JANJI JIWO

JANJI JIWO
Pertemuan


__ADS_3

Mata Jiwo mulai tertancap penuh ke arah pintu utama kantor Witri begitu jam di tangannya menunjukkan angka lima sore. Jamnya pulang kantor.


Badannya yang tadi duduk di trotoar dekat mobil, kini sudah berdiri tegak di depan mobil yang dibawanya.


Jantungnya jelas tidak dalam keadaan nyaman. Degupannya terasa sudah terlalu bising di telinganya sendiri.


Sepuluh menit berlalu dari jam lima, dan sudah banyak orang yang keluar dari kantor itu, namun Witri yang sangat dinanti Jiwo belum juga terlihat.


Apakah dia lembur?


Memutuskan untuk menunggu lima menit lagi sebelum menanyakan situasi Witri pada satpam lagi, Jiwo semakin gelisah dengan keputusannya sendiri.


Waktu lima menit terasa seperti bentangan waktu lima abad bagi hati yang begitu mendamba temu.


Matanya tak pernah pergi dari satu arah sedari tadi. Detik demi detik yang terlalui penuh dengan kegelisahan. Bukan hanya tentang apa yang sebaiknya dia ucapkan saat pertama kali berjumpa nanti. Tapi juga tentang apakah Witri masih mengenalinya? Juga tentang apakah Witri akan menerima baik kedatangannya ini?


Tiba- tiba saja keraguan menyeruak hatinya.


Bagaimana kalau Witri berpikir buruk tentang kedatangannya kali ini? Bagaimana kalau Witri menganggapnya mencari kesempatan dalam kesempitan?


Oh no... Sepertinya rencananya ini memang buruk dan terlalu percaya diri, juga sedikit tak tahu malu.


Seharusnya akan lebih baik bila dia menghubungi Witri dulu by phone, meminta kesediaan Witri untuk bertemu. Itu nampak lebih elegan.


Bukannya ujug- ujug nongol seperti ini dan bergaya sok ngasih surprise macam di sinetron alay.


Baiklah. Ini belum terlambat untuk pergi dari sini. Sebelum dia terlanjur melihat dan terlihat oleh Witri.


"Wo?!" Jiwo tersentak seketika saat dia mendengar namanya dipanggil dengan nada sedikit tinggi tepat di depannya.


"Astagfirullahaladzim!!" seru Jiwo dengan wajah yang langsung memucat saat menyadari siapa yang memanggilnya.


Bagaimana bisa dia nggak melihat kehadiran makhluk ini ke depannya?


Kenapa dia sudah ada di depannya? Lewat mana dia tadi?


"Kamu ngapain?" Jiwo kembali linglung mendapat pertanyaan itu.


"Jiwoooo..."


"Eh! Ya!" Jiwo kelabakan tak menentu mendapati kekehan dan gelengan kepala di depannya.


"Ini beneran Jiwo Lelono kan?" suara itu lagi...


"Iy...iya! Aku Jiwo...Wit..." akhirnya...Bisa ngomong juga...


Jiwo masih terpana pada pemandangan manis yang tiba- tiba tersaji di depannya ini.


Senyum manis itu masih semanis dulu walau gurat kesedihan masih jelas membayang di wajahnya.


Witri cantik dan terlihat sisi dewasa dan elegannya dengan pakaian kerja yang dia kenakan saat ini.


Celana panjang berwarna hitam, dipadu dengan semi blazer berwarna abu tua dan dalaman blazer abu muda. Warna netral yang aman. Sepatunya berwarna hitam dan tasnya berwarna abu muda.


"Aku nggak percaya kamu sampai disini..." kata Witri sambil menatap Jiwo dan menggelengkan kepalanya berkali- kali. Jiwo hanya tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya.

__ADS_1


Lega rasanya mendapat sambutan yang hangat seperti ini.


"Aku kira Lukman cuma basa- basi waktu bilang kamu akan kesini sepulang dari Jepang. Ternyata beneran... MasyaaAllah..." kata Witri kini sudah dengan wajah penuh keharuan.


