
Hari masuk ke kamar dengan bertelanjang dada. Kaos yang tadi dipakainya sudah pindah lokasi ke dalam bak pakaian kotor.
Witri menatap kedatangan Hari dengan hati deg- degan. Kembali mengingat apa yang mereka lakukan beberapa waktu lalu.
Namun dilihatnya Hari nampak santai saja berjalan ke arah lemari pakaian dan mengambil satu kaos yang tak dipakainya tapi dia letakkan di head board tempat tidur.
"Sulaiman itu gila kayaknya." kata Hari sambil beranjak duduk berselonjor di atas ranjang.
Tubuhnya bersandar santai di head board sambil tangannya kemudian menyingkap selimut yang sejak tadi telah digunakan Witri untuk menyembunyikan tubuh polosnya.
Dia hanya memakai kain segitiga di area bawahnya.
"Memangnya Mas Sulaiman beneran mukulin istrinya?" tanya Witri sambil memiringkan tubuhnya menghadap Hari yang sudah memelorotkan tubuhnya hingga dia berbaring.
Tangan kanannya terentang dan menarik kepala Witri untuk menindih lengannya.
Witri tersenyum malu sambil menyamankan posisi tubuhnya.
Nyaman dipeluk gini.
"Iya. Katanya kalau mabuk dia sering mukulin istrinya. Istrinya ogah diajak begituan kalau Sulaiman mabuk. Padahal katanya kalau lagi mabuk dia pengennya begituan." kata Hari sambil mengu lum senyum malu.
"Ish! Siapa yang sudi begituan sama orang mabuk?! Seorang pe es ka sekalipun kalau bisa memilih pasti juga ogah melayani orang mabuk." kata Witri kesal.
Hari meringis pelan.
"Lagian kalau sering dipukuli gitu ngapain juga Mbak Tety masih mau aja sama Mas Sulaiman sih?!" sungut Witri semakin kesal.
"Mungkin ada sesuatu yang bikinTety tergila- gila sama Sulaiman." kata Hari sambil mengelus pundak polos Witri.
"Orang tukang mukul gitu digilai." sungut Witri masih dengan wajah kesal.
Hari terkekeh melihat wajah kesal Witri.
"Kok malah kamu yang kesel...Tety aja terima aja di hajar sama Sulaiman." kata Hari sambil menghela nafas.
Dia ingat tadi saat sampai di rumah Sulaiman, temannya itu sudah dipegangi oleh dua tetangganya.
Dia teriak- teriak mengumpati istrinya yang juga tak kalah galak membalas umpatannya.
Tety juga dipegangi dua wanita karena selalu ingin menerjang suaminya.
Hari ngeri melihatnya.
Rumah tangga macam apa yang sedang dilihatnya itu tadi? Suami istri saling mengumpati pasangan tanpa segan, bahkan di hadapan banyak orang.
Saling mengumbar aib pasangan dengan gamblang tanpa rasa sungkan.
"Kita kalau lagi marahan jangan sampai saling mengumbar aib ya, Jeng." kata Hari sambil merapatkan tubuh mereka dengan menarik tubuh Witri lebih dalam ke pelukannya.
Witri yang mendengar ucapan Hari menatapnya tak mengerti.
"Sulaiman sama Tety tadi saling mengumpat pas Mas sampai sana tadi. Sebelumnya mereka saling pukul katanya." terang Hari.
"Waaaah....saling pukul, Mas? Mbak Tety nggak cuma dipukulin tapi balas memukul juga?" tanya Witri dengan nada sangat tertarik.
Hari menjepit lembut hidung Witri diantara jari telunjuk dan jari tengahnya yang terlipat. Dia gemas dengan reaksi Witri yang sepertinya menganggap seru pertikaian Sulaiman dan Tety.
"Aduuuuh!" seru Witri sambil memukul lengan Hari yang terkekeh.
"Sakit!" sungut Witri sambil mengelus- elus hidungnya yang memerah. Bibirnya manyun mewakili kekesalan hatinya.
"Mereka saling buka aib pasangannya. Gila! Yang mabuk Sulaiman tapi yang sinting berdua." kata Hari sambil menggeleng pelan.
