
Hari sedari tadi terus saja memutar- mutar cangkir kopi yang ada di tangannya. Isi cangkir itu baru berkurang satu tegukan saja dari tadi.
Menteng yang melihat kelakuan temannya itu hanya menatapnya kesal tanpa hendak bertanya.
Dari wajahnya sudah kelihatan kalau Hari sedang berusaha menenangkan dirinya sendiri. Karena itu Menteng tidak ingin mengganggu kegiatan itu dengan pertanyaan darinya.
Sesungguhnya Menteng penasaran juga dengan apa yang membuat Hari kelihatan jadi gelisah dan nampak tak tenang seperti itu. Tapi untuk bertanya saat ini dirasanya bukan waktu yang tepat.
Yang dia tahu, sejak bertemu dengan Jiwo tadi Hari nampak mulai gusar.
Ada apa diantara mereka berdua? Apa mereka dulu saling kenal dan ada masalah diantara mereka?
Tapi tadi saat mereka berdua bertemu seperti terlihat tak saling mengenal sebelumnya.
Nggak ada juga reaksi terkejut di antara salah satunya waktu tadi bertemu.
Jadi, apa yang membuat Hari gelisah begini?
"Masih lama nggak sih komandan kita ngobrolnya, Men?" tanya Hari setengah mendengus, setelah melihat jam tangannya.
Sudah jam sebelas malam lewat. Tapi dua komandan mereka masih asik hahahihi dengan dua teman mereka lainnya di meja seberang.
Mereka berdua karena tahu diri memilih menghuni meja lain.
"Mana aku tahu? Aku juga sudah berat mata ni..." jawab Menteng sambil mengerjapkan matanya berkali- kali.
"Kenapa kau gelisah gitu? Rindu sama istrimu ya?" tebak Menteng. Akhirnya dia tak tahan untuk tak bertanya.
"Ya iyalah rindu. Seminggu nggak ketemu." jawab Hari sambil tersenyum kecil dengan wajah sedikit menunduk, menatap alas cangkirnya.
Di benaknya sudah terbayang Witri yang terlelap di balik selimut dengan kaos oblong dan celana pendek, tanpa memakai bra hingga dua mainan istimewanya bisa bebas langsung dia sentuh sambil berbaring.
Uhhh, dia rindu sekali menyentuh dua mainannya di ranjang itu.
"Telpon saja. Kirim pesan. Lumayan buat melepas kangen." kata Menteng memberikan saran yang bagi Hari sudah basi.
Tanpa dibilangin pun dia rajin berkirim pesan dan menelepon Witri bila ada kesempatan.
"Malah bikin tambah kangen." cetus Hari dengan wajah sedih.
Menteng melihat Hari dengan tatapan keheranan.
"Kenapa bisa malah tambah kangen? Aku biasa menelpon keluargaku di kampung kalau aku rindu. Dan hatiku biasanya akan lega kalau sudah kesampaian buat berkabar sama mereka." kata Menteng keheranan.
"Bedalah! Kalau sama istri beda rasa kangennya." sergah Hari sambil melirik dengan tatapan mengejek.
"Memangnya kangen ada variannya?" tanya Menteng tak kalah mengejek.
"Kamu baru tahu rasanya kangen sama istri kalau udah ngalamin gimana berumahtangga. Kalau masih jomblo gini adanya kamu cuma bisa nggak percaya rindunya seorang suami sama istrinya.." sergah Hari sambil mencibir yang dibalas dengusan kesal oleh Menteng.
__ADS_1
"Jadi karena kangen wajahmu kau tekuk delapan belas dari tadi? Kesal banget aku liatnya." kata Menteng dengan nada kesal.
Hari hanya tertawa tanpa suara.
Malu rasanya kalau harus mengaku kalau dia gelisah karena bertemu dengan Jiwo.
Terus terang saja, dia merasa sedikit minder melihat performa Jiwo tadi.
Walau nampak sederhana, namun Jiwo terlihat berkelas, dan juga cerdas.
Dan yang tak bisa dia pungkiri adalah Jiwo pasti berkecukupan. Lebih berkecukupan dari dia secara penghasilan.
Hati Hari jadi gelisah setiap memikirkan soal itu.
Benar kata Witri pada Mamak dulu, Jiwo nggak kekurangan. Witri pasti berkecukupan kalau bersama Jiwo.
Walaupun kehidupannya bersama Witri juga tak bisa dianggap kekurangan -apalagi Witri juga berpenghasilan sendiri- namun Hari yakin penghasilan Jiwo pasti di atas gajinya.
