JANJI JIWO

JANJI JIWO
Urung


__ADS_3

Keluar dari kamar hotel, Witri mencoba sedikit berbincang dengan seorang resepsionis yang sedang tak menerima tamu dengan bahasa Inggris yang sama- sama ala kadarnya untuk menanyakan dan meyakinkan soal alamat yang dikirimkan Jiwo padanya.


Witri melenggang dengan mantap setelah yakin dengan arah tujuannya.


Tak masalah juga sih kalau terpaksanya nanti dia nyasar juga. Di jaman ini banyak kesulitan yang sudah bisa sangat terbantu dengan adanya ponsel bukan?


Kalau dia sampai kesasar karena mengikuti map yang kadang ngaco, dia bisa menelpon Jiwo agar segera menjemputnya. Gampang.


Menyusuri trotoar yang tadi juga dilewati Jiwo, Witri menyempatkan diri untuk berhenti di tempat Jiwo tadi berhenti dan mendongak ke arah kamarnya. Lumayan terlihat juga ternyata.


Dengan langkah santai dan tanpa tergesa- gesa, Witri menikmati suasana sepanjang jalan yang dilaluinya.


Ada beberapa kedai street food yang menggodanya untuk berhenti dan mencicipi. Tapi dia selalu ingat sama ucapan Jiwo tadi untuk lebih baik nanya dulu sama Jiwo makanan mana- mana aja yang boleh dibeli, takutnya ternyata nggak halal.


"Baiklah... sepertinya aku sudah tahu kencan pertama kita hari ini mau ngapain." gumam Witri sambil terus mengingat- ingat spot- spot penjual makanan yang ingin dia tahu rasanya. Sebuah senyum kecil tersemat di bibirnya.


m


Malam ini dia akan menyeret Jiwo menyusuri sepanjang jalan ini dan memuaskan diri menikmati kuliner khas Korea.


Satu belokan lagi dia sudah akan sampai di depan gedung apartemen Jiwo.


Dengan hati yang tiba- tiba berdebar, Witri mulai menajamkan penglihatannya.


Map pintar baru saja memberitahunya kalau obyek tujuannya ada di jarak tiga puluh meter di depan.


Dari penuturan resepsionis tadi katanya gedung apartemen Jiwo adalah gedung tertinggi pertama yang bisa dilihat begitu dia berbelok. Dan dia sudah melihat gedung itu sekarang.


Ada tujuh tingkat,dan Witri nggak tahu Jiwo ada di lantai berapa. Dia tadi lupa nanya.


Dia memutuskan duduk di sebuah bangku yang ada di seberang apartemen Jiwo sambil melakukan panggilan telpon pada lelaki itu.


Tak perlu menunggu lama,Witri sudah bisa mendengar suara Jiwo dan langsung terkekeh- kekeh meledeknya saat Witri bertanya soal posisi Jiwo.


"Beneran mau kesini sendiri? Kalau mau kesini sekarang, aku jemput kamu sekarang deh. Aku langsung berangkat." tawar Jiwo.


"Nggak usah! Aku cuma butuh tahu kamu ada di lantai berapa dan kamar kamu ada di sebelah mana? Di pojok kah? Atau pintu keberapakah dari lift?" sergah Witri cepat.


"Lantai tiga. Pintu nomer tiga dari lift. Ada baju lurik di pintunya." jawab Jiwo cepat. Dia curiga beneran kalau nanti Witri bakal tiba- tiba muncul di depan pintunya.


Tapi apa iya?


"Kamu beneran mau kesini ya?" tanya Jiwo sambil tersenyum- senyum sendiri penuh harap.


"Memangnya boleh aku kesitu sendirian?" tanya Witri sambil meringis kecil.


Dia sudah menyeberangi jalan dan memasuki area depan apartemen.


"Boleh...boleh banget malah. Tapi kalau khawatir nggak sampai, aku bisa jemput kamu sekarang." kata Jiwo masih dengan penawaran yang sama.


"Nggak usah." jawab Witri cepat.


"Terus ngapain nanya- nanya posisi kamarku?" tanya Jiwo sedikit kecewa dihatinya.


"Setidaknya saat ini kamu satu-satunya orang yang aku kenal di negara ini. Kalau ada situasi urgent dan harus lari kan aku larinya ke kamu. Kalau aku nggak tahu posisi akurat kamu, kan serem tuh nyariinnya." dalih Witri yang dibenarkan Jiwo dalam hati.


"Memangnya kita nanti mau pergi jam berapa?" tanya Witri kemudian untuk mengalihkan kecurigaan Jiwo.


