
.Jantung Jiwo bertalu- talu riuh rendah sejak dia mendudukkan dirinya di belakang Lukman dari parkiran sekolah mereka siang itu.
Berboncengan memakai motor F1ZR yang terlihat masih sangat cantik karena baru berumur setahun, keduanya kini menyusuri jalan raya menuju ke SMEA tujuan.
"Deg- degan ya, Wo?" tanya Lukman sambil menolehkan kepalanya agar Jiwo mendengar ucapannya.
"Iya!" teriak Jiwo sambil memegangi dadanya yang semakin tidak kondusif detakannya.
Kepalanya sudah tidak bisa berpikir apapun saat ini.
Jangankan untuk mengkhayal indahnya pertemuannya dengan Witri yang baru mungkin akan terjadi.
Untuk berpikir dia sudah sampai dimana saja saat ini dia tidak bisa sama sekali.
Jiwo celingukan saat Lukman tiba- tiba memelankan motornya kemudian menghentikannya di pinggir jalan.
"Kenapa, Man?" tanya Jiwo kemudian bergegas turun dari boncengan.
"Menata hati dan body dulu, Wo. Dega- deganku nggak aturan ini." kata Lukman sambil berdiri mwngelus- elus dadanya dengan gerakan panik.
Jiwo hanya meringis.
Aku apalagi, Man...
"Eh! Eh! Ini apa?!" seru Jiwo kaget saat Lukman menyemprot bajunya dengan cairan.
"Parfum! Biar kita wangi." kata Lukman sambil meringis.
Jiwo menghirup nafasnya dan kemudian menatap Lukman dengan tatapan merana.
"Kenapa?" tanya Lukman melihat tatapan putus asa Jiwo itu.
"Kenapa wanginya melati?" tanya Jiwo setengah mencebik.
Lukman meringis malu setelah mengendus bajunya sendiri.
"Itu parfum aku nyolong punya mbakyuku ( kakak perempuan ku)." kata Lukman sambil menatap Jiwo penuh sesal.
"Hadyeeeeh!!!!" kata Jiwo sambil bergegas melepas atasan seragamnya.
Dengan bertelanjang dada di pinggir jalan itu dia bergegas membuka tasnya dan memakai kaos seragam olahraga yang untungnya tadi tidak jadi dipakai.
Lukman tersenyum sumringah kemudian mengikuti aksi Jiwo.
"Dah cakep lagi." kata Lukman sambil mengelus- elus dadanya sendiri.
Jiwo hanya meringis melihat kelakuan sahabatnya itu.
"Kita disini dulu aja ya, Wo. Sepuluh menit lagi kita ke depan gerbang sekolahnya. Aku janjiannya lima belas menit lagi." kata Lukman sambil duduk di atas pondasi di sebelah motornya terparkir.
Jiwo hanya mengangguk sambil menatap genteng bangunan di balik tembok di sebelahnya. Genteng sekolah di mana Witri berada.
Deg- degannya tak juga menyurut. Bahkan perutnya terasa melilit saking tegangnya.
Memalukan sekali kamu tuh, Wo...Belum pasti juga nanti kamu bakal ketemu Witri. Gelisahmu udah nggak karu- karuan gini.
"Hari ini kamu harus ketemu Witri, Wo. Mumpung kita niatkan datang ke sekolahannya." kata Lukman sambil menatap Jiwo yakin.
"Kan yang punya niat kamu, Man." sergah Jiwo sok merasa nggak penting soal pertemuannya dengan Witri. Padahal jauh di dalam hati dia mengaminkan harapan pertemuan itu.
"Kamu juga harus niat! Biar nggak sia- sia aku ngajak kamu kesini. Biar ada manfaatnya." sergah Lukman kesal. Jiwo mengangguk sambil meringis kecil.
Dan disinilah mereka kini. Duduk di atas sadel motor yang terstandar miring tepat di samping kanan gerbang sekolah pujaan hati mereka.
__ADS_1
Di sekitar mereka ada tiga kelompok cewek yang sedang berbincang asik sambil sesekali melirik kepada mereka berdua.
Iseng Jiwo dan Lukman saling menatap untuk menguping pembicaraan empat cewek yang bisa dipastikan adalah siswa sekolah itu.