Eh, Lukman ngomong begitu? Lancang bener anak itu bikin skenarionya...Kapan aku ngomong sama dia kalau aku bakal kesini? Kayaknya nggak ada ucapan aku akan kesini...


"Maaf aku nggak bisa ikut ta'ziah ke rumah kemarin." kata Jiwo karena bingung mau ngomong apa.


Walau kemudian menyesal mengucapkan kalimat itu karena membuat Witri langsung berwajah sedih, namun Jiwo juga lega sudah mengucapkan rasa bela sungkawanya kepada Witri secara langsung.


"Nggak papa. Mohon dimaafkan kalau Mas Hari ada salah sama kamu saat kalian bertemu." kata Witri dengan menatap penuh permohonan pada Jiwo.


Jiwo dapat dengan jelas tatapan mata Witri. Tatapan penuh harap untuk mendapatkan sesuatu bagi seseorang yang sangat berarti dihidupnya. Witri memintakan maaf untuk suaminya dengan setulus hati. Bagi Jiwo, apa yang dilakukan Witri itu sebuah ungkapan cinta yang manis dari seorang istri untuk suaminya.


Beruntung sekali kamu, Mas...


"Nggak ada salah sama sekali beliau sama aku. Aku cuma bisa mendoakan semoga beliau berpulang dalam keadaan husnul khatimah. Kamu sabar dan ikhlas sepeninggal beliau. Tetap semangat. Ya?" kata Jiwo sambil menatap Witri memberi semangat.


"Makasih..." jawab Witri sambil tertunduk.


Walau sudah berjanji dalam hati untuk nggak lagi menangis kalau ada yang mengucapkan belasungkawa, tapi rasa sedih masih tetap belum bisa dia atasi sepenuhnya.


Dia masih belum bisa menerima sepenuhnya kalau apa yang terjadi adalah nyata. Kalau Hari sudah pergi meninggalkannya untuk selamanya.


Aku kangen banget sama kamu, Mas...Nggak bisa ya ketemu sebentaaar aja...


"Wit..." Jiwo memanggil Witri yang sudah cukup lama tertunduk.


"Ya?" jawab Witri sambil mengangkat wajahnya. Matanya terlihat berkaca- kaca walau bibirnya sedikit tersenyum.


Sedih hati Jiwo melihat itu.


"Nggak papa..." potong Witri begitu melihat wajah nggak enak hati Jiwo. "Aku yang harusnya minta maaf karena masih belum bisa sekuat yang diharapkan." kata Witri sambil tersenyum sedih.


"Kamu tinggal dimana? Boleh aku antar pulang?" tawar Jiwo penuh harap.


Sesungguhnya Witri nggak enak hati juga untuk menerima tawaran Jiwo ini.


Bagaimanapun dia seorang janda yang baru ditinggal meninggal suaminya dua minggu lalu.


Apa jadinya kalau ada yang tahu dia sudah bersama seorang pria?


Tapi kalau dia menolak, rasanya nggak sopan juga secara Jiwo tamunya yang berasal dari seberang pulau. Menyempatkan waktu, tenaga, dan dananya untuk menemuinya.


"Ya udah kalau kamu keberatan. Aku bantu nyari taksi? Atau kamu biasa pulang naik apa?" tanya Jiwo setelah Witri kembali terlihat kurang nyaman dengan tawarannya.


Witri tersenyum salah tingkah.


"Aku biasa jalan kaki." jawab Witri kemudian.


Jiwo terbengong sesaat.


Jalan kaki?


"Rumahmu dekat dari sini?" tanya Jiwo kemudian berpraduga baik.

__ADS_1


"Iya. Nggak sampai sepuluh menit. Bisa buat olahraga tipis- tipis." kekeh Witri kemudian.


Sesaat kebisuan melanda keduanya. Namun kemudian Witri mencari ponsel di tasnya.


"Aku tanya Mamak dulu deh, boleh nggak bawa pulang cowok." kata Witri sambil meringis.


"Mamak sama kamu sekarang? Atau emang udah sejak awal kalian disini?" tanya Jiwo dengan ekspresi ketertarikan yang nggak dibuat- buat.