"Sejam lagi aku jemput kamu. Kamu udah beres- beres?" tanya Jiwo kemudian.


"Belum selesai sih. Tapi udah mandi. Ya udah, see you soon." pangkas Witri kemudian bergegas memasuki gedung dan berbicara sebentar dengan seorang pria yang bertugas sebagai penjaga gedung.


Seorang pria paruh baya yang ramah dan segera mengangguk dengan ramah saat dia bilang dari Indonesia dan minta ijin untuk bertamu ke kamar Jiwo.

__ADS_1


"Jiwo orang yang baik dan ramah." begitu dia bilang pada Witri sebelum menunjukkan letak lift.


Hmmm, satu point kamu dapatkan, Wo...


Menaiki lift yang hanya beberapa detik nyatanya mampu membuat Witri merasa tubuhnya sedikit gemetar karena gugup saat pintu lift terbuka di depannya.


Dua kali melangkah dia sudah berada dilantai yang sama dengan Jiwo.


Berjalan perlahan dengan ragu sambil mencari pintu apartemen Jiwo. Dan tentu saja matanya bisa langsung menemukannya.


Satu- satunya pintu dengan hiasan surjan ( baju khas lelaki Jawa) lurik lengkap dengan hanger nya menempel di pintu.



sumber: google


Kain lurik merupakan salah satu jenis kain tradisional yang berasal dari pulau Jawa. Salah satu daerah penghasil lurik adalah Yogyakarta. Lurik merupakan salah satu pakaian khas Yogyakarta selain kain batik. Kata lurik berasal dari bahasa Jawa yaitu “lorek” yang berarti garis-garis.


Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia (1997) lurik adalah suatu kain hasil tenunan benang yang berasal dari daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta dengan motif dasar garis-garis atau kotak-kotak dengan warna-warna suram yang pada umumnya diselingi aneka warna benang. Kata lurik berasal dari akar kata “rik” yang artinya garis atau parit yang dimaknai sebagai pagar atau pelindung bagi pemakainya.


"Cinta banget sama tanah kelahirannya ternyata...." gumam Witri lirih sambil tersenyum. Senyum dan gumaman itu sebenarnya hanya untuk mengalihkan debaran jantungnya yang meningkat intensitasnya berpuluh kali lipat seiring satu demi satu langkah kakinya mendekati pintu tujuan.


Tubuhnya terasa membeku saat langkahnya berhenti dengan mantap di depan pintu apartemen Jiwo.


Langsung diterjang rasa ragu yang sangat hebat untuk mengarahkan telunjuknya ke arah panel tombol bel.


Ini kelewatan nggak sih? Perempuan mendatangi rumah seorang lelaki...


Witri menarik kembali tangannya yang tadi telah setengah terulur untuk memencet bel.


Dengan wajah putus asa dia menunduk resah di depan pintu itu.


Bingung.


Kamu perempuan, Wit...Janda pula. Kepergian kamu ke negara ini aja harusnya udah bikin kamu malu sama kelakuanmu sendiri...ditambah lagi ini kamu ngapain ngejogrog di depan apartemennya?


Witri malu setengah mati mendengar monolog itu dari dalam hatinya sendiri.


Nggak perduli lagi dengan misinya datang untuk melihat kerapian kamar Jiwo, Witri bergegas balik kanan dan tergesa menuju lift diujung lorong.


Nggak! Kehormatan dan nama baik harus tetap dia jaga. Bagaimanapun dia janda. Masih menyandang nama Hari. Walaupun sudah meninggal, suaminya itu masih menafkahinya dengan pensiun yang dia terima setiap bulannya.


Witri terhenyak. Dia nggak mau mempermalukan dirinya sendiri. Nggak mau juga mencoreng nama almarhum suaminya.


"Astagfirullahaladzim.... astagfirullahaladzim..." gumam Witri tak henti sambil bergegas masuk ke dalam lift.


Dia nggak tahu bahwa sejak dia berbalik di depan pintu kemudian bergegas melangkah kembali ke arah lift, sang pemilik apartemen yang hendak dia sambangi baru saja membuka pintu dan sempat terpaku tak percaya menatap punggungnya.


Jiwo ingat benar dan yakin sekali kalau yang dia lihat adalah Witri. Dia ingat tas ransel yang disandang Witri tadi. Sepatunya juga belum ganti Jiwo ingat betul itu. Namun kalau itu Witri kenapa nggak jadi menghampirinya?


