JANJI JIWO

JANJI JIWO
Janji


__ADS_3

Witri tersadar sudah ada di atas kasur. Gak lagi memeluk pusara Hari.


Pandangan matanya pertama kali menangkap keberadaan mamak yang tengah duduk terkantuk- kantuk di kursi sebelahnya.


"Mak..." panggil Witri pelan agar tak membuat Mamak kaget. "Baring disampingku sini." pinta Witri sambil beringsut menjauh agar ada ruang untuk Mamak berbaring.


"Kamu udah sadar?" tanya Mamak sambil tersenyum senang.


"Udah. Maaf ya bikin semuanya repot." kata Witri pelan.


"Nggak ada yang repot." kata Mamak sambil tersenyum menenangkan.


"Kalaupun ada yang repot, ya Mas Nadi yang repot. Harus gendong kamu dari makam sampai sini." sambung Mamak sambil tersenyum meledek ke arah Witri yang nampak kaget.


"Waduh!" seru Witri tertahan sambil memukul dahinya pelan karena malu.


Apa yang ada di pikiran pria itu saat tadi menggendongnya? Aduh malunyaaaaa 🙈🙈🙈🙈


"Mamak ambilkan makan ya?" tawar mamak sambil beringsut berdiri.


"Nggak mau, Mak. Aku nggak lapar." kata Witri cepat sambil menahan lengan Mamak.


"Harus! Kamu bisa bilang ngerasa nggak lapar, tapi anakmu nggak bisa bilang kalau dia kelaparan sejak tadi pagi." tukas Mamak cepat. Witri menunduk menyesal.


Dia lupa kalau ada anak yang harus dia jaga sepenuh hati.


.


"Ya udah. Aku mau makan." kata Witri kemudian. Mamak tersenyum senang kemudian bergegas berdiri untuk keluar mengambilkan makan untuk anak dan calon cucunya.


Samar- samar Witri masih mendengar suara beberapa lelaki yang pasti sengaja lek- lekan ( begadang) seperti yang biasa dilakukan di sebuah rumah yang ada bayi lahir atau ada sripah ( orang meninggal). Biasanya lek- lekan dilakukan selama tujuh malam berturut-turut dengan melakukan tahlilan setelah usai sholat isya'. Nanti seusai tahlil biasanya kelompok ronda yang wajib ada di lokasi lek- lekan walau pasti akan banyak juga para lelaki dewasa yang akan ikut datang di rumah lokasi lek- lekan. Dan tuan rumah dengan sukarela menyediakan minuman dan makanan ( bisa cemilan saja, kadang cemilan plus makan berat) ala kadarnya sebagai ' teman' ngobrol mereka.


Mamak masuk membawa nampan dengan sebuah mangkuk berisi soto lengkap yang masih mengepul uapnya dan segelas susu putih.


"Yang lek- lekan makannya soto, Mak?" tanya Witri sambil mulai mengaduk isi mangkuknya.


"Iya. Enak kok. Yang dari depan nggak ada yang kebuang." kata Mamak senang.


"Aku pingsannya lama, Mak?" tanya Witri kemudian memasukkan soto ke mulutnya.


"Lumayan. Tapi mamak pikir kamu pingsan di lanjut tidur sekalian." kata Mamak sambil terkekeh mengingat Witri terpejam nyaris satu setengah jam.


Tadi sesampainya di rumah Witri langsung di periksa oleh kerabat Pak Dukuh yang kebetulan seorang dokter. Dan kondisinya nggak membahayakan. Hanya memang kecapekan saja.


"Kita nggak pulang aja, Mak?" tanya Witri lagi setelah dia menyadari ada di kamar Hari.

__ADS_1


Ada photo Hari di beberapa sudut kamar. Ada denyutan rindu yang sudah mulai mengusik hatinya pada sosok suaminya itu.


Ini baru sehari. Dan aku akan selamanya nggak bisa memelukmu lagi, Mas. Bisakah aku?


"Besok kita minta ijin sama mertuamu dulu kalau mau pulang ke rumah kita. Tadi beliau yang minta kamu tidur disini. Lagian semua yang mengantarmu dari Aceh tidur disini juga." kata Mamak tenang. Witri mengangguk patuh


"Mau nambah nggak?" tawar mamak saat dilihatnya semangkuk soto dan segelas susu tandas tak bersisa dalam waktu yang lumayan cepat.


"Enggak. Udah kenyang." jawab Witri sambil tersenyum senang.


"Mulai sekarang harus banyak makan dan nggak boleh stress biar anakmu jadi anak yang bahagia dan ceria nantinya." kata Mamak sambil menatap Witri lembut.


Ada pancaran bangga dan bahagia di sorot mata Mamak.


"Tapi aku akan sendirian membesarkan Aksa, Mak. Nggak ada Mas Hari." kata Witri kembali pilu


"Kamu nggak akan sendirian. Ada Mamak yang akan selalu menemani kamu merawat dan membesarkan Aksa. Jangan selalu sedih mengingat suamimu, kasihan dia nanti." hibur Mamak. Witri hanya menunduk, mencoba membujuk airmatanya untuk tak keluar lagi.


"Nggak ada yang akan melindungi kami berdua, Mak. Mas Hari udah nggak ada." keluh Witri yang seperti terucap begitu saja.


"Ada Allah yang akan melindungi kalian dimanapun dan kapanpun. Tidak ada yang bisa menandingi perlindungan Allah atas makhluknya. Hari memang sudah tidak bisa melindungi kalian nantinya, tapi Mamak yakin dia pasti sudah menyerahkan keselamatan kalian pada Sang Pelindung sejati sebelum dia pergi Jangan khawatir." kata Mamak sambil mengelus lengan Witri lembut.


