
Di waktu yang sama di tempat lain.
"Kamu kenapa sih,Wo dari pagi gelisah nggak karuan gitu? Kerja dari pagi nggak ada yang benar lho kamu." kata Ruslan yang sedang berjalan beriringan menuju masjid perusahaan.
Ruslan adalah teman satu divisi dengannya di kantor dan mereka cukup dekat karena pekerjaan dan kegiatan mereka sebagai pengurus masjid perusahaan.
"Nggak tahu." jawab Jiwo dengan wajah bingung.
"Coba tanya kabar keluarga di rumah. Mungkin ada yang sedang nggak sehat atau gimana." saran Ruslan.
"Sudah. Tadi aku SMS adikku. Alhamdulillah semuanya sehat dan baik- baik saja." kata Jiwo pelan.
Memang sejak pagi tadi Jiwo merasakan kegelisahan yang luar biasa.
Dia merasa sangat ingin menahan sesuatu yang akan terjadi. Namun dia sendiri nggak tahu apa itu.
Dan di kepalanya yang muncul hanya Witri, Witri, dan selalu Witri.
Kamu kenapa sih,Wit? Kamu sedang kenapa?
"Lagi ada masalah sama pacar ya?" tebak Ruslan.
"Pacar apa? Kapan kamu tahu aku punya pacar?" tanya Jiwo sambil meringis.
"Si Dina itu bukan pacarmu?" tanya Ruslan agak kaget.
"Bukan." jawab Jiwo yakin.
"Yang bener?" tanya Ruslan tak percaya.
"Sumpah!" jawab Jiwo agar lebih meyakinkan.
"Kirain pacarmu. Kok rajin banget ngasih makanan." kata Ruslan seperti bergumam namun sangat di dengar oleh Jiwo.
"Yang makan kan kalian semua. Aku nggak ikut makan." kata Jiwo sambil terkekeh dengan tatapan meledek pada Ruslan.
"Ah yang bener kamu nggak ikut makan?!" sergah Ruslan kaget.
"Hmmm..." jawab Jiwo sambil tersenyum.
"Ah kampret! Ntar kalau ada jampi- jampinya kami semua dong yang kena." kata Ruslan dengan wajah khawatir.
"Heleh! Jampi- jampi apa?! Kalian makan udah dari setahun lebih. Yang bener aja kalau ngomong. Kedengaran Dina bisa sakit hati dia." kata Jiwo sambil berbisik- bisik di akhir kalimat.
"Iya juga sih..."
"Emang iya.Dia cewek baik. Nggak mungkinlah begitu- begitu." kata Jiwo lagi.
"Kalau dia baik, kenapa kamu nggak mau pacaran sama dia? Padahal keliatan banget dia suka sama kamu." kata Ruslan sambil melepas kaos kakinya.
Mereka sudah duduk di tangga masjid untuk segera melaksanakan sholat dhuhur.
"Kalau semua cewek baik aku pacarin, kamu kebagian apa?" seloroh Jiwo sambil melenggang ke tempat wudhu.
"Sialan!" omel Ruslan sambil menabok pelan pundak Jiwo yang terkekeh- kekeh.
Jiwo menolak saat Ruslan mengajaknya makan siang ke kantin. Dia berencana makan makanan dari jatah katering yang pasti sudah duduk manis di mejanya.
Dia memilih sebentar tiduran di serambi masjid yang sejuk.
Keresahannya yang sejenak tadi mereda, kini kembali mengusiknya.
Ya Allah, ada apa sebenarnya?
Jiwo bergegas bangun dari rebahannya lalu dengan cepat memakai alas kakinya dan memilih kembali ke kubikelnya.
Bila bersujud belum juga tuntas gelisahnya, ada satu lagi obat galaunya.
Sesampainya di kubiknya, Jiwo segera membuka laci mejanya dan meraih satu pigura photo yang sengaja dia simpan di laci terdalam.
Sudah lama dia tak menatapnya. Namun kali ini dia merasa tak bisa menahan dirinya untuk kembali sejenak menatap photo hasilnya mencuri saat berkunjung ke rumah gadis itu.
Entah si tuan rumah sekarang sudah sadar atau belum kalau telah kecurian satu photo plus piguranya sekalian.