__ADS_1
"Aib apa yang dibuka?" tanya Witri penasaran.
"Mau tahu?" tanya Hari sambil merenggangkan pelukannya untuk melihat wajah Witri.
"Iya." jawab Witri mantab.
"Nggak usah. Malu aku ngomongnya." kata Hari sambil kembali mengeratkan pelukannya.
Dia baru sadar kalau Witri tak berbaju saat dirasanya sesuatu yang kenyal menempel di dadanya.
Ternyata dia nurut apa kataku....
"Aku terlanjur penasaran, Mas." rajuk Witri sambil mencubit dada Hari.
"Aduh!" pekik Hari tertahan sambil merangkum jari Witri yang masih di dadanya.
"Kenapa nyubitnya disitu sih?" tanya Hari sambil tersenyum simpul menatap Witri yang menatapnya malu.
"Memangnya kenapa? Memangnya tiap tempat ada bedanya rasa cubitannya?" tanya Witri kini sok berani melawan tatapan Hari.
"Ada dong. Kamu kalau dicubit disini..." kata Hari sambil mencubit pipi Witri, "Sama dicubit disini" sambung Hari sambil mencubit lembut ujung dada Witri, "Ada bedanya nggak rasanya?" tanya Hari sambil tersenyum menggoda menatap Witri yang sudah menampakkan wajah malu.
"Ada nggak?" tanya Hari mengulang lagi pertanyaannya barusan karena Witri tak menjawab malah mencoba menyembunyikan wajah malunya.
"Ada nggak?" tanya Hari lagi kembali mengulang sambil mengangkat dagu Witri lembut agar menatapnya.
"Nggak mau jawab?" tanya Hari setelah menge cup bibir Witri sekilas.
Witri kembali berdebar merasakan kecu pan di bibirnya barusan.
Kenapa nagih banget sih rasanya? Jadi pengen lagi, pengen lagi, dan lagi.
"Mau jawab." cicit Witri malu.
"Apa jawabannya?" tanya Hari kembali menge cup bibirnya.
" Apanya yang beda?" tanya Hari sengaja meledek.
"Rasanya lah." jawab Witri cepat.
"Emangnya rasanya gimana?" tanya Hari sambil tersenyum- senyum.
"Mmmm...enak." jawab Witri sambil terkekeh malu.
Apakah Witri ringan hati mengatakan itu? Tentu saja tidak.
Dia bukan type perempuan yang biasa gamblang, apalagi untuk hal- hal sensitif seperti itu.
Tapi kali ini dia tengah berusaha berlaku sebagai perempuan yang menyenangkan dan sedikit genit di depan suaminya.
Dia sedang berusaha menjadi istri yang bisa menyenangkan suaminya di kondisi apapun.
"Waaaah...enak ya?" goda Hari sambil menatap wajah Witri dengan tatapan takjub dan bangga pada dirinya sendiri.
"GR!" sungut Witri sambil memukul pelan dada Hari.
"Siapa yang GR? Aku nggak ngomong sombong apapun." sangkal Hari sembari terkekeh sambil mendekap gemas tubuh Witri.
Dia bangga? Tentu saja! Istrinya mengakui kepintarannya menyenangkan istri walau masih sebatas pemanasan. Masih bermain di 'area luar'.
Oh senangnya bisa sampai di titik ini...
Tubuh keduanya menempel rapat. Sesuatu yang kenyal menempel ketat di dadanya. Membuatnya kembali merasakan gelitikan rasa yang membuat perutnya menghangat, kemudian menjalar naik ke dadanya,, membuat jantungnya berdebar dan berdesir tak seperti biasanya bahkan kepalanya seperti pusing seketika.
__ADS_1
Rasa ini tadi telah di rasakan. Saat Pak Iksan belum menggedor pintu depan rumahnya dan membubarkan secara paksa acara asyik masyuk mereka berdua.
"Kita ulangi lagi yang tadi mau ya?" tanya Hari lebih ke ajakan.
"Ini udah lewat tengah malem. Nanti Mas kurang tidur, besok ngantuk kalau kerja." kata Witri sambil menatap Hari dengan wajah bimbang.
