
"No! I'm serious!" sahut Kyu sambil menatap Arata kemudian beralih menatap Esti di layar ponsel, kemudian kepada Jiwo yang masih nampak shock. Dia memilih berusaha meneguk minumnya dengan tenang dan pelan.
Edan si Kyu...Masak belum ngomong apa- apa, sekalinya ngomong langsung ngelamar...
"Esti, aku syerious inggin menjadikan kamu istruiku." kata Kyu dengan logat anehnya sambil menghadap ke ponsel di depannya.
Esti hanya tertawa sambil menutup mukanya dengan kerudungnya.
"Mas, kancamu mabuk po? ( Mas, temenmu mabuk kah?)" tanya Esti sambil tertawa menatap Jiwo yang langsung menatap Kyu. Kyu yang melihat tawa Esti semakin menunjukkan wajah terpesonanya.
"Tolong, jangan gila sekarang, Kyu. Aku bisa malu berteman denganmu. Kita sedang ada di depan seorang gadis." kata Arata sambil menabok lengan Kyu.
"Aku tidak gila, Arata. Aku jatuh cinta...pada pandangan pertama." kata Kyu sambil menatap penuh kekaguman pada Esti yang hanya tertawa geli tak percaya dengan ucapan Kyu.
"Mabuk cinta ra aturan.( mabuk cinta nggak aturan)." jawab Jiwo pada Esti sambil menggelengkan kepalanya keheranan melihat dengan jelas betapa terpesonanya Kyu pada Esti.
"Apakah kamu sudah ada boyfriend?" tanya Kyu dengan nada semanis mungkin pada Esti.
Ponsel Jiwo sudah dikuasainya sendiri dalam genggaman tangannya. Membuat Arata kesal dan rasanya ingin menggigit teman koreanya saja.
"Belum, Oppa." jawab Esti dengan nada bergurau yang membuat wajah putih Kyu langsung menyemburat merah mendengar panggilan Oppa untuknya.
"Rasah kemayu, Es. Omahe Adoh wong Iki. Nek edan aku repot le ngeterke mulih. ( jangan genit, Es. Rumahnya jauh orang ini. Kalau gila aku repot nganter pulangnya )." tegur Jiwo dengan wajah serius yang mampu membuat senyum lebar Esti langsung mengkerut
"Hei, kamu ngomong apa sama Esti sampai dia takut begitu?" bisik Arata pada Jiwo.
"Aku bilang kalau Kyu suka kucing. Esti sangat takut pada kucing." dusta Jiwo berbisik sambil terkikik walau apa yang baru saja dia ucapkan adalah kebenaran.
"Apakah kamu suka kucing?" tanya Kyu tiba- tiba pada Esti yang langsung membuat Arata terkekeh. Dia berpikir apa yang Jiwo bilang barusan benar adanya. Dan dia senang membayangkan Kyu akan kecewa bila mendengar jawaban Esti nanti.
"No!" jawab Esti cepat dengan wajah geli dan takut.
Jiwo kembali menggeleng- gelengkan kepala keheranan dengan pergerakan Kyu yang nggak pakai basa- basi nanya umur dulu kek, atau nanya adiknya itu kerja atau kuliah dulu kek, ini ujug- ujug nanyanya suka kucing enggak... hadyeeeeh...
"Oke, no problem. Aku nggak akan membahas masalah kucing di depanmu." kata Kyu dengan wajah penuh pengertian.
"Dear Lord...Hey Kyu! Aku juga pengen ngobrol sama Esti." kata Arata karena semakin kesal dengan Kyu yang tak memberinya akses untuk sekedar say hi pada Esti.
"Kamu telpon pacarmu saja." kata Kyu sambil tertawa meledek Arata yang kemudian mendengus kesal.
__ADS_1
Tanpa basa- basi Jiwo mengambil paksa ponselnya yang ada digenggaman Kyu.
"Kenalannya udah. Assalamualaikum." kata Jiwo sambil jarinya hendak mematikan sambungan VC.
"Astagfirullahaladzim...tunggu...tunggu sebentar, Wo!" pinta Kyu penuh harap.
"Apa?" tanya Jiwo galak.
"Aku belum tanya akun medsosnya Esti." kata Kyu dengan wajah panik.
"Boleh aku kasih tahu nggak?" tanya Jiwo pada Esti, yang dijawab anggukan sambil tersenyum malu.
"Assalamualaikum..." kata Jiwo kemudian memutuskan VC yang membuat wajah Kyu langsung terlihat sangat kecewa.
Arata tertawa ngakak melihat wajah memelas Kyu.
"Oh my God...CEO perusahaan cleaning service terbesar di kota ini sedang memelas di depan calon kakak ipar." kata Arata sambil terus tertawa.
Jiwo menahan senyum lebarnya karena melihat wajah Kyu yang memang sangat memelas menatapnya.
"Please, Wo...Aku janji serius sama Esti. Aku jatuh cinta sama dia." kata Kyu sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Wo...please..."
"Semua nama akun medsosnya sudah ku kirim ke ponsel kamu." kata Jiwo sambil meletakkan ponselnya.
Kyu terlonjak kegirangan meraih ponselnya dan langsung berbinar- binar menatapi ponselnya.
