JANJI JIWO

JANJI JIWO
Takdir Jodoh


__ADS_3

Witri POV


Aku tak bisa tidur.


Walau dari jam sembilan tadi aku sudah masuk kamar berniat untuk tidur, nyatanya sampai hari berganti dan sekarang sudah lewat jam satu dinihari aku belum bisa terlelap.


Dua hari lagi aku menikah.


Menikah ya Allah....


Ada keraguan yang amat besar memenuhi benakku untuk menyongsong hari yang harusnya jadi hari besarku itu.


Apakah aku benar- benar harus menikah dengan Mas Hari?


Menikah berarti menyerahkan hidup dan hatiku untuk suamiku. Itu yang selalu ada dalam pikiranku sejak dulu.


Kalau aku menikahi seorang lelaki, berarti aku harus seperti itu. Rela menyerahkan seluruh hidup, jiwa raga, dan hatiku untuk lelaki itu.


Bodohnya aku selama ini adalah, lelaki dalam pikiranku di masa depan adalah Jiwo.


Bila bersamanya tentu saja aku akan mempercayakan seluruh hidup dan hatiku padanya dengan sepenuh hati.


Bahkan bila nanti kami hidup susah dan dia membuatku sakit hati pun aku akan tetap percaya padanya, akan tetap tegak disampingnya.


Ya, seyakin itu aku pada Jiwo.


Kala itu.


Harusnya sejak dia tak membalas lagi surat keduaku, aku harus mengenyahkannya dari pikiran bahkan dari alam bawah sadarku sekalipun.


Dia tak menginginkan aku sebesar aku menginginkannya. Itu kenyataannya.


Sungguh memalukan sekali perasaanku ini.


Bukannya aku tak berusaha move on dari dia.


Salah satu bukti usahaku move on adalah aku mampu mencoba membuka hatiku untuk Mas Hari.


Dia adalah anak Pak Dukuh kampungku di Wonosari yang usianya dua tahun lebih tua dariku.


Kami saling tahu aku sejak kecil. Aku tahu dia karena dia anak Pak Dukuh. Dia tahu aku karena aku sering mudik ke rumah mbok tuwo.


Dia intens mendekatiku setelah aku dan mamak pindah ke rumah mbok tuwo. Setelah kami dewasa.


Dia seorang prajurit TNI AD yang tadinya bertugas di Sleman.


Dia pulang ke rumah orangtuanya tiap Sabtu dan balik lagi ke Sleman tiap Senin selepas subuh.


Sabtu malam kami yang dulunya hanya biasa bertemu di langgar ( mushola), jadi kami nikmati berdua di halaman rumah mbok tuwo, di bangku yang ada di bawah pohon jati.


Awalnya aku tak tertarik dengan manuver- manuver cintanya yang menurutku agak alay dilakukan oleh seorang prajurit yang harusnya punya kesan berwibawa bahkan agak garang.


Dia sangat suka bilang cinta tiap kali kami bertemu. Hal yang menurutku sedikit berlebihan dan terlalu sweet dilakukan oleh seorang ksatria negara. Iya nggak sih?


Bila pada akhirnya aku mau menerima pinangan Mas Hari, semua hanya untuk menuruti mbok tuwo dan mamak saja.


Mereka bilang akan sangat senang dan tenang kalau aku ada dalam perlindungan Mas Hari.

__ADS_1


Dia pria baik dan tentu saja dipandang mapan dengan seragam yang dimilikinya.


Lalu apalagi yang mau kucari?


Mas Hari juga berwajah tampan menurut orang- orang, walaupun menurutku biasa saja walau memang tak buruk juga.


Ya, aku memang ada rasa suka ke Mas Hari. Tapi kadarnya sangat jauh dengan rasa cintaku pada Jiwo.


Aku memang tak seharusnya membandingkan mereka berdua -sekalipun hanya dalam pikiranku sendiri- karena jelas mereka dua pribadi yang berbeda.


Tapi aku tak bisa untuk berhenti membandingkan dan mengkhayalkan seandainya yang bersikap sweet and gentleman itu adalah Jiwo. Ah,betapa bahagianya aku.


Dan kini, di H- 2 aku belum juga bisa menggiring nalar dan hatiku untuk hanya fokus pada satu orang. Mas Hari. Calon suamiku.


Aku jadi takut sendiri dengan perasaanku ke depannya saat sudah jadi istrinya.


Bisakah aku jadi istri seutuhnya untuk suamiku?


Bisakah aku ikhlas menyerahkan semuanya padanya?


Biasalah aku menghentikan ingatan tak tahu diriku ini dari seorang Jiwo?


Bagaimana kalau aku nanti maalh berlaku buruk pada suamiku tanpa kusadari?


Apakah dia mau mengerti dan bersabar juga memaafkan?


Bagaimana kalau setelah menikah pun aku tak bisa melupakan Jiwo?


Bukankah itu artinya aku mengkhianati suamiku?


Apakah itu tidak disebut selingkuh dalam hati?


Bagaimana aku keluar dari segala ketakutanku ini?


Bagaimana aku harus pergi dari mimpi- mimpiku bersama Jiwo?


Bagaimana caranya menyingkirkan dia dari ingatan dan hatiku?


