JANJI JIWO

JANJI JIWO
Mungkinkah?


__ADS_3

Malam yang sama di sebuah Rumah sakit


Witri mengelus lembut kening Aksa yang terlelap di ranjang kecil berpagar.


Sedih sekali rasanya saat tahu kalau bayi mungil yang sedang senang- senangnya kesana- kemari dengan merangkak itu harus dirawat di rumah sakit karena terkena demam berdarah.


Demam tinggi sejak tiga hari lalu walau tak rewel karena Aksa lebih banyak tidur, malas menyu su, dan nggak mau makan, dan puncaknya mun tah dengan ada darah di mun ta hannya, membuat Witri panik setengah mati di hari Minggu siang itu.


Dengan membawa motor dan memboncengkan Mamak yang menggendong Aksa yang panas, Witri membawa motor menuju klinik dengan hati tak karuan.


Kamu nggak papa kan, Nak? Please jangan kenapa- kenapa ya, Nak...Mama dan uti nanti sedih...batin Witri di sepanjang jalan.


Setelah tanya jawab dengan dokter, diputuskan Aksa harus dirawat karena tanda- tandanya sangat mengarah ke demam berdarah.


"Banyak yang lagi kena demam berdarah di kampung kita." kata Mamak sedikit membuat Witri kaget. Niat Mamak mengatakan itu untuk membuat Witri tak merasa susah sendiri.


Sedari masuk ruang rawat tadi Witri tak bergerak dari sisi Aksa yang terlelap nyenyak.


Berulangkali Mamak memintanya untuk pergi makan dulu dan biar Aksa ditunggui Mamak dulu, tapi tak dihiraukan Witri. Perutnya sama sekali tak merasakan lapar. Dia juga tak merasa haus, juga tak punya keinginan melakukan hal lain.


Dia hanya harus selalu melihat Aksa. Memastikan anak itu masih terus bernafas. Dia nggak mau Aksa kenapa- napa.


Perutnya baru terisi saat Nadi menyusul dengan membawa roti dan juga nasi bungkus.


Bapak Aksa itu tadi kebingungan saat datang ke rumah Witri namun keadaan rumah gelap tanpa ada lampu yang menyala.


Setelah bertanya pada tetangga sebelah dan diberi tahu kalau tadi Aksa dibawa ke klinik, Nadi baru menelpon Mamak bertanya kabar kondisi Aksa.


Dan tak lama sampailah dia di kamar rawat itu. Hatinya sedih sekali melihat ada selang infus masuk ke tubuh mungil Aksa.


Dia jelas tahu Aksa memang kurang sehat beberapa hari ini karena setiap hari dia selalu menghampiri bayi lucu itu walau kadang cuma untuk sebentar menggendongnya dan menghirup wangi minyak telon yang baginya baunya mengalahkan wangi parfum yang paling mahal sekalipun.


Nadi sedang senang- senangnya mendengar Aksa mulai memanggilnya bababa. Karena anak itu mulai bisa bicara mamama untuk memanggil Witri dan bababa untuk memanggilnya.


Suara bayi itu terus terngiang- ngiang di sepanjang waktunya seolah itu adalah suara paling indah di dunia ini.


"Rewel nggak tadi dia?" tanya Nadi sambil sekilas menatap Witri yang sedang malas- malasan mengunyah roti sambil menancapkan pandangannya pada Aksa tanpa berpaling.

__ADS_1


"Enggak. Cuma nangis sebentar pas mau diinfus. Habis itu cuma mamama aja." jawab Witri dengan mengulas senyum tipis lalu kembali mengunyah roti masih dengan setengah hati.


"Bang..." panggil Witri setelah beberapa saat keduanya hanya diam memandang obyek yang sama yaitu Aksa.


"Apa?" tanya Nadi karena Witri tak juga menyambung ucapannya.


"Aku nggak mau Aksa kenapa- napa. Aku nggak mau dia pergi kayak Mas Hari." lalu pecahlah tangis Witri teredam kedua telapak tangannya yang. menutupi mulutnya erat.


Sesungguhnya sejak tadi dia ingin mengucapkan rasa khawatir terbesarnya itu. Tapi sedari tadi yang menemaninya hanya Mamak. Nggak mungkin dia berucap seperti itu di depan Mamak karena dia tahu Mamak pasti juga akan ikut khawatir dan sedih tentunya.


"Astagfirullahaladzim...Jangan ngomong kayak gitu. Nggak boleh ngomong kayak gitu lagi. Kamu seorang ibu. Setiap ucapan seorang ibu adalah doa. Ngomong yang baik- baik aja. Jangan mikir yang aneh- aneh. Aksa nggak papa." sahut Nadi dengan wajah tegang walau tetap bersuara pelan.


Dia tadi sempat menemui dokter yang merawat Aksa untuk menanyakan kondisinya dan dia lega karena Aksa tidak dalam kondisi yang mengkhawatirkan katanya.


Dia tentu saja masih sangat ingat bagaimana kondisi Witri saat mendampingi Hari di rumah sakit hingga meninggalnya sahabatnya itu. Bahkan sejak saat itu Nadi adalah ibarat bayangan yang selalu ada mendampingi dalam kehidupan Witri hingga hari ini.