Witri sebenarnya mau- mau aja, bahkan mau banget kembali menikmati sensasi gairah yang belum pernah dia rasa sebelumnya.
Tapi gimana kalau kegiatan mereka nanti ternyata akan sampai menjelang pagi? Hari bisa nggak tidur semalaman dong. Trus gimana kalau Hari ngantuk pas dinas? Nggak keren banget pastinya.
"Aku besok libur, Sayang." kata Hari mulai menciumi pundak putih Witri yang sedari tadi terekspose menggoda di depan matanya.
Witri reflek mengangkat pundaknya yang tengah dijadikan tempat silaturahmi bibirnya Hari.
Ada rasa geli namun disertai gelenyar rasa memabukkan saat bibir Hari merayapi tulang selangkanya kemudian bergerilya ke daerah sekitarnya.
Sepertinya malam ini akan sangat menyenangkan dan jadi pengalaman pertama
untuk mereka berdua.
🍁🍁🍁🍁🍁
Hari tak henti terbahak karena sedari tadi diledek oleh senior- seniornya di lapangan bulutangkis yang ada di area asrama itu.
Malam itu mereka baru saja selesai bermain bulutangkis.
Semua berawal dari ledekan Pak Iksan yang kembali mengungkit saat menjemput paksa Hari di larut malam namun tak segera dibukakan pintu.
"Aku yakin kamu lagi kerja bakti sama istrimu. Ngaku nggak?!" paksa Pak Iksan sambil menabok pundak belakang Hari.
"Tiga hari ini aku juga jadi denger ada yang suka mandi di tengah malem." sambung Pak Binsar yang rumahnya ada di samping rumah Hari.
Walau rumah kedua terpisah lahan kosong seluas lima meter, namun acara di malam bisa tertangkap dari rumah sebelah.
"Yang aku heran, kenapa baru belakangan ini ada acara mandi tengah malam. Malam- malam sebelumnya kalian nggak berolahraga malam atau macam mana?" tanya Pak Binsar kemudian sambil terkekeh penasaran.
Hari tersipu malu dibawah tatapan para seniornya itu.
"Jangan- jangan kamu biasanya begituan kalau siang atau pagi ya?" tuduh Pak Sani sambil menoleh pada Hari. Kedua kakinya dibuatnya bergoyang tak henti sejak tadi.
Hari kembali tertawa.
"Waaah,mati aku dikeroyok senior segini banyaknya." kata Hari tak hendak menjawab satupun kekepoan bapak- bapak rumpi di sekitarnya itu.
Tak akan dia umbar secuilpun urusan ranjangnya pada orang lain.
Karena itu sama saja dia membiarkan orang lain membayangkan istrinya. Bahkan mungkin orang lain akan membayangkan apa saja yang dilakukan istrinya saat bermesraan dengannya.
Big no!!!
Ya, baru tiba malam ini memang mereka berdua mulai suka menghabiskan waktu di ranjang dan menikmati waktu dengan acara bercumbu.
Sebuah kegiatan baru yang membuatnya semakin senang memiliki pasangan yang cepat mengerti dan juga bisa memanjakannya.
Walaupun sampai semalam mereka belum juga menikmati puncak malam pertama, tapi Hari sangat senang sudah mulai bisa menguasai tubuh istrinya.
Menyenangkan sekali ternyata menikmati waktu berdua tanpa jarak dengan istrinya itu.
Witri terlihat sangat menyenangkan bila tengah tergulung hasrat.Membuatnya ingin terus membuat perempuan itu bertekuk lutut walau pada akhirnya Hari masih saja tak tega membobol pintu utama milik Witri karena dia nggak tega mendengar rintihan kesakitan Witri saat burung garudanya ingin menerobos masuk pintu utama.
Walau Witri bilang nggak papa kalau dia ingin memasukkan burung garudanya, tapi melihat wajah Witri yang menahan sakit dia kembali tak tega.
Entah akan sampai kapan dia memelihara ketidaktegaannya menerobos pintu utama istrinya itu.
__ADS_1
...💧💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧💧...
.