JANJI JIWO

JANJI JIWO
Bisa Menampar


__ADS_3

Jiwo bertemu dengan Ruslan di depan pintu masuk rumah sakit.


Ruslan sengaja Jiwo minta menunggunya di sana karena dia nggak mau bertemu orangtua Ifah sendirian.


Jangan dikira dia sudah lupa perlakuan orangtua Ifah semalam padanya.


Jangan kira juga Jiwo sudah melupakan sakit hatinya semalam.


Dia memutuskan untuk datang ke rumah sakit semata karena rasa kemanusiaan.


Dia nggak mau di sebut Raja Tega oleh Ruslan, karena itu dia ada di rumah sakit saat ini walau dengan mata yang masih sangat mengantuk.


"Gimana kondisinya?" tanya Jiwo sambil menjajari langkah Ruslan yang akan membawanya ke ruang ICU.


"Belum sadar juga." jawab Ruslan singkat.


"Dia nglakuin apa sih?" tanya Jiwo sedikit bernada kesal.


Ya, tentu saja dia sangat kesal dengan 'kelakuan nggak banget' yang dilakukan Ifah ini.


Percobaan bunuh diri. Bisa- bisanya gadis itu punya pikiran sesempit itu.


Rendah sekali cara yang dipilihnya untuk menyelesaikan masalah.


Kayak orang nggak beriman aja.


Kayak orang nggak kenal Tuhan aja kelakuannya.


Iba? Nope!!!


Nggak ada sedikitpun rasa iba pada hati Jiwo untuk Ifah dengan acara percobaan bunuh dirinya itu.


Itu bukanlah sebuah kecelakaan.Tapi sebuah perbuatan bodoh yang di sengaja untuk lari dari masalah.


Sebuah perbuatan yang hanya dipilih oleh seorang pengecut dan orang yang lemah iman.


Nggak banget deh!


"Dia minum obat tidur." jawab Ruslan singkat sambil menoleh menatap Jiwo.


"Berapa belas butir?" tanya Jiwo kepo.


"Nggak tahu." jawab Ruslan sambil mengangkat bahunya.


"Pasti banyak." gumam Jiwo dengan dugaannya sendiri.


"Bisa juga sedikit." sahut Ruslan menyanggah dugaan Jiwo.


"Kalau sedikit palingan juga tidurnya lama. Nggak sampai kritis." bantah Jiwo.


"Bisa aja. Orang dia minum obat tidurnya pakai cairan anti serangga." sahut Ruslan sambil nyengir ngeri.


"Astagfirullahaladzim...Beneran dia minum itu?" tanya Jiwo sampai berhenti melangkah saking kagetnya.


Niat banget kepengen matinya. Astagfirullahaladzim....


"Makanya dia sampai kritis sekarang." sergah Ruslan dengan wajah sedikit kesal.


Ngapain juga wajahnya kesel gitu sama aku?, batin Jiwo sambil sedikit melirik pada Ruslan.


"Dia masuk rumah sakit jam berapa?" tanya Jiwo lagi.


"Jam duaan katanya." jawab Ruslan sambil menarik lengan Jiwo yang akan berjalan lurus padahal mereka harusnya berbelok ke kanan.


"Kok kamu tahu dia mau bunuh diri?" tanya Jiwo sedikit keheranan.


Ruslan menghentikan langkahnya diikuti Jiwo.


Keduanya kemudian malah duduk di bangku kosong di dekat mereka.


Tak ada kesibukan lalu lalang orang lewat di sekitar mereka karena ini masih terlalu pagi untuk jadwal bezuk pasien.


"Tadi Ibunya Ifah nelpon aku. Dia katanya asal aja nelpon orang yang ada di daftar panggilan terakhir di ponsel Ifah. Dan itu aku." kata Ruslan seperti mencoba mengingatkan Jiwo dengan telepon dari Ifah yang di terima Ruslan semalam di depannya.


"Dengan panik Ibunya bilang Ifah sekarat karena minum racun serangga dan minta tolong aku menghubungimu untuk memberitahumu kalau Ifah begini." sambung Ruslan.

__ADS_1


Jiwo sedikit mengernyitkan dahinya.