Jiwo harus menahan nafasnya, sejenak mendongakkan kepalanya, sekedar untuk meredakan debaran yang kembali melanda hatinya sebelum akhirnya pelan- pelan menjatuhkan tatapannya pada seraut wajah polos yang terbingkai frame photo berwarna merah hati.
Aku masih tetap merasakan debaran yang sama, Wit. Selalu sama.
Kamu baik- baik ya menjalani kehidupanmu.
Aku selalu berdoa untuk kebaikan dan kebahagiaan kamu.
__ADS_1
Jangan sampai sedih, apalagi sampai hidup susah. Aku nggak akan rela.
Jiwo mengelus lembut photo itu. Mencoba mensugesti dirinya sendiri kalau semua pasti telah berjalan dengan baik- baik saja.
Witri pasti telah bahagia dengan suaminya.
Dan mungkin saja tak pernah lagi mengingat seorang lelaki bernama Jiwo.
Nggak papa kamu lupa sama aku. Mungkin memang harus seperti itu suratan kita.
Tinggal aku sendiri yang harus berjuang untuk benar- benar melupakan kamu.
Yang penting kamu bahagia. Soal perasaanku, biar jadi urusanku sendiri.
"Photo pacarmu,Wo?" Jiwo terlonjak kaget saat tiba- tiba Ruslan sudah berdiri di sampingnya sambil ikut menatap photo yang masih di tangannya.
Buru- buru Jiwo memasukkan phigura itu ke laci mejanya.
"Kayak hantu aja kamu, Rus. Kaget aku." kata Jiwo sambil mengelus- elus dadanya.
Ruslan hanya meringis sambil mendudukkan dirinya di kursi kerjanya, yang membelakangi Jiwo.
"Katanya nggak punya pacar.Ternyata pacarmu manis gitu. Aslinya pasti lebih manis." kata Ruslan sambil membalik duduknya dan bergeser ke samping Jiwo.
Ya,tentu saja. Witri lebih manis dari photonya.
Tanpa sadar Jiwo tersenyum kecil.
"Orang Jawa juga?" tanya Ruslan.
"Heem." jawab Jiwo sambil mengangguk.
"Teman apa dulunya?" tanya Ruslan lagi.
"Teman SD." jawab Jiwo sambil kembali menyunggingkan senyum bahagianya.
Ruslan tergelak.
"Jangan bilang kamu sudah pacaran dari SD?" tanya Ruslan dengan wajah penasaran.
"Ya memang." kata Jiwo sambil tertawa kecil.
"Dia your first love?" tanya Ruslan dengan wajah kaget.
"Yes she is." jawab Jiwo sambil terkekeh.
"Gileeeeee...." seru Ruslan sambil bertepuk tangan.
"Dan kamu masih suka sama dia sampai sekarang?" tanya Ruslan makin penasaran.
Jiwo hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum.
Dia memilih melarikan diri dari pertanyaan itu dengan membuka jatah makan siangnya.
"Enggak?" tanya Ruslan masih penasaran.
Jiwo hanya mengangguk karena mulutnya masih penuh bakal kunyahan.
"Ngangguk apa maksudnya nih? Masih cinta sama dia atau udah enggak?" tanya Ruslan belum puas juga.
"Ra ha si a!" jawab Jiwo sambil tersenyum meledek.
"Yaaaahhh!!! Nggak asik nih!" gerutu Ruslan patah semangat.
"Kamu tadi katanya ke kantin. Kenapa cepet baliknya kesini?" tanya Jiwo berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Nggak semangat disana tadi. Jadi balik aja kesini." jawab Ruslan.
"Oh...ternyata di kantin ada yang bisa bikin semangat? Pantesan rajin kesana." kata Jiwo dengan tersenyum meledek.
"Ya iyalah! Ngapain juga nganggurin jatah catering kalau nggak ada misi ke kantin." kata Ruslan sambil tertawa.
"Wow! Misi apakah gerangan?" tanya Jiwo dengan mimik wajah bertanya- tanya.
"Misi hati. Love mission." kata Ruslan sambil mengerling.
"Anak bagian mana nih yang dibidik?" tanya Jiwo masih sambil asik mengunyah.
"Anak keuangan. Kamu tahu yang rambutnya sebahu selalu di jepit kanan kiri rambutnya? Dia orangnya. Namanya Adelia." kata Ruslan dengan senyum terkembang dan tatapan menerawang.
Jiwo mengangguk.
__ADS_1
"Kamu tahu?!" tanya Ruslan kegirangan.
