JANJI JIWO

JANJI JIWO
Dua Tempat


__ADS_3

Witri masih gelisah di atas ranjangnya. Ini sudah lewat tengah malam dan dia belum bisa kembali memejamkan mata untuk mengistirahatkan jiwa raganya.


Dia memang berangkat tidur lebih awal tadi karena dia sangat mengantuk seusai sholat isya' tadi.


Dia biarkan Mamak berbincang dengan Nadi yang tadi mampir masih dengan baju seragamnya. Membawakannya sate Padang kesukaannya.


Setelah memakan empat tusuk sate,dia pamit ke kamar karena sudah tak sanggup menahan kantuk.


Dan beginilah jadinya. Dia terjaga jam setengah sebelas tadi. Dan belum juga bisa kembali memejamkan mata walau semua cara dia lakukan untuk membuat lelah mata dan pikirannya.


Dia tengah dikuasai rindu serindu- rindunya pada Hari.


Yang paling membuatnya sedih adalah bila tiba- tiba dia rindu pada Hari seperti ini.


Rindu pada sosoknya yang akan selalu memeluknya saat dia terjaga di tengah malam hingga dia akan terlelap kembali dengan tenang.


Dengan enggan dia berjalan menuju lemari pakaian, kemudian meraih jaket Hari. Diciumnya jaket itu sedalam- dalamnya sebelum dia peluk dan kemudian dia pakai.


Sesungguhnya dia tak ingin melakukan hal ini. Dia berjuang untuk tak sering- sering melakukan ini.


Dia harusnya bisa menyadari kepergian Hari dan tak mencoba menghadirkan kembali sosoknya dengan cara apapun, termasuk mendekap bahkan memakai bajunya untuk menghibur hatinya.


Tapi dia sering kali tak mampu. Pada kenyataannya hanya dengan cara ini dia bisa menenangkan kerinduannya.


Membayangkan kekasih hatinya memberikan kehangatan padanya seorang.


Dia rindu di peluk, juga di cum bu kekasih hatinya itu.


Ya Allah, ampunilah hamba...


Aksa bergerak senang di dalam perutnya saat Witri telah sempurna memakai jaket Hari.


"Kamu juga seneng ya dipeluk Ayah?" bisik Witri sambil membelai lembut perutnya.


Dengan pelan Witri kembali berbaring miring. Mengelus lembut bantal kosong di sampingnya seolah disitu ada kepala suaminya.


"Assalamualaikum sayang...Malam ini aku kembali rindu padamu...Sangat rindu..." gumam Witri kemudian semakin meringkuk sambil mengirim doa untuk Hari, juga untuk menaklukkan rasa rindunya sendirian.


🍁🍁🍁🍁🍁


Jiwo memandang hamparan salju yang nampak berserak di luar jendela cafe yang dimasukinya sendirian siang ini.


Dia ada janji dengan Arata dan Kyu, dua orang teman ngobrolnya untuk sekedar mengobrol untuk mengisi weekend mereka.


Arata yang asli Jepang bekerja sebagai sales manager sebuah perusahaan komputer. Sedang Kyu yang asli Korea adalah seorang mahasiswa S2 tingkat akhir yang iseng bekerja sebagai cleaning service di kantor Jiwo. Kyu sendiri sebenarnya adalah pemilik perusahaan penyedia jasa cleaning service.


Ketiganya menjadi akrab saat sama- sama mengikuti pengajian rutin bulanan di komunitas muslim yang ada di kota itu.


Jiwo sangat berterima kasih pada Kyu yang mengajaknya ikut bergabung ke komunitas itu. Dimana ada banyak orang muslim dari berbagai negara yang kebanyakan pekerja sepertinya dan juga mahasiswa.

__ADS_1


Dari seringnya ngobrol dan bertukar cerita tentang banyak hal, akhirnya terjalinlah persahabatan mereka bertiga ini.


Jiwo biasa mengisi weekend nya dengan dua jomblo itu dan biasanya mereka akan saling mengajari bahasa negara mereka masing- masing. Juga bercerita tentang apapun soal negara masing- masing.


"Ngomong- ngomong, apakah kamu punya saudara perempuan, Wo? I mean little sister." tanya Kyu.


"Punya. Dua. Kenapa?" tanya Jiwo penasaran.


"Apa masih ada yang single? Aku ingin berkenalan." jawab Kyu sambil tertawa malu.


"Wooow, kamu mau mencoba mendaftar jadi adik iparnya Jiwo, Kyu?" seloroh Arata sambil bertepuk tangan pelan.


"Boleh kan mencoba peruntungan?" sahut Kyu sambil tertawa malu. "Aku punya teman di kampus cewek Indonesia. Dia sangat baik dan menyenangkan."


"Kenapa tak kamu dekati dia saja?" tanya Arata penasaran.


"Dia tak seiman sama kita. Aku nggak mau." jawab Kyu sambil menggeleng sedih.


"Kalau dengan adiknya Jiwo kan jelas seiman. Aku juga sudah kenal salah satu keluarganya dan Jiwo orang baik. InsyaaAllah keluarganya juga baik." kata Kyu sambil tersenyum.


Jiwo hanya tertawa kecil. Membayangkan Esti adiknya bersama Kyu...boleh juga sih...


Kebetulan Esti sangat menyukai segala hal yang berbau Korea.


