JANJI JIWO

JANJI JIWO
Kenyataan


__ADS_3

Witri POV


Dan terjadilah apa yang sudah digariskan oleh takdir.


Aku sudah memilih menyerah untuk mengikuti suratan yang ada di depanku. Menikah dengan Mas Hari.


Aku sudah selesai dirias. Dan semua ibu- ibu yang rewang ( membantu acara masak- masak di hajatan) di rumah silih berganti ke kamarku hanya untuk melihat hasil riasan pengantinku dan memuji.


Aku terlihat manglingi ( berubah,berbeda) katanya.


Mamakku berulangkali memujiku dengan wajah yang berbinar- binar penuh kebahagiaan dan kebanggaan.


Andai kau tahu,Mak, demi binar di wajahmu hari ini aku rela mempertaruhkan kebahagiaan ku seumur hidup.


Doakan aku ya, Mak, aku segera ikhlas dan kehidupan rumah tanggaku nantinya baik- baik saja.


Walau sampai detik ini aku merasakan apa yang kujalani masih seperti mimpi.


Tak ada kesedihan, patah hati, ataupun putus asa kurasakan di hatiku saat ini.


Namun tak juga ada kebahagiaan, rasa berdebar, atau cemas kurasakan di hatiku.


Datar saja perasaanku saat ini.


Aku benar- benar tak bisa meyakini bahwa apa yang terjadi hari ini adalah kenyataan.


Sebuah kenyataan hidup yang harus kujalani bagaimanapun caranya nanti.


Semua prosesi pernikahan adat Jawa mampu ku lalui dengan lancar.


Semua orang nampak senang dan bahagia melihat 'pertunjukan' yang ku tampilkan bersama Mas Hari.


Aku juga bisa tersenyum sumringah saat para tamu menyalami dan memberi ucapan selamat dan doa kepada kami berdua.


Sempurna.


Acara pernikahanku yang meriah yang sudah dirancang keluarga besarku berjalan dengan sangat lancar dan sukses terlaksana.


Dan semua itu masih saja ku anggap hanya sebuah mimpi.


Mimpi yang entah kapan akan berakhir.


Acara resepsi selesai menjelang pukul satu.


Karena kebelet pipis, aku bergegas keluar kamarku seusai aku melepas jarik baju pengantinku dan memakai celana panjang sebagai gantinya.


Aku hanya tersenyum- senyum saja meladeni ledekan ibu- ibu tetanggaku yang masih ada di dapur karena acara rewang belum selesai.


Kamar mandi rumahku ada di bagian paling belakang rumah, harus melewati dapur dulu untuk mencapainya.


Untuk menghindari ledekan ibu- ibu tetangga di dapur, keluar dari kamar mandi aku memilih melipir lewat samping rumah dan berencana masuk lewat pintu yang tembus ke ruang tengah.


Suara samar- samar Bu Dukuh yang kini sudah sah jadi mertuaku menarik perhatian kupingku untuk kepo apa yang beliau bicarakan.


Sepertinya beliau sedang berganti pakaian dan menghapus make- up juga di kamar bagian depan yang sangat jarang di pakai.


Namun karena akan ada hajatan, kamar itu tak luput dari acara ditata dan di bersihkan.


"Sakjane aku ki kurang sreg karo pilihane Hari. padahal okeh cah wedok sing luwih seko Witri sing nyeraki Hari. Ono kancane SMA sing podo- podo tentara, ono sing dadi dokter, ono sing PNS. Lha kok yo sing dipilih malah Witri. ( sebenarnya aku tu kurang sreg sama pilihannya Hari. Padahal banyak anak gadis yang lebih dari Witri yang mendekati Hari. Ada teman SMAnya yang sama- sama jadi tentara, ada yang jadi dokter, ada yang jadi PNS. Kok ya yang dipilih malah Witri)." ucapan Bu Dukuh itu sangat jelas terdengar olehku yang berhenti tepat di depan kamar ganti yang akses masuknya hanya terhalang sebuah gordyn.

__ADS_1


"Sudah jodohnya, Bu. Tinggal didoakan yang baik- baik saja untuk putra dan menantunya." terdengar sahutan dari tukang rias yang sedang membantu menghapus make-up.


"Ya iya. Mau gimana lagi. Semoga saja Witri tidak mengecewakan dan nantinya bikin malu Hari. Witri kan ya gimana ya...Pasti belum ngerti gimana caranya bergaul dengan kalangan militer." kata Bu Dukuh lagi.


Hatiku rasanya di remas berkali- kali mendengarnya.


Lututku sudah gemetar menahan perasaanku yang campur aduk.


Telapak tanganku sudah basah oleh keringat dingin.


Aku pengen menangis. Mengadu pada mamak biar mamak tahu seperti apa mulut mertuaku.


Tapi mana mungkin aku akan berlaku seperti itu.


Aku hanya mampu menghela nafas berat. Sangat berat.


Wo,kalau ibumu apa akan ngomong gitu juga?


Ah kenapa aku malah keingat Jiwo sih?


Aku hanya mampu mengelus dadaku berulangkali.


Kuat....kuat....kuat ya Wit...


Ternyata serendah itu nilai diriku di keluarga Mas Hari.


Ternyata sikap ramah dan manis keluarga Mas Hari hanya di depan saja.


Ya Allah...Sambutan selamat datang dalam pernikahanku seperti inikah?


