
Hanifah mendengarkan penjelasan Jiwo dengan tenang. Bahkan sesekali dia masih ikut mencomot pisang gapit di piring yang jadi jatah Jiwo.
Dia tetap nampak tenang menikmati pisang gapit di mulutnya dan tetap juga nampak serius memperhatikan apa yang di ucapkan Jiwo.
Terus terang saja, sikap tenang Ifah itu di luar ekspektasi Jiwo.
Awalnya Jiwo yakin kalau Ifah akan bereaksi menangis meratapi jarak yang akan memisahkan mereka, atau minimal terkejut atau bahkan akan langsung memotong perkataannya soal rencana kepindahan kerjanya ke Jakarta dan akan menolak hal itu.
Tapi ternyata? Jiwo bisa sampai menyelesaikan penjelasan panjang lebarnya soal rencana di kepalanya tentang kelanjutan hubungan mereka ke depannya. Dan Ifah tetap duduk tenang di depannya dengan wajah yang tenang pula.
Gadis ini istimewa. Bisa sangat tenang begini.
"Gimana menurutmu?" tanya Jiwo akhirnya meminta pendapat Ifah setelah penjelasannya telah sampai di ujung kata.
"Karena kamu nanya, aku akan jawab menurut kata hati dan nalarku sebagai seorang perempuan ya..." Ifah menatap Jiwo sesaat sambil menegakkan duduknya sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
"Kalau nanya ego, jelas aku nggak mau kita LDR an, Mas. Kita baru seumur jagung berhubungan dan harus di uji dengan jarak. Kita yang biasanya tiap hari bisa ketemu dan ngobrol face to face, nantinya hanya akan bisa ngobrol by phone. Itu pasti berat nantinya, Mas." kata Ifah menjeda ucapannya lalu dengan lebih dalam menatap wajah Jiwo untuk bisa melihat reaksi lelaki yang tengah mengangguk pelan itu. Sepertinya Jiwo memahami soal kemungkinan itu.
Rasa berat saat harus menjalani hubungan jarak jauh.
Diam- diam hati Ifah terjalari rasa gamang.
"Tapi aku juga nggak bisa melarang kamu untuk nggak pergi dari sini karena aku nggak punya hak untuk melarangmu berkembang. Apalagi ada niat baikmu dengan kamu pindah ke Jakarta. Kamu ingin lebih dekat dengan keluargamu. Aku nggak boleh menghalangi niat baik itu." kata Ifah sambil tersenyum.
Jiwo terpukau. Bukan hanya dengan senyuman itu, tapi pada pikiran panjang dan terbuka Ifah.
Baik sekali dia...
"Aku hanya minta satu hal kalau nanti kita LDR..." kata Ifah sambil menatap Jiwo serius walau matanya tetap bersinar tenang.
"Apa itu?" tanya Jiwo dengan pandangan tak kalah serius menatap wajah Ifah, mencoba menunjukkan kalau dia sungguh-sungguh berbicara serius soal masa depan hubungan mereka.
"Jangan buat aku gelisah sendiri dalam kesetiaanku disini. Tolong buat aku tenang dengan kabar- kabarmu yang akan selalu aku tunggu setiap saat." kata Ifah dengan tatapan penuh harap dan berkaca- kaca.
Jantung Jiwo berdetak kencang seketika melihat mata yang mulai berselimut tetesan embun itu.
Dia nyaris tak tega melihat mata sedih itu.
Mata itu sungguh sedih. Jiwo jelas melihatnya walau bibir Ifah masih berusaha mengulas selarik senyum tipis.
"Aku janji nggak akan biarin hati- hari kamu gelisah hanya untuk menunggu kabar dariku. Aku janji untuk hal itu." kata Jiwo dengan suara yang sangat terdengar bergetar walau Ifah juga menangkap nada kesungguhan di dalam suara itu.
Pikiran Jiwo langsung melayang pada kisahnya dengan Witri yang harus berakhir konyol karena komunikasi yang tak mampu berjalan lancar karena keadaan yang tak bagus saat itu.
__ADS_1
Dan Jiwo tentu saja tak mau lagi mengulangi kesalahan itu.
Dia pernah kehilangan dan sangat menyakitkan. Dan kali ini dia tak mau lagi kehilangan karena kesalahan yang sama.Bodoh sekali rasanya bila hal itu terulang lagi nantinya.
Melihat mata berkaca-kaca Ifah saat meminta janji padanya membuat hatinya berdesir perih.
Apakah Witri dulu selalu bersedih seperti itu saat surat balasannya tak kunjung datang?
Apakah setiap hari Witri gelisah dan menunggunya membalas suratnya dulu?
Hati Jiwo rasanya compang- comping saat ini membayangkan betapa hari- hari Witri sesedih itu.
Mengapa dia bisa seabai itu dulu? Mengapa dulu dia tak berusaha lebih keras untuk bisa memastikan suratnya sampai di tangan Witri?
Maafkan aku ya, Wit...sungguh tolong maafkan aku.
"Mas!" panggilan Ifah disertai guncangan kecil di lengannya membuat Jiwo kembali ke alam nyata.
Berapa lama dia tadi melamun dan terlempar ke ingatan masa lalu?
