
Dan nyatanya saat Witri menunggu telpon dari Jiwo hingga nyaris tengah malam, Jiwo tetap nggak ada kabar sama sekali.
Jangankan telpon seperti yang janjikan, pesan pembatalan acara menelpon pun enggak ada
Berkali- kali Witri menengok aplikasi Jiwo yang selalu memunculkan tulisan online di bawah namanya.
Sedikit membuat hati Witri kesal.
Sedari tadi online kenapa nggak jadi menelponnya? Apa Jiwo sedang lembur? Apa lemburnya sangat membutuhkan konsentrasi sampai nggak ingat janjinya yang akan menelpon Witri malam ini?
"Nyebelin!" sungut Witri sambil melempar pelan ponselnya ke samping duduknya.
Witri nggak mau menghubungi Jiwo lebih dulu. Malu. Nanti dikiranya dia ngebet banget lagi.
Kalau Jiwo sampai berpikir seperti itu kan bisa repot urusannya.
Dia belum bisa kembali berpaling sepenuhnya pada Jiwo. Karena itu dia tak berani memberi sinyal apapun ke Jiwo daripada nanti malah akan menyakiti Jiwo lagi.
Dia nggak tahu kalau Jiwo terjebak oleh tugas dadakan yang menghampirinya di menit- menit terakhir menjelang jam pulang kantor.
Penemuan data keuangan yang rancu cukup banyak nyatanya memusingkan semua staff di kantor. Besok ada kewajiban penyajian laporan ke kantor pusat di Jakarta dan entah dari mana asalnya tiba- tiba ditemukan fakta ada ketidakharmonisan di beberapa data di laporan keuangan di dua bulan terakhir.
Jadilah semua yang terhubung dengan bagian keuangan lembur mati- matian untuk mencari penyebab pasti ketidaksinkronan data tersebut.
Dan hal lainnya sudah tidak ada yang terpikir di angan semua tim saat ini, termasuk Jiwo.
Tak ada yang ingat waktu. Bahkan kalau bisa mereka berharap jarum jam tak usah berputar dulu agar waktu tak lekas berganti sementara mereka terus berjuang mencari data yang valid sebelum esok pagi tersaji ke Jakarta.
Gelas- gelas berisi kopi entah sudah berapa kali berganti untuk menemani ketekunan mereka membuka satu demi satu berkas dan data. Suara bersahutan satu dan lainnya dalam rangka menyinkronkan data terasa memenuhi ruangan yang terang benderang oleh lampu.
Ketekunan mereka nyatanya menghasilkan hal yang mereka cari. Satu demi satu kesabaran mereka terbayar dengan ditemukannya data yang miss. Nyaris jam tiga dinihari semua data selesai sempurna.
Ucapan syukur penuh kelegaan terdengar bersahutan menghiasi wajah kuyu delapan orang di ruangan itu.
Satu demi satu berpamitan pulang. Jiwo yang tempat tinggalnya paling dekat terlihat paling santai berkemas.
Sejak tadi dia merasa seperti telah melewatkan sesuatu, tapi apa? Sambil berjalan menuju lift, bahkan sampai sudah keluar kantor, Jiwo masih berusaha mengingat apa yang telah dia lewatkan.
__ADS_1
Dia memekik pelan saat ingatannya melayang pada Witri.
"Astagfirullahaladzim...Witri! Aku lupa ya Allah..." gumam Jiwo panik sambil membuka aplikasi pesan di ponselnya. Dilihatnya last seen di kontak Witri hampir jam 12 malam..
"Maaf ya, Wit...Kamu pasti sampai ngantuk nungguin aku." gumam Jiwo penuh sesal.
Untuk menelpon saat ini kayaknya nggak enak juga. Dia juga sudah capek setengah mati. Lagian di Aceh ini baru sekitar jam setengah dua malam. Witri pasti capek juga, apalagi Aksa sedang sakit.
Jiwo memutuskan memotret bagian depan kantornya sambil menyematkan lokasi dan diberinya tulisan maaf, tempat ini ternyata bisa membuatku lupa pada janjiku nelpon kamu. Baru bisa keluar kantor 🙈 Tapi aku janji ini yang pertama dan terakhir kali aku lupa sama janjiku padamu✌️✌️ Maaf ya, Mama Aksa...😔😔
Jiwo merebahkan tubuh penatnya dengan mata yang sudah terpejam seusai membersihkan dirinya. Saat punggung menyentuh kasur, baru terasa betapa pegalnya tubuhnya. Nyaris dua puluh empat jam punggungnya dipaksa selalu tegak, maka tak heran saat punggung merebah bertemu alas tidur rasanya seperti riang gwmbira dengan caranya.
Beberapa saat meregangkan otot- otot tubuhnya dengan free style di atas kasur, Jiwo merasa badannya sudah lumayan kehilangan rasa lelahnya.
Untuk yang tadi begadang di kantor, hari ini mendapatkan dispensasi untuk datang terlambat ke kantor dari jam masuk biasanya. Katanya sebagai reward atas kerja yang gokil hari ini.
