
Selepas sholat subuh Witri baru melihat ponsel yang sengaja dia matikan.
Beberapa pesan nampak mulai masuk bertubi- tubi ke aplikasi pesannya.
Yang langsung menarik perhatiannya tentu saja pesan dari Jiwo yang menyertakan photo bagian depan sebuah gedung. Witri meyakini itu kantor tempat Jiwo bekerja.
"Edan. Kerja apa ikut jadi romusha sih? Pulang nyaris subuh gini." gumam Witri sambil menggeleng- geleng.
Jiwo yang baru saja menengok pesannya untuk Witri sudah terbaca belum, bergegas mengetik pesan begitu dilihatnya centang biru baru saja tercipta di pesannya.
📤: Boleh VC nggak?
Eh, dia nggak tidur apa? batin Witri kaget saat kembali mendapat pesan dari Jiwo.
Menunggu beberapa detik kemudian senyum Jiwo kembali tersemat di bibirnya.
📥 Boleh.
Tanpa basa- basi lagi Jiwo langsung melakukan apa yang dia inginkan sejak tadi.
"Kamu nggak tidur, Wo?" tanya Witri begitu mengangkat panggilan VC dari Jiwo dan membalas salam yang diucapkan lelaki itu.
"Nggak bisa tidur." jawab Jiwo dengan wajah sedih.
"Kenapa?" tanya Witri keheranan.
"Nyesel bisa lupa kalau janji mau nelpon Mamanya Aksa gegara kerjaan." jawab Jiwo sambil menatap wajah Witri dengan tatapan penuh sesal.
"Iya. Aku nunggunya sampai kesel." sahut Witri dengan wajah yang tiba- tiba cemberut. Membuat Jiwo terkekeh geli. Wajah jutek itu masih persis kayak Witri jaman kecil dulu.
"Jangan gitu wajahnya. Bikin aku sedih." kata Jiwo dengan wajah memelas.
"Sedih kenapa?"
"Pengen cepet pulang tapi nggak bisa." jawab Jiwo cepat.
Witri hanya meringis mendengarnya.
Pulang, dan pasti akan bertanya soal hubungan mereka, desah batin Witri.
"Aksa gimana kondisinya?" tanya Jiwo memangkas cepat lamunan Witri.
"Udah stabil. Sore nanti kalau tetap stabil sudah boleh pulang. Obat jalan." jawab Witri sambil mengarahkan kamera ke arah Aksa yang masih lelap.
"Alhamdulillah...." kata Jiwo sambil menatap lekat bayi yang berwajah lebih mirip mamanya itu.
"Rewel nggak?" tanya Jiwo kemudian.
"Alhamdulillah enggak. Rewel biasa aja. Masih gampang di atasi." jawab Witri sambil menatap bangga pada Aksa.
"Alhamdulillah....Udah bisa panggil siapa aja?" tanya Jiwo sambil menatap gemas bibir Aksa Yaang bergerak- gerak lucu.
"Mama, utiiii, baba..." jawab Witri sambil terkekeh.
"Baba?" tanya Jiwo sambil mengernyit tak mengerti.
Baba bukannya panggilan but Bapak juga ya?
"Bapak." sahut Witri melihat wajah keheranan Jiwo. "Bang Nadi minta di panggil Bapak sama Aksa." kata Witri sambil tertawa geli.
__ADS_1
Minta? Bang Nadi minta dipanggil dengan sebutan Bapak oleh Aksa? Boleh ya minta gitu?
"Ajarin Aksa panggil aku Papa juga ya..." pinta Jiwo kemudian nekad bilang untuk membayar rasa irinya pada Nadi yang sudah bisa dipanggil oleh Aksa.
Ah...kalah set lagi!
"Apaan sih?!" sergah Witri sambil tertawa geli.
"Anakku banyak amat bapaknya." kata Witri kemudian dengan wajah yang masih tertawa geli.
"Ya nggak apa. InsyaaAllah banyak yang menyayangi dia." kata Jiwo kemudian.
"Aamiin..."
"Tapi ajari dia panggil aku Papa ya..." pinta Jiwo lagi, masih berusaha bermuka tembok.
Nggak, dia nggak mau terlalu kalah jauh sama Bang Nadi itu.
Ya kali Bang Nadi udah punya gelar Bapak buat Aksa, dia belum punya gelar apa- apa. Nggak bisa gitu juga dong. Kan dia yang memproklamirkan diri untuk meneruskan tugas Hari dalam menjaga Witri dan Aksa, bukan Bang Nadi Bang Nadi itu.
"Apaan sih, Wo..." gumam Witri gemas.
"Masak Bang Nadi di panggil Bapak sama Aksa ,aku nggak kebagian di panggil Papa sama Aksa? Aku juga pengen jadi bapaknya Aksa tahu..." kata Jiwo setengah merajuk, membuat Witri menggeleng geli.
"Lagian panggilan kita yang paling matching, Wit. Aksa manggil kamu Mama, manggil aku Papa. Mama dan Papanya Aksa kita ini." kata Jiwo sambil tertawa riang.
"Dih, ngarep banget kayaknya." ledek Witri.
" Banget banget banget!" sahut Jiwo serius.
Dalam hati Witri kembali sedih melihat keinginan Jiwo yang tak surut itu.
Dalam hati keduanya sama- sama menyimpan kekecewaan saat menyadari apa yang mereka harapkan bertolak belakang dengan kenyataan di depan mata.