"Dan kegilaan orang ini telah dimulai dari sekarang..." gumam Arata kesal menatap iri pada Kyu. Jiwo hanya terkekeh menanggapinya.
"Kamu kan juga bisa seperti itu sama pacarmu." kata Jiwo sambil menyandarkan punggungnya santai.
"Dia sedang marah padaku. Percuma juga aku menghubungi dia saat ini. Pasti nggak dianggap." kata Arata dengan wajah masygul.
"Sabar... Menghadapi perempuan hanya butuh kesabaran, dan rasa peka, juga insting yang kuat karena mereka sering lupa kalau lelakinya bukan ahli nujum yang bisa mengerti isi kepala mereka tanpa mereka ngomong " kekeh Jiwo saat menyadari teori yang dia ucapkan barusan.
"Apa kekasihmu juga suka marah?" tanya Arata kepo.
"Marah dan perempuan itu sudah satu bundle...nggak bisa dipisahkan." kata Jiwo sambil terkekeh yang diangguki Arata.
__ADS_1
"Kelak aku punya alasan kuat buat datang ke negaramu." kata Arata sambil menatap Jiwo dengan binaran mata senang.
"Apa?" tanya Jiwo penasaran.
"Aku akan datang ke negaramu sebagai tamu di pernikahanmu dan pernikahan Kyu. Aku ingin ada di hari bahagia kalian berdua." kata Arata tulus. Jiwo menepuk- nepuk lengan Arata pelan.
"Aamiin. InsyaaAllah kita akan sama- sama ada di hari itu. Akan lebih baik lagi kalau kamu datang ke Indonesia sudah dengan membawa istri, jadi siapa tahu bisa double honeymoon." seloroh Jiwo.
"Ide yang bagus itu!" seru Arata. "Semoga tidak lama lagi aku akan bisa menikahi si tukang ngambek itu." kata Arata penuh harap.
"Tukang ngambek tercinta..." sahut Jiwo yang disambut tawa Arata.
"Kamu sendiri apakah akan langsung menikah begitu kamu pulang ke negaramu?" tanya Arata serius. Matanya sedikit melirik ke arah Kyu yang sudah lupa dengan dunia sekitarnya karena sedang asik berbalas pesan dengan Esti. Bisa dipastikan orang itu akan mampu untuk tak beranjak dari tempatnya hingga esok hari bila saja diijinkan oleh pemilik cafe.
"Inginnya begitu. Semoga dimudahkan urusannya nanti." jawab Jiwo sambil tersenyum kecil.
Walau Jiwo tahu kelak tak bisa langsung mewujudkan niatnya meminang Witri karena sampai saat inipun dia merasa Witri belum mau membuka hati untuknya lagi.
Semua pesan manis yang rajin tiap hari dia kirimkan untuk Witri hanya dibalas ala kadarnya oleh perempuan itu. VC yang sesekali dia lakukan juga hanya ditanggapi sesuai prosedur walau tetap ramah dan bisa ngobrol random lama. Namun Jiwo bisa merasa bahwa posisinya seolah masih hanya sedang menunggu di depan pintu hati Witri yang belum juga mau terbuka.
Namun walaupun begitu Jiwo tetap merasa dianggap special karena Witri tak menyembunyikan rahasia, terlebih soal kehamilannya. Walau awalnya tak percaya dengan apa yang dibicarakan oleh Witri, namun Jiwo dipaksa untuk percaya pada kenyataan saat Witri mengiriminya photo dalam keadaan perut yang sudah sedikit membuncit beberapa hari lalu. Witri bilang memang sengaja menunggu perutnya bisa dipamerkan sebelum memberitahu Jiwo soal keadaan hamilnya. Katanya menunggu sampai bukti bisa dimunculkan.
"Aku berharap pemberitahuanku ini bisa kamu jadikan pertimbangan untuk niatmu ke depannya. Saat kamu pulang ke Indo, kamu bukan hanya bisa menemuiku dan mamak saja, tapi sudah ada bonusnya yaitu seorang batita." kata Witri sambil tersenyum menatap Jiwo yang nampak sedikit tertegun walau bibirnya tetap menyuguhkan senyum tenang.
"Kalau itu memberatkan buatmu, aku nggak papa kok." kata Witri kemudian. Tentu saja Jiwo tak mempermasalahkan hal itu sama sekali. Dan Jiwo berusaha meyakinkan Witri untuk hal itu.
Terbayang di angan Jiwo saat kelak pulang dia akan bisa langsung menatap seorang anak kecil yang akan diajarinya memanggil dirinya dengan sebutan Papa.
Jiwo semakin ingin waktu cepat untuk membawanya ke batas akhir masa kerjanya yang masih sangat lama.
Seulas senyum tanpa sadar menghiasi wajahnya saat teringat bagaimana reaksi ibu waktu Jiwo mengatakan tentang kondisi Witri.
Walau dengan hati yang berdebar-debar juga kala itu untuk menunggu respon Ibunya untuk kenyataan itu.
Dan Jiwo berucap hamdalah berulang kali saat ibunya bilang nggak masalah soal itu.
"Tapi kamu juga harus bisa menyayangi anak itu tanpa boleh kamu bedakan dari anak kandungmu nantinya." kata ibu lewat sambungan telpon yang membuat dia mengangguk yakin sambil berucap "Pasti, Bu."
...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...
__ADS_1
-