
Jiwo mengembangkan senyumnya dengan sangat lebar. Bahkan dia sampai memekik pelan saking bahagianya saat mendapat jawaban seperti yang diharapkannya.
Seperti ide Kyu tempo hari, Jiwo menawari, kemudian membujuk, bahkan setengah memaksa Witri untuk mau main ke Korea, bertemu dengannya.
Bahkan sebelum Witri menjawab 'iya' saja, Jiwo sudah meminta ijin pada mamak untuk kepergian Witri main ke Korea.
"Boleh, tapi nggak boleh berhari- hari lamanya. Maksimal tiga hari. Kasihan Aksa kalau ditinggal lama- lama." kata Mamak saat itu.
"Aksa di ajak nggak papa, Mak." kata Jiwo menawarkan.
"Jangan. Nanti Mamak sendirian." sergah Mamak sambil tertawa kecil.
"Atau Mamak sekalian aja main kesini?" tawar Jiwo.
"Enggak usah. Ibumu aja belum sampai disitu." kata Mamak lugas.
"Ibu nggak mau, Mak. Udah aku tawarin kemarin bareng adikku, tapi nggak mau. Takut ilang katanya, bingung kalau mau nanya- nanya. Nggak bisa bahasanya." kekeh Jiwo teringat alasan absurd ibunya saat ditawari untuk ikut Esti ke Korea tempo hari. Pergi berdua dengan anaknya takut, tapi giliran anak gadisnya pergi sendirian aja tetap diijinkan. Ibu memang kadang aneh dan lucu.
"Pokoknya kamu tinggal jawab 'iya' aja, kamu nggak usah mikir apapun." kata Jiwo meyakinkan Witri yang semula menganggap obrolan dengan Jiwo itu hanya candaan belaka.
Dan begitu Witri bilang kalau memutuskan mau mengabulkan keinginan Jiwo, hari itu juga Jiwo mengatur semuanya.
Dia transfer uang pada Witri yang tadinya menolak, namun akhirnya mengalah juga kemudian memberikan nomer rekeningnya setelah Jiwo berdalil macam- macam soal harga diri laki- laki.
Tiket segera dipesankan Jiwo untuk pulang pergi begitu Witri mengabari paspornya telah siap sedia. Penginapan untuk Witri juga sudah Jiwo siapkan untuk menghindari kecurigaaan dari semua pihak termasuk Witri sendiri.
"Aku hanya dua atau tiga hari disitu." kata Witri yang langsung disambar Jiwo.
"Tiga hari!" potong Jiwo cepat " Yaa...? Ya...?" pinta Jiwo memohon.
"Oke tiga hari. Tapi besok pulangnya ke Indo dibawain jajanan yang banyak." kata Witri sambil tertawa.
"Siyaaaap!" jawab Jiwo sepenuh hati.
Nadi baru mendengar rencana kalau Witri hendak menyambangi Jiwo setelah tiket pesawat sudah tersedia. Dia sedikit khawatir soal pertemuan dua insan dewasa yang akan terjadi di negeri orang itu.
Ya, bagaimanapun keduanya adalah manusia biasa. Sudah dewasa pula. Apalagi Witri sudah pernah merasakan indahnya belaian dan cumbuan pasangan hidup.
Sedang Jiwo adalah lelaki dewasa yang pasti sudah tahu bagaimana caranya nge treath seorang perempuan agar terasa nyaman dan terbuai.
Apa jadinya kalau keduanya nanti khilaf disana? Siapa yang bisa menjamin keduanya akan berlaku sewajarnya saja tanpa berbuat yang berlebihan?
Nadi kalut setengah mati membayangkan yang enggak- enggak yang mungkin akan mereka berdua lakukan jauh di sana.
Tiga hari waktu yang sangat lebih dari cukup untuk melakukan apapun oleh dua orang dewasa yang menurut perkiraannya saling mencintai itu.
__ADS_1
Kalau saja boleh, Nadi ingin melarang Witri pergi kesana sendirian. Tapi dia sadar kapasitasnya dalam hidup Witri tidak sebesar itu hingga sampai punya hak untuk melarang Witri berbuat ini itu.
Apalagi Mamak juga sudah mengijinkan kepergian Witri, maka semakin kerdillah keinginan Nadi itu.
"Hati- hati di sana. Jaga diri baik- baik ya. Kamu jauh dari keluarga. Jangan pernah matikan ponsel biar kalau kami menghubungimu sewaktu- waktu kamu bisa langsung tahu." pesan Nadi saat di jalan untuk mengantarkan Witri ke bandara.
"Iya, Bang...iya..." jawab Witri setengah kesal. Dari kemarin itu- itu aja yang diucapkan Nadi padanya.
"Aku juga udah bawa dan simpen nomer teman Abang yang disana kalau sewaktu- waktu aku butuh bantuan." sambung Witri lagi agar Nadi lebih tenang.
Witri tahu, Nadi memberinya begitu banyak pesan karena lelaki Bapak Aksa itu khawatir padanya yang akan menyambangi seorang lelaki yang telah mengaku kalau mencintainya.
Pasti dipikiran Nadi meraka berdua akan melakukan hal- hal yang berbau dewasa nanti.
Witri tersenyum kecut dalam hati.
Sebenarnya dia sendiri khawatir dengan apa yang akan terjadi dengannya dan Jiwo nanti bila bertemu.
Namun Witri selalu percaya, Jiwo yang akan di datanginya adalah Jiwo yang sama yang dikenalnya dari masa kecil dulu, yang menjaganya dengan caranya sendiri.
Jiwo pasti tidak akan berbuat hal- hal yang akan menjatuhkan martabat mereka berdua nantinya.