Sekarang ada seseorang yang lebih berhak untuk aku tempatkan di tempat tertinggi dalam hati dan benakku, seseorang yang akan jadi suamiku.


Dan dia Mas Hari, bukan Jiwo.


Mas Hari. Dan tentu saja dia bukan seseorang yang mengisi mimpi- mimpiku tentang masa depan.


Ya Allah...padahal Jiwo tak ada kabar sekian tahun. Kenapa aku begitu keras kepala seperti ini?


Kenapa aku tak pernah mau berpikir kalau mungkin sekali Jiwo pun sama seperti aku.


Dia juga telah move on dan kini tengah bahagia menikmati cinta manisnya dengan kekasih hatinya.


Kenapa aku tak pernah mau berpikir kalau sebenarnya Jiwo telah menganggapku hanya sebuah kepingan puzzle kecil mungil dalam perjalanan hidupnya. Yang bila hilang sekalipun tak akan mempengaruhi keindahan takdir hidupnya.


Entah mengapa aku sungguh yakin aku masih tetap ada di hatinya. Aku sangat yakin.


Hanya jalan takdir saja yang membuat kami harus selalu menemui jalan buntu untuk sekedar saling bertemu. Untuk sekedar saling tahu bahwa kami saling merindu.


Ku susut airmata yang sejak tadi mengalir membasahi bantal yang tanpa sadar ku r*emas ujungnya sejak tadi.

__ADS_1


Aku hanya ingin menangis sekeras mungkin agar aku lega.


Aku hanya ingin meraung- raung sekali saja agar semua beban cintaku mau terlepas dari dadaku.


Tolonglah siapapun itu. Tolong sadarkan aku dari kegilaan rasa dan kebutaan cinta ini.


Nalarku tahu aku tak pantas menyiksa hati sedemikian rupa seperti ini untuk sebuah cinta yang sejak awal telah melayang- layang tak tentu timbanya. Tanpa kepastian nyata seperti yang aku idam- idamkan.


Namun hatiku selalu saja sangat egois dan dengan pongahnya sangat meyakini bahwa cintaku dan Jiwo kelak akan bersatu di ujung perjalanan yang indah.


Namun selama ini aku selalu lupa. Aku hidup dalam kenyataan yang terus bergerak. Bukan hidup sendiri dalam khayal dan pengharapan tak tentu.


Aku hidup bukan hanya untuk kesenangan dan kerianganku sendiri. Aku punya keluarga yang menyayangiku sepenuh hati dengan cara mereka sendiri.


Salah satu bentuk cara mereka menyayangiku adalah dengan mendorongku melaksanakan pernikahan dengan Mas Hari.


Mereka ingin aku hidup bahagia versi mereka. Dan sayangnya aku tak punya alasan kuat untuk menolak dan mematahkan harapan indah mereka.


Mana mungkin aku akan bilang kalau aku hanya ingin menikah dengan Jiwo. Yang ada aku akan dibilang gila karena cinta bertepuk sebelah tangan.


Atau aku kabur saja?


Aku langsung terduduk begitu mendapat ide spektakuler itu.


Namun aku kembali merebahkan diriku saat berpikir aku akan membuat malu keluarga besarku.


Bagaimana dengan mamakku? Bisa- bisa dia jantungan atau minimal mengataiku anak durhaka tak tahu diuntung lalu mengutukku akan hidup sengsara selamanya.


Ah, aku tak punya nyali sama sekali untuk menghadapi kemungkinan itu.


Lagipula mau kabur juga pasti sulit.


Berita pernikahanku dengan Mas Hari sudah tersebar ke seantero kelurahan.


Semua orang tau dan kenal siapa Mas Hari dan Pak Dukuh. Dan kini aku juga sudah ikut terkenal sebagai calon mantu Pak Dukuh.


Pasti sulit kabur dari sini. Untuk mencapai jalan besar saja harus jalan kaki cukup jauh.


Bisa dipastikan selama jalan itu aku akan bertemu dengan orang- orang yang pasti akan menegur menanyaiku hendak kemana.


Ah keburu ketahuan keluargaku juga dan mereka pasti akan mengejarku ke jalan raya dengan meminjam sepeda milik Pakde Basuki atau malah meminta tolong Pak Kasno yang punya sepeda motor di kampungku untuk mengejarku.


Arrrgggghhhh....sudah bisa dipastikan acara kaburku pasti akan tertangkap sebelum aku mencapai jalan raya.


Ya Allah, bagaimana ini?


Benarkah ini takdir hidupku seperti yang mamak bilang?


Apakah benar jodohku adalah Mas Hari dan bukan Jiwo seperti yang kuharap selama ini?


Lalu mengapa aku tak juga memiliki keikhlasan menerima Mas Hari dalam hatiku?


"Takdir kita sudah tertulis jauh sebelum kita dilahirkan. Bila takdirmu tak sesuai harapanmu atau bahkan menyakiti hatimu,kamu masih bisa berusaha mengubahnya dengan doa." itu yang pernah mamakku bilang.


Doa.


Aku harus memanjatkan doa pada Sang Pemilik Takdir.

__ADS_1


Aku akan merayu- Nya agar mengubah takdir jodohku dengan Mas Hari.


...💧💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧💧...


__ADS_2