itu.


Sayangnya hasil yang dia dapat tak sesuai ekspektasinya.


Mbak Rini hanya tahu satu nama cewek di masa kecil Jiwo, yaitu Jawitri. Tapi kata Mbak Rini, Mbak Jawitri ini sudah menikah beberapa tahun lalu dan bikin Masnya patah hati parah.


Wildan mengerutkan keningnya.


Masak iya Masnya mau ngejar istri orang? Rasanya nggak mungkin banget kalau ngeliat kepribadian Masnya yang sangat tahu adab.


Berarti ada cewek lain yang disembunyikan Masnya dari semua orang Hmmm, bikin pinisirin aja...


Tangan gatalnya kemudian mengulik ponselnya lagi, mencari nomer telpon bernama Mas Lukman. Wildan yakin sahabat Masnya ini pasti tahu sesuatu dengan yang dilakukan Masnya hari ini.


Wildan menggoyang- goyangkan kakinya gelisah karena tak sabar menunggu panggilan telponnya di angkat. Empat kali dering, baru di angkat namun langsung membuat Wildan harus segera menutupnya kembali karena Mas Lukman bilang sedang repot ngurusin mertuanya masuk rumah sakit. Tapi Mas Lukman akan menelponnya balik kalau sudah nggak sibuk.


Dan agenda nggak sibuknya Mas Lukman ibarat menunggu hujan di musim kemarau. Akan sampai garing nunggunya.


"Andai saja aku punya kemampuan teleportasi ( berpindah tempat dalam waktu singkat) plus punya jubahnya Harry Potter ( yang konon bisa bikin yang memakainya nggak keliatan), pasti aku nggak perlu penasaran begini. Aku bisa ngikutin Mas Jiwo kemanapun dia, ketemu siapa dia nanti. Dan yang pasti, aku nggak perlu keliatan dan nggak perlu beli tiket." gumam Wildan dengan wajah kesal karena penasaran.


...🍁🍁🍁🍁...

__ADS_1


Begitu pesawat take off, debaran di jantung Jiwo terasa kembali berdetak dengan kecepatan di atas normal.


Saat ini dia akan ada di udara sekitar tiga jam untuk sampai di Tanah Rencong. Bumi Cut Nyak Dien yang sedang menjaga kekasih hatinya.


Jiwo tersenyum miris dan juga malu hati. Merasa terlalu tega pada almarhum Hari karena begitu lancang mengakui Witri sebagai kekasih hatinya. Walau hanyalah dia sendiri yang tahu, Jiwo merasa kurang ajar juga.


Maafkan Saya ya,Mas...Bukan bermaksud lancang apalagi kurang ajar dan nggak menghargai Panjenengan. Saya hanya merasa sekarang semesta sedang memberi kesempatan Saya untuk meneruskan kewajiban Panjenengan menjaga Witri. Semoga Saya adalah jodoh selanjutnya buat Witri.


Dengan segala hormat Saya ingin mengambil alih tanggung jawab Panjenengan atas dia setelah ini. Akan meneruskan kebahagiaan yang pernah Panjenengan berikan padanya dan akan berusaha menambah kebahagiaan itu sekuat tenaga Saya.


Terimakasih sudah menjaga dan membahagiakan dia beberapa tahun ini. Dan kini Panjenengan sudah harus kembali beristirahat. Beristirahatlah dengan tenang.


Berbincang begitu panjang sendirian di dalam hati seolah ada Hari di sampingnya. Mengingat selekat mungkin sosok suami Witri yang hanya pernah ditemuinya sekali saja, namun dia sangat ingat wajah dan kegagahan pria itu. Dan sungguh, dia sangat menghargai pria itu. Dia bahkan telah benar- benar sangat rela dan lega melepaskan Witri dari hatinya setelah dia bertemu dan berbincang dengan Hari. Dia sangat yakin Hari adalah sosok yang sangat baik dan nggak mungkin akan membuat Witri menyesal karena memilihnya.


Karena itu Jiwo merasa ikut sangat sedih saat mendengar kepergian Hari. Itu berarti Witri kehilangan sumber kebahagiaannya.