"Kenapa harus minta tolong kamu buat ngasih tahu aku? Kenapa nggak nelpon aku langsung aja? Kan nama aku juga ada di daftar panggilannya Ifah." tanya Jiwo dengan curiga.


"Mereka bilang nggak berani, Wo. Mungkin malu sama kamu kalau harus memohon. Ini aja aku tadi juga cuma untung- untungan nelpon kamu. Kalau kamu tadi nggak mau, aku juga nggak bakalan bujukin kamu. Aku ngerti gimana perasaan kamu sama mereka." kata Ruslan tenang. Jiwo mengangguk mengerti.


"Trus aku ngapain pagi buta sampai sini coba?" gumam Jiwo setengah menyesali kedatangannya ke rumah sakit ini.


"Kemanusiaan, Wo. Itu aja alasannya. Ntar kalau orangtua Ifah berani ngoceh ngaco apalagi sampai minta kamu balikan sama anaknya, kita 'hajar' di tempat aja sekalian." kata Ruslan sambil terkekeh dan mengerling. Jiwo tertawa kecil.


Boleh juga idenya.


Keduanya kembali melanjutkan langkah menuju ruang ICU yang kata Ruslan masih dua belokan lagi.


"Memangnya Ifah semalam nggak menghubungimu lagi?" tanya Ruslan di sela mereka berjalan.


"Nggak tahu." jawab Jiwo sambil meraih ponselnya dari saku celana.


Bahkan semua pesan Ifah belum dia buka karena malas. Tapi sekarang dia pengen tahu apa yang ingin dibicarakan Ifah semalam.


Pertama dia melihat notifikasi panggilan tak terjawab. Ada lima kali panggilan dengan panggilan terakhir jam satu dinihari.


Dia kemudian beralih ke bagian pesan masuk dan mendapati limapuluh delapan pesan dengan rentang waktu tiga jam.


Pesan- pesan pendek itu di awal- awal berisi ajakan dan bujukan Ifah untuk mengajaknya bicara lagi.


Lalu berselang beberapa menit berisi permintaan maaf Ifah dan bilang kalau tak ingin berpisah dengannya dan akan melakukan apapun agar Jiwo mau memaafkan dia dan kembali padanya.


Berselang satu jam dari pesan terakhir sudah mulai berisi ratapan akan bagaimana hidupnya nanti bila harus tanpa Jiwo.


Jiwo meringis geli membaca bagian ini.


Drama sekali.


Memangnya hidup Ifah dulu bagaimana sebelum kenal dengannya? Sangat menyedihkan dan nggak bisa nafas?


Lima pesan terakhir membuat jantung Jiwo berdetak lebih kencang.


Pesan yang berisi ancaman Ifah akan menghilang saja dari dunia ini bila Jiwo tak mengangkat panggilan terakhirnya lalu pamit dan juga doa semoga hidup Jiwo tenang bila tanpa ada dia di dunia ini.


Ada sedikit penyesalan menelusup di benaknya karena memilih tak menggubris pesan dan panggilan Ifah semalam.


Seharusnya dia bisa mencegah gadis itu berbuat konyol seperti ini bila dia mau menanggapi Ifah berkomunikasi semalam.


Sayang, nasi telah jadi bubur.


Jiwo nggak pernah berpikir dan menduga Ifah akan bisa berbuat senekad ini hanya demi yang katanya cinta. Bodoh sekali gadis itu.


"Itu orangtuanya Ifah, Wo." senggolan pelan Ruslan di lengan Jiwo bertepatan dengan berakhirnya Jiwo menatap pesan- pesan Ifah.


Dari tempatnya melangkah yang semakin mendekat ke arah kedua orangtua Ifah yang terduduk saling diam, Jiwo menangkap tatapan salah tingkah kedua orang tua itu saat menyadari kedatangannya dari kejauhan.


Dalam hati Jiwo menyunggingkan senyum malas melihat wajah memelas keduanya.


"Makasih, Nak sudah mau kesini." kata Ibu Ifah begitu mereka berdua ada di depan kedua orangtua Ifah dan bersalaman.


Bapak Ifah tak mengatakan apapun walau nampak menyesal di raut wajahnya.


"Ada perkembangan belum, Bu?" tanya Ruslan setelah dirasanya Jiwo tak akan bersuara apapun disana.


