JANJI JIWO

JANJI JIWO
Kenangan Paling Manis


__ADS_3

Perjalanan dari asrama ke bandara dilewati Witri dengan mendekap peti jenazah Hari di dalam ambulance yang melaju sangat lancar seolah jalan memang disediakan hanya untuk lewat ambulance itu sendiri.


Witri masih dengan wajah membeku tanpa airmata. Tangannya tak henti antara mengelus dan memeluk peti dimana jasad sang suami sudah terpejam tenang untuk selamanya.


Pikirannya kosong. Benar- benar tak mampu berpikir lainnya selain dia akan pulang membawa jasad suaminya.


Tak ada yang menemaninya duduk di bagian belakang ambulance jenazah itu karena Witri memang meminta untuk dibiarkan berdua saja dengan almarhum.


Nadi hanya bisa mengawasinya dari kursi depan, dimana dia duduk di samping sopir.


Sesekali dia ngobrol dengan sang sopir dengan mode bisik- bisik seolah sedang bicara rahasia. Padahal hanya agar tak mengganggu ketenangan Witri saja maksudnya.


"Sebentar lagi kita sampai, Mbak." kata sopir dengan suara agak keras agar Witri memerhatikan ucapannya.


"Ah, ya..." jawab Witri sambil menatap ke arah depan mobil dengan tatapan gamang.


Dekapannya pada peti jenazah kian dia eratkan seperti sebuah pelukan sampai jumpa lagi.


Witri tenang dalam pelukan Bu Ikhsan yang akan ikut mengantarnya pulang ke Jogja bersama Pak Nadi, Pak Ikhsan, dana Pak Zul.


Dia tak bergerak dari samping pintu ambulance dengan mata yang bergerak lincah mengikuti setiap jengkal pergerakan peti.


Hanya wajahnya kian merana saat peti jenazah sudah tak terlihat lagi oleh tatapannya.


"Ayo. Kita harus segera check in." kata Bu Ikhsan sambil menarik lembut tubuhnya agar berjalan mengikuti yang lain.


"Mas Hari..." gumamnya dengan wajah kebingungan.


"Hari bareng kita." potong Bu Ikhsan cepat." Kita akan lihat dia nanti setelah sampai di Jogja." sambung Bu Ikhsan yang hanya di sambut anggukan lemah Witri.


Perjalanan hari itu terasa sangat lancar dan tak menemukan halangan suatu apapun yang memperlambat perjalanan pulang Hari.


Di bandara Jogja mereka di jemput oleh Mamak dan kakak perempuan Hari satu- satunya yaitu Mbak Tati dan suaminya.


Tangis Mamak dan Mbak Tati pecah saat melihat Witri kemudian mereka memeluk dengan erat.


Witri hanya mampu meletakkan kepalanya dengan lemas di pundak Mamak tanpa bersuara.


"Yang kuat ya,Nduk. Yang sabar." bisik Mamak sambil mengelus kepalanya.


Witri hanya mengangguk pelan.


Mbak Tati tak mengucapkan apapun selain memeluk erat tubuh Witri sambil sesenggukan.


Melihat tatapan kosong di mata Witri dengan wajah kuyu seolah tak bernyawa sudah cukup baginya untuk tahu seberapa berat kesedihan yang tengah di tahan Witri.


Pihak keluarga sudah tahu semua yang terjadi di saat- saat terakhir Hari karena Pak Nadi sudah menelpon Pak Dukuh setelah selesai mengurus administrasi tadi.


Tati dan bapaknya sekuat hati sudah mengikhlaskan kepergian Hari yang semoga Husnul khatimah.


Menempuh perjalanan nyaris enam jam di udara,di sambung nyaris dua jam perjalanan darat, rombongan penuh dukacita itu tiba di tanah kelahiran saat malam hampir menjelang.


Debaran jantung Witri seperti baru kembali berdetak saat ambulance yang ditumpanginya sudah melewati gapura masuk desa.


Tak sampai lima menit lagi mereka akan sampai di rumah orangtua Hari.


Sekujur tubuh Witri tiba- tiba terasa dingin dan ngilu. Kepalanya tiba- tiba pening, perut serasa di re mas tak beraturan, bahkan terasa juga mual menerjangnya sampai ke ulu hati.


