JANJI JIWO

JANJI JIWO
Mari Berbahagia


__ADS_3

Sleep tight." bisik Jiwo sambil mengelus lembut pipi Witri.


Keduanya sama- sama menahan nafas dan hasrat yang sebenarnya ingin saling memeluk.


Karena menyadari hal itu keduanya malah seakan membeku, merasa takut bergerak salah nantinya.


Jiwo memejamkan matanya rapat-rapat saat hasrat ingin mencium bibir ranum di depan matanya itu kian mendesak akal sehatnya.


Bergerak tak mampu, maka memejamkan mata adalah satu- satunya hal yang bisa dia lakukan saat ini untuk pertahanan diri.


Sialnya justru bayangan khayalan pagu tan mesranya bersama Witri malah menari di angan mesumnya malam ini.


Semanis apa rasa bibir itu?


Astagfirullah.... astagfirullah....


Entah setan bersenjata apa malam ini. Istighfar di dalam hatinya rasanya tak mengurangi sedikitpun keinginan nakalnya kali ini.


"Masuklah." pinta Jiwo pada Witri sambil tetap memejamkan matanya. Berharap saat Witri tak ada dihadapan matanya dia bisa lebih mudah meredakan keinginan bermesra malam ini.


Witri bukannya tak tahu kalau Jiwo sedang berjuang menahan diri saat ini. Kegelisahan sikap Jiwo tak bisa disembunyikan lelaki itu dengan baik di hadapannya kali ini.


Dalam hati Witri tersenyum mengagumi kegigihan lelaki ini melawan hasratnya sendiri.


Namun ada satu sudut kecil dihatinya merasa kalau dia tak semenarik itu hingga tak bisa 'menarik' Jiwo untuk bersikap lebih intim lagi dengannya. Mencium pipinya sebagai ucapan selamat malam misalnya.


Ish! Otakmu kenapa sih, Wit mesum gitu?! rutuk batinnya kesal pada dirinya sendiri.


Ditatapnya wajah dengan mata terpejam di depannya itu.


Kenapa malah tambah seksi sih kalau merem gitu?


"Aku masuk." kata Witri kemudian setelah menunggu beberapa detik, berharap melihat Jiwo membuka matanya namun ternyata lelaki itu masih tetap memilih terpejam di depannya.


"Ya." jawab Jiwo terdengar pasrah dan sedikit tak rela.


Dengan berat hati Witri membuka pintu kamar dan melangkahkan kakinya memasuki kamarnya.


Sedetik kemudian pikiran isengnya muncul menggelitik.


Bergegas dia kembali membalikkan badan dan membuka pintu lalu...


"BAAAAAA!!!" serunya di depan muka Jiwo tepat bersamaan dengan hembusan nafas lega dan terbukanya mata lelaki itu.


"Astagfirullahaladzim!" seru Jiwo langsung mundur selangkah dan mengelus dadanya berulangkali untuk meredakan lonjakan debaran jantungnya yang meningkat beberapa kali dari debaran normal.


Witri tertawa terbahak melihat ekspresi kaget Jiwo yang bahkan sempat melotot beberapa detik di awal kekagetannya tadi.


Apalagi saat dilihatnya Jiwo berkali- kali mengelus- elus dadanya sendiri dengan wajah menegang.


"Kamu ya...." eram Jiwo sambil mengarahkan cubitannya ke pipi Witri yang masih tertawa riang. Merasa sangat berhasil mengagetkan Jiwo dengan keusilannya.


Jiwo menatap bahagia tawa riang Witri di depannya.


Sangat terlihat lepas dan tanpa beban.


"Kamu bahagia selama ini?" tanya Jiwo tiba- tiba. Witri perlahan menghentikan tawanya saat menyadari elusan lembut di pipinya. Tatapan Jiwo juga tak kalah lembutnya saat ini.


Oh God...


"Saat bersama Mas Hari apakah kamu bahagia?" tanya Jiwo lagi, tetap dengan elusan lembut ibu jarinya di pipi Witri. Juga tatapan teduh dan lembutnya yang menenangkan nyaris melenakan


Witri sekejap terpaku. Bukan hanya karena pertanyaan Jiwo, tapi juga sentuhan berulang di pipinya oleh ibu jari Jiwo. Hatinya mau rontok rasanya karena getaran debaran yang sangat kencang di dadanya saat ini.


"Mas Hari sayang kan sama kamu?" tanya Jiwo lagi.


Mata Witri tiba- tiba berembun kemudian menjadi berkaca- kaca.


Lintasan semua perasaan bahagia yang pernah dirasa dan rindu pada ayah Aksa itu tiba- tiba berjejal di hatinya.


"Iya." jawab Witri sambil mengangguk mantap berulangkali. Butiran airmata kini mulai luruh dan pelan merayapi pipinya.

