
"Aku nggak enak kalau pacar Bang Nadi tahu, Mak." kata Witri gusar.
"Memangnya Nadi punya pacar? Siapa? Kamu kenal?" tanya Mamak tak sabar.
Witri hanya menarik nafasnya pelan.
"Ya nggak tahu aku, Mak." jawab Witri dengan nada lelah. Cuma secara rasional aja Witri mengira Nadi punya kekasih. Ya masak iya lelaki itu mau menduda seumur hidupnya.
Nadi masih termasuk ke dalam usia yang produktif. Hanya selisih sedikit lebih tua dari usia almarhum Hari. Masih sangat pantas dia mencari pendamping hidup.
Pasti Nadi juga ingin memiliki keluarga dan anaknya sendiri. Nggak mungkin selamanya akan bersama Aksa yang sejak dalam kandungan dulu telah dirawatnya seperti anaknya sendiri.
Witri menghela nafas berat saat membayangkan saat- saat nanti mereka akan saling menjauh karena keadaan. Dia dengan keluarga barunya dan Nadi dengan keluarga barunya juga.
Witri sebenarnya sangat berharap kelak istri Nadi mau menganggap dia, mamak,dan juga Aksa sebagai keluarga.
"Ya udah, kamu istirahat sana. Besok mau kemana sama Jiwo?" tanya Mamak yang tanpa sadar membuat perbincangan mereka tak jadi selesai.
"Nggak tahu mau di ajak kemana. Cuma dia tadi bilang kalau kami akan berangkat pagi banget dan akan naik kereta."
"Mau keluar kota ya?" tanya Mamak seperti gumaman untuk dirinya sendiri.
"Mungkin." jawab Witri ikutan bergumam.
"Ya udah. Kamu jaga diri baik- baik disana. Jangan aneh- aneh sama Jiwo." pungkas Mamak kemudian.
"Dih! Aneh- aneh apa nih maksudnya?" tanya Witri setengah tersinggung dengan ucapan mamak yang menurutnya penuh dengan prasangka itu.
"Ya kan kalian udah dewasa, jauh dari rumah, nggak ada yang ngawasin dan ada perasaan lain. Pastilah ada godaan untuk apalah gitu..." kata Mamak sambil menahan tawa dan yakin kalau Witri akan paham apa maksud tawanya itu.
"Mamak ih! Aku ini janda Mak, pasti harus lebih jaga martabat.Nggak maulah aku aneh- aneh sama bujangan itu. Dikiranya nanti aku janda kegenitan." sungut Witri.
"Ya baguslah kalau kamu sadar harus jaga martabat. Bukan saja karena kamu janda, tapi lebih kepada karena kamu perempuan dan seorang ibu." kata Mamak menandaskan lebih jelas.
"Inggih Mak...siap!" sahut Witri mantap.
"Ya udah mamak tutup dulu ya. Udah ngantuk." pungkas Mamak kemudian.
"Iya. Besok sebelum berangkat aku telpon lagi ya, Mak. Kangen sama Aksa." kata Witri sebelum menutup acara telponan mereka malam itu.
Jiwo menelpon Witri seusai dia menunaikan sholat subuh dan Witri baru saja akan masuk ke kamar mandi untuk mandi kepagiannya.
"Setengah jam lagi aku jemput udah siap belum kamu?" tanya Jiwo.
"Udah siap. Ini aku baru mau mandi. Dandan bentar, siap cus." jawab Witri santai.
"Wow! Setengah jam udah bakal siap? Serius?" tanya Jiwo tak percaya.
"Buktikan saja." kekeh Witri mengerti.
Ya mungkin untuk banyak cewek waktu setengah jam jelas nggak akan bisa tampil maksimal apalagi belum mandi. Tapi bagi Witri waktu sebanyak itu jelas sudah bisa banget untuk cus. Dia mandi tak lebih dari sepuluh menit selama ini, bahkan bila waktu sangat mendesak dia bisa mandi dengan gerakan kilat khusus selama lima menit.
