JANJI JIWO

JANJI JIWO
Panggilan Mendadak


__ADS_3

Berhenti di halaman mungil sebuah rumah mungil namun terlihat bersih dan adem karena pot bunga yang bergelantungan di sepanjang bibir teras. Pot- pot ukuran kecil yang panjangnya tali dibuat bergelombang itu malah berkesan seperti tirai. Cantik dilihat.


"Selamat datang di kontrakanku." kata Witri sebelum keluar dari mobil.


Tepat saat kaki Jiwo memijak tanah, matanya yang memang tak lepas dari pintu rumah yang sudah terbuka bisa menangkap kehadiran mamak Witri yang menatap penuh keharuan ke arah Jiwo. Bahkan Witri yang tengah mencium punggung tangannya seolah sedikit terabaikan.


Jiwo mengulas senyum tulusnya. Entah mengapa, setiap melihat Mamak Witri, dia langsung teringat ibunya. Pun saat melihat ibunya, orang yang sama akan muncul di kepalanya.


"Assalamualaikum, Bulik." sapa Jiwo sambil tersenyum senang dan mengulurkan tangannya.


"Wa'alaikumussalam...Ya Allah...nggak nyangka kamu sampai sini, Le ..." kata Mamak sambil setengah memeluk Jiwo yang tersenyum senang.


"Alhamdulillah masih ada kesempatan, Bulik. Bisa ketemu Bulik lagi. Apa kabar, Bulik? Sehat selalu kan?" tanya Jiwo sambil mengikuti langkah Mamak yang belum juga melepaskan pegangan tangannya di lengan Jiwo.


Witri menatap sedikit keheranan pada perlakuan Mamak pada Jiwo. Seingatnya dulu, dengan Hari saja Mamak nggak berlaku sedekat itu.


"Ayo duduk dulu." kata Mamak sambil mengarahkan tubuh Jiwo untuk duduk di kursi yang dipilihnya. Jiwo menurut saja dengan senang hati.


Ah sungguh, hati Jiwo senang bukan kepalang mendapat sambutan sehangat ini. Kebahagiaan yang dia rasakan dengan pertemuannya dengan Witri saja masih terasa memenuhi hatinya. Ditambah lagi dengan sambutan yang sama menyenangkannya oleh mamaknya Witri. Kebahagiaannya terasa bertumpuk- tumpuk di hatinya.


"Aku tinggal dulu nggak papa kan? Nggak keburu pulang kan? Mau mandi sekalian soalnya." kata Witri di depan pintu penghubung menuju ruang dalam.


"Monggo kalau mau mandi dulu. Biar tenang ngobrolnya nanti." kata Jiwo sambil tersenyum.


"Tolong bawa keluar dulu minumannya, Wit. Mamak barusan bikin minum buat kita." pinta Mamak tanpa beranjak dari depan Jiwo. Witri bergegas masuk ke dapur dan sudah mendapati tiga gelas teh manis yang masih mengepul asapnya. Berarti kemungkinan saat dia datang tadi Mamak sedang membuat minum ini lalu bergegas ke depan untuk menyambut kedatangan Jiwo.


"Ayo diminum dulu..." kata Mamak ramah sambil menurunkan gelas dari nampan ke depan Jiwo


"Makasih,Bulik." jawab Jiwo dengan senang.


Witri bergegas ke dalam untuk mandi ala kadarnya. Sekedar meluruhkan keringat yang menempel di tubuhnya agar mendapatkan kesegaran.


Setelah memakai baju yang lebih santai dan longgar, Witri kembali menemui Jiwo dan Mamak yang nampak asik berbincang.


"Ngomongin aku ya?" tebak Witri curiga sambil beranjak duduk di samping Mamak.


"Enggak. Mamak nanya soal ibunya Jiwo aja." jawab Mamak sambil tersenyum.


"Nanya kemarin ketemu salju enggak pas di Jepang." sambung Mamak malu- malu.


"Ketemu?" tanya Witri sambil menatap Jiwo.


"Enggak." jawab Jiwo sambil tersenyum. "Lagi musim semi disana." lanjutnya.


"Kalau musim salju adanya di bulan Desember sampai Februari biasanya ya? Bener nggak sih?" tanya Witri nggak yakin.


"Betul." jawab Jiwo sambil tersenyum.


Ketiganya menghabiskan senja dengan lebih banyak menginterogasi Jiwo soal segala sesuatu soal Jepang karena Jiwo sudah beberapa kali pergi kesana.


Hingga adzan magrib berkumandang dari masjid di ujung gang rumah Witri.


"Aku ke masjid dulu ya." pamit Jiwo begitu adzan selesai berkumandang.


Mamak dan Witri sendiri memilih berjamaah di rumah saja.


"Dia sengaja kesini buat ketemu kamu?" tanya Mamak dengan tatapan penasaran saat mereka menyiapkan makan malam seusai sholat magrib. Jiwo sendiri belum kembali dari masjid.