"Aku merasa bersalah pada Ibu. Sejak aku menikah sama Mas Hari belum pernah mudik. Mas Hari bilang akan mudik kalau udah punya anak,. Sekarang sekalinya pulang malah Mas Hari sudah nggak ada." kata Witri masih melanjutkan sesi curhatnya


"Nggak ada yang mengalahkan kamu. Dan kamu nggak perlu merasa bersalah seperti itu. Hari melakukan semua pasti untuk kebaikan semuanya." kata Mamak.


"Aku mau sholat dulu terus tidur lagi." kata Witri sambil beringsut turun dari tempat tidur.


Mamak menemaninya keluar kamar sambil membawa nampan berisi mangkuk dan gelas kosong.


Melintasi ruang tengah Witri menoleh ke ruang depan dimana para tetangga lelakinya duduk dan saling berbincang di atas gelaran tikar ditemani beberapa jenis cemilan yang di sajikan di atas piring.


Dia bisa menangkap keberadaan Pak Ikhsan, Pak Nadi, dan Pak Zul sedang berbincang dengan bapak mertuanya, Pakde Jito, dan suami Mbak Tati di salah satu sudut ruangan.


Bu Ikhsan kemana ya?


Melintasi dapur Witri masih melihat beberapa ibu- ibu kanan kiri rumah masih berbincang di amben dapur. Ada Mbak Tati dan Bu Ikhsan juga di sana.


Witri mendekat untuk sekedar menyalami para tetangganya.


Tatapan iba dan prihatin tak bisa Witri hindari saat dia menyalami satu demi satu tetangganya itu.


Tak apa pikirnya. Mungkin saat ini memang jatahnya untuk dikasihani orang lain atas apa yang tengah menimpanya. Yang penting dia nggak boleh terlihat meratapi kesedihannya ini.


"Aku mau sholat dulu." pamit Witri kemudian bergegas mengambil wudhu dan kembali ke kamar Hari untuk bersujud. Mengadukan semua duka nestapanya di atas hamparan sajadah tanpa seorangpun perlu tahu selain Rabb nya.

__ADS_1


Mengadu betapa tak berdayanya dia saat ini karena di paksa kenyataan harus melepas belahan jiwanya untuk selamanya.


Memohon kekuatan dan keikhlasan untuk kembali melanjutkan kehidupan bersama sosok lain pengganti Hari di hidupnya, yaitu Aksa, buah hatinya bersama almarhum.


Bu Ikhsan tadi sudah diajak beristirahat oleh Mbak Tati ke kamar kakak iparnya itu.


Witri kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Sendirian.


Dan mulai malam ini dia akan seperti itu melewati malam- malamnya. Tanpa ada pelukan hangat dari suaminya atau juga pillow talk sebelum memejamkan mata di ujung hari.


Semua akan berubah lagi mulai malam ini. Dan Witri sadar setiap perubahan butuh penyesuaian. Ada yang mudah dan ada yang akan sulit dilaluinya. Yang bisa dia lakukan hanya berusaha sesegera mungkin membangun kembali ketegaran dan pengharapan agar mampu menjaga peninggalan manis dari almarhum, Aksa mereka.


Dalam hati Witri berjanji akan menjadikan anaknya sebagai anak yang bahagia dan merasa beruntung telah hadir sebagai anak dari Witri dan Hari.


Sedih kah dia saat ini? Sangat.


Namun Witri tak bisa mengungkapkan itu lewat tangisan meraung- raung. Airmatanya bahkan seperti tiba- tiba kering.


Hanya dia sendiri yang mengetahui betapa sesak dadanya menahan sedih yang tak mampu diurai dengan tetesan airmata.


Mungkin Allah ingin dia terlihat tegar walau taelinganya juga tak tuli untuk mendengar suara tak sedap karena dia masih kuat berdiri dan tak menangisi suaminya.


"Iya nggak nangis dari tadi. Nggak sedih banget, mungkin berpikir gampang lah buat nyari gantinya Mas Hari..."


"Kok bisa nggak sedih ya ditinggal suaminya? Apa nggak cinta?"


"Nggak sampai nyewu ( peringatan seribu hari meninggal seseorang) pasti udah punya suami lagi."


Dan banyak lagi omongan lainnya.


Witri menghela nafasnya berat.


Risiko seseorang yang menyandang status janda. Jangankan janda cerai, janda mati saja masih kena omongan miring.


Namun Witri tak menggubris omongan- omongan miring yang sekilas mampir di telinganya di tengah kesibukannya membangun semangat untuk menerima dengan ikhlas takdirnya dan kemudian berjuang sendirian untuk tetap tegak berdiri.


Seulas senyum coba dia hadirkan saat ini. Semata untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia bisa baik- baik saja, secepat-cepatnya.


Ada anugrah indah yang harus dibawanya selalu bahagia agar yang meninggalnya tenang di alam sana.


Aku dan Aksa akan baik- baik saja, Sayang. Tenanglah kamu disana. Aku janji hanya akan menangis saat aku bahagia dan saat aku benar- benar sudah tak tahan menahan rinduku padamu.


Di dekapnya erat satu phigura kecil berisi photo Hari yang tersenyum manis yang dia ambil dari atas meja yang dulu dipakai Hari sebagai meja belajarnya.


...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...

__ADS_1


.


__ADS_2