__ADS_1


"Syukurlah." sahut Jiwo dengan senyumnya. "Nggak salah kamu menerima dia sebagai suamimu waktu itu walau ternyata hanya sebentar jodoh kalian." sambung Jiwo sambil tersenyum haru.


Sejujurnya Jiwo sendiri bingung harus merasa bagaimana dengan kenyataan yang dialami Witri dengan meninggalnya Hari.


Mau senang dengan kondisi itu juga rasanya tak beradab sekali walau kenyataannya hal itu yang 'membuka' jalannya untuk mendekati kembali perempuan pujaannya itu.


Yang pasti, dalam hati dia berterima kasih pada almarhum Hari karena telah menepati janjinya saat bertemu dengannya dulu untuk membahagiakan Witri. Janji yang pria itu ucapkan saat mereka bertemu tak sengaja di sebuah bandara di Jawa dulu.


Isakan Witri semakin tak tertahan karena tiba- tiba dia merasa sangat merindukan Hari.


Menyadari beberapa pasang mata yang baru saja keluar dari lift melihat adegan mereka, Jiwo memilih membawa Witri menerobos pintu kamar sambil memeluk Witri.


Persetan orang mau berpikir apa tentang yang tengah dia lakukan saat ini.


Paling jahat juga mungkinan mereka berdua dianggap sebagai sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta dan sedang on fire malam ini


Dibawanya kepala perempuan itu ke dadanya dan membiarkan perempuan itu menangis disana.


"Kamu kangen Mas Hari?" tanya Jiwo lembut. Dagunya melekat di puncak kepala Witri.


Sakit? Tentu saja. Menanyakan perasaan perempuan yang kita cintai terhadap laki- laki lain tentu saja tidak membuatnya nyaman. Tapi Jiwo juga sadar posisi dan sadar kondisi.


Faktanya sampai saat ini Witri masih punya hak merindukan sosok suaminya. Apalagi suaminya adalah sosok yang baik padanya selama hidupnya. Wajar bila Witri tak akan mudah melupakannya.


"Dia sudah tenang disana. Aku harus tetap bahagia sepeninggalnya agar dia juga bahagia disana." jawab Witri menegarkan hati.


Witri ingat pesan Hari sebelum suaminya itu meninggal,kalau dia harus terus bahagia, demi Aksa juga.


"Kamu benar. Kamu harus tetap bahagia karena kamu juga punya Aksa." sahut Jiwo sambil mengeratkan pelukannya untuk menenangkan Witri.


Bahagialah bersamaku, Sayang. Biarkan kuhabiskan sisa umurku bersamamu, kita bersama mengasuh Aksa dan adik- adiknya kelak.


Seperti baru sadar dengan keadaan mereka yang berpelukan, Witri beringsut pelan melepaskan diri dari dekapan hangat Jiwo.


"Maaf .." kata keduanya bersamaan dengan wajah salah tingkah.


"Kamu sudah baik- baik saja?" tanya Jiwo sambil menatap lekat wajah Witri yang langsung menunduk malu.


"Karena pelukanku?" tanya Jiwo dengan wajah meledek.


"Apaan sih?!" sungut Witri dengan berusaha menyembunyikan rasa malunya dengan membuang pandangannya ke samping.


"Alhamdulillah kalau kamu nyaman dengan pelukanku." kata Jiwo dengan senyum menggoda yang makin menjadi.


"Heeeeiiii....! Anda jangan GR ya!" balas Witri sambil tertawa kecil. Saat ini terasa seperti bunga- bunga mungil dan meriah bermekaran di hatinya.


Kenapa pula ini?


"Itu nyatanya kamu ketawa. Seneng ya dipeluk cowok cakep?" ledek Jiwo lagi sambil menunjuk wajah Witri.


"Gak!" tampik Witri sambil menepis telunjuk Jiwo dari depan wajahnya.


"Gak salah?"


"Salah!"


"Salah karena cuma sebentar?"


"Ih! Nyebelin!" sahut Witri dengan bibir mengerucut dan mata yang memicing kesal.


"Bibirnya jangan begitu..." kata Jiwo dengan nada resah seperti mau menangis.


"Kenapa?" tanya Witri masih dengan bibir kesalnya.


"Meresahkan." jawab Jiwo sambil meringis salah tingkah.


Witri bergegas merapatkan bibirnya. Memasukkan dalam- dalam kedua bibirnya ke dalam mulut.


Memangnya bibirnya kenapa bisa meresahkan? Ada- ada aja.


Ya walaupun kata teman- temannya bibirnya memang masuk kategori bibir yang kissable sih...

__ADS_1


"Bagaimana ceritanya bibir bisa meresahkan?" kekeh Witri mencoba membuat santai suasana walau dengan hati berdebar.


"Ya bisa aja lah. Karena bibirnya kissable...." kata Jiwo sambil tersenyum kecil dan menatap mesra ke arah Witri.