"Enggak tahu. Tahu- tahu dia udah nunggu aku di depan kantor. Kata satpam udah lama nunggu tadi." jawab Witri santai.


Mamak kembali diam walau Witri tahu beliau sedang menyimpan sebuah dugaan. Tapi Witri tak terlalu memikirkan itu.

__ADS_1


"Mamak tadi udah minta maaf soal yang lalu. Soal nomer telpon dia yang dulu nggak sempat sampai ke kamu karena kebakar oleh simbok." kata Mamak lagi.


Witri mengangguk tak terlalu perduli. Toh itu sudah lama berlalu. Semua hanya sebagian takdir yang harus mereka jalani dan semua telah terlewati dengan semestinya. Begitu menurut Witri.


Jiwo pamit pulang seusai menuruti keinginan Mamak untuk menikmati makan malam masakan Mamak dan acara makan malam usai pas saat adzan isya' berkumandang.


"Terimakasih banyak, Bulik, Saya sudah diterima dengan baik dan sehangat ini. Untung rumah saya jauh." Jiwo menahan senyumnya. " Kalau rumah saya dekat, saya rela tiap hari kesini buat numpang makan." lanjut Jiwo yang mendapat tepukan pelan di lengannya oleh Mamak yang terkekeh.


Witri melihat keanehan disini. Kenapa Mamak bisa begitu hangat dan sangat menerima Jiwo dengan tangan terbuka? Seolah tak ada sekat sama sekali di antara keduanya.


Apakah itu semua mamak lakukan sebagai 'penebusan dosa' di masa lalu pada Jiwo? Padahal menurut Witri itu juga nggak perlu.


semua sudah berlalu. Dan masing- masing sudah menemukan jalan takdirnya sendiri- sendiri.


Malam itu diakhiri Witri dengan membaca pesan singkat dari Jiwo yang mengabari kalau dia sudah sampai hotel tempatnya menginap kemudian mengucapkan selamat tidur padanya. Witri hanya membalasnya singkat, makasih. Nggak ada buntutnya apapun.


...🍁🍁🍁🍁...


Jiwo berulangkali menoleh ke samping dimana ponselnya dia letakkan di atas bantal di samping kepalanya. Setengah jam sudah berlalu dari jawaban singkat Witri dan dia masih berharap akan ada lagi pesan yang masuk menyusul pesan berbunyi makasih dari Witri tadi.


"Benar- benar short message." gumam Jiwo sambil meringis keki. Dibenamkannya wajahnya ke atas bantal yang seolah ada wajah Witri disana. Memenuhi pandangan di benaknya.


Pertemuan hari ini jelas jauh dari ekspektasinya.


Semula dia pikir pertemuannya kembali dengan Witri akan di warnai dengan haru biru tangisan terharu atau rona merah tersipu malu, atau bahkan hati biru karena tak diindahkan kedatangannya.


Namun yang tadi ditemuinya adalah suasana 'penyambutan' yang sangat nyaman sejak awal bertemu walau tentu saja hatinya masih ketar- ketir dan bingung bakal gimana- Gana selanjutnya.


Namun semua hal yang dia khawatirkan tak terjadi sedikitpun.


Pertemuannya dengan Mamak bahkan langsung memberinya jawaban atas apa yang terjadi sekian tahun ke belakang mengapa tak ada kabar dari Witri. Mamak bahkan meminta maaf karena membuat semua kenyataan setelah itu menyulitkan untuk Jiwo dan Witri.


Satu hal yang sangat berarti hari ini bagi Jiwo adalah, dia sudah berhasil memberi sinyal kepada Mamak soal perasaannya pada Witri belum berubah. Dan dia yakin Mamak meng terserah erti soal itu.


Seandainya saja pantas, dia ingin langsung melamar Witri tadi...Tapi dia nggak akan segila itu juga kan?


Setidaknya dia sudah kembali matur ( bicara, bahasa Jawa halus) pada Mamak tadi kalau nantinya dia akan kembali mendekati Witri. Dan Mamak nggak menunjukkan keberatannya. Beliau hanya bilang kalau itu nanti terserah bagaimana hasil dari Jiwo mendekati Witri saja. Mamak nggak akan melarang. Beliau hanya meminta agar dalam rencananya itu Jiwo tetap mengingat dan menghargai keberadaan almarhum Hari dan juga keluarganya. Dan Jiwo tentu saja setuju dengan hal itu.


Besok pagi rencananya Jiwo akan datang ke rumah Witri pagi- pagi agar bisa menjemput dan mengantar Witri kerja.


Namun sayangnya rencana yang sedang dia angankan di kepala harus berantakan karena sebuah email dari perusahaan yang baru saja masuk.


Edan, email kerjaan jam segini...


Dan kepala Jiwo langsung nyut- nyutan saat membaca isi email yang memintanya untuk ke kantor besok pagi.


"Apa- apaan ini?!" seru Jiwo tak percaya sambil menatap kesal ponselnya.


