
"Minum,Mas." Wildan meletakkan secangkir kopi susu hangat di depan Jiwo yang nampak melamun dari tadi
Wildan belum sempat ngobrol dengan kakaknya itu tiga hari ini karena jam edarnya lumayan hectic di kampus dan di tempat kerjanya.
"Lagi mikir apa sih, Mas? Aku liat beberapa hari ini kayaknya nggak semangat hidupmu." tanya Wildan setelah duduk di seberang Jiwo.
Jiwo menghembuskan nafasnya dengan suara berat.
"Lagi ada masalah sama Ifah." kata Jiwo terus terang.
"Kenapa lagi dia?" tanya Wildan dengan nada terdengar malas saat mengucap kata 'dia'.
Jiwo melirik ke arah Wildan sekilas.
Dia tahu kalau sebenarnya Wildan kurang sreg dengan Ifah. Entah apa sebabnya. Selama ini jujur saja Jiwo tak terlalu ambil pusing.
Selama Wildan nggak ngomong sendiri soal keberatannya tentang hubungannya dengan Ifah, Jiwo memilih tak ambil pusing.
Tapi sepertinya sekarang dia harus menanyakan penyebab Wildan kurang respect pada Ifah selama ini.
Apa Wildan lebih dulu melihat hal kurang baik pada Ifah saat mereka berdua bertemu kalau Ifah pas datang ke Jakarta? Bisa jadi.
"Kamu sebenarnya setuju nggak sih kalau aku nikah sama Ifah?" tanya Jiwo sambil menegakkan duduknya.
Matanya serius menatap ke arah Wildan yang tengah menyesap kopi hitamnya.
"Kalau kamu nanya aku setuju atau nggak, aku sih bisa jawabnya. Tapi disini masalahnya adalah, guna nggak jawabanku buat pertanyaan kamu itu, Mas?" tanya balik Wildan dengan nada santai namun terdengar serius.
Fix,kayaknya ada yang terlewat dari pantauan nih...
"Ya bergunalah. Ngapain aku nanya kalau nggak ada gunanya." jawab Jiwo cepat.
"Buat apa emangnya?" tanya Wildan masih mencoba mengelak menjawab pertanyaan Jiwo tadi.
"Ya buat pertimbangan aku dalam memutuskan masalahku dan Ifahlah. Buat apa lagi." jawab Jiwo pelan.
"Kok jawabanku jadi masuk pertimbangan nih..." kata Wildan sambil tertawa sumbang. Matanya mulai lebih menelisik wajah gelisah dan keruh kakaknya.
Kayaknya lumayan berat nih masalahnya....
"Masuklah. Kamu kan keluargaku, kalau kamu lupa." kata Jiwo sambil meringis." Kalau aku menikah mauku, istriku juga bisa menerima dan di terima juga oleh keluargaku." Jiwo kembali menatap wajah Wildan dengan tatapan menyelidik." Kayaknya kamu agak nggak sreg sama Ifah. Kenapa? Apa yang bikin kamu kurang sreg sama dia?" tanya Jiwo to the point.
Wildan menatap Jiwo salah tingkah.
Dia masih menimbang akan dia ceritakan atau nggak tentang penyebab dia nggak rela kalau Jiwo sampai menikah dengan Ifah.
Dia ragu kakaknya itu bakal percaya dengan ceritanya kalau dia berkata terus terang.
Tapi kalau nggak ngomong dia juga khawatir pada keputusan Jiwo untuk menikahi Ifah.
Dia berfikir Jiwo yang sangat sayang pada keluarganya itu berhak untuk mendapatkan yang lebih baik lagi.
Galau aku cah....
"Kenapa diem?" tanya Jiwo semakin penasaran. "Kamu nyembunyiin apa dariku soal Ifah?" tatapan menuntut dari kedua mata Jiwo membuat Wildan salah tingkah.
"Ifah ada ngomong apa sama kamu?" tanya Jiwo masih tetap berusaha memancing kejujuran Wildan.
__ADS_1
Piye iki le arep cerita? ( gimana ini caranya cerita?), batin Wildan kebingungan.
"Aku cuma mau cerita ini ya, Mas." kata Wildan akhirnya setelah menimbang cukup lama. Dia memutuskan gambling daripada tak ada usaha mencegah pernikahan Jiwo dan Ifah.
Kalau nanti kakaknya percaya ya syukur, kalaupun enggak, setidaknya dia sudah berusaha melakukan sesuatu.
"Cerita aja. Aku dengerin." sahut Jiwo mempersilakan dengan cepat dan wajah penuh antusias. Sepertinya dia tak sabar untuk tahu sesuatu itu.
"Aku pernah ditanyain sama Mbak Ifah soal..." Wildan menatap ragu pada Jiwo sebelum melanjutkan ucapannya. "Warisan yang akan kamu dapatkan dari Bapak." kemudian menghembuskan nafas berat.
Jiwo nyaris terlonjak dari duduknya.
