JANJI JIWO

JANJI JIWO
Kondisi Hari


__ADS_3

Memasuki ruang ICU yang lebih dingin dari suhu ruangan di luar tadi, Witri reflek menyedekapkan kedua tangannya di dada.


Dia tak memakai baju hangat. Yang menempel di tubuhnya masih baju yang dipakainya untuk bekerja seharian ini. Selembar blouse dan celana panjang kain.


Witri duduk di kursi yang tersedia di samping ranjang pasien.


Matanya tak berpaling sedikitpun dari wajah lelap suaminya.


"Kamu lagi mimpi apa?" bisik Witri sambil menyentuh lembut lengan Hari.


Dia takut menyentuh bagian tubuh lain suaminya. Takut kalau ternyata nanti ada luka di sana.


"Ayo cepet bangun,Mas. Kamu nggak kasihan kalau aku kedinginan disini? Bajuku tipis gini... Ayo keluar dari sini aja. Aku akan temenin kamu tapi nggak di ruangan ini. Aku nggak suka." bisik Witri dengan bibir gemetar menahan tangis.


Witri menyembunyikan tangisnya yang kembali pecah dengan merapatkan kedua bibirnya seerat mungkin agar isakannya tak sampai keluar dari bibirnya.


Dia harus kuat. Nggak ada yang menemaninya disini. Nggak ada sanak saudara di dekat mereka. Jadi dia harus kuat untuk dirinya sendiri.


Witri sudah mulai kedinginan di ruangan ICU itu saat dilihatnya kelopak mata Hari bergerak, semakin lama semakin cepat.


"Mas..." panggil Witri lirih walau tetap tak bisa menyembunyikan nada kelegaannya.


"Mas udah bangun?" tanya Witri sambil tersenyum saat dilihatnya bola mata Hari melirik ke arahnya.


"Sesak..." kata Hari lirih dan nampak sulit bernafas.


Witri kembali panik melihat itu.


"Se... sebentar, Mas...aku panggil dokter dulu." kata Witri langsung melesat ke ruang jaga dokter yang ada di persis depan kamarnya.


Tak lama dokter dan seorang perawat pria masuk dan memeriksa kondisi Hari.


"Sesaknya kenapa ya, Dok?" tanya Witri tak sabar karena melihat Hari nampak tersengal-sengal mencoba meraup udara sebanyak mungkin.


Dada Witri ikut sesak rasanya.


"Bisa kita bicara sebentar, Bu?" pinta dokter itu setelah selesai memeriksa Hari.


"Sebentar, Saya bilang sama suami Saya dulu." kata Witri yang kemudian dibalas anggukan oleh dokter itu sebelum dia pamit keluar ruangan.


"Masih sesak?" tanya Witri sambil mendekatkan kursinya agar bisa bicara lebih pelan pada Hari.


"Masih. Tapi udah lumayan bisa napas." jawab Hari sambil tersenyum ke arahnya.


"Badanku sakit semua kalau gerak. Aku kenapa, Jeng?" tanya Hari lirih.


"Ada mobil remnya blong lalu nabrak motor. Motornya kelempar dan kena kamu." jawab Witri dengan mata berkaca- kaca. Tak bisa dia bayangkan bagaimana rasanya tubuh dilempar motor. Pasti sakit semua badan Hari saat ini. Entah sesakit apa rasanya.


"Aku kira aku udah mati." gumam Hari sambil terkekeh kecil.


"Jangan ngomong sembarangan! Aku nggak suka!" rengut Witri dengan dada yang berdesir gelisah.


"Alhamdulillah aku masih bisa lihat kamu lagi. Aku seneng." kata Hari kemudian yang malah membuat Witri menangis.


"Kamu harus cepat sembuh biar bisa liat aku terus. Janji!" kata Witri di sela isakan.


Hari hanya tersenyum dan meringis saat bergerak berniat untuk meraih pipi Witri.


"Jangan gerak dulu. Tulang kamu ada yang patah katanya." kata Witri dengan tatapan khawatir.


"Kamu ditunggu dokter kan?" tanya Hari kemudian.


"Aku nggak mau ninggal kamu sendirian." kata Witri dengan bimbang.


"Aku nggak papa, Sayang. Sana temuin dokter dulu biar cepat tahu kondisiku gimana. Biar cepet diobatin." kata Hari meyakinkan Witri.


"Ya udah. Aku ke dokter sebentar. Jangan gerak. Anteng aja." pesan Witri sebelum bergegas ke ruang dokter dan Hari hanya menjawab dengan anggukan.


Dia berharap tak akan lama berada di ruangan dokter agar bisa secepatnya menemani Hari lagi.


Mengetuk pintu ruang dokter dua kali,Witri sudah segera di persilakan masuk oleh dokter perempuan setengah baya yang nampaknya kurang tahu bagaimana caranya tersenyum.