Suara rengekan Aksa memecah keheningan diantara mereka.
"Aku pengen menyapa Aksa..." kata Jiwo, mengurungkan niat Witri yang sebenarnya ingin mengakhiri dulu percakapan mereka.
Meletakkan ponsel sejenak untuk menimang Aksa di pangkuannya, Witri kembali menghadapkan ponselnya agar Jiwo bisa melihat Aksa.
"Assalamualaikum anak sholeh....Udah bangun boboknya?" sapa Jiwo riang yang ternyata langsung mampu menarik perhatian Aksa yang langsung tersenyum.
"MashaaAllah senyumnya manis sekali..." kata Jiwo sambil tersenyum haru. Dia ingat betul senyum Aksa itu mirip senyum milik Hari.
"Ma...ma..." celoteh Aksa sambil tersenyum- senyum pada Jiwo. Tangan mungilnya meraih- raih ke arah layar ponsel.
"Ini Papa, Sayang.Pa...pa..." kata Jiwo sambil tertawa- tawa senang.
Witri meringis melihat interaksi manis ini.
"Pa...pa..." tiru Aksa sambil bertepuk tangan riang. Matanya bergantian menatap layar ponsel kemudian menatap mamanya.
"Pinternya....Iya... Ini Papa, Sayang." sahut Jiwo ikut bertepuk tangan tak kalah riangnya.
"Pa...pa...Ma...ma....pa...pa..." Aksa terus berceloteh riang sambil meraih- raih layar ponsel.
Sumpah, Jiwo ingin menangis rasanya saat ini. Dia ingin pulang. Ingin bisa segera menyentuh Aksa. Merasakan tepukan tangan mungil itu di wajahnya.
Ya Allah....
__ADS_1
"Eh, anak Bapak udah bangun? Nggak nangis?" suara Nadi langsung membuat telinga Jiwo tegak berdiri.
Lelaki itu kenapa muncul sekarang sih?
Ngapain coba sepagi ini udah setor muka? Merusak suasana harmonis aja.
Witri bisa melihat perubahan raut wajah Jiwo saat mendengar suara Nadi.
Nadi yang tadi nggak menyadari kalau Witri sedang memegang ponsel dan sedang melakukan VC langsung mengurungkan niatnya yang ingin kembali menyapa Aksa saat menyadari layar ponsel Witri tengah menyala dan menampakkan wajah seseorang.
Apakah itu Jiwo?
"Pa...pa...ba...ba..." celoteh Aksa sambil menggerak- gerakkan tangannya ke arah Nadi kemudian ke arah layar ponsel. Bayi itu seperti ingin menunjukkan papanya pada bapaknya.
"Apa?" tanya Nadi sambil menatap Aksa penasaran.
"Pa...pa..."
Papa? Aksa memanggil lelaki di ponsel itu dengan sebutan papa?
Nekad, Nadi mendekat ke arah belakang Witri agar bisa terlihat dan melihat Jiwo juga.
"Siapa? Jiwo?" tanya Nadi pelan pada Witri namun matanya menatap tajam ke arah Jiwo.
"Iya." jawab Witri tak kalah pelan.
Interaksi keduanya tentu saja tak luput dari pandangan Jiwo. Pun tatapan setajam mata elang dari mata Nadi padanya.
Wajah lelaki di dekat Witri itu tidak menampakkan raut ramah walau tak juga menunjukkan wajah bermusuhan. Nyaris datar saja.
"Assalamualaikum, Bang." sapa Jiwo ramah dan sopan, berinisiatif menyapa Nadi lebih dulu.
"Wa'alaikumussalam." jawab Nadi dengan wajah yang sedikit kaget. Dia nggak menyangka Jiwo akan ramah dan sopan menyapanya.
"Libur, Bang?" tanya Jiwo lagi. Membuat Nadi menatap Jiwo lagi.
Ini orang emang beneran ramah atau sok ramah sih?
"Enggak. Ini mau pulang mandi terus kerja. Mau pamit sama Aksa dulu." jawab Nadi mencoba menunjukkan eksistensi dirinya untuk Aksa.
"Bapak pulang dulu ya..." pamit Nadi sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Aksa yang ada di pangkuan Witri.
Jiwo menahan nafasnya melihat pertunjukan live itu.
Itu wajah dekat banget sama tubuh depan Witri! Ngapain harus begitu sih? Modus banget!
Witri juga kenapa nggak marah ada lelaki berbuat begitu? Itu kan nggak baik.
"Aku pulang dulu." pamit Nadi sambil menegakkan badannya di depan Witri yang mengangguk kikuk. Dia yakin Jiwo kesal dengan kelakuan Nadi barusan.
Jangankan Jiwo, dia sendiri saja kesal dengan tingkah Nadi yang mendekatkan wajahnya ke bagian depan tubuhnya.
Nggak biasanya bapaknya Aksa bertingkah nggak sopan begitu padanya.
"Aku pergi dulu, Mas." kata Nadi sambil menatap Jiwo yang masih menghuni layar ponsel milik Witri.
"Ya, Bang. Makasih udah jagain Aksa dan mamanya." sahut Jiwo tulus yang hanya mendapatkan acungan jempol dari Nadi yang terus berlalu keluar kamar rawat.
...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...
__ADS_1
Karena malas up, level karya ini anjlog dua angka 😅😎