"Pasti bisalah, Bu. Mbak Witri kan juga pinter. Kalaupun harus belajar, pasti akan belajar dengan cepat. Nggak akan mungkin pula ada niat akan mempermalukan suami apalagi keluarga besar." sahut Mbak perias setengah membelaku.


Hatiku agak sedikit senang mendengarnya.


Mas Hari rupanya sudah melepas baju pengantinnya dan sudah berganti dengan hem putih dan celana semi jeans warna hijau army.


Memang nampak gagah walau dengan muka terlihat lelah.



"Ada teman- temanku datang. Ayo kita temui dulu." ajak Mas Hari sambil meraih pergelangan tanganku.


Rasanya ingin melepaskan pegangan tangannya itu dari tanganku ini, tapi apa pantas hal itu kulakukan?


"Mereka kebetulan ada tugas di Solo. Menyempatkan diri kesini." terang Mas Hari sambil menatapku lembut.


"Aku begini aja nggak papa, Mas? Atau aku ganti baju dulu aja ya?" tanyaku khawatir.


Ucapan ibu mertuaku tentu saja membayangiku saat ini.


Aku nggak boleh mempermalukan suamiku dalam hal apapun.


"Nggak papa. Cantik." jawab Mas Hari sambil mengerlingkan matanya.


"Tapi bawahanku celana panjang. Tadi kebelet pipis." kataku sambil tak enak hati.


"Nggak papa. Malah keren kayak gitu. Nggak ribet." kata Mas Hari meyakinkan aku.


Baiklah.

__ADS_1


Setidaknya Mas Hari nggak keberatan dengan tampilanku untuk dia bawa ke depan teman- teman tentaranya.


"Ini kenalkan, nyonya Hari Prasetyo." kata Mas Hari begitu sampai di satu meja yang berisi enam orang pria berseragam loreng khas TNI.


Aku menyambut uluran tangan ke enam pria yang menatapku dengan ramah.


Mereka bernama Ibnu, Martinus, Ujang, Rahman, Dedi, dan Joko.


"Kita nanti akan jadi tetangga mereka, Dik." kata Mas Hari sambil menatapku.


Dik? Sejak kapan aku punya panggilan 'Dik'?


Aku nggak suka banget dengan panggilan itu.


"Di asrama?" tanyaku sambil menatap Mas Hari.


"Iya. Tapi mereka agak jauh dari rumah kita. Mereka ada di depan, di asrama bagian untuk bujangan yang belum laku. Kalau kita nanti agak di tengah rumahnya." jelas Mas Hari yang mengundang umpatan ke enam temannya yang ternyata belum ada yang menikah.


"Witri!" suara Bu Dukuh yang agak keras memanggilku membuat kaget kami semua yang sedang asik berbincang- bincang.


"Ya, Bu." jawabku sambil bergegas mendekati mertuaku yang tadi nampak melempar senyum manis dan ramah ke teman- teman Mas Hari namun kemudian menatap kesal padaku setelah kami masuk dan aku ada di depannya.


Beliau sudah berganti style. Sekarang sudah memakai setelan rok selutut dan blouse lengan pendek yang terlihat mahal.


Gelang, kalung, anting, dan cincin emas bertebaran di tubuhnya. Glamour.


"Apa- apaan kamu itu berpenampilan kayak gitu? Bikin malu aja!" kata Bu Dukuh dengan tatapan kesal yang terlihat sangat meluap- luap.


Apa kesalahanku memang sangat fatal dan sangat memalukan sampai harus dimarahi seperti ini?


"Tapi tadi Saya tanya Mas Hari katanya nggak papa kayak gini, Bu." jawabku membela diri.


"Malah menjawab kalau dikasih tahu orangtua! Kamu itu jangan bikin malu anakku. Penampilan model apa kayak gitu? Sanggulan, pakai kebaya, bawahnya celana panjang?! Kenapa nggak pakai sandal jepit melly sekalian?" omel Bu Dukuh sambil menatap penampilanku dengan tatapan jijik.


Aku menunduk menatap ujung sandal kulit yang ku pakai.


"Iya, maafkan Saya Bu. Saya akan ganti baju yang lebih bagus." kataku akhirnya mengalah.


Lagian nggak ada bagus- bagusnya juga disemprot oleh mertua di hari pertama jadi menantunya.


"Udah nggak usah. Kamu nggak usah nemuin kalau ada tamunya Hari. Bikin malu aja." kata Bu Dukuh sambil berlalu menuju keluar. Mungkin akan menyapa teman- teman Mas Hari.


Ya Allah.... perasaan ini di rumahku. Kenapa beliau yang jadi sutradaranya?


Lagian mamak kemana sih dari tadi nggak keliatan?


Harusnya kan mamak yang jadi tuan rumahnya sekarang, bukan Bu Dukuh.


Aku akhirnya memilih masuk kembali ke kamarku.


Karena tadi sudah dilarang ikut menemui tamu- tamunya Mas Hari, aku memlih untuk melepas sanggul dan menghapus riasan di wajahku di bantu Mbak perias kemudian akan mandi dan keramas.


Semoga dengan mandi hati dan kepalaku nanti akan lebih adem menghadapi kenyataan.


Kenyataan kalau mertuaku galak dan hanya manis di depan saja.


...💧💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧💧...


Mengingatkan untuk yang masih suka lupa ninggal jejak 👍nya 😄

__ADS_1


Aku cuma minta upah itu aja lhoh tiap up...masak tega nggak ngasih juga 😢😢😢


Trus gimana jadinya kalau aku minta bunga, kopi, dan vote nya? 😅


__ADS_2