
Hampir tiga jam kemudian jenazah Hari baru bisa keluar dari rumah sakit karena harus menunggu antrean ambulance yang tengah digunakan.
Tak ada Isak tangis Witri sedikitpun sejak suaminya menghembuskan nafas terakhirnya hingga kini mereka ada di ambulance yang sama.
Witri memeluk erat keranda berisi jenazah suaminya tanpa bersuara sedikitpun.
Hatinya kosong. begitu pun pikirannya.
Dia sangat ingin menangis, namun airmata seolah lupa bagaimana caranya tercipta. Menyisakan sesak di dada yang tak terkira.
Nadi menatap pilu sepasang suami istri yang telah berbeda alam itu.
Airmata yang sedari tadi terbit tak mau berhenti seolah mewakili kesedihan yang dia tahu pasti tengah menghantam benak Witri.
Dia harus sering mendongak dan berpaling agar airmata yang menetes tak langsung terlihat oleh Witri atau sopir ambulance yang sesekali di tangkapnya melihat spion tengah.
Tiba di asrama, jenazah Hari langsung di sambut dengan suara tahlil dan deraian airmata para wanita penghuni asrama.
Apalagi saat melihat Witri yang berwajah tanpa ekspresi, iba hati mereka semakin menjadi.
Setelah di sucikan dan disholatkan oleh hampir seluruh penghuni asrama dan juga teman- temannya yang datang melayat, jenazah Hari di semayamkan di teras masjid.
Memang seperti itu kebiasaan di asrama ini. Bila ada yang meninggal, maka jenazah akan disemayamkan di masjid.
Dengan di bujuk berkali- kali oleh Teh Lilis akhirnya Witri mau sebentar pergi dari samping jenazah suaminya untuk pulang, mandi dan menyiapkan segala sesuatu untuk siang nanti terbang ke Jawa.
Ya, Hari akan dimakamkan di tanah kelahirannya.
Pak Nadi dan Pak Zulkarnain bahu- membahu menyiapkan semuanya di bantu oleh Pak Ikhsan dan istrinya serta Teh Lilis.
Kedua wanita tetangga terdekat Witri itu tak pernah jauh dari Witri. Khawatir Witri nanti tiba- tiba jatuh pingsan.
"Perutmu nanti di bebat yang kencang ya, Wit. Biar anakmu nyaman dan aman." kata Bu Ikhsan saat Witri selesai mandi dan ditunggui Bu Ikhsan di depan pintu kamar mandi yang dibiarkan sedikit terbuka semata agar pergerakan Witri bisa selalu diintip oleh Bu Ikhsan.
"Iya. Pakai selendang kecil nggak papa?" tanya Witri dengan wajah hampa.
"Iya, nggak papa." jawab Bu Ikhsan sambil mengikuti Witri memasuki kamar.
Hati Bu Ikhsan berdenyut sedih saat melihat photo setengah badan Hari dengan pakaian seragamnya.
Secepat ini kamu pulang, Har...
"Punya selendangnya? Kalau nggak ada aku ambilkan dulu ke rumah." kata Bu Ikhsan saat dilihatnya Witri sedikit mengaduk satu sisi lemarinya.
"Ada. Mas Hari suka pakai buat membebat kakinya." jawab Witri yang sudah mendapatkan apa yang dia cari.
Tanpa bersuara dia membebat area perutnya sampai ke bawah pusar dengan selendang itu dengan erat namun masih nyaman buatnya.
Kamu harus kuat ya, Sa...Temenin Mama...Kita antar Ayah pulang ke rumah Eyang hari ini, gumam batin Witri dengan hati hampa.
__ADS_1
"Semua perlengkapan kamu tadi udah disiapin Lilis di koper itu. Coba kamu cek lagi kurang apa yang ingin kamu bawa." kata Bu Ikhsan sambil menunjuk koper besar yang masih tergeletak dan belum terkunci di samping pintu.
Witri mengangguk kemudian membuka koper itu. Melihat asal isi koper. Yang penting ada baju panjang,kerudung, dan dalaman.
Baju Hari!
Baju Hari belum ada yang masuk.
Witri bergegas menuju lemari tempat pakaian Hari tersimpan dan mengambil beberapa stel baju Hari kemudian menjejalkan baju itu di koper.
Bu Ikhsan menahan tangisnya sambil mendekat.
"Nggak usah banyak- banyak bawa bajunya Hari, Wit. Satu atau dua aja yang kamu suka." kata Bu Ikhsan lembut.
"Iya." jawab Witri tanpa menoleh apalagi mendebat.
Dia kemudian hanya mengambil sepotong kemeja kesayangan Hari, satu kaos oblong yang menurutnya Hari sangat keren saat memakainya, satu jaket parka, dan satu sarung yang terakhir digunakan Hari untuk sholat.
Dengan hati- hati dia memeluk dan menciumi semuanya dengan lembut sebelum memasukkan ke dalam koper dengan sangat hati- hati, seolah baju- baju itu barang yang sangat rapuh dan mudah hancur.
Teh Lilis yang baru saja menyusul masuk hanya mampu ikut meneteskan airmata bersama Bu Ikhsan tanpa bisa berkata apapun melihat apa yang tengah dilakukan Witri tanpa suara sedikitpun itu.
"Sudah?" tanya Teh Lilis saat Witri selesai menutup koper dan mendirikan koper itu.
"Sudah, Teh." jawab Witri sambil sedikit tersenyum.
"Teman- teman kantormu datang pengen ketemu kamu. Kita bisa ke masjid sekarang?" tanya Teh Lilis sambil tersenyum walau matanya masih berkaca- kaca.
