
Jiwo mengepal tangannya sekuat tenaga untuk menahan rasa kesal yang sudah ditahannya sejak kedatangannya ke rumah Ifah.
Dia datang sendiri ke rumah Ifah dengan niat untuk berbicara sangat serius soal kelanjutan hubungannya dengan Ifah.
Tadinya dia ingin mengajak Ifah keluar, atau setidaknya diberi waktu untuk bicara berdua saja dulu dengan Ifah barang sebentar. Namun orangtua Ifah sepertinya sengaja tak memberinya peluang untuk itu.
Ifah sendiri sepertinya juga nggak ada inisiatif untuk mengajaknya menyingkir sebentar dari hadapan orangtuanya atau membantunya minta ijin untuk bicara berdua sebentar.
Kenapa suasananya menyebalkan sekali sih? dengus Jiwo dalam hati.
Dia sudah minta ijin untuk berbicara empat mata dengan Ifah tadi, namun Ibu Ifah seolah tak menggubrisnya bahkan terus saja bicara soal rencana lamaran yang bahkan sudah malas Jiwo pikirkan.
"Jadi kapan Ibumu datang, Nak?" tanya Ibu Ifah dengan semangat pada akhirnya. Kedua bola matanya berbinar- binar bak dihiasi banyak bintang kejora.
Jiwo menarik nafasnya panjang sebelum menjawab.
Here we go...
"Bila keluarga sini tetap ingin Ibu Saya yang datang melamar langsung, paling cepat dua bulan lagi." jawab Jiwo dengan lugas dan menatap orangtua Ifah dengan tatapan tegas.
"Lhoh??!" reaksi Ibu Ifah yang jelas terdengar pertama kali. Sedang Bapak Ifah nampak lebih bisa mengendalikannya diri walau jelas terlihat kurang suka dalam diamnya.
"Saya sudah bicara dengan Ifah nggak cuma sekali soal alasannya. Dan Saya jujur soal itu." sambung Jiwo semakin mantap berbicara.
"Masak nggak bisa disempatkan barang dua hari kesini? Ini moment penting anaknya lho. Sekali seumur hidup melamar anak orang." sergah Ibu Ifah seolah tak perduli.
Fix, langsung ketahuan siapa yang jadi toxic bagi pola pikir Ifah.
"Ibu Saya bukannya tidak sempat atau tidak punya waktu apalagi tidak ingin untuk melamar putri Ibu secara langsung. Tapi Ibu Saya sedang tidak punya daya dan kesehatan yang cukup untuk membawa dirinya ke hadapan Bapak dan Ibu karena sakit dan benar- benar harus bed rest." jawab Jiwo dengan hati mulai kesal walau dia masih bisa menampilkan wajah tenang di hadapan orangtua Ifah.
Ya Allah harus berapa kali bilang masalah ini pada mereka?
Ibu Ifah sedikit mendengus mendengar jawaban Jiwo. Membuat hati Jiwo semakin kesal saja.
"Padahal kami sangat mengharapkan Ibumu sendiri yang melamar Ifah. Kalau cuma keluarga lain yang ngelamar sih ada lelaki lain juga yang siap melamar Ifah bersama Omnya. Dia bahkan sudah sangat mapan hidupnya. Dia sudah tunjukkan aset- asetnya pada kami." kata Bapak Ifah dengan nada santai namun melirik sinis pada Jiwo.
"Pak!" Ifah mencegah Bapaknya bicara lebih lanjut dengan sedikit mengeram.
Jiwo melirik cepat ke arah Ifah yang menatapnya salah tingkah.
"Ya kalau Ifah mau dengan beliau dan Bapak Ibu juga lebih sreg dengan beliau, disini Saya hanya bisa melepaskan Ifah dan mempersilakan, Pak." kata Jiwo tanpa merasa perlu berpikir lebih panjang lagi.
Dia merasa tengah dibanding- bandingkan. Dan dia tak suka itu. Sama sekali tak suka.
"Mas! Kok gitu ngomongnya?!" seru Ifah dengan wajah kesal.
Jiwo tak menanggapi kekesalan Ifah itu. Mau menanggapi bagaimana lagi? Sudah malas sekali rasanya melanjutkan pembicaraan ini.
Semua sudah jelas baginya. Pilihan terbaik adalah melepaskan Ifah.
Pada kenyataannya dua pihak keluarga mereka sama- sama kurang sreg menerima satu sama lain.
Jiwo tak ingin menjalani kehidupan rumah tangga yang rumit dan pasti akan melelahkan batinnya nanti.
Dia hanya ingin menjalani hidup yang tenang, dengan atau tanpa pendamping hidup. Itu saja akhirnya yang ada di benaknya.
"Baiklah kalau begitu." Bapak Ifah memecah kebekuan di ruangan itu sambil menepuk pahanya sendiri dengan pelan. "Sepertinya sudah nggak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Kita sudah nggak perlu membicarakan lagi soal rencana lamaran. Kami sudah penat dan ingin rehat. Kamu bisa pulang sekarang." kata Bapak Ifah sambil menatap Jiwo mengusir. Orang tua Ifah bergerak berdiri dan masuk ke dalam tanpa menghiraukan Jiwo lagi.