"Tahu." jawab Jiwo santai.
Tentu saja dia tahu Adelia. Cewek itu beberapa bulan ini sedang rajin- rajinnya ngirim SMS penuh perhatian padanya sehari tiga kali.
"Tapi katanya dia lagi naksir orang lain." kata Ruslan sedih.
"UHUK!!!!" Jiwo bergegas mengambil gelas berisi air putih di sudut kubikel kemudian meminumnya pelan- pelan.
"Kamu tahu ya yang lagi di taksir Adel?" tanya Ruslan dengan tatapan memicing penuh curiga.
"Siapa bilang?" bantah Jiwo kemudian kembali menyuap makan siangnya.
"Kok kesedak gitu?" tanya Ruslan curiga.
"Kebetulan aja." sahut Jiwo sebiasa mungkin.
"Kirain tahu." kata Ruslan pelan.
"Memangnya kalau kamu tahu siapa yang sedang Adel taksir mau kamu apain?" tanya Jiwo sambil melirik Ruslan santai.
"Ya nggak mau aku apa- apain. Cuma pengen lihat aja cowok yang dia sukai itu yang kayak gimana gayanya." jawab Ruslan santai pula.
"Trus mau kamu ikutin gayanya?" tanya Jiwo kemudian.
"Ya kalau bagus, why not?" jawab Ruslan kembali antusias.
Jiwo berdecak pelan.
"Just be your self aja. Jangan meniru gaya orang lain. Capek yang ada ntar." saran Jiwo kemudian meneguk minumnya, mengakhiri acara makan siangnya.
Syukurlah, dengan adanya teman ngobrol, kegelisahannya berangsur mereda walau belum hilang sempurna.
🍁🍁🍁🍁🍁
Akhirnya para tamu yang datang setelah acara resepsi sudah tak ada lagi menjelang adzan magrib.
Di rumah Witri hanya tinggal beberapa ibu- ibu tetangga dekat yang membereskan sisa- sisa hajatan.
Bu Dukuh sudah pulang beberapa belas menit lalu dengan banyak tinggalan pesan untuk anak lelaki kebanggaannya.
Dan tentu saja tak lupa mewanti- wanti Witri agar pandai- pandai dan jangan sampai salah melayani suaminya.
"Aku ke langgar dulu ya, Dik." pamit Hari pada Witri setelah selesai mandi dan sudah memakai baju dan sarung dengan rapi.
"Mas....!" panggil Witri dengan nada agak kesal.
"Kenapa?" tanya Hari keheranan dengan wajah protes Witri.
"Aku nggak suka dipanggil Dik! Jangan manggil aku begitu." sungut Witri dengan wajah di tekuk.
Hari mengerutkan keningnya kemudian tersenyum geli.
"Terus maunya dipanggil apa?" tanya Hari.
"Yang penting jangan 'Dik'. Panggil nama aja kayak biasanya kan juga nggak papa." kata Witri penuh harap.
"Ya nggak pantes kalau manggil nama langsung. Status kamu kan bukan cewek lagi. Tapi udah jadi nyonya." kata Hari sambil tersenyum dengan tatapan meledek pada Witri.
Witri hanya memanyunkan bibirnya.
"Ya udah, kangmas ke langgar dulu ya, Diajeng." pamit Hari sambil terkekeh. Namun kemudian dia tersenyum sambil menatap Witri.
"Aku panggil 'Jeng' mau nggak?" tanya Hari kemudian.
Witri sedikit terlonjak mendengarnya. Nggak nyangka akan kepikiran dengan panggilan itu.
"Boleh." jawab Witri sambil tersenyum malu.
"Baiklah, Jeng. Mas berangkat ya..." pamit Hari - yang sedari tadi berdiri di dekat pintu kamar- sambil melemparkan kissbye pada Witri yang malah menjulurkan lidahnya walau pipinya nampak merona.
...💧💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧💧...
Mohon maaf up nya malem 😅 Tadi draft nya ilang, hiks....😢 jadi nulis lagi deh....
Selamat menjalankan ibadah puasa untuk semua saudara seiman....Semoga lancar ibadahnya di bulan puasa ini dan terus berlanjut di bulan- bulan sesudahnya.
Mohon dimaafkan kalau nanti jam up nya amburadul selama bulan puasa ini 😅
Happy reading ya semuanya.....
__ADS_1