Namun untuk berjaga- jaga, Witri juga tetap membekali dirinya dengan ' senjata rahasia' yang selalu ada di tasnya selama ini. Mau tahu apa? Sebuah semprotan berisi air cabe, dan gantungan kunci berbentuk granat tapi dalamnya adalah sebuah pisau mungil yang sangat tajam.
"Titip Aksa dan Mamak ya, Bang." kata Witri begitu mereka akan berpisah.
Sepertinya anak itu akan lebih memilih tak bertemu dengan mamanya daripada tak bertemu dengan bapaknya ini setiap harinya.
"Nanti begitu landing, aku telpon mamak atau Abang." janji Witri mencoba meredakan wajah khawatir Nadi.
"Jiwo pasti jemput kamu di bandara kan?" tanya Nadi meyakinkan kembali untuk kesekian kali.
"Iya." jawab Witri sudah mulai menahan kesal.
Dia seperti menghadapi bapaknya saat pertama kali dia akan pergi piknik pas jaman SD dulu. Banyak banget pesan dan pertanyaan.
"Nomer yang kamu kasih ke aku kemarin udah bener kan nomernya Jiwo?" tanya Nadi lagi sudah mulai menyulut emosi Witri.
"Astagfirullahaladzim, Baaaaang...!" rengek Witri dengan wajah hampir menangis.
"Iya...iya...maaf..." kata Nadi salah tingkah saat menyadari sikapnya mungkin terlalu berlebihan.
"Aku bukan tukang bohong. Dan kamu kemarin sudah cek langsung VC dan yang nerima Jiwo. Apalagi?" tanya Witri dengan wajah cemberut.
Nadi menggaruk kepala belakangnya dengan wajah salah tingkah.
__ADS_1
Panggilan untuk penerbangan Witri terdengar, melerai kegerahan suasana diantara keduanya.
"Udah di panggil. Kamu masuk sana gih. Nanti begitu sampai langsung telpon ya..." kata Nadi dengan nada selembut mungkin agar tak menyulut emosi Witri.
"Iya. Aku berangkat ya, Bang. Titip Aksa dan Mamak. Assalamualaikum." pamit Witri sambil membungkukkan badannya sedikit kemudian berbalik dan melangkah mantap meninggalkan Nadi yang menatapnya dengan tatapan cemas.
Ya Allah, tolong lindungilah dia. Kembalikan dia kepada kami tetap dalam keadaan yang sama baiknya seperti saat dia berangkat saat ini.
Nadi membalikkan badannya setelah tubuh Witri tak terlihat lagi dari pandangannya.
Aku nggak salah kan Har ngelepasin Witri untuk ketemu Jiwo? Mungkin setelah pertemuan mereka ini mereka akan semakin mantap melangkah ke jenjang berikutnya, batin Nadi sambil mengenang senyum Hari.
Witri mendekap dadanya berharap debaran hebat di dadanya saat ini dapat sedikit mereda.
Ditapakinya satu demi satu anak tangga pesawat dengan rasa bimbang yang terasa semakin kesini malah kian memberatkan langkahnya.
Ini benar nggak sih yang aku lakukan? Mendatangi Jiwo sejauh itu...Gila! Ini benar- benar kegilaan di masa dewasaku.
Witri menempatkan tubuhnya duduk di sebelah anak muda yang sudah asik dengan novelnya. Ada sedikit kelegaan di hatinya mendapat teman duduk yang hobby membaca.
Besar kemungkinan orang itu nggak akan mengajaknya ngobrol sepanjang perjalanan nanti, dan Witri akan bisa tenang untuk berpikir tentang kemungkinan apa saja yang harus dia lakukan agar tetap aman saat bersama Jiwo selama tiga hari ke depan.
Sebelum memasuki pesawat tadi dia sudah mengabari Jiwo kalau sudah akan berangkat dan tentu saja mendapat tanggapan penuh sukacita oleh Jiwo.
Sebentar lagi jarak yang terbentang nyaris 4.800 km antara dirinya dan Witri akan segera terkikis dalam waktu sekitar seperempat hari lagi.
Jantung Jiwo sudah berdetak kencang mengiringi sukacita sekaligus deg- degan yang tiba- tiba muncul.
Baru terpikir olehnya cara penyambutan seperti apa yang paling bagus untuk menerima kedatangan Witri nanti.
Apakah dia akan berlaku seperti seorang yang sangat romantis dengan membawa seikat bunga yang akan dia bawa saat menjemput Witri nanti?
Atau akan berlaku seperti di film- film yang akan saling berpelukan erat untuk saling melepaskan rindu?
Ah tapi yang ini sepertinya akan sulit terwujud melihat kegalakan Witri yang tak berkurang banyak dari masa kecil dulu. Bisa- bisa yang ada Witri akan balik kanan jalan pulang hari ini juga.
Atau lebih baik natural saja? Tak perlu persiapan apapun dan biarkan naluri dan semesta yang bekerja dengan sewajarnya.
Senyum simpul Jiwo kembali terbit. Sepertinya seperti itulah yang akan dia lakukan nanti. Berlaku apa adanya dan tak menjadi orang asing di mata Witri.
Toh dia tak perlu memakai kepalsuan apapun di depan Witri, karena perempuan itu juga tetap berlaku jujur menjadi dirinya sendiri saat berhadapan dengannya selama ini.
Kalau dia bisa menerima keapa- adaannya Witri, Jiwo percaya Witri juga pasti akan menerima dia yang tak berubah sejak dulu. Cowok yang agak kaku dan nggak romantis namun rela untuk bisa melakukan yang terbaik untuk pujaan hatinya.
Ya, karena aku tetap Jiwonya Jawi.
__ADS_1
...💧 b e r s a m b u n g 💧...