__ADS_1


Batin Witri tersenyum kecut. Dikiranya yang akan dia temui adalah dokter yang tadi memeriksa Hari. Ternyata bukan.


Tanpa basa- basi dokter itu menjelaskan kalau tulang belikat dan satu tulang rusuk Hari patah. Maka akan dilakukan tindakan operasi esok harinya. Selain itu juga dikatakan kalau sebelah paru- paru Hari mengalami pengecilan karena benturan keras, dan itu yang menyebabkan Hari sesak nafas. Untuk hal itu akan dilakukan tindakan juga.


Akan dilihat besok, tindakan apa dulu yang akan dilakukan oleh dokter. Dilihat yang lebih mendesak dulu sekalipun mungkin tindakan akan tetap dilakukan di hari yang sama.


"Kenapa tidak dilakukan tindakan mulai sekarang saja, Dok? Malam ini mungkin?" tanya Witri dengan gusar.


"Jadwal operasi hari ini sudah penuh sampai dinihari, Bu." jawab dokter itu dengan wajah nampak kesal.


"Kalau di rujuk ke rumah sakit lain apa kondisi suami saya memungkinkan untuk itu, Dok?" tanya Witri tak memperdulikan wajah keruh dokter itu.


"Kalau itu harus kami rundingkan dulu dengan beberapa dokter." kata dokter itu dengan wajah yang nampak enggan.


"Berapa lama Saya bisa tahu keputusan tim dokter?" kejar Witri lagi membuat wajah dokter itu semakin kesal.


"Saya nggak bisa memberi tahu pastinya, Bu. Karena nggak semua dokter ada di lokasi saat ini." jawab dokter itu dengan dengusan dan nada yang mulai meninggi.


Witri tercekat. Hatinya sungguh nelangsa.


Suaminya sedang tak baik- baik saja dan dia tak bisa melakukan apapun. Satu- satunya pihak yang bisa menolongnya kenapa bersikap seperti ini? Seolah keselamatan dan nyawa seorang manusia bisa menunggu mereka ada waktu menanganinya. Kenapa harus ketemu dengan oknum dokter seperti ini di saat genting seperti ini?


"Jadi kepastian yang bisa saya dapatkan saat ini adalah penanganan suami Saya akan dilakukan besok?" tanya Witri kemudian. Jelas terlihat gurat kekecewaan di wajah dan sorot matanya.


"Iya." jawab dokter itu sambil membereskan berkas di mejanya.


"Waktu tepatnya dokter tahu?" tanya Witri kemudian yang dibalas dengan tatapan kesal dokter itu.


"Saya bukan pembuat jadwal operasi,Bu. Silakan tanya ke bagian yang mengurusi itu." kata dokter itu dengan lirikan sadis.


Nyeri hati Witri. Kenapa harus seperti itu bersikap kepada keluarga pasien? Kalaupun harus menjawab negatif, kan bisa nggak jutek begitu.


"Ke bagian apa Saya bisa tahu jadwalnya, Dok?" tanya Witri yang akhirnya tersulut kesal juga.


Hatinya mencelos saat dokter di depannya itu jelas- jelas membanting berkas yang ada di tangannya dengan sengaja. Dokter itu menatap sangat kesal pada Witri.


"Ke bagian administrasi sana." kata dokter itu sambil mengeram dan matanya seakan mau copot dari tempatnya.


"Ya. Makasih, Dok. Permisi." kata Witri kemudian bergegas berdiri dengan sedikit kasar mendorong kursi lalu menutup pintu ruang dokter dengan setengah membantingnya.


Witri bergegas merapikan raut wajahnya lagi sebelum kembali menemui Hari yang nampak terpejam.


"Kamu tidur, Mas?" tanya Witri sambil menyentuh lembut dahi Witri.


"Enggak." jawab Hari sambil membuka mata dan menoleh padanya. Senyumnya lemah menghiasi bibirnya.


"Gimana?" tanya Hari kemudian.


"Tulang rusuk dan belikatmu patah katanya. Besok operasi. Yang kuat ya..." kata Witri dengan mata kembali berkaca- kaca.


"Pasti." jawab Hari sambil tersenyum.


"Tapi aku jadi suka sesak nafas." kata Hari kembali nampak tersengal. Witri kembali menangis.


"Paru- parumu mengecil sebelah karena hantaman keras. Besok juga akan ditangani. Sabar ya, Mas. Kamu harus kuat ya..." pinta Witri semakin terisak.


Tak terbayangkan bagaimana suaminya bisa mengatasi sesak nafasnya bila tak bisa terbantu dengan alat yang kini menancap di hidungnya itu.


"Aku akan berusaha sekuat mungkin buat kalian." kata Hari pelan namun dengan semangat dan harapan di sorot matanya.


"Buat aku sama siapa lagi kamu bersemangatnya?" tanya Witri mencoba membuat suasana sedikit riang.