Jiwo berencana akan VC dengan Witri beberapa jam lagi, sekalian untuk bisa melihat kondisi Aksa.
Jiwo menghela nafasnya berat.
Dia seperti baru sadar, Aksa sering kali luput dari perhatiannya. Padahal anak itu kelak diharapkannya akan jadi bagian dari tanggung jawabnya bila dia menikahi Witri. Sudah seharusnya dia belajar dari sekarang untuk menjadi Papa anak itu.
Nadi.
Jiwo penasaran dengan lelaki itu. Suatu hari nanti dia ingin juga berkenalan dengan Nadi. Apa dia juga berkharisma seperti Hari dulu? Bisa jadi. Kata Witri, Nadi dan Hari bersahabat.
Apa Nadi juga sebaik Hari? Semoga begitu adanya. Jiwo sangat mengharapkan itu.
Bagaimanapun saat ini Witri dan Aksa ada dalam 'perlindungan' Nadi. Apa jadinya kalau Nadi nggak tulus? Bisa- bisa dia akan kehilangan Witri untuk kedua kalinya bukan?
Belum lagi Aksa yang sudah pasti mengenal Nadi sebagai figur seorang bapak buatnya.
Jiwo nggak bisa mengesampingkan keberadaan Nadi diantara Witri dan Aksa.
Mau tidak mau, Nadi tetap seorang saingan dan mungkin menjadi sebuah ancaman buatnya walau mungkin Nadi tak bermaksud seperti itu.
Banyaknya kebersamaan dan interaksi Nadi dengan Witri dan Aksa jelas akan semakin mengeratkan ikatan emosional di antara ketiganya dengan masing- masing definisinya.
__ADS_1
Bagaimana kalau nanti tanpa sadar tumbuh bibit cinta di antara Witri dan Nadi? Pasti akan mudah bagi mereka mencari alasan untuk hidup bersama. karena selain Aksa pasti juga sudah sangat dekat dengan Nadi, Witri sudah terbukti pernah bisa membuktikan pepatah witing tresno jalaran seko kulino ( cinta tumbuh karena terbiasa) saat menjalani rumah tangganya bersama Hari.
Bagaimana kalau pepatah itu Witri terapkan lagi saat nanti bersama Nadi?
"Argghhhh!" seru Jiwo sambil membekap wajahnya dengan bantal karena kesal dengan pikirannya sendiri.
Tubuh lelah dan mata yang tadinya pedas ingin segera terpejam tiba- tiba tak lagi terasa bagi Jiwo.
Ketakutan yang baru saja muncul nyatanya sangat mampu membuat benaknya tak tenang.
Dia harus melakukan sesuatu yang bisa membuat Witri tak hendak berpaling darinya. Harus! Tapi apa yang harus dia lakukan untuk itu?
"Ya Allah..." desahnya resah.
Posisinya saat ini jelas berada di bawah angin.
Dia dan Witri belum ada ikatan sama sekali. Jangankan ikatan resmi semacam pacaran atau tunangan, judul hubungannya saat ini saja nggak jelas.
Lebih tepatnya nggak jelas dari sisi Witri.
Kalau Jiwo jelas sudah menyampaikan 'lamaran' tak kasat matanya sebelum dia berangakat ke Korea. Namun masalahnya sampai saat ini Witri nggak pernah keluar statement yang menegaskan kalau dia telah menerima ' lamaran' itu.
Walau komunikasi mereka juga intens, namun Jiwo juga masih merasa Witri belum seterbuka yang biasanya dilakukan sepasang makhluk beda jenis yang tengah menjalani asmara. Witri masih jelas terasa memberi sekat dalam hubungan mereka.
"Bagaimana ini?" gumam Jiwo resah sambil tengkurap dan membenamkan wajahnya di bantal. Tangannya meremas kuat ujung bantal.
"Witri...i love you so much. Masak kamu masih ragu sih?" gumam Jiwo yang sudah kembali membalik tubuhnya dan kini tengah menatap kosong atap kamar seolah wajah Witri tengah ada di sana.
"Aku janji akan jadi Papa Aksa yang baik. I promise you. Aku janji akan selalu setia dan sayang sama kamu, seperti selama ini." kembali Jiwo bergumam sendiri.
Dan Jiwo sontak terduduk dengan nafas memburu dan denyut nadi lebih cepat saat bayangan Witri seperti berucap, " Maaf Wo, kami sudah nyaman dan bahagia sama Bang Nadi disini, yang nyata setiap saat bisa ada bersama kami dan membahagiakan kami."
"NO !! Please don' t do that...please..." kata Jiwo sambil msmukul- mukul bantal dengan hati sangat sedih.
"Ya Allah...apakah akan seperti itu akhirnya?" gumam Jiwo dengan sudut mata yang telah berair
...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...
__ADS_1
Dikit nggak papa ya...daripada nggak up lagi 🙈✌️