Sebuah akumulasi dari semua rasa takut dan sedih yang tengah bergulat di benaknya saat ini sepertinya ingin meledak sesaat lagi.


Dengan tubuh gemetar hebat dia paksakan tubuhnya bergerak pelan, beringsut untuk turun dari ambulance saat pintu belakang ambulance sudah di buka dari luar.


Sejenak ditatapnya lagi peti yang sedari tadi tak pernah lepas dia sentuh.


Kita sudah sampai, Mas...


Matanya sudah tak bisa lagi menatap dengan benar.


Dia sudah tak tahu siapa yang berdiri di sekitarnya. Yang dia tahu dia hanya harus turun dulu agar peti bisa segera turun.


Isakan terdengar memenuhi gendang telinganya begitu telapak kakinya menyentuh tanah.


Menyambut kepulangan mereka berdua dengan suasana duka yang begitu kental.


Witri belum mau bergerak dari samping ambulance menunggu peti benar- benar sudah keluar.


Kedua lengannya sudah berada dalam gandengan Bu Ikhsan dan Mbak Tati untuk mengikuti peti yang mulai di bawa berjalan ke arah dalam rumah untuk kembali di shalatkan oleh warga sebelum kemudian langsung di kebumikan.


Mata Witri nanar menatap Ibu mertuanya yang berlari memburu ke arahnya tanpa bisa di cegah oleh siapapun.

__ADS_1


Dengan sekuat tenaga ibu mertuanya itu menerjang ke arah dadanya sedemikian kuat hingga cekalan Mbak Tati dan Bu Ikhsan di lengannya terlepas dan membuat Witri terdorong ke belakang dengan kencang.


Jeritan beberapa perempuan yang melihat kejadian mendadak itu mewarnai tubuh Witri yang nyaris terjerembab ke tanah.


Untung sepasang lengan kokoh menerima bagian belakang tubuh Witri sebelum sukses menyentuh tanah.


Belum juga kembali tegak berdiri, tamparan sekuat tenaga menerpa pipi Witri yang kembali di sambut pekikan ngeri suara para perempuan.


Dengan gesit Nadi berputar ke arah depan Witri untuk menghindari terjangan Bu Dukuh yang akan semakin membabi buta.


"Istigfar, Bu... Istigfar..." Pak Dukuh dan menantunya langsung mencekal kedua lengan Bu Dukuh yang masih meronta- ronta histeris.


"Aku nyesel membiarkan Hari nikah sama kamu! Harusnya dulu aku nggak merestui dia menikah sama kamu! Dasar perempuan pem bu nuh !!!" jerit Bu Dukuh sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Witri yang kini nampak menggigil ketakutan.


"Kamu rebut dia dari aku, Ibunya! Kamu membuat aku kehilangan anak laki- lakiku satu- satunya! Kamu perempuan sialaaaan!!!" teriak Bu Dukuh masih dengan meronta- ronta sembari di tarik menjauh dari lokasi.


"Jangan harap aku memaafkanmu! Aku nggak sudi!" teriaknya lagi.


Witri terpaku kian dalam.


Tak dirasakannya bekas tamparan yangeninggalkan noda merah di pipinya. Panasnya tak terasa sama sekali olehnya.


Bahkaan sudut bibirnya yang ikut robek dan mengeluarkan sedikit darah sama sekali tak mwnganggunya.


Pem bu nuh. Ya, dia pem bu nuh suaminya sendiri.


Apa yang dikatakan ibu mertuanya itu benar.


Gara- gara dia Hari meninggal.


Kalau saja Hari tak menikahinya, pasti Hari masih hidup dan Bu Dukuh nggak akan kehilangan anak lelaki kebanggaan dan kesayangannya.


Karena Hari selalu melindunginya dari sikap ketus ibunya, Hari seolah ikut menjauh dari ibunya sejak mereka menikah.


Ya. Dia memang merebut Hari dari Ibunya.


Dia juga yang membuat Bu Dukuh kehilangan anaknya.


Witri meremas kepala yang terbalut jilbab dengan gerakan kasar tanpa bersuara.