"Enggak. Mamak nemenin aku baru. Nggak tega anak gadisnya jauh di rantau sendirian." kekeh Witri sambil menekan tombol panggilan untuk mamak. Jiwo ikut tersenyum.


Witri memang jadi single lagi... Karena itu bukan dia ada disini saat ini? Kembali mencoba peruntungan jodohnya pada perempuan yang sama.


Jiwo hanya mampu jadi penonton saat Witri mulai berbicara dengan mamaknya di telpon. Sekaligus juga jadi pencuri dengar atas hasil percakapan mereka karena 'nasibnya' sedang dipertaruhkan diantara percakapan itu.


"Gimana? Mamak kasih ijin nggak aku antar kamu?" tanya Jiwo nggak sabar setelah Witri menutup telponnya.


"Enggak..." jawab Witri menggantung yang langsung membuat kabut kecewa di wajah Jiwo.


"Oh...ya udah kalau gitu. Aku ngerti sih..."


"Enggak papa karena kamu tamu dari jauh. Aku mau ngomong begitu tadi." sahut Witri agak cemberut yang langsung membuat Jiwo berseri- seri.


"Alhamdulillah...Akhirnya aku bisa ketemu mamak lagi!" seru Jiwo senang sekali.


Witri sedikit keheranan dalam hatinya. Kenapa seneng gitu mau ketemu mamak? Naksir dia sama mamak?


"Kalau gitu ayo...ayo... tunjukkan padaku kita harus lewat mana untuk ke rumahmu." kata Jiwo dengan riang sambil membukakan pintu mobil untuk Witri yang dengan sedikit malu kemudian masuk dan duduk tenang sambil menatap pergerakan Jiwo yang melintasi bagian depan mobil untuk menuju ke kursi kemudi.


Waktu terasa begitu cepat berlalu bukan? Lelaki ini, dulu adalah temannya sekolah saat berseragam putih merah. Setiap hari berjalan kaki depan belakang bersamanya, dengan jarak beberapa meter jauhnya. Tak pernah mau dekat sekalipun sudah menembaknya. Witri meringis geli mengingat bagian ini.


Lalu saat SMP sesekali dia melihat lelaki ini berangkat sekolah dengan sepeda jengki tua berwarna biru warisan kakaknya yang pedalnya saja sedikit kejauhan buat dia kayuh.



Sumber: google


Beda dengannya yang memang terlihat bongsor. Sepeda jengki hijaunya sangat mudah dia kuasai pedalnya waktu itu.


Dan sekarang lelaki ini tiba- tiba muncul dihadapannya dengan tampilan yang sudah jauh berbeda.


Selain terlihat tinggi, dia juga...menawan.


Terakhir dia bertemu Jiwo adalah saat perpisahan di SMKnya. Dia mengingat itu semua dengan pasti. Saat itu Jiwo memakai kaos olahraga dan celana seragam. 'Seragam' wajib yang selalu Jiwo pakai saat beberapa kali bertemu dengannya dengan hari yang berbeda.


Entahlah, apa memang jadwal olahraga kelas Jiwo berganti- ganti atau memang Jiwo sengaja selalu memakai kaos olahraga untuk menemuinya.


Dan lihatlah tampilannya sekarang. Terlihat cool sekaligus charming dengan kaos biru tua yang terbalut blazer biru muda dan celana jeans. Dan kacamata yang bertengger di hidungnya menambah poin sebagai pemandangan yang good looking.


Astagfirullahaladzim....Aku ngapain sih?!


"Kita harus mengarah kemana?" tanya Jiwo membuyarkan lamunan Witri begitu mesin mobil terdengar dinyalakan.


"Lurus saja, nanti sekitar 100 meter dari sini di kiri jalan ada gapura hijau, masuk." jawab Witri sambil menegakkan badannya.


"OK siap." jawab Jiwo sambil mulai menjalankan mobilnya dengan halus.

__ADS_1


Bismillahirrahmanirrahim...semoga mamak akan bersedia jadi mertuaku...aamiin.


...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...


__ADS_2