"Pantesan Mas Bagus sekarang jadi kayak cacing kepanasan. Ih malah bikin geli kelakuannya sekarang." kata cewek berambut cepak ala Demi Moore dan bersepatu putih.
"Iya! Sejak pacaran sama Mbak Nurul jadi menj*jikkan gitu kelakuannya. Kebawa kelakuan ceweknya kali ya?" sahut cewek berkulit kuning langsat yang memakai rok di atas lutut dan betisnya bagus menurut Jiwo.
"Aku heran, kok bisa Mas Bagus pacaran sama Mbak Nurul..." timpal cewek berambut sepundak yang paling sering melirik ke arah Jiwo namun Jiwo pura- pura nggak tahu.
Nggak papa, ceweknya yang ngelirik manis ini.
"Katanya sih Mbak Nurul ngejar- ngejarnya udah dari kelas satu dulu. Tapi Mas Bagusnya nggak pernah perduli." kata si rambut cepak.
"Ya iyalah nggak perduli. Orang Mas Bagus sukanya sama Mbak jutek itu." kata si betis indah sambil terkikik.
"Dia juteknya cuma sama yang ngeselin. Kalau kita nggak songong, dia baik kok. Makanya Mas Bagus awet pacaran sama dia." kata si rambut cepak lagi.
Jiwo semakin asik menguping ghibahan cewek- cewek itu.
Seru juga.
"Katanya Mas Bagus ya yang diputusin?" tanya si rambut sepundak.
"Iya. Hahaha...keren ya Mbak jutek." kata si rambut cepak dengan tawa bernada puas.
"Memangnya kenapa mereka putus? Padahal mereka pasangan yang cool. Aku bahkan pengen kalau pacaran kayak mereka. Adem, santai, nggak mencolok mata." kata si betis indah sambil tersenyum menerawang.
"Kabarnya sih Mbak jutek nggak bisa sejalan sama pemikiran dan keinginan Mas Bagus. Tapi nggak tahu pastinya soal apa itu." jawab si rambut sepundak
"Hwidiiih...kayak udah berumah tangga aja alasannya." kata si betis indah sambil terkikik.
"Soalnya si jutek itu nggak mau ngasih sun." sahut satu cewek dari komunitas sebelah dengan suara agak keras yang membuat ketiga cewek itu menoleh padanya.
"Mas Bagus cerita sama pacarku. Nggak percaya ya udah." kata si Rin cuek lalu kembali ngobrol dengan komunitasnya yang empat orang.
Ketiga cewek itu saling pandang dengan tatapan tak percaya.
"Kereeeeeen!!!" seru mereka bertiga.
"Nggak mau dicium, hihihi..." kata si betis indah bergaya berbisik pada di rambut cepak.
"Keren sekali. Jaga dirinya betulan." komentar si rambut sepundak dengan nada kagum.
"Coba kalau dia ramah ya...Aku pengen sekali- sekali bisa ngobrol sama Mbak jutek itu. Kayaknya orangnya cerdas. Tapi dia pendiam dan angker gitu. Aku jadi segan sama dia." kata si betis indah.
"Dia sebenarnya asik kok katanya. Kata mbakku sih. Tapi memang orangnya pendiam. Kalau nggak di ajak ngomong duluan, jarang ngomong. Harus di tabuh dulu baru bunyi." kata si rambut cepak.
"Sttt....sttt...orangnya menuju kesini." bisik si rambut cepak dan langsung membuat mereka tiba- tiba ketiganya berubah gaya.
Mereka bertiga dengan gerakan halus kemudian mengubah posisi berdiri jadi membelakangi pintu gerbang.
Jiwo dan Lukman yang jadi penguping setia dari tadi jadi penasaran dengan si Mbak jutek mantannya mas Bagus yang jadi tema ghibah dari tadi.
Tanpa di komando,Jiwo dan Lukman mengarahkan pandangan ke arah gerbang.
Keluar dua cewek yang tertawa- tawa heboh dan keduanya langsung menatap genit ke arah Jiwo dan Lukman.
Bukan ini.
Keluar lagi dua cewek yang saling mengomel dan omelan mereka serentak berhenti saat melihat keberadaan Jiwo dan Lukman.
Bukan mereka.