Suara Bu Dukuh yang menyebutnya sebagai pem bu nuh semakin keras memenuhi gendang telinganya sehingga serasa akan meledakkan seisi kepalanya.


Dia meminta Bu Ikhsan dan Mamak yang baru saja mendekat untuk mengikutinya agar bisa menenangkan Witri.


"Aku pembunuh..." gumam Witri seusai di turunkan Nadi di ruangan tengah rumah tetangganya.


Mamak memeluknya hangat dan erat tanpa bersuara.


Sekuat tenaga perempuan paruh baya itu menahan tangisnya.


Bukan waktunya untuk menangis saat ini. Putrinya tengah terguncang hebat dan tengah kehilangan kesadarannya.


Siapa lagi yang bisa menjaga, menguatkan dan merengkuhnya kalau bukan dia, ibunya ini?


Dunia putri kesayangannya tengah gelap gulita karena kehilangan cahaya cintanya. Siapa lagi yang bisa jadi setitik penerang selain kasih sayangnya?


Bu Ikhsan hanya duduk merapat ke tubuh Witri yang masih menutupi kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya.


"Astagfirullahaladzim... Astagfirullahaladzim...Ayo tirukan Ibu, Nak." bisik Bu Ikhsan dengan lelehan airmata.


"Aku pembunuh..." lagi- lagi itu yang keluar dari sela bibir Witri.


"Tidak ada yang membunuh. Juga nggak ada yang terbunuh." bisik Mamak sambil mengelus kepala Witri yang kini rebah di pangkuannya.


"Mas Hari..." gumam Witri lirih dan sedih. Terbayang di benaknya saat Hari menatapnya dengan nafas yang tersengal- sengal.


Harinya rasanya di rekam oleh puluhan belati tajam.


"Hari nggak terbunuh, Nduk. Kamu yang melihat sendiri bagaimana dia pulang dengan damai kan? kamu yang menuntun dia pulang dengan cara yang sangat baik." kata Mamak lembut namun meyakinkan.


"Mas Hari pergi sendiri. Aku dan Aksa nggak boleh ikut dulu katanya. Tempat dia bagus, Mak. Asri sekali." kata Witri seperti mengadu.


Mamak mengangguk walau sedikit keheranan.


"Hari bilang begitu?" tanya Mamak kemudian.


"Iya." kata Witri sambil mengangguk kecil.


"Dia senang kan tinggal di sana?" tanya Mamak lagi.

__ADS_1


"Iya. Dia bilang dia senang di sana. Tapi aku nggak boleh ikut dulu. Katanya belum waktunya." kata Witri lagi mengadu.


Mamak tersenyum haru.


"Lalu kenapa sekarang kamu sedih kalau kamu tahu Hari ada di tempat yang bagus, yang dia juga suka tinggal di sana? Kamu harusnya nggak boleh seperti ini. Suamimu ada di tempat yang baik. Jangan membuatnya berat meninggalkan kamu dengan cara seperti ini, Nduk. Istigfar..." kata Mamak lembut.


"Tapi aku pembunuh Mak..." kata Witri kembali ngotot.


"Kamu membunuh siapa?" tanya Mamak kemudian.


Witri terdiam kebingungan. Bingung mau menjawab apa.


Siapa yang dia bunuh?


Dia nggak melakukan apapun bukan?


Tapi Hari meninggal karena beli testpack untuknya. Secara tidak langsung dia yang menyebabkan Hari kecelakaan hingga meninggal.


Jadi secara tidak langsung dia memang penyebab Hari meninggal.


Dan kalau begitu benar kata Ibu mertuanya kalau dia pembunuh.


"Aku yang membunuh Mas Hari, Mak...!" jerit Witri tiba- tiba.


"Kamu apakan dia, hmm?" tanya Mamak lembut.


Tak ada yang tahu bagaimana carut marutnya benak perempuan tengah baya ini.


"Mas Hari beli testpack lalu kecelakaan..." jawab Witri setelah diam sesaat mencoba menjernihkan ingatannya lagi.


"Apa kamu yang membuat kecelakaan itu?" tanya Mamak kemudian. Witri menggeleng cepat.


