JANJI JIWO

JANJI JIWO
Tiket Pesawat


__ADS_3

Jiwo menoleh ke samping saat dirasanya seseorang duduk di sampingnya. Soni tersenyum tipis menatapnya.


Tanpa basa- basi dia mencomot sebutir buah talok di tangan Jiwo lalu mengunyahnya.


"Kita satu tempat PKL, Wo." kata Soni membuka pembicaraan sambil berdiri untuk meraih buah talok di atasnya.


Jiwo hanya mengangguk sambil kembali memasukkan sebutir talok ke mulutnya.


Tadi memang kelas mereka sudah diberi pengumuman tentang tempat PKL yang akan mereka tempati.


Jiwo bersama Soni, Aksan, dan Riyanto PKL di perusahaan yang sama. Sebuah perusahaan tambang di Kalimantan.


Bukan tempatnya yang jauh yang kini meresahkan Jiwo. Tapi biaya untuk kesananya yang merisaukan hatinya.


Tadi sudah di beri tahu dua bulan lagi mereka berangkat. Dan kesananya akan naik pesawat.


Dan Jiwo tahu ongkos naik pesawat itu nggak murah. Sangat mahal untuk kondisi ekonomi keluarganya.


Lalu bagaimana dengan nasib PKL nya kalau nanti nggak bisa kesana?


"Aku tadi ngobrol tanya- tanya sama Pak Bambang soal kesananya." kata Soni lagi walau dari tadi Jiwo belum juga bersuara.


"Naik pesawat kan? Tadi udah di kasih tau." kata Jiwo akhirnya bersuara juga.


"Iya tahu! Yang aku tanyakan ke Pak Bambang tadi gimana kalau kita nggak bisa beli tiket pesawat karena nggak punya uang." tukas Soni cepat.


Jiwo kini mengarahkan duduknya menghadap ke arah Soni.


Yang diobrolkan ini relate banget sama kondisinya yang sedang dia pikirkan sekarang.


"Pak Bambang bilang, pihak sekolah akan membantu meminjami uang tiket dan sekalian membelikannya. Nanti dibayar dengan uang gaji kita selama PKL.Untuk tiket pulang biasanya biayanya tiket dibantu setengah oleh perusahaan." kata Soni sambil tersenyum.


"Alhamdulillah ya Allah..." kata Jiwo dengan suara lega. Kerisauannya soal tiket berangkat PKL sudah ada solusi.


Dia tak perlu menyusahkan hati ibunya karena harus memikirkan biaya beli tiket pesawat.


"Buruan kamu ke Pak Bambang sana. Daftar buat minta dibeliin tiket pesawat sekalian. Tadi sudah ada beberapa yang aku lihat mendaftar. Riyanto juga barusan ku kasih tahu." kata Soni sambil menyenggol bahu Jiwo dengan bahunya.


"Iya. Makasih infonya, Son!" seru Jiwo yang sudah melesat ke arah ruang guru.


Soni tersenyum tipis melihat keriangan di wajah Jiwo.


Dia memang tak sedekat Lukman dengan Jiwo. Tapi Soni sangat menyukai pembawaan Jiwo yang tenang dan tak banyak tingkah, selain otak cerdasnya juga.


Dari Lukman dia tahu kondisi ekonomi keluarga Jiwo dan dia hanya bisa ikut prihatin.


Sejak tadi diumumkan kalau keberangkatan ke Kalimantan dua bulan lagi dan akan naik pesawat, Soni bisa melihat kegelisahan Jiwo. Sayangnya anak itu memilih diam saja dan tak mencoba ngobrol dengan guru pembimbing mereka.


Otak Jiwo yang biasanya bisa berpikir cepat dalam mencari solusi nampaknya sedang melemah karena sudah down duluan memikirkan dari mana uang untuk beli tiket pesawatnya nanti.


Soni akhirnya berinisiatif bertanya- tanya soal segala sesuatunya pada Pak Bambang. Dan dia sangat bersyukur mengetahui kenyataan kalau pihak sekolah tak lepas tangan soal kemungkinan kesulitan keuangan yang dialami sebagian siswa yang akan PKL jauh dari rumah.


🍁🍁🍁🍁🍁


Jiwo berpapasan dengan Riyanto di depan ruang guru.

__ADS_1


"Kamu dari ketemu Pak Bambang, Yan?" tanya Jiwo pada Riyanto yang sudah cengengesan saat melihatnya.


"Iya." jawab Riyanto santai.


"Ikut daftar minta dibeliin tiket?" tanya Jiwo lagi.


"Iya lah. Bapakku mana mau ngasih duit buat aku beli tiket. Ku suruh beliin juga pasti nggak tahu belinya dimana." seloroh Riyanto yang disambut cengiran Jiwo.


Sebenarnya Riyanto bukan berasal dari keluarga yang kurang mampu sepertinya.


Bapaknya Riyanto punya usaha kerajinan perak yang lumayan besar. Rumahnya juga bagus dan besar.


Sayangnya orangtua Riyanto sangat pelit untuk kebutuhan anak- anaknya. Uangnya hanya terfokus untuk memperbanyak simpanan emas mereka.


Itu yang sering Riyanto ceritakan selama ini.


"Kamu sudah aku daftarin. Nih kertasnya buat besok di tukerin tiket." kata Riyanto sambil mengulurkan secarik kertas atas nama Jiwo.


Jiwo tersenyum senang.


"Alhamdulillah....Makasih ya,Yan." kata Jiwo dengan nada terharu.


"Tinggal mikir gimana caranya nyolong satu atau dua gelang atau kalungnya ibuku." kata Riyanto sambil mereka jalan kembali ke taman samping kelas mereka.


"Ngapain?!" tanya Jiwo kaget.