Apakah ada sesuatu yang akhirnya membuat Witri mengurungkan niatnya menyambanginya? Padahal tinggal memencet bel dan mereka akan bertemu.


Witri juga nggak keliatan sedang memegang ponsel. Itu berarti dia tidak sedang berkomunikasi dengan siapapun yang mungkin mempengaruhi niat awalnya.


Jiwo mengurungkan niatnya untuk memanggil Witri. Dia nggak mau perempuan itu merasa malu karena tertangkap basah di depannya.


Dipandanginya Witri yang bergegas masuk ke dalam lift dan hilang dari pandangannya.


Jiwo bergegas melesat masuk kembali ke apartemennya. Di ambilnya dompet dan ponsel di atas meja kecil kemudian berlari tergesa keluar dari apartemennya dan menuju lift


Dia harus mengikuti Witri. Dia khawatir kalau terjadi sesuatu pada perempuan itu.


Apa yang membuat perempuan itu mengurungkan niatnya menyambanginya?

__ADS_1


Setelah menyapa Lee Jun, penjaga apartemen yang memberitahu soal kedatangan Witri untuk mencarinya, Jiwo setengah berlari meninggalkan Lee Jun keluar untuk mengejar Witri.


"Kalian bertengkar kah?" teriak Lee Jun khawatir.


"Enggak!" seru Jiwo tanpa menoleh.


Beruntung Jiwo masih bisa menemukan sosok Witri yang berjalan santai bahkan beberapa kali nampak menundukkan wajahnya nyaris berbelok di ujung jalan.


Dengan langkah setengah berlari, Jiwo berusaha memangkas jaraknya dengan Witri.


Dia berencana nggak akan terlalu dekat. Yang penting bisa dengan jelas memantau gerak- gerik perempuan itu selama berjalan kembali ke hotel.


Jiwo melihat Witri menatap arloji di pergelangan tangannya. Tanpa sadar Jiwo mengikuti gerakan itu.


Masih kurang dua puluh lima menit dari waktu janjian mereka dan Witri sudah memasuki lobby hotel yang diikuti Jiwo.


Bedanya kemudian adalah Witri melangkah menuju lift untuk naik kembali ke kamarnya, sedang Jiwo memutuskan untuk duduk santai di salah satu sofa yang ada beberapa tersedia di samping meja resepsionis untuk menunggu waktu menjemput yang dijanjikannya pada Witri tadi.


Iseng- iseng Jiwo mengirim pesan pada Witri. Pengen tahu Witri bakal ngaku nggak.


📤 Hoiiii...udah kemana aja?


Menunggu beberapa detik balasan segera didapatinya.


📥 Keluar sebentar tadi. Barusan sampai kamar lagi. Kenapa?


Jiwo tersenyum kecil. Witri nggak bohong.


📤 Keluar kemana? Sendirian?


Pesan langsung terbaca dan balasan masuk dalam hitungan tak sampai sepuluh detik.


📥 Sendirian lah. Disini cuma kenal satu manusia doang 😌


Hmmm, Witri nggak menjawab pertanyaan kemana dia tadi.


📤 Keluar kemana sih?


Jiwo masih berusaha bertanya.


📥Kepo! 😝


Hmmm, nggak mau jawab dia.


📤Kalau mau keluar tolong ngomong sama aku dulu. Kamu tanggung jawabku selama disini.Aku nggak mau ditembak mati sama Bang Nadi apalagi dikutuk sama Mamak kalau kamu sampai kenapa- napa disini.


Jiwo perlu menunggu beberapa saat untuk kembali menerima jawaban Witri.


📤Iya. Maaf tadi kepedean keluar sendiri. Tapi tadi nggak nyasar kok ✌️


Jiwo kembali menahan senyum.


Nggak pakai nyasar ya nyari apartemenku? Penasaran banget ya?


📤Aku maafkan 😊 Sekarang siap- siap gih, aku jemput sebentar lagi ya.


📥OK 👌


Memberi waktu buat Witri sekitar sepuluh menit lagi, Jiwo menyibukkan diri dengan memainkan game kegemarannya di ponsel.


Ada sedikit kegelisahan yang merayapi benak Jiwo.


Ini adalah 'kencan' pertama yang akan dilakukannya dengan Witri sebagai sepasang manusia dewasa. Berbagai bayangan romantisnya sebuah kencan tentu saja berseliweran di benak lelakinya. Namun akankah dia bisa memiliki moment romantis itu nanti bersama Witri?

__ADS_1


...🍁 b e r s a m b u n g 🍁...


__ADS_2