Ifah? Ngapain nanya soal begituan? Ke adiknya lagi.
Astagfirullahaladzim...
"Seriusan dia nanya gitu?!" tanya Jiwo dengan wajah yang tiba- tiba terlihat kaku.
"Hmmm..." jawab Wildan sambil mengangguk kecil.
"Trus kamu jawab apa?" tanya Jiwo kemudian,dengan wajah penasaran.
"Nggak aku jawab. Aku bilang sama dia buat nanya langsung ke kamu aja." jawab Wildan dengan wajah cuek namun terlihat kesal.
"Ngapain juga ngurusin warisan? Yang penting kan lakinya tanggung jawab, bisa memenuhi kebutuhannya, nggak macem- macem. Ya kan?" kata Wildan sambil menatap Jiwo mencari persetujuan. Jiwo mengangguk setuju.
"Dia nanya nggak soal itu sama kamu?" tanya Wildan lagi. Jiwo menggeleng.
"Nanya langsung sih enggak. Cuma pernah ngobrol katanya pengen ada rumah sendiri di Jawa. Bikin di atas tanah jatahku dari orangtua." kata Jiwo sambil mengernyitkan dahinya."Waktu itu aku langsung menjawab kalau aku nggak akan punya tanah dari orangtua. Ternyata dia nggak percaya sama omonganku. Dia masih nanya kamu lagi."
"Eh, itu kan artinya tanah warisan ya?" tanya Jiwo seperti baru nyadar dengan kalimat ' tanah jatah dari orangtua' yang dibilang Ifah tempo hari.
"Padahal kita nggak punya warisan ya, Dan." kata Jiwo sambil meringis keki. Wildan mengangguk sambil mencibirkan bibir bawahnya.
"Bapak seda (bahasa Jawa halus, meninggal) nggak ninggal banyak utang aja kita udah Alhamdulillah banget ya, Mas." kata Wildan sambil tersenyum perih. Jiwo mengangguk setuju.
Ya. Saat meninggal dulu Bapaknya masih punya hutang lima ratus ribu yang dia pinjam di perkumpulan rondanya. Kata ibu itu buat bayar ujian prakteknya Lily waktu itu. Dan di hari yang sama seusai mengebumikan bapak, Ibu segera membayar hutang itu agar tak memberatkan Bapak di alam selanjutnya.
"Alus banget ya ngomongnya sama kamu..." kata Wildan sinis.
Jiwo tak bereaksi. Sepertinya masih menikmati rasa shock dengan kenyataan soal Ifah barusan. Dan Wildan menyadari itu.
"Ada yang lain lagi nggak yang dia bicarakan sama kamu?" tanya Jiwo kemudian, setelah beberapa saat keduanya membisu.
Wildan kembali terlihat ragu.
Kalau Mas Jiwo marah gimana ya...?
"Dan...!" panggil Jiwo sedikit tak sabar karena kembaali melihat Wildan ragu- ragu.
"Dia nanya apa Ibu nantinya akan tinggal di rumah sendiri atau ikut bergiliran ke rumah anak- anaknya atau ikut salah satu anaknya." kata Wildan dengan wajah menahan kesal.
Jiwo sedikit heran dengan ekspresi wajah Wildan itu.
Bagian mananya yang bikin kesal dari pertanyaan Ifah itu?
"Lalu dia tanya apa Ibu ada rencana ikut kamu nantinya?" sambung Wildan masih dengan wajah menahan kesal.
__ADS_1
"Lalu?" sahut Jiwo tak sabar.
Pasti ada yang bikin kesel di ujungnya nih....
"Dia bilang bakal sangat kerepotan kalau harus ngurusin semua orangtua kalau Ibu ikut kalian juga. Dia bilang dia harus ngurusin orangtuanya dan ibu kita juga nantinya." Wildan menahan nafas saat mengatakan itu. Suaranya terdengar putus asa namun juga nggak terima.
"Aku kesel banget waktu denger dia bilang begitu." dengus Wildan sambil menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. "Kesannya Ibu tuh bakal jadi beban banget buat kalian nantinya." Wildan semakin meninggi suaranya. "Aku juga nggak bakalan biarin Ibu hidup sama mantu modelan begitu. Bisa tekanan batin ibuku nanti kalau hidup sama dia." kata Wildan dengan wajah bersungut-sungut.
"Lagian ya, Mas, kalau mau fair- fairan...dia mau ngurus orangtuanya. Otomatis kamu juga pasti bakal ikut ngurusin mereka ya kan? Lha kenapa dia nggak mau ngurusin Ibumu juga? Mau main curang? Cuma mau sama kamunya tapi nggak mau sama keluargamu yang cuma jadi beban ini?" kata Wildan sudah dengan emosi yang bercampur aduk yang terlihat nyata.
Jiwo menggeleng tanpa mampu berkata apapun.
Ifah...gadis yang terlihat sangat menyenangkan dan bersahaja itu ternyata begitu '**********'...