"Sudah melewati masa kritis. Alhamdulillah, barusan di kasih tahu sama dokter walau pun belum sadar." jawab Ibu Ifah dengan mata berkaca- kaca menatap Jiwo dan Ruslan bergantian.


"Dari chat yang saya baca di ponselnya, saya baru sadar sepenuhnya kalau Ifah benar- benar cinta sama kamu, Nak Jiwo." kata Ibu Ifah kemudian dengan wajah penuh sesal.


Jiwo tak bereaksi apapun atas ucapan itu. Wajahnya datar saja seperti baru saja mendengar iklan nggak penting di telinganya.


"Tolong maafkan kami semua ya, Nak." pinta Ibu Ifah dengan wajah memelas yang hampir menangis sambil sedikit mengguncang lengan Jiwo.


Jiwo terpaksa menerbitkan senyumnya untuk sekedar menghargai usaha seseorang meminta maaf padanya.


"Apakah kamu mau memaafkan kami, Nak?" tanya Ibu Ifah setelah beberapa saat kebisuan mewarnai suasana diantara mereka.


Setelah menarik nafasnya pelan, Jiwo mengangguk sambil tersenyum.


Dia dapat dengan jelas melihat kelegaan di wajah kedua orangtua Ifah sesudahnya. Walau Jiwo juga tak bisa menutup mata kalau jelas terlihat ada raut 'sudah kami duga kamu bakal jawab itu'.

__ADS_1


"Jadi kamu akan tetap melanjutkan hubungan kalian kan?" tanya Ibu Ifah dengan senyum sumringahnya.


Jiwo dapat langsung melihat raut kekagetan di wajah Ruslan.


Jiwo tersenyum manis sebelum menjawab pelan namun tegas, "Tentu saja...tidak."


Seketika perubahan terjadi di ketiga wajah orang di depan Jiwo.


Ruslan dengan wajah lega sekaligus menahan senyum, dan dua orang tua Ifah langsung berwajah muram.


"Kami sudah minta maaf dan menyadari kesalahan kami, Nak. Kamu juga sudah bilang kalau memaafkan kami. Tapi kenapa kamu nggak mau melanjutkan hubungan kalian?" tanya Ibu Ifah gusar.


"Kamu bisa melamar Ifah tanpa Ibu kamu. Kami mengerti kok." tak disangka Bapak Ifah mulai bersuara.


"Terimakasih atas pengertiannya, Pak." sahut Jiwo sambil kembali mengumbar senyum yang juga dibalas senyuman merekah dari sepasang suami istri itu.


Nampak jelas wajah mereka masih menyimpan harapan besar pada Jiwo.


"Tapi kebetulan semua keluarga Saya yang kemarin saya mintai tolong untuk datang melamar kesini sudah tidak ada yang berkenan kemari lagi. Maaf." dusta Jiwo dengan wajah polos dan sopannya.


Ruslan bahkan harus menoleh ke arah lain untuk menyembunyikan senyum lebarnya.


Nggak nyangka saja kalau Jiwo bisa sadis juga. Tapi dalam hatinya dia sangat mendukung kelakuan Jiwo barusan.


"Kenapa begitu?" tanya Ibu Ifah kaget.


"Mereka juga punya kesibukan sendiri. Kemarin Saya sudah meminta mereka meluangkan waktu mereka semua untuk kesini sejak jauh- jauh hari. Tapi ternyata kehadiran mereka tidak diinginkan oleh Bapak sama Ibu. Mereka sedikit tersinggung karena merasa nggak dianggap penting sebagai keluarga." jelas Jiwo. Tentu saja masih dengan penjelasan penuh dustanya.


Karena pada faktanya dia belum meminta secara resmi kepada keluarganya untuk menemaninya melamar Ifah.


Untung saja begitu. Bisa dia bayangkan bagaimana malunya dirinya kalau kejadiannya seperti semalam. Di tolak kehadirannya.


Kedua orang tua Ifah saling bicara lewat pandangan mereka di bawah tatapan penuh praduga milik Jiwo.


"Kalau begitu kamu sendiri saja tak mengapa. Kami akan menerima kamu dengan atau tanpa keluargamu melamar Ifah." kata Bapak Ifah kemudian.