Dia tak sanggup membayangkan kalau harus mengulang kejadian seperti itu lagi dalam menemani Witri.


Jangan ya Allah...Kasihani dia.


Tangis Witri mereda saat terdengar suara pinselny bernyanyi dari dalam tas yang dia letakkan di meja kecil di samping ranjang Aksa.


"Angkat aja diluar sebentar. Aksa biar aku jaga mumpung tidur." kata Nadi yang menduga kalau yang menelpon Jiwo. Kata Mamak Witri suka bertelpon ria dengan Jiwo kalau malam.


"Nggak..."


"Kasian udah nelpon dari jauh." potong Nadi yang membuat Witri kemudian menggeser tombol hijau di ponselnya sambil beranjak keluar ruangan setelah menatap lekat ke arah Aksa.


Mamak yang belum lama duduk di bangku depan seusai dari masjid klinik memilih masuk menemani Nadi.


Obrolan receh bersama Jiwo mampu sedikit menghibur Witri yang sedari tadi diliputi rasa khawatir.


Dia tidak bilang sedang ada di rumah sakit pada Jiwo. Lagipula Jiwo hanya bertanya Aksa sudah tidur belum, tidak bertanya kabar Aksa sehat atau enggak.


Setelah sekian belas menit ngobrol, Nadi memanggilnya dari ambang pintu dan bilang kalau Aksa menangis. Itu artinya Aksa sudah bangun. Dengan cepat dia mengakhiri obrolannya dengan Jiwo dan bergegas memburu masuk ke ranjang Aksa yang sedang ditenangkan oleh Nadi dan Mamak.


"Mamama..." suara Aksa pelan sambil mengulurkan tangannya ke arah Witri yang sudah tersenyum mendekat.

__ADS_1


"Ini Mama...Udah bangun ya..." kata Witri lembut sambil mengelus dahi Aksa yang minta di gendong namun sedikit kesulitan karena adanya selang infus.


Dengan banguan Nadi dan Mamak, akhirnya Aksa bisa digendong oleh Witri dan kembali tenang.


"Udah nggak demam." kata Witri lega saat dirasanya suhu tubuh Aksa sudah tidak sepanas sebelumnya.


"Alhamdulillah...Cepet sehat ya,Jagoan..." gumam Nadi sambil mengelus telapak kaki Aksa yang dirasanya sangat lembut.


"Siap,Bapak..." sahut Mamak sambil terkekeh yang disambut tawa malu Nadi.


"Udah, kamu ikut tidur aja,Wit. Aksa udah bobok lagi gitu." kata Mamak sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Aksa.


"Iya. Mamak juga istirahat. Aku jagain diluar." sambung Nadi kemudian.


"Abang pulang aja nggak papa. Aksa udah nggak papa kok." kata Witri nggak enak hati.


"Nggak papa. Udah aku niatin buat jaga malam ini. Besok aku libur kok, bisa tidur banyak besok." kata Nadi ngeyel.


"Ya udah, terserah." kata Witri kemudian tak pernah mau memperpanjang perdebatan dengan Nadi.


"Aku keluar sekarang. Cepat tidur, Mak." kata Nadi sambil memijat lembut bahu Mamak dan tersenyum.


"Iya. Kamu juga usahakan buat merem. Nanti kalau kami butuh kamu, kami pasti panggil kamu." kata Mamak.


"Siap!" jawab Nadi sambil berjalan keluar.


Witri kemudian membaringkan tubuhnya di samping Aksa. Dan entah karena tubuh yang lelah atau karena sudah melewati jam- jam penuh keresahan sebelumnya, Witri langsung jatuh tertidur.


Mamak yang berbaring di samping dipan Aksa malah tak bisa memejamkan mata. Mata sepuhnya menatap sendu pada anak satu- satunya itu.


Tak pernah terbayangkan di angan mamak dulu, Witri akan menjalani kehidupan seperti yang terjadi kini. Saat mendengar kabar Hari meninggal, yang ada dipikirannya adalah anaknya akan jadi janda muda dan berharap akan segera bisa meneruskan kehidupannya.


Namun ternyata Witri hamil. Saat mengetahui hal itu tentu saja Mamak sedih. Bukan sedih karena akan ada penerus Hari. Namun sedih membayangkan akan susahnya Witri nanti melewati masa kehamilan dan akan mengasuh anak sendirian. Kasihan sekali anaknya itu.


Lalu tiba- tiba Jiwo muncul kembali dan mengutarakan niatnya yang ingin melamar Witri bila saatnya tiba. Mamak terus terang lega dan berharap kehidupan Witri akan menormal seiring kehadiran Jiwo. Namun Mamak melihat apa yang diharapkannya sepertinya tak sesuai dengan kenyataan. Witri nampak jelas belum bisa lepas dari rasa cintanya pada Hari. Kehadiran Jiwo kembali dalam hidup Witri tak terlalu membawa perubahan pada hati Witri.


Apa memang. keduanya sesungguhnya tidak berjodoh?

__ADS_1


...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...


__ADS_2