"Ngobrolnya jangan lama- lama, Fah. Sudah hampir larut." ucap Ibu Ifah sambil melewati Ifah dengan suara yang jelas terdengar oleh Jiwo.
"Bu..." gumam Ifah hendak protes namun tak dianggap oleh Ibunya.
Jiwo memilih melangkah keluar dari ruang tamu dan diikuti oleh Ifah yang mengikutinya dalam diam.
"Aku pamit ya." kata Jiwo setelah mencapai teras rumah. Matanya menatap Ifah dengan gelisah.
Ya, bagaimanapun dia pernah memiliki kisah dengan gadis ini. Bahkan dia sudah memiliki mimpi menghabiskan sisa usianya dengan gadis ini.
__ADS_1
Namun ternyata takdir baik tidak berpihak pada kisah cinta mereka. Gadis ini ternyata bukan pelabuhan terakhirnya.
"Kamu marah sama kami, Mas?" tanya Ifah dengan suara yang diusahakannya wajar saja.
"Enggak. Buat apa marah? Nggak akan ngerubah apapun juga kan?" tanya Jiwo sambil tersenyum tipis.
Hhhhh, tiba- tiba Jiwo merasa konyol sekali bisa menjalani semua ini.
"Jadi kita gimana ini?" tanya Ifah kemudian. Matanya menatap gamang ke arah Jiwo yang juga menatapnya dengan tatapan kosong
Walaupun pembicaraan mereka di dalam tadi sudah sangat bisa menjelaskan kondisi hubungan mereka sekarang, namun Jiwo memilih mempertegas status diantara mereka berdua.
Setidaknya ibarat kata dulu dia mengetuk pintu saat datang ke dalam hati Ifah, maka seharusnya dia juga harus berpamitan saat memutuskan akan pergi dari hati Ifah.
"Kita tidak bisa melanjutkan hubungan kita, Fah. Keluarga kita akan tidak tenang kalau kita tetap memaksakan diri terus bersama." kata Jiwo setelah menunduk untuk mengatur debaran jantungnya.
Sesungguhnya hatinya nyeri dan tak sampai hati melihat airmata Ifah. Namun kenyataan memaksanya untuk memutuskan semua ini.
Ucapan Ifah tempo hari dan ucapan orangtua Ifah baru saja tadi membuatnya semakin yakin untuk memilih menyudahi saja kisah cintanya dengan Ifah.
"Kita bisa bicarain lagi soal ini, Mas." bujuk Ifah dengan wajah tak rela.
"Apalagi yang harus kita bicarakan?" tanya Jiwo kemudian.
Lamaran secepatnya yang harus ada Ibu di dalamnya? Nggak akan.
"Nanti aku bujuk orangtuaku biar mengerti keadaanmu." kata Ifah masih membujuk.
Jiwo menatap Ifah sambil tersenyum pilu.
Nanti? Kenapa baru nanti membujuk mereka? Kenapa nggak dari dulu? Apa harus melukai perasaannya dulu baru mau berusaha membujuk orangtuanya? Tega sekali.
"Nggak perlu, Fah.' kata Jiwo sambil menatap Ifah mantap. "Kita selesaikan saja semuanya sampai disini." sambung Jiwo kemudian.
Ifah terpaku seakan tak percaya dengan sikap tegas Jiwo barusan.
"Kenapa kamu nggak mau berusaha dulu, Mas?" tanya Ifah sudah dengan uraian airmata.
"Berusaha yang bagaimana lagi maksudmu?" tanya Jiwo tak mengerti.
"Cobalah minta waktu pada orangtuaku lagi sampai Ibumu sembuh." jawab Ifah.
"Aku sudah lakukan itu kalau kamu lupa.Aku sudah bilang berulangkali sama kamu paling cepat dua bulan lagi kan Ibuku baru bisa kesini. Tapi kalian bilang dua bulan itu kelamaan. Aku harus bagaimana lagi menurutmu?" tanya Jiwo setengah mengeram.
"Apa nggak ada cara lain biar Ibumu bisa sembuh lebih cepat?" tanya Ifah membuat Jiwo kembali kesal.
Tetap saja dia yang harus mengalah kan?
"Nggak ada!" jawab Jiwo cepat. Menghentikan Ifah yang nampak masih ingin mendebatnya.
"Sudah. Kita hentikan semua ini sekarang, Fah. Aku memilih berhenti dan menyerah saja. Maafkan aku." pangkas Jiwo daripada pembicaraan semakin mengesalkan hatinya.
Percuma juga bicara lagi.
"Kita putus gini aja, Mas?" tanya Ifah sambil membeliakkan matanya.
Jiwo mengangguk mantap.