"Aku kan harusnya menikmati bonus liburanku!" dengus Jiwo dengan wajah yang tak percaya.


Bergegas dia membalas email tersebut dengan mengatakan kalau di sedang ada di Aceh dalam rangka menikmati bonus liburannya.


Tak lama ponselnya berbunyi. Ada nama Martin.


"Hallo..." sapa Jiwo lemah. Terdengar kekehan meledek dari Martin.


"Lu dapat panggilan ke kantor juga, Wo? Lemes gitu suaranya..." tanya Martin menebak.


"Iya. Gimana sih? Katanya dapat bonus libur. Aku lagi jauh dari rumah ini." keluh Jiwo kesal.


"Samalah! Gue baru sore tadi masuk rumah. An jrit emang!" umpat Martin kesal.

__ADS_1


"Kamu mudik?" tanya Jiwo sambil beranjak duduk setelah sedari tadi berkacak pinggang di samping ranjang.


"Iya. Lu mudik juga?" tanya Martin.


"Enggak. Aku baru siang tadi sampai Aceh." jawab Jiwo lirih.


"WHAT?? Ngapain lu main jauh amat?! Tahu jalan pulang nggak ntar tuh?" ledek Martin.


"Besok gimana nih kita? Tetep harus ke kantor?" tanya Jiwo bingung.


"Ya iyalah! Secara big boss yang manggil. Tapi karena tahu kita lagi jauh, beliau mau ketemu kita sore. Katanya beliau nunggu kita. Jadi begitu kaki lu nginjak bandara, langsung ke kantor lu." kata Martin dengan bossy nya.


"Kok kamu tahu?" tanya Jiwo keheranan.


"Gue telponan sama lu sambil chatting sama Pak Boss." jawab Martin sambil terkikik.


"Tunggu! Yang mau ketemu kita Pak Boss Demian? Kirain Big Boss." kata Jiwo sedikit lega.


"Emang Big Boss cuy! Makanya gue konsultasi sama Pak Boss gimana dengan kondisi kita kek gini.Pak Boss terus nego sama asistennya Big Boss, makanya kita harus besok sore ada di kantor." terang Martin.


Deg!


Big Boss kenapa mau ketemu sama mereka? Beliau kan orang yang nggak bisa di temui sembarang orang. Bahkan karyawan yang sudah bekerja di kantor bertahun- tahun pun belum tentu bisa bertemu beliau.


"Kita bikin salah gede ya kemarin, Tin?" tanya Jiwo dengan suara penasaran dan khawatir.


"Kagak ah! Lu kan tau sendiri kita sukses besar. Makanya kita bertiga dikasih bonus libur tiga hari yang akhirnya disunat inih! Besok aku harus menuntut ganti rugi soal bonus liburan batal ini!" sungut Martin mengebu- gebu.


"Eh, betewe, lu ngapain ke Aceh?" tanya Martin mulai kepo setelah mereka hahahihi gembira karena barusan mendapat kiriman tiket dari perusahaan untuk pulang ke Jakarta besok.


"Ada perlu lah." jawab Jiwo berahasia.


"Lamaran lu ya?" tebak Martin.


"Enggak. Ketemu sama seseorang aja." jawab Jiwo sambil menyunggingkan senyum.


"Cewek lu?" tebak Martin antusias.


"Kepo! Udah tidur! Besok harus bangun pagi aku. Bye!" pungkas Jiwo langsung menutup panggilan telpon.


Alih- alih terus memejamkan mata, Jiwo malah makin gelisah. Semua rencananya disini bubar gegara panggilan mendadak ini.


"Kenapa gini siiiih?" gumam Jiwo kesal sambil mengacak- acak rambutnya.


Dilihatnya jam tangannya. Jam sebelas malam lebih. Witri mungkin sudah tidur.


Besok dia harus pergi pagi- pagi menuju bandara. Masak iya dia pergi gitu aja.


Setelah menimbang beberapa saat, akhirnya Jiwo mengetik beberapa kata untuk Witri. Tak apa tak langsung terbaca. Setidaknya dia nggak pergi gitu aja.


Rasanya baru sekejap dia tertidur. Namun getaran ponsel yang ada di samping kepalanya membangunkannya.


Dengan menyipitkan matanya, Jiwo menatap layar ponselnya. Dan wajah bangun tidurnya langsung segar bugar begitu melihat balasan dari Witri atas pesannya semalam.


📩 Hope: wah, padahal Mamak mau ngundang kamu buat sarapan lhoh 😄 Tapi ya udah gpp...namanya juga tugas...selamat kembali ke dunia nyata kalau gitu ya...😄 makasih udah menyempatkan waktu menemuiku dan Mamak...🙏


Jiwo bergegas bangun untuk sholat subuh kemudian setengah tergesa meninggalkan kamarnya untuk menuju ke satu tempat di subuh yang belum memunculkan matahari itu.


Dia harus kesana sebelum meninggalkan Aceh.


...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...

__ADS_1


__ADS_2