Menolak Ibu? Itu sebuah kesalahan fatal yang tak bisa ditolerir oleh pandangan hidup Jiwo.
"Maaf, Mas. Bukan maksud aku mau mengacaukan rencanamu menikahi Mbak Ifah. Tapi kalau aku boleh ngomong, tolong pertimbangkan lagi lah. Kalau pun kamu tetep mau menikahi Mbak Ifah, aku cuma mau bilang, jangan bawa Ibu sama kalian. Biar Ibu sama anak yang lain aja. Kami bisa menjaga Ibu kok." kata Wildan dengan wajah tegas.
Jiwo hanya mampu menggeleng sambil mengusap wajahnya kasar.
"Makasih udah cerita soal ini sama aku,Dan." kata Jiwo setelah sejenak menenangkan gemuruh di dalam dadanya.
Dia kesal bahkan ingin marah saat ini. Tapi mau dia tumpahkan ke siapa emosi itu?
Kepada Wildan yang jujur tapi bikin nyeri hati? Mana boleh begitu...
Atau mau kesal dan marah pada Ifah? Bukannya saat ini Ifah yang lagi marah padanya?
"Astagfirullahaladzim..." gumam Jiwo berulangkali agar kembali meraih kesadaran dan kesabaran.
"Ifah memaksa aku harus segera melamarnya." kata Jiwo setelah keduanya cukup lama diam. Wildan bahkan sudah hendak masuk rumah karena kakinya sudah berulangkali di hisapi oleh nyamuk. Namun ucapan Jiwo barusan membuatnya langsung melupakan urusan nyamuk.
"Parahnya lagi dia bilang harus Ibu yang datang kesana." sambung Jiwo dengan nada pasrah.
"Ibu kan lagi sakit. Nggak boleh jalan jauh. Masak harus kesana juga? Kan bisa di wakili sesepuh lainnya ngelamarnya." sahut Wildan kembali berwajah kesal.
"Aku udah bilang soal itu..."
"Dan pasti dia nggak mau tahu kan? Pokoknya harus kan? Kebaca banget kelakuan cewek kayak gitu. Egois." sahut Wildan dengan cepat.
Jiwo diam tak menyahut lagi.
"Aku semakin nggak ikhlas kalau kamu nikah sama dia, Mas. Mau jadi apa kamu kalau nikah sama dia? Jadi alas kakinya?" sungut Wildan dengan wajah tak terima.
Jiwo tetap membisu.
"Buat aku, kamu itu bukan cuma jadi kakak,Mas. Tapi jadi sosok Bapakku juga. Bahkan aku lebih menganggap kamu bapakku dibanding bapak sendiri karena dari kecil aku cuma melihat kamu sebagai role model sebagai anak dan juga sebagai lelaki. Aku selalu ingin seperti kamu. Bisa dibanggakan sama Ibu, bisa menyayangi Ibu lebih daripada kami semua. Aku.." Wildan tak sanggup meneruskan kata- katanya karena dadanya penuh oleh banyak kenangan dan kesenduan tentang hidup mereka dulu. Dia harus berulangkali mengatur nafasnya agar bisa kembali berucap.
" Aku nggak bisa membalas kebaikan dan pengorbananmu buat kami selama ini. Aku dan saudara yang lainnya cuma bisa mendoakan semoga kamu dapat kebahagiaan dalam rumahtanggamu kelak. Kamu berhak dimuliakan oleh istrimu kelak sebagai seorang lelaki baik dan bertanggungjawab, Mas. Aku nggak akan rela kalau kamu nggak dihargai apalagi di depan mataku. Dan aku berpikir kamu akan sulit mendapatkan penghargaan itu dari Mbak Ifah dan juga keluarganya." kata Wildan dengan suara pelan.
"Kamu pasti tahu,Mas...Ibu adalah tanggungjawab anak lelakinya sampai akhir hayat. Dan seorang istri yang baik tentu tak akan pernah keberatan dengan keberadaan pemilik surga suaminya itu. Alhamdulillah Ibu punya banyak anak lelaki.Jadi kalau Ibu tak diharapkan oleh satu menantu perempuannya, Ibu nantinya bisa ke anak lelakinya yang lain. Yang akan bisa menerima Ibu dengan baik."
"Aku nggak akan ngasih Ibu menantu yang nggak mau menerima keberadaan Ibu." kata Jiwo akhirnya, menghentikan kalimat Wildan yang terasa semakin menusuk hatinya saja.
"Tapi Mbak Ifah bilang dia keberatan kalau ibu sampai sama kalian." sergah Wildan seolah mengira Jiwo lupa dengan ucapan Ifah soal Ibunya.
"Aku akan obrolkan semua masalah ini sama Ifah. Kalau kurasa dia nggak bisa ku handle, aku akan lepaskan dia." kata Jiwo pelan namun dengan tatapan tajam ke arah Wildan.
__ADS_1
...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...