Oh no... Tuhan ....jangan ciba- coba ya kamu, Wo...jangan coba- coba....batin Witri semakin kalang kabut.


Dia tahu pasti seberapa tipis pertahanan dirinya saat ini.


Dia yakin, sedikit saja Jiwo bertingkah, bisa dipastikan habis sudah pertahanan dirinya seketika ini juga.


Sayangnya Jiwo tidak bisa mendengar peringatan yang baru saja dia ucapkan dengan sangat lantang di dalam hatinya.


Lelaki itu kini tengah mengelus lembut pipinya. Sangat lembut.


"Aku yang menciumnya pertama kali kan? Waktu itu?" tanya Jiwo sambil kembali mengelus pipinya. Ingatannya sendiri sudah mundur ke beberapa belas tahun yang lalu, saat dia mencium pipi mulus Witri remaja. Menjadi pencium pertama gadis itu.


Mau tahu keadaan hati Witri saat ini ketika mendengar pertanyaan itu?


Witri merasakan sebuah gelombang besar seakan menerjang seluruh isi hatinya.


Gelombang yang terasa hangat di hati namun juga merasakan hantaman nyeri kerinduan.


Sebuah gelombang kerinduan yang amat besar yang mampu meluruhkan semua perasaan sedih dihatinya.


Ingatannya kembali ke usia belasan tahun lalu, saat dia untuk pertama kalinya merasakan sebuah kecupan sepasang bibir hangat di pipinya.


Tiba- tiba dia merasa rindu pada masa itu. Juga pada sosok itu.


Sosok pemuda yang dulu cenderung pemalu, namun kini sudah bisa begitu percaya diri berdiri di depannya sebagai seorang pria dewasa dengan cinta yang masih sama untuknya.


"Aku pernah kehilangan kamu dan harus merelakan kamu. Aku bersyukur kamu bersama Mas Hari. Aku percaya kamu dicintai dengan sangat baik oleh dia." Jiwo menahan nafasnya sesaat.


"Seandainya takdir menuliskan kamu harus hidup bersamanya selamanya, aku sudah merelakan karena aku tahu kamu berada di tangan pria yang tepat. Setidaknya aku tahu kamu akan bahagia bersamanya." kata Jiwo sambil merayapkan jemarinya ke sisi kepala Witri.


Witri merasa ada ketulusan sekaligus kehancuran di suara itu.


Witri tergugu.


Apakah saat dia menikmati kebahagiaan bersama Hari, Jiwo patah hati?


"Dan saat takdir sekarang ternyata seperti ini, aku percaya inilah saat untuk kita bersama. Kita lanjutkan bahagiamu dan Aksa. Mari kita berbahagia." kata Jiwo nyaris serupa bisikan.


Witri sudah tak bisa menahan derai airmata yang sedari tadi sudah berdesakan ingin meluncur merayapi pipinya.


"Menikahlah denganku, Wit. Ya...?" pinta Jiwo dengan penuh harap.


Isakan Witri semakin keras diiringi dengan anggukan kepalanya lirih.


Tidak. Dia sudah tidak sanggup lagi sok kuat apalagi sok jaim di depan lelaki ini.


Hari tetaplah pria istimewa baginya dan akan selamanya istimewa di hatinya. Namun perjalanannya di dunia ini masih tetap butuh sebuah pelukan dan sandaran. Dan Jiwo adalah seseorang yang dia rasa sebagai pemilik sandaran dan pelukan itu.


Dan saat pada akhirnya sebuah ciu man lembut menghampirinya, Witri tak kuasa lagi menolak itu.


Bibir lelaki pemilik ciuman pertama di pipinya dulu, kini berekspansi melebarkan daerah kepemilikannya ke bibirnya.


Pagutan lembut dari bibir Jiwo yang tanpa paksaan dan tekanan kini bersambut walau awalnya terasa ragu dan malu.


Namun sentuhan di bibirnya yang tak berjeda akhirnya mampu membuat Witri perlahan menyambut dan kemudian ikut menikmati dan merayakan keintiman mereka saat ini.


Bahkan tubuhnya seolah kehilangan kekuatan untuk menolak saat tangan kiri Jiwo merengkuh punggungnya agar tubuhnya semakin lekat ke tubuh tegap lelaki itu.


Wangi ini akan selalu dia ingat. Dan rasa bahagia ini ingin selalu dia rindukan.


Andai bisa, ingin agar waktu tak usah berganti detik demi detiknya agar keindahan ciuman ini tak berujung.


Witri pernah merasakan indahnya ciuman saat menikmatinya pertama kali bersama Hari. Namun kali ini ayunan kesyahduannya terasa berbeda. Mungkin karena warna cinta di hatinya juga berbeda walau sama indahnya.


Aku ingin menua bersamamu, Wo. Jangan hilang lagi.


...🍁 b e r s a m b u n g 🍁...

__ADS_1


__ADS_2