Rupanya Ifah sudah mengerti maksud pembicaraannya tadi. Syukurlah kalau tak perlu repot- repot menjelaskan lebih gamblang ke Ifah kalau dia ingin.berpisah saja
Ifah nyaris tak percaya kalau lelaki yang tengah berdiri tegak dengan wajah tegas di depannya ini adalah Jiwo, kekasihnya yang biasanya berwajah teduh dan bertutur lembut dan selalu mengalah padanya.
"Iya. Kita berpisah begini saja. Aku minta maaf ya Fah, nggak bisa menuruti keinginan kamu. Aku doakan kamu segera menemukan seseorang yang bisa memenuhi semua impianmu dengan mudah." kata Jiwo dengan seulas senyum keikhlasan.
Ifah hanya mampu mematung menatap Jiwo tak percaya.
"Aku nggak mau kita putus, Mas." kata Ifah lirih sambil menggeleng lemah.
__ADS_1
"Kita lanjutkan pun nggak ada gunanya, Fah. Semakin kesini aku semakin yakin kalau aku nggak akan bisa menjadi seseorang yang kamu impikan. Apalah aku ini." kata Jiwo sambil menggeleng pelan seakan untuk meyakinkan Ifah betapa kecilnya dia di mata keluarga Ifah atau bahkan sebenarnya di mata Ifah sendiri.
Ifah tak menanggapi ucapan Jiwo. Sepertinya dia mencoba untuk mulai berpikir 'waras' dan realistis.
"Ada yang mendekati kamu disini selama kita LDR?" tanya Jiwo sambil tersenyum, tanpa tatapan menuduh atau mengintimidasi.
Dalam hati Jiwo meringis sendiri.
Tanpa harus bertanya pun dia yakin pasti ada yang ingin mendekati Ifah.
Gadis itu menarik dan berpembawaan menyenangkan.
Ifah tak menjawab. Hanya menatap Jiwo dengan tatapan bersalah. Dari situ saja Jiwo mengerti,kalau jawaban dari pertanyaannya tadi adalah 'iya. Ada.'
Jiwo tersenyum kecut.
"Kalau kamu merasa dia bisa mewujudkan harapan- harapan orangtuamu dan harapanmu sendiri, nggak ada salahnya diterima. Aku akan doakan kebahagiaanmu." kata Jiwo sambil tersenyum tulus.
Ifah hanya tertunduk di depan Jiwo. Dalam hati dia merasa bersalah karena memang dia bermain api di belakang Jiwo sejak enam bulan lalu.
"Maafkan aku, Mas." kata Ifah lirih penuh sesal.
"Aku nggak ngapa- ngapain sama dia. Sumpah! Kami hanya jalan biasa, kayak aku sama kamu dulu." kata Ifah mencoba meyakinkan Jiwo.
Jiwo tertawa sumbang.
"Ada yang menemanimu setia padaku ternyata ya?" tanya Jiwo sarkas. Ifah tak menjawab.
"Ya udah nggak papa. Toh sekarang kita sudah bukan apa- apa lagi. Kamu nggak perlu minta maaf sama aku soal itu." kata Jiwo kemudian.
"Aku pamit ya..." kata Jiwo sambil mengulurkan tangannya mengajak Ifah berjabat tangan.
"Semoga kamu bahagia dengan yang ini." sambung Jiwo begitu Ifah menerima uluran tangannya.
Ifah tak menjawab. Hanya butiran- butiran airmata nampak semakin deras merambati pipinya.
Dia sendiri tak menyangka hatinya akan merasa langsung sekosong ini saat ini.
Padahal jemari Jiwo masih mengenggam tangannya. Namun dia merasa telah sangat kehilangan lelaki ini.
"Aku cinta sama kamu, Mas." kata Ifah dengan tatapan putus asa.
Hari Jiwo merasa tercubit- cubit.
Mana ada orang cinta masih sempet mendua? Ada- ada aja.
"Aku udah nggak bisa nerima cinta kamu itu Fah." jawab Jiwo seyakin mungkin sambil melepaskan jabatan tangannya.
"Kenapa? Kenapa nggak bisa?" tanya Ifah mulai terlihat kalut.
Jiwo hanya menggeleng pelan. Tak ingin menjawab pertanyaan tak bermutu seperti itu.
Ya kali dia masih mau menerima Ifah yang jelas sudah mengaku kalau mendua.
Lelaki macam apa yang masih mau begitu?
"Aku pergi sekarang. Assalamualaikum." pamit Jiwo memungkasi obrolan yang menurutnya semakin tak mengenakkan itu.
Dia bergegas membalikkan badan dan berlalu dari hadapan Ifah tanpa menoleh lagi sekalipun dia belum mendengar Ifah membalas dalamnya.
Selesai sudah semuanya.
Mimpi- mimpinya untuk memiliki rumah tangga bahagia harus hancur lagi kali ini.
Walau harus dia akui tak sesakit saat mimpinya bersama Witri dulu hancur. Tapi Jiwo tetap merasa hatinya kembali terkoyak.
Ikhlaskan kembali hati hamba ya Allah. Seperti dulu, saat aku melepas Witri untuk kebahagiaannya.
__ADS_1
...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...