"Kita butuh uang buat makan disana nanti, Wo. Kalau minta sangu ( bekal) paling dikasih berapa doang. Tahu sendiri orangtuaku kayak orangtua tiri." sungut Riyanto.


Jiwo terkekeh walau hatinya kembali risau.


Uang lagi...uang lagi ujung- ujungnya.


Ibu mau nyangoni ( ngasih uang bekal) aku pakai uang darimana coba?


"Tenang wae ( aja)...Kita berempat di tempat PKL besok harus kompak. Kita sama- sama jauh dari rumah. Teman harus bisa jadi saudara. Harus bisa saling melengkapi." kata Riyanto sambil menepuk lengan atas Jiwo pelan.


Dia tahu Jiwo sedang berpikir soal uang untuk bekal PKL nya nanti. Karena itu dia memutar otak agar bisa mendapatkan bekal yang banyak agar bisa menolong kebutuhan makan Jiwo nanti di tempat PKL.


Sayangnya dia tadi keceplosan mau nyolong aset perhiasan ibunya. Bisa- bisa Jiwo nggak bakalan mau diberinya sesuatu nanti. Apalagi dia tahu uang itu uang haram. Hasil nyolong walau punya orangtuanya sendiri.


Ya. Kemiskinan Jiwo memang sudah bukan lagi rahasia di kalangan teman- temannya. Tapi Jiwo tak pernah memperlihatkan sikap rendah diri.


Jiwo rendah hati dengan kelebihan kecerdasan otaknya dan gampang kalau dimintai tolong oleh teman- temannya. Itu yang membuat dia selalu 'dianggap' oleh teman- temannya.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Kamu besok pas PKL jangan ngalah- ngalah terus kalau sama mereka bertiga." kata Lukman saat mereka berdua berjalan menuju pinggir jalan Gejayan untuk menunggu bis pulang sekolah.


Walaupun Soni,Aksan, dan Riyanto bukan termasuk anak nakal, tapi Lukman tentu saja tahu Jiwo yang posisinya paling 'lemah' diantara mereka.


Jiwo hanya tersenyum seadanya.


"Jangan mau ditindas." sambung Lukman lagi yang membuat Jiwo terkekeh.


"Memangnya mereka penjajah?" sahut Jiwo dengan nada geli.

__ADS_1


"Dikandani malah ngeyel (dikasih tahu malah ngebantah)." gumam Lukman dengan wajah kesal.


"Kamu besok sama siapa aja?" tanya Jiwo mengalihkan pembicaraan.


"Sama Anan, Heru, dan Bekti." jawab Lukman tak bersemangat.


Lukman dapat tempat PKL di pertambangan yang ada di Sawahlunto, Sumatra Barat. Beda pulau dengan Jiwo.


"Jangan sampai adu jotos sama Heru nanti kalau di tanah orang,bikin malu wong Jogja." kata Jiwo balik menasehati yang di balas tatapan kesal Lukman padanya.


"Dikandani malah mlorok.( dikasih tahu malah melotot)." kata Jiwo sambil menepuk mancung topi baseball yang dipakai Lukman.


"As*u (an Jing)!" umpat Lukman dengan nada kesal walau mulutnya mengikuti Jiwo yang hanya terkekeh.


"Besok pulang sekolah ikut aku ya,Wo. Besok aku boleh pinjem motor bapakku." pinta Lukman sambil duduk di pinggir trotoar.


"Kemana?" tanya Jiwo penasaran.


"Mau pamit sama gebetan. Kita ke sekolahnya aja." jawab Lukman santai.


Jiwo tertawa.


"PKL nya masih dua bulan lagi,Man. Kejauhan pamitnya." kata Satrio di selingi tawanya.


"Kalau nunggu dekat- dekat kita berangkat PKL aku harus ke rumahnya. Aku nggak berani sama Masnya. Besok di sekolahnya cuma ada class meeting, jadi dia bisa keluar ke depan sekolah buat ketemu. Kemarin aku udah janjian karena pas ketemu dia di bis." terang Lukman.


Jiwo mengangguk mengerti.


"Sekolah dimana dia?" tanya Jiwo penasaran.


"Di Maguwo." jawab Lukman santai sambil melirik Jiwo yang nampak terkejut.


"SMEA yang barat atau yang timur?" tanya Jiwo kemudian.


"Yang timur dong! Sama kayak Jawitri." kata Lukman setengah berbisik dengan niat menggoda Jiwo.


"Kelas tiga juga?" tanya Jiwo pura- pura santai.


"Kelas dua." jawab Lukman sambil tersenyum membayangkan cewek cantik berambut sebahu memakai tas hitam.


"Siapa tahu besok rejekimu juga. Bisa ketemu dan ngobrol sama Witri walau mungkin hanya bisa sebatas itu." kata Lukman.


"Kenapa?" tanya Jiwo nggak paham.


"Ya siapa tahu dia punya pacar di sekolahnya. Biar di kata SMEA itu sarang sinden dan STM itu sarang penyamun, tapi kan tetap saja ada cowok yang sekolah di SMEA dan ada cewek yang sekolah di STM. Jadi kemungkinan Witri punya pacar juga tetap ada. Apalagi katamu Witri itu sangat manis. Pasti dia jadi lirikan para cowok." kata Lukman provokatif.


Jiwo tanpa sadar mengangguk menyetujui apa yang dikatakan Lukman barusan.


Ya, kemungkinan itu memang sangat ada. Dan ada baiknya dia mencari tahu soal itu.


Benar kata Lukman. Siapa tahu besok rejekinya bisa ketemu Witri dan ngobrol dengannya.


Ah, Jiwo jadi tak sabar menunggu besok.


...💧💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧💧...

__ADS_1


__ADS_2