Habis mandi dia hanya perlu memoleskan body lotion, tap- tap wajahnya tak lebih dari lima menit. Untuk baju selalu dia siapkan sebelumnya, jadi nggak akan buang waktu lagi.
"Ya udah kamu buruan mandi. Nggak sabar liat bidadari habis mandi setengah jam lagi." kekeh Jiwo melancarkan pujian alaynya di pagi buta.
"OK! See you." jawab Witri sebelum bergegas ke kamar mandi dan mandi dengan semangat.
__ADS_1
Terus terang saja, dia sangat penasaran merasakan naik kereta api, di Korea pula.
Seumur hidupnya bisa dihitung dengan jari dia naik kereta api baru berapa kali selama di Jawa. Beberapa tahun hidup di Aceh, dia bahkan nggak pernah merasakan naik ular besi itu.
Kurang lima menit dari jam yang dijanjikan pada Witri, Jiwo sudah sampai di lobby hotel. Menimbang- nimbang sejenak akan langsung menghampiri Witri atau akan menunggu beberapa menit lagi di lobby, Jiwo akhirnya memilih duduk di sofa lobby dan mengeluarkan ponselnya.
Dia merasa harus menelpon Mamak untuk memberitahukan rencananya jalan hari ini dengan Witri. Dia juga berharap bisa melihat Aksa yang mungkin baru bangun tidur atau bahkan mungkin belum bangun pagi ini.
Tapi gerakan jemarinya langsung terhenti saat dia teringat perbedaan waktu mereka.
Bisa saja Mamak baru saja bangun tidur atau bahkan belum bangun sekarang. Dan pasti akan sedikit kesal kalau sepagi ini dia menelpon hanya untuk sekedar minta ijin mengajak Witri jalan- jalan.
"Nanti ajalah sambil di jalan." gumam Jiwo sambil beranjak berdiri dan melangkahkan kakinya menuju ke lift yang akan membawanya ke lantai dimana kamar Witri berada.
"Assalamualaikum." sapa Jiwo begitu Witri membuka pintu kamar untuknya.
Perempuan itu nampak sedikit kaget melihat kehadiran Jiwo di depan pintu kamar hotelnya pagi ini.
"Kenapa?" tanya Jiwo keheranan dengan ekspresi di wajah Witri.
"Eh... wa'alaikumussalam..." jawab Witri dengan sedikit tersipu.
"Kenapa kayak yang kaget gitu?" sahut Jiwo masih penasaran. Witri hanya meringis kecil.
"On time sekali." kata Witri lirih sambil tersenyum tipis. Jiwo terkekeh pelan.
Sudah jadi kebiasaan buatnya untuk datang on time bahkan sebelum jam yang ditentukan.
"Belum siap?" tanya Jiwo ragu. Melihat tampilan fresh Witri pagi ini kayaknya udah nggak ada yang kurang dari penampilan perempuan satu ini sepagi ini.
Bahkan harum lembut parfum Witri sudah menghiasi Indra penciumannya sejak Witri membuka pintu tadi.
Manis dan simple dengan bercelana jeans dipadu tunik berbalut long coat berwarna mocca.
"Udah sih...," jawab Witri sambil menatap bagian bawah tubuhnya untuk meneliti kerapian tampilannya pagi ini.
Dia hanya tinggal menukar sandal hotelnya dengan sneakers saja.
Keduanya kemudian saling tatap karena bingung mau ngomong apa.
"Kita langsung berangkat aja ya?" tawar Witri kemudian.
Dia harus mendahului sebelum Jiwo berinisiatif mampir masuk dulu ke kamarnya. Itu bukan ide yang aman buat kewarasan mereka menurutnya.
"Oke! Aku tunggu disini ya." kata Jiwo tanpa melewati ambang pintu.
Witri bergegas masuk untuk mengambil ponsel dan tasnya kemudian secepat kilat memakai kaos kaki dan sneakers putihnya.