"Tak ada satu pun yang menginginkan peristiwa ini,Nduk. Tidak kamu, tidak Hari, tidak juga yang mengalami tabrakan di sana bareng Hari. Semua terjadi karena Allah yang telah menuliskannya seperti itu." kata Mamak sambil membelai lembut pipi Witri yang nampak masih memerah bekas tamparan tadi.


"Tapi Mas Hari meninggal..." sahut Witri masih mencoba menyalahkan dirinya sendiri.


"Ya, Nduk...Hari memang meninggal saat ini." kata Mamak tanpa menyangkal,membuat tumpukan luka yang sedari tadi coba disembunyikan Witri kian terlihat jelas.


"Nanti, esok lusa giliran kita yang meninggal. Menyusul Hari. Hanya tinggal tunggu waktu." sambung Mamak dengan seulas senyum yang entah mengapa mampu menenangkan Witri.


Hanya tinggal tunggu waktu untuk mati. Dia juga akan mati, seperti yang dialami Hari sekarang ini.


"Sambil menunggu giliran itu tiba, kita harus menyiapkan bekal yang banyak agar kita bisa pulang dengan damai dan tenang." kata Mamak lagi.


Witri teringat wajah Hari yang terakhir dia lihat. Terlelap sangat tenang, damai, dan terlihat tampan dengan senyum di sudut bibirnya. Menyenangkan sekali dilihat.


"Seperti Mas Hari? Dia terpejam pulas sekali dan terlihat tampan, Mak." gumam Witri dengan sedikit senyum bahagia di sudut bibirnya.


"Ya. Seperti Hari, Nduk. Dia pergi dengan baik. InsyaaAllah Husnul khatimah. Dan kepergiannya nggak boleh kita berati dengan duka cita yang berlebihan dan berlarut- larut. Dia sudah bahagia di tempatnya yang baru karena dia orang baik." kata Mamak lembut dan meneguhkan hati Witri.


"Tapi Ibu..."


"Jangan dimasukkan ke hati. Cara orang mengekspresikan kehilangannya macam- macam. Bu Dukuh memilih mengekspresikannya dengan menyalahkan keadaan dan orang lain. Kamu mengekspresikannya dengan diam dan menahan tangis. Kita harus mengerti pilihan masing- masing untuk menunjukkan rasa sayang dan kehilangan. Beliau sama sedihnya kayak kamu. Sama- sama kehilangan cahaya hati." potong Mamak.


"Aku di tinggal sendirian sama Mas Hari, Mak..." kata Witri dengan mata yang mulai berkaca- kaca.


Ada senyum kelegaan di wajah Mamak dan Bu Ikhsan melihat Witri yang mulai bisa mengekspresikan kesedihannya.


"Siapa bilang ditinggal sendirian? Kamu ditinggali kenangan yang sangat manis sama Hari." potong Bu Ikhsan sambil menggeleng.


"Aksa harus kamu jaga dan rawat sampai dia dewasa dan membanggakan Ayahnya. Dia peninggalan Hari yang manis bukan?" kata Bu Ikhsan sambil mengelus lembut perut Witri.


Mamak membekap mulutnya karena kaget mengetahui Witri tengah hamil.


"Kamu hamil, Nduk?" tanya Mamak dengan oancaran mata yang tak bisa berbohong kalau bahagia.


Witri mengangguk pelan.


"Karena beli testpack, Mas Hari begini." gumam Witri kembali down.


"Hari sudah sempat tahu kalau kamu hamil?" tanya Mamak cepat. Witri mengangguk.


"Alhamdulillah...Itu yang utama. Ayah anak ini tahu keberadaannya. Itu saja cukup, Nduk. Tugasmu selanjutnya adalah menjaga, merawat, dan mendidik dia hingga bisa membuat Ayahnya dan kamu bangga. Dia kenangan paling manis dari Hari hanya untukmu." kata Mamak sambil mencium kening Witri sayang.


Witri mengelus lembut perutnya yang masih rata. Ada sebuah semangat baru timbul di hatinya.


Merawat kenangan termanis ini dengan sebaik- baiknya. Agar Hari bangga telah menitipkannya di rahimnya.


Aku janji akan jaga dia, Mas. Aksa kita.

__ADS_1


...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...


__ADS_2