"Sama anak kita." jawab Hari sambil tersenyum senang.


Witri terhenyak dengan ucapan Hari.


Anak mereka? Memangnya kapan dia hamil?


"Mas, kamu..."


"Kamu telat datang bulan tapi nggak sadar ya?" potong Hari yang membuat Witri terpaku.

__ADS_1


Iyakah?


"Aku tadi ke apotek beli testpack buat kamu. Nanti kamu pakai ya? Bener nggak kamu hamil." kata Hari penuh harap.


Witri hanya mengangguk sambil kembali menangis.


Ternyata Hari celaka karena buat dia juga.


Ya Allah...


"Pakaianku mana? Testpack nya aku simpan di saku celanaku. Kamu ambil aja." kata Hari kemudian.


Witri baru menyadari kalau dia belum menerima baju seragam yang tadi dipakai Hari.


"Aku belum nerima baju kamu, Mas. Nanti aku tanyakan ke perawat dulu ya." kata Witri jujur.


"Cari sekarang aja. Biar bisa kamu tes sekarang." pinta Hari dengan tatapan setengah memaksa.


"Mas..."


"Aku nggak papa ditinggal sebentar. Please..." pinta Hari memohon.


"Ya udah." kata Witri pasrah. Hari tersenyum senang karena desakannya dituruti.


Witri bergegas meninggalkan Hari setelah sebelumnya pamit pada perawat kalau akan keluar sebentar yang malah diberi tahu kalau boleh memanggil satu orang lagi untuk menggantinya sementara waktu menemani Hari.


Keluar dari pintu ICU pandangan Witri langsung tertumbuk pada Teh Lilis yang tengah berbincang dengan suami dan Pak Nadi.


"Teh..." panggil Witri yang langsung mendapat sambutan pelukan hangat dari Teh Lilis.


"Jangan sedih. Hari pasti akan baik- baik saja. Kami akan gantian selalu ada disini nemenin kamu." kata Teh Lilis sambil mengelus- elus punggung Witri dengan lembut.


Airmata Witri kembali menetes. Kali ini karena rasa haru.


Rasa persaudaraan sesama penghuni asrama memang sangat terasa hangatnya disaat salah satu penghuninya sedang dalam kesusahan.


Karena merasa sama- sama jauh dari kampung halaman dan sanak famili sedarah, mereka membuat ikatan sendiri yang tak kalah erat dan dekatnya seperti saudara.


Apalagi kebetulan Witri dan Hari termasuk sebagai anggota bungsu penghuni asrama. Para senior semakin banyak mencurahkan perhatian mereka layaknya kepada adik mereka sendiri.


"Kenapa keluar, Mbak? Hari gimana kondisinya? Sudah siuman?" tanya Pak Nadi setelah pelukan kedua perempuan itu terurai.


"Alhamdulillah sudah, Pak." jawab Witri sambil tersenyum.


"Alhamdulillah ya Allah..." sambut ketiga orang itu dengan nada lega.


"Mau nyari baju yang dipakai Mas Hari tadi." kata Witri kemudian.


"Ada di kursi. Sebentar aku ambilkan." kata Teh Lilis bergegas ke kursi yang malah kemudian diikuti oleh Witri.


Witri bergegas menerima bungkusan baju Hari dan langsung mengarah ke saku celananya.


Ini dia. Bungkusan plastik berisi bungkusan kecil- kecil. Pasti ini.


"Itu apa?" tanya Teh Lilis setengah berbisik sambil menatap bungkusan yang di genggam Witri.


Witri hanya membuka tas plastik itu lalu menunjukkan kepada Teh Lilis yang kemudian tersenyum lebar.


"Jangan bilang- bilang dulu ya, Teh. Mas Hari maksa aku harus tes sekarang. Aku turutin aja biar dia seneng." kata Witri malu- malu.


"Semoga hasilnya seperti yang kalian harapkan. Biar jadi semangat Hari biar cepat sembuh." kata Teh Lilis dengan tersenyum cerah.


"Aamiin. Makasih ya, Teh." kata Witri sambil tersenyum.


Sebelum kembali masuk ke ruang ICU, Witri sempat membicarakan soal kondisi Hari dan perkataan serta sikap dokter yang dihadapinya tadi.


"Biar Saya nanti yang bicara sama pihak rumah sakit. Kamu segera temani Hari lagi. Kasihan." kata Pak Nadi kemudian. Witri segera mengangguk dan kembali masuk disertai titipan salam dari Teh Lilis dan suaminya yang akan ada di depan ruang ICU hingga nanti jam 10 malam dan akan berganti tugas dengan tetangga yang lain sesuai kesepakatan yang telah mereka buat sebelumnya.


...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...


Nggak ada bawangnya kan?🙈🙈🙈

__ADS_1


Santuy kan? 😄😄😄


"


__ADS_2