Menginjakkan kakinya untuk pertama kali di tanah yang sama dengan perempuan yang membuatnya sampai disini, Jiwo merasakan hatinya berdesir sendu, rindu, juga pilu.


Hari masih siang, dan dia meminta taksi yang membawanya dari bandara untuk mengantarnya ke hotel yang telah dia reservasi sebelumnya. Sengaja dia mencari penginapan yang paling dekat dari kantor Witri. Dan hotel ini adalah tempat terdekat.


Jangan heran kalau Jiwo tahu dimana alamat kantor Witri. Siapa lagi sumber informasinya kalau bukan keluwesan istri Lukman mencari info baik ke Witri langsung maupun ke teman- temannya. Dan setelah dia check dan recheck soal kebenaran kantor tersebut, memang benar adanya. Ternyata Witri bekerja di kantor perusahaan batu bara juga. Sungguh kebetulan yang menyenangkan.


Sesampainya di hotel, Jiwo masih sempat memejamkan matanya untuk membayar hutang kurang tidurnya sebelum jam setengah empat sore dia kembali bangun untuk menjalankan kewajiban asharnya, kemudian mandi dan bersiap meluncur ke kantor Witri yang menurut ponsel bisa dicapai dalam waktu kurang dari dua puluh menit dari hotelnya.


Untuk mengantisipasi kemungkinan kemacetan di jalan, Jiwo memutuskan untuk berangkat jam setengah lima menuju kantor Witri.


Dari sepanjang bersiap tadi debaran di hati Jiwo tak pernah benar. Kalau tidak bertalu- talu, ya berdebar seperti kena goncangan tsunami, kacau balau.


Apalagi saat mobil yang disewanya dari hotel mendekati lokasi kantor Witri.


Berbagai dugaan kemungkinan bagaimana reaksi Witri nanti saat melihat dirinya yang sejak tadi berusaha dia singkirkan, sekarang seakan sudah tak mampu lagi ditenangkan.


Tapi Jiwo sudah meneguhkan hati. Apapun nanti reaksi Witri, yang penting ketemu dulu. Menunaikan niatnya untuk bertemu Witri. Itu saja.


Apalagi dia juga harus menghargai semangat dan bantuan Lukman dan istrinya. Dia harus total saat ini. Masalah hasil, itu akan muncul setelah kita berupaya maksimal. Apapun hasilnya dari upaya maksimal itu, pasti adalah hasil yang terbaik buat kita.


Jiwo menepikan mobil di pinggir jalan, tak jauh dari gerbang. Jam pulang kantor masih dua belas menit lagi.


Untuk meyakinkan dirinya sekali lagi kalau tujuannya benar dan yang dicarinya benar, dia memilih untuk bertanya kepada satpam.


Seorang satpam muda nampak ramah menyambut kedatangannya.


"Selamat sore, Pak. Ada yang bisa kami bantu?" tanya satpam itu dengan sopan saat Jiwo sudah berada di depan kaca pos satpam.


"Sore...Saya mau tanya, Mas... Apakah benar ibu Jawitri kerja disini?" tanya Jiwo sambil menunjukkan photo yang beberapa hari lalu Lukman kirimkan.


Satpam itu sejenak melihat ke arah ponsel Jiwo dan kemudian mengangguk sambil menatap menyelidik ke arah Jiwo. Jiwo yang mengerti kalau tengah ditatap segera beralibi.


"Saya dari Jawa sengaja ingin bertemu Bu Jawitri. Kebetulan pas suami beliau meninggal, Saya sedang ada kerjaan ke Jepang, jadi belum bisa mengucapkan turut belasungkawa secara langsung." begitu dalih Jiwo.


"Baik, Pak, nanti saya sampaikan ke Ibu Witri kalau ada kenalan yang nunggu diluar." kata satpam itu.


"Baik, terimakasih sebelumya " balas Jiwo sebelum beranjak menjauhi kantor satpam.

__ADS_1


Hanya tinggal menunggu dalam hitungan menit, dan detak jantungnya kian tak karuan membayangkan apa yang akan terjadi nanti.


...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...


__ADS_2