Jiwo tersenyum dalam hati. Persis seperti yang dia duga dalam hati barusan.


"Sayangnya Saya sudah tidak ada niat lagi untuk melamar Ifah, Pak. Mohon maafkan Saya." kata Jiwo dengan sangat sopan namun bisa membuat orangtua Ifah nampak terkejut dan juga nampak menahan ledakan emosi.


"Kenapa bisa mendadak berubah begini? Semalam kamu masih sangat berusaha menunjukkan niat untuk melamar Ifah..." kata Ibu Ifah dengan suara sedih.


"Pertanyaan sama yang juga ingin Saya ajukan kepada Bapak dan Ibu. Kenapa bisa mendadak berubah sikap jadi sangat baik begini pada Saya? Semalam saya memohon pun tidak dianggap." sergah Jiwo cepat.


Ruslan lagi- lagi harus menyembunyikan senyuman bahkan tawa yang ingin meledak mendengar sergahan Jiwo.


Gokil! Jiwo gokil!


"Tolonglah kami,Nak. Kasihanilah Ifah. Dia sampai bisa berbuat nekad seperti ini karena cinta sekali sama kamu." tiba- tiba Ibu Ifah merangkul lengan Jiwo dengan tangisan pilunya.


Jiwo tak bergeming.


"Apa kamu tega membiarkan Ifah patah hati dan bahkan bisa mencoba bunuh diri lagi nantinya karena kamu nggak mau kembali padanya?" sambung Ibu Ifah dengan mengiba.


Jiwo menarik nafasnya pelan.


"Bu, kalau Saya menuruti keinginan Ibu untuk kembali bersama Ifah padahal Saya sudah tidak ingin, itu artinya Saya yang akan tersiksa. Siapa yang akan mengasihani Saya? Ibu nggak kasihan sama Saya?" tanya Jiwo sambil menatap Ibunya Ifah dengan wajah dingin. Ibu Ifah membeku.


"Ibu kasihan pada Ifah, anak Ibu, memikirkan bagaimana kebahagiaan dia, tapi mau mengorbankan perasaan bahkan mungkin hidup Saya. Bu, Saya juga punya seorang Ibu yang nggak akan rela melihat anaknya ini nggak bahagia. Tolong pikirkan juga perasaan Saya, juga perasaan seorang Ibu lain yang juga memiliki perasaan yang sama untuk kebahagiaan anaknya. Ibu Saya." kata Jiwo. kian menampar perasaan orangtua Iffah.


"Apa yang terjadi hari ini pada Ifah, sama sekali bukan tanggung jawab Saya untuk menyelesaikannya. Ini adalah akibat dari hasil yang kita bicarakan semalam." kata Jiwo kian berani.


"Tanggung jawab Saya menjaga dan mengusahakan kebahagiaan Ifah sudah selesai dari semalam, keputusan Saya itupun terjadi akibat keputusan Bapak dan Ibu sendiri atas penawaran lamaran Saya yang ditolak. Dan ya, saya sudah menyerah sejak semalam. Saya sudah lelah dan memilih berhenti. Jadi, kebahagiaan Ifah ke depannya sudah bukan kewajiban Saya lagi. Tapi sepenuhnya sudah jadi tanggung jawab Bapak dan Ibu." kata Jiwo semakin membuat wajah kedua orangtua Ifah tertunduk penuh sesal.


"Kenapa Ibu tidak meneruskan saja rencana untuk menikahkan Ifah dengan seseorang yang jauh lebih mapan dari Saya seperti yang dikatakan semalam?" tanya Jiwo dengan hati yang kesal.


Tak ada jawaban dari keduanya.


Ya, mau menjawab apa kalau ternyata seseorang yang katanya ingin melamar Ifah itu ternyata sudah melamar gadis lain dan baru terjadi semalam.


...πŸ’§πŸ’§ b e r s a m b u n g πŸ’§πŸ’§...


Selamat merayakan hari raya Idul Adha untuk semua saudara seimanku...


Semoga lumayan menghibur lah ya ada bacaan receh setelah capek dengan daging- daging πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan πŸ‘biar authornya tahu kalau ada yang membaca part ini πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„


__ADS_2