Sambil mengembangkan senyum di sela wajah pucatnya,Witri meraih phigura photo itu kemudian memeluknya.
"Aku harus bawa ini. Kasihan kalau ditinggal." kata Witri bergumam sambil mendekap phigura ke dadanya.
Tangis Bu Ikhsan dan Teh Lilis kembali pecah.
Keduanya mengapit lengan Witri dan menuntunnya kembali ke masjid.
Kedatangan Witri disambut pelukan dan isakan teman- teman kerjanya tanpa ada yang mampu berbicara.
Mereka sangat iba melihat Witri yang masih nampak sedikit kebingungan dengan situasi yang terjadi.
Kalau saja mereka mendapati Witri tengah menangis tersedu- sedu mungkin malah mereka akan mengerti dan menganggap wajar.
Namun melihat wajah kebingungan Witri tanpa ada airmata yang bisa hadir membuat mereka tahu seberapa terguncangnya jiwa Witri saat ini.
"Nggak mau nangis sejak dari rumah sakit tadi." kata Bu Ikhsan pada Kak Berli yang duduk di sebelah Witri yang hanya mengarahkan pandangannya ke keranda di depan sana.
"Kamu kalau sedih, nangis aja,Wit. Nggak papa nangis, biar lega. Jangan ditahan, nanti dadamu sakit." kata Kak Berli sambil memeluk lengan Witri yang hanya mengangguk entah mengerti atau tidak dengan apa yang barusan di ucapkan Kak Berli.
"Dadaku nggak sakit. Dada Mas Hari yang sakit. Sakit sekali sampai dia nggak kuat lagi. Aku nggak tega liatnya tadi." kata Witri sambil menunduk dan me re mas tangannya sendiri.
__ADS_1
Terbayang kembali tatapan terakhir Hari padanya.
"Aku nggak tega Kak liat dia susah bernafas. Sekuat tenaga bernafas. Sakit sekali disini." gumam Witri sambil menepuk- nepuk dadanya pelan dengan genggaman tangannya.
Kak Berli dan Bu Ikhsan dan beberapa perempuan di sekitar Witri sudah kembali banjir airmata menatap Witri yang belum juga mampu menangis.
"Sekarang suamimu sudah nggak sakit lagi." kata Bu Ikhsan sambil terisak.
"Iya. Aku dan Aksa nggak papa ditinggal asal dia nggak sakit lagi." jawab Witri dengan tertunduk sedih.
Kak Berli menatap Bu Ikhsan mencari penjelasan soal siapa itu Aksa.
Dengan isyarat tangan Bu Iksan menjelaskan kalau Witri tengah mengandung anak yang telah di beri nama Aksa oleh Hari sebelum dia meninggal.
"Ya Tuhan..." gumam Kak Berli sambil membekap mulutnya sendiri dan kembali menangis.
Tengah hamil muda dan di tinggalkan suami untuk selamanya...Witri yang malang.
"Kamu kuat Witri...Kamu nggak akan sendirian melewati ini. Kami semua ada disini buat kamu." kata Kak Berli sambil memeluk bahu Witri.
"Iya. Makasih." jawab Witri antara sadar dan tidak sadar.
Matanya selalu lekat menatap keranda di depan sana.
Tanpa babibu, dia berjalan meninggalkan teman- temannya menuju ke arah keranda Hari dengan mendekap phigura yang dia bawa tadi.
Tatapan iba dan bahkan isakan lirih mengiringi langkah pelannya menuju tempat dimana raga kekasih hatinya terbaring kaku.
"Kamu beneran pergi kesana ya,Mas? Kenapa caranya kesana harus kayak gini? Kenapa nggak nunggu aku dan Aksa?" gumam Witri sambil memeluk keranda dengan lemah.
Nadi yang belum lama duduk di dekat jenazah, matanya kembali berkaca- kaca mendengar gumaman Witri itu.
Ya Allah, Har...apa aku mampu menjalankan amanahmu untuk menemani istri dan anakmu menemukan kebahagiaan mereka sepeninggalmu? Kenapa kamu ngasih kerjaan seberat ini sih?
Tepukan pelan di lengan Nadi membuat duda mati berumur 35 tahun itu menoleh dan mengangguk mengerti kepada seorang lelaki muda berpakaian tentara yang barusan berbisik padanya.
Dia kemudian berdiri mendekat ke arah Bu Ikhsan meminta tolong untuk mendampingi Witri karena jenazah akan segera diberangkatkan ke bandara.
Setelah upacara penghormatan terakhir yang dilakukan dengan sederhana, kembali jenazah di masukkan ke ambulance untuk kemudian dibawa ke bandara.
Witri mengikuti semuanya tanpa ekspresi berarti.
Satu- satunya yang membuatnya masih terlihat hidup adalah kedipan mata dan bola matanya yang selalu bergerak kemanapun jenazah Hari di bawa.
Pulang ke tanah kelahiran dengan membawa raga belahan jiwa yang sudah tak bernyawa bukan hal mudah bagi siapapun juga. Apalagi Witri.
Selama di perjalanan dipikirannya adalah apa yang harus dia katakan pada mertuanya nanti.
Bagaimana dia akan bertanggungjawab atas semua ini dihadapan orangtua Hari.
__ADS_1
Dia pergi berdua dalam keadaan sehat wal afiat. Dan sekalinya keduanya pulang setelah sekian tahun di rantau orang, Hari pulang dalam keadaan sudah tak bernyawa.
...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...