Kalau dapat jodoh orang Korea mungkin akan terasa sempurna kebahagiaan anak itu.


"Nanti aku tanya adikku dulu, mau nggak aku kenalkan sama kamu." kata Jiwo kemudian sok sedikit jual mahal


"Esti Prameswari." jawab Jiwo.


"MashaaAllah....jiwaku langsung bergetar baru mendengar namanya saja..." gumam Kyu sambil mendekap dada dengan kedua tangannya. Arata terkekeh- kekeh melihatnya.


"Apa arti nama indah itu,Wo?" tanya Kyu kemudian.


"Artinya perempuan yang memiliki jalan hidup yang tentram, merdeka, bahagia, dan sempurna. Keren kan?" tanya Jiwo dengan bergaya congkak.


"Sangat kereeeeeen." sahut Kyu sambil mengacungkan kedua jempolnya. Diikuti Arata.


"Berapa umur adikmu itu, Wo?" tanya Arata.


"Tahun ini dua puluh empat." jawab Jiwo setelah sedikit mengingat.


"Sudah pantas untuk dilamar." gumam Kyu dengan mimik serius.


"Boleh kami lihat photonya, Wo? Nama akun medsosnya apa?" tanya Kyu kemudian.


"Nanti kalau aku sudah dapat ijin dari dia, aku akan kasih tahu." jawab Jiwo sambil tersenyum.


"Yaaahh..." sahut Arata dan Kyu kecewa.

__ADS_1


"Tanya sekarang saja Wo!" desak Kyu tak sabar. Arata kembali terkekeh melihat tingkah sahabatnya yang blingsatan seperti itu.


Jiwo melirik jam tangannya. Jam empat sore. Berarti di rumahnya jam dua siang. Tadi sebelum pergi main, Jiwo sempat VC sama Esti dan ibunya. Adiknya itu sedang libur dari kerjaannya.


"Aku coba ya." kata Jiwo sambil meraih ponselnya.


"VC aja, Wo!" pinta Arata dan Kyu berbarengan.


"Not now." jawab Jiwo sambil mengulum senyum yang membuat kedua sahabatnya merengut.


"Wa'alaikumussalam..." Jiwo mulai berbincang dengan bahasa yang membuat Arata dan Kyu saling melempar pandang dengan tatapan bingung. Mereka kira Jiwo akan bicara dengan bahasa Indonesia yang mulai mereka mengerti sedikit- sedikit. Namun ternyata Jiwo memakai bahasa planet lainnya.


Jiwo memang sengaja selalu menggunakan bahasa Jawa bila berbincang dengan keluarganya atau dengan Witri bila ada di depan teman- temannya yang nggak mengerti bahasa Jawa. Dia merasa senang saja melihat wajah cengo mereka sambil menyimak apa yang dia bicarakan, hahahaha....


Mereka berdua hanya bisa ikut tersenyum saat Jiwo nampak tertawa kecil berulangkali tanpa tahu apa maksud ucapan Jiwo itu.


Arata dan Kyu menatap Jiwo penuh rasa penasaran setelah dilihatnya Jiwo menjauhkan ponselnya dari telinga dan meletakkan ponselnya dalam keadaan masih terhubung.


"Dia baru merapikan kerudungnya. Katanya mau aku kenalkan sama kalian. Tunggu sebentar." kata Jiwo yang membuat Kyu bersorak riang dan Arata tertawa menatap kelakuan Kyu itu.


"Kamu bilang kalau aku saja yang ingin berkenalan dengan Esti. Arata tak perlu kamu kenalkan." kata Kyu sambil melirik Arata mencemooh.


"Segitu takutnya kamu bersaing denganku, Kyu?" ledek Arata sambil tertawa menghina.


"Kamu kan sudah punya pacar." sergah Kyu yang disambut tawa kecil Arata yang sengaja membuat kesal Kyu.


Kyu nampak langsung kaku seperti kanebo kering saat ponsel Jiwo berdering dalam mode VC.


Arata bergegas duduk mepet ke arah kanan Jiwo , diikuti Kyu yang duduk di kiri Jiwo.


"Are you ready?" tanya Jiwo sengaja ikut meledek Kyu.


"Yes!" jawab Kyu sedikit gemetar, membuat tawa Arata langsung meledak bersamaan dengan Jiwo yang mengangkat panggilan dari Esti.


Tawa Arata langsung berhenti karena mulutnya langsung dibungkam oleh tangan Kyu yang matanya sudah menancap di layar ponsel Jiwo.


"Dia bisa berbahasa Inggris. Silakan ngobrol." kata Jiwo sambil menahan senyum.


"Hai Esti..." sapa Arata riang yang disambut lambaian dan senyum Esti yang semakin membuat Kyu seakan mati lemas.


"Aku Arata dari Kyoto, Jepang. Dan ini Kyu, oppa Korea yang payah." canda Arata yang mendapat tawa Esti.


"Assalamualaikum Arata dan Kyu..." sapa Esti sambil tertawa kecil.


"Wa'alaikumussalam..." jawab Arata.


"Be my wife please..." kata Kyu yang tentu saja membuat Jiwo dan Arata juga Esti kaget nggak ketulungan.


"Are you crazy?!" seru Arata sampai berdiri dari duduknya sambil menatap Kyu tak percaya.

__ADS_1


...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...


__ADS_2