"Let's gowww...." ajak Jiwo begitu melihat Witri kembali muncul dari arah dalam.
Witri hanya mengangguk dan tersenyum mengikuti arah langkah kaki Jiwo menuju lift.
"Semoga hari ini akan menyenangkan ya..." kata Jiwo sambil menoleh ke arah Witri yang berdiri santai di sampingnya bersandar dinding lift.
"Aamiin..." sahut Witri sambil tersenyum manis.
Melihat senyum itu rasanya Jiwo nggak butuh mengonsumsi apapun lagi hari ini.
__ADS_1
"Kita sarapan dulu disini atau nanti setelah naik kereta?" tanya Witri memenggal angan manis Jiwo.
Ah ternyata perempuan cantik ini menyadarkan dirinya kalau harus tetap makan.
"Di dekat stasiun nanti ada tempat makan kecil tapi dijamin enak bibimbap nya.Nanti kita bisa sarapan dulu disana ya." tawar Jiwo kemudian.
"OK!" jawab Witri senang sebelum mereka keluar dari lift.
Bibimbap, makanan yang juga banyak dijual di restoran Indonesia ini dalam bahasa Indonesia berarti nasi campur.
Bibimbap biasanya disajikan hangat dengan lauk yang sehat dan komplet.
Semangkuk Bibimbap berisi tumisan daging, sayur rebus, rumput laut, irisan sayur dan telur setengah matang yang terletak di tengah mangkuk sebagai primadona.
sumber: google
Menikmati jalan pagi hari bersama seseorang yang dicintai rupanya membuat Jiwo lebih memilih banyak bercakap dalam hatinya sendiri.
Dalam hatinya riuh rendah oleh keriangan dan suka cita karena mimpinya menikmati pagi bersama Witri tengah ia nikmati kini.
Hanya sekedar jalan seperti ini saja, dan itu sudah sangat membahagiakan hatinya.
Semoga akan bisa selamanya nantinya.
Obrolan terjadi bila Witri menanyakan ini itu yang membuatnya penasaran di sepanjang perjalanan langkah mereka menuju stasiun yang tak terlalu melelahkan untuk mereka tuju dengan berjalan kaki.
Seperti yang dikatakannya tadi, Jiwo mengajak Witri masuk ke sebuah kedai kecil di sudut jalan.
Nampak beberapa orang sudah mengisi beberapa bangku di dalam kedai itu untuk menikmati semangkuk bibimbap.
Sepasang suami istri paruh baya nampak sangat cekatan melayani para pengunjung.
Tak perlu sampai bosan menunggu, dua mangkuk bibimbap sudah tersaji di meja mereka berdua.
Witri mengangguk- angguk senang saat merasakan suapan pertama sarapannya pagi ini.
"Enak banget!" puji Witri dengan mata berbinar dan wajah sumringah.
"Alhamdulillah kalau kamu suka." kata Jiwo dengan wajah lega.
"Suka! Nanti pulangnya kita mampir kesini lagi masih ada nggak ya?" tanya Witri dengan ragu.
"Ada. InsyaaAllah ada. Kedai ini buka 24 jam kok biasanya. Kalaupun bibimbap habis, masih ada yang lain yang tak kalah enak." kata Jiwo sambil mengulas senyum.
Melihat Witri nampak sangat menikmati makanannya membuat Jiwo senang sekali.
Tak ada satu jam berada di kedai itu, keduanya langsung menuju ke stasiun yang tak jauh dari situ.
Sepuluh menit menunggu, keduanya kini sudah duduk berdampingan di dalam kereta yang lumayan penuh terisi.
"Selamat menikmati perjalanan." bisik Jiwo ke dekat telinga Witri.
"Hmmm..." Witri tak berani menoleh karena khawatir wajah Jiwo belum beranjak dari sisi kepalanya.
Ya Allah, deg- degan gini ya dibisikin gitu aja....
__ADS_1
...🌞 b e r s a m b u n g 🌞...