__ADS_1
"Ndi wonge? Huuu...ngapusi! ( mana orangnya? huuu...bohong!)" gerutu si betis indah sambil menoyor si rambut cepak.
"Barusan belok. Kayaknya di panggil Mas Bagus." celetuk satu cewek di komunitas sebelah yang ternyata antenanya cukup tinggi untuk bisa ikut menyimak ghibahan sebelah.
"Jangan- jangan mau Balen ( balikan) mereka." duga Rin.
"Mana bisa? Kan Mas Bagus udah pacaran sama Mbak Nurul. Pasti Mbak jutek juga nggak mau." sahut si betis indah.
"Wiiiiittt!!!!" panggilan keras suara seorang cowok membuat perhatian semuanya terarah ke arah gerbang. Tak terkecuali pandangan Jiwo dan Lukman.
Seorang cewek tinggi semampai berambut sepinggang nampak berhenti di tengah gerbang dengan wajah datar menahan emosi. Witri.
Cewek- cewek ghibahers menatap adegan itu dengan wajah tegang dan nafas tertahan.
Menunggu adegan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Aku belum selesai ngomong lho tadi." kata cowok tegap dan rapi pada cewek di tengah gerbang itu.
Mereka berdua seperti tidak memperdulikan keadaan mereka yang tengah jadi perhatian beberapa pasang mata di sekitar mereka.
"Kalau kamu mau ngomong sama aku, tolong mulut pacarmu suruh diem dulu. Aku nggak bisa fokus dengerin suara kamu menjelaskan." kata cewek itu.
"Lagian apa memang harus ya jadi bayangan kamu? Kemana- mana ngikutin aja. Itu pacar atau ajal dan dosa?" gumam cewek itu meledek dengan lirikan tajam.
Cowok itu mendengus salah tingkah.
"Ayo kita cari tempat duduk dulu." ajak cowok itu sambil berusaha meraih tangan cewek itu yang dapat dengan lihainya berkelit.
"Tuh ajalmu menghampiri." kata cewek itu sambil menatap ke balik tubuh si cowok.
"Oooooh, mau ngobrol berduaan aja sama mantan? Mau ngajak balikan atau mau ngelaba nih? Pura- pura kesel...Katanya suaraku mengganggu pembicaraan. Ternyata cuma pengen di ajak ngobrol berdua? Mau mengajak mengenang masa lalu?" tanya cewek yang barusan datang. Cewek itu menatap sinis pada cewek lawannya.
Yang ditatap cuek saja tak bereaksi.
"Jangan coba- coba ganggu apalagi ambil pacarku." kata cewek sinis itu.
"Rul!" bentak cowok itu kesal.
"Apa?! Nggak terima dia ku peringatkan? Masih cinta?" tanya cewek itu dengan nada marah ke cowoknya yang mendengus kesal.
"Kami sedang membahas masalah OSIS tadi, kalau kamu mau sedikit menyimak pembicaraan kami tadi. Ngapain juga aku mau gangguin pacarmu." jawab cewek berambut sepinggang itu dingin.
"Ya kali aja kamu nyesel putus sama dia..." sahut cewek itu.
Witri mendengus kesal mendengarnya.
Helloooowww....nggak ada dalam kamusku ya, memungut kembali apa yang telah kubuang....
Matanya baru memindai ke sekitarnya seperti baru tersadar dengan posisinya.
Dilihatnya adik- adik kelasnya terciduk mencuri- curi pandang ke arah mereka bertiga.
Wah, Nurul nih bikin kesel aja!
"Wit..." dan tatapan cewek itu terpaku pada satu cowok berseragam kaos olahraga yang menatapnya dengan sorot mata ragu dan malu- malu.
"Jiwo?! Kamu ngapain kesini?" tanya Witri dengan nada tak percaya dan bergegas mendekat ke arah Jiwo yang tersenyum- senyum malu.
"Mau ketemu kamulah! Masak gitu aja masih nanya." sahut Lukman riang dan sok kenal karena Jiwo hanya menatap Witri tak bersuara.
Lukman mencubit pinggang belakang Jiwo agar sahabatnya itu kembali tersadar pada keadaan.
"Aku...mau ketemu...kamu..." akhirnya Jiwo bersuara juga.
__ADS_1
...💧💧💧 b e r s a m b u n g 💧 💧💧...