Ingatan pada Witri...
"Malah melamun..." kata Ifah sambil sedikit cemberut.
"Maaf..." kata Jiwo sambil mengulurkan tangannya untuk mengelus pipi Ifah sekejap.
"Ngelamunin apa bisa keliatan sedih gitu?" tanya Ifah dengan wajah tersipu karena elusan jemari Jiwo di pipinya tadi.
"Ngebayangin kalau kamu nanti nungguin kabar dariku. Sedih aku." jawab Jiwo sambil menunduk, wajahnya merebak sedikit memerah menunjukkan perubahan suasana hatinya yang langsung merasa carut marut.
"Nggak usah dibayangin...Makanya kamu jangan ilang kabar ya...biar aku nggak sedih." kata Ifah sambil tersenyum sedih.
"Aku udah janji tadi untuk selalu berkabar sesering mungkin padamu. Aku nantinya bisa nelpon kamu sehari lima kali." kata Jiwo sambil tersenyum menggoda.
Ifah tertawa kecil.
"Kayak sholat wajib ya jadinya? Sehari lima kali." kata Ifah sambil terkekeh.
Lalu keduanya sama- sama seperti kehabisan kata. Hanya saling tatap untuk beberapa waktu.
"Nanti kalau kamu disana ternyata ada hati sama cewek lain, jangan mendua ya, Mas. Bilang aja. Aku nggak mau kesetiaan dan penantianku sia- sia." kata Ifah akhirnya.
Jiwo terpaku.
__ADS_1
Dia bahkan tak pernah berpikir kemungkinan itu ada.
"Walaupun pasti sakit buatku, tapi akan jauh lebih baik kamu jujur. Aku akan sangat menghargai itu." kata Ifah lagi.
"Nggak ada rencana buat jatuh cinta lagi. Sama kamu aja, udah." sahut Jiwo dengan wajah serius dan mata menatap penuh pada Ifah.
Mencoba meyakinkan Ifah seserius mungkin dengan apa yang dia ucapkan baru saja.
Terlalu melelahkan bila seandainya harus memulai sebuah hubungan baru lagi.
Hatinya sangat susah berubah arah.
Dan mendua tak pernah ada dalam rencana hidupnya selama ini.
"Lalu kapan rencana kepindahanmu?" tanya Ifah kemudian. Berusaha menormalkan kembali atmosfir yang sejenak kelabu tadi.
"Dalam bulan depan. Tapi belum tahu tepatnya kapan karena aku belum mengabari kesediaanku di tempatkan di Jakarta. Besok pagi aku menghadap ke Pak Hasan lagi untuk mengabarkan keputusanku ini. Doakan semuanya lancar ya." pinta Jiwo sambil tersenyum menatap Ifah sementara tangannya merangkum jemari Ifah di atas meja.
"Sebenarnya aku nggak mau mendoakan itu biar kamu disini aja. Tapi karena aku lihat kamu bahagia akan pulang ke Jawa, aku harus tetap mendoakan kamu. Yang penting kamu bahagia dan aku yakin semua akan baik- baik aja." kata Ifah kembali berwajah muram
"Semua akan baik- baik saja. Tentu saja semua akan baik- baik saja, Sayang." kata Jiwo sambil tersenyum lembut. Matanya menatap teduh ke dalam mata Ifah yang nampak tak mampu lagi menahan deraian airmatanya.
"Kok malah nangis..." gumam Jiwo sedih membuat tangis Ifah semakin deras dan Isak mulai terlepas dari bibirnya yang sedari tadi terkatup.
"Diliatin orang, Fah...Dikiranya nanti kita lagi berantem..." bisik Jiwo sambil menghapus airmata yang masih menghiasi pipinya dengan gerakan lembut.
Sungguh, sentuhan- sentuhan lembut Jiwo padanya sedari tadi membuatnya semakin jatuh cinta pada lelaki di depannya ini. Dan membuatnya kian takut kehilangan.
Hanifah menarik wajahnya menjauh dari jangkauan tangan Jiwo dan menghapus sisa airmatanya sendiri.
Dia malu juga saat melirik ke sekitar dan melihat beberapa pasang mata melihat ke arahnya.
"Kita pulang sekarang atau masih mau jalan- jalan lagi?" tanya Jiwo setelah dilihatnya Ifah sudah nampak kembali tenang.
"Pulang aja ya? Aku ada cucian yang udah ku rendam dari pagi tadi." jawab Ifah sambil meringis malu. Jiwo ikut meringis mengingat dia juga punya jemuran yang pasti masih berkibar gagah di depan kamarnya sampai sekarang ini.
Ya udah kita pulang aja." putus Jiwo kemudian yang mendapat anggukan tanda setuju dari Ifah.
Keduanya berjalan santai beriringan menuju mess karyawan perusahaan yang bila ditempuh dengan jalan kaki sekitar sepuluh menit sampai di mess karyawati. Dan ditambah berjalan lagi lima menit akan sampai di mess karyawan.
Sepanjang jalan keduanya nampak bisa berbincang dengan riang. Sejenak melupakan hari depan yang mungkin akan sulit untuk bisa berjalan berdua seperti ini lagi nantinya.
...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...
__ADS_1