Mungkin bila Witri bersama Jiwo,istrinya itu akan lebih sejahtera. Dan yang pasti akan lebih sangat bahagia karena bisa menikah dengan pria yang telah hampir seumur hidupnya dicintai.
Hari menarik nafas sedih tanpa dia sadari.
Entah mengapa rasa percaya dirinya anjlog saat ini.
Sebelum bertemu Jiwo dia punya keyakinan tinggi kalau bisa menggeser posisi Jiwo di hati Witri dengan kesabaran dan ketulusannya menyayangi Witri.
Lelaki itu mencintai Witri setulus hati. Menempatkan cintanya di tempat terbaik dengan cara yang baik pula.
Jiwo mencintai Witri dengan cara mengikhlaskan Witri menjalani pilihan hidupnya. Tak berusaha mendekat dan mencari lagi karena tak ingin mengusik kebahagiaan yang tengah di coba dibangun oleh wanita yang dicintainya.
Jiwo juga menghargai suami Witri dengan 'menyerahkan' tugas mendoakan Witri pada suaminya. Pada dirinya.
Rasa bersalah yang belakangan sempat mengendap di hati Hari kini secara perlahan kembali menguasai hatinya. Menyusupkan akar- akar kepedihan di relung hatinya.
Maafkan aku karena hadir diantara kisah cinta kalian berdua.
"Nampaknya parah sekali Hari rindunya pada istrinya, Ndan." suara kekehan Menteng mampu menerjang lamunan Hari hingga dia langsung tersadar.
Entah berapa lama dia bengong dengan dunianya sendiri.
Yang pasti dia kini tengah ditatap tiga pasang mata yang menatapnya dengan iba, penasaran, juga setengah meledek.
"Besok siang kita pulang. Sabarkan hati sehari lagi." kata Pak Harsa yang telah berdiri di sampingnya sambil menepuk pundak Hari pelan.
Hari hanya tersenyum malu.
"Harus belajar mengikhlaskan dari sekarang, Ri." kata Pak Herman, komandannya sambil menatap serius ke dalam mata Hari walau bibirnya tersenyum meledek.
Hari menatap Pak Herman dengan tatapan khawatirnya.
__ADS_1
Mengikhlaskan? Mengikhlaskan apa?
"Kita ini prajurit. Sudah jadi pilihan hidup kita berada di posisi sekarang ini. Istri pertama kita adalah tugas negara dan senjata kita. Sedang perempuan yang ada di rumah kita, itu hadiah dan titipan yang harus kita relakan bila suatu hari harus kita tinggalkan karena istri pertama kita." kata Pak Herman sambil tersenyum getir.
"Belajarlah keluar dari rasa mencintai untuk memiliki agar kita tak terlalu berat menanggung rindu bila harus terpisah. Entah terpisah sementara seperti sekarang ini, atau terpisah selamanya karena kita pergi duluan." kata Pak Herman lagi, membuat ketiga orang di hadapannya terdiam.
"Kita semua nggak tahu kapan takdir ajal kita datang. Selagi masih ada kesempatan membahagiakan orang- orang di sekitar kita, bahagiakan mereka namun jangan takut kehilangan dan meninggalkan mereka. Mereka pasti akan baik- baik saja. Selepas kita, nanti pasti akan ada yang akan menjaga mereka menggantikan tugas kita." sambung Pak Harsa sambil mengerling pada Pak Herman dan mendapat senyuman kecil dari Pak Herman.
Kalau nanti aku mati, apa Witri akan bersatu sama Jiwo? Apa Jiwo masih mau menjaga Witri?
"Wah beneran parah nih, Ndan si Hari." kata Pak Harsa kembali tertawa karena masih melihat Hari setengah melamun.
"Dari tadi kelakuan dia begitu, Boss. Aku cuma jadi hiasan buat dia dari tadi. Kerjaan dia cuma muter- muter cangkir kopi sampai pusing kopinya." sahut Menteng sambil menatap heran dan penasaran pada Hari yang kini tersenyum salah tingkah dengan kicauan Menteng itu.
Pak Herman dan Pak Harsa serentak menatap cangkir kopi yang hanya berkurang sedikit isinya, kemudian menatap wajah Hari dengan keheranan dan khawatir.
"Kamu sakit?" tanya Pak Herman sambil reflek menyentuh dahi Hari kemudian menggeleng.
"Nggak panas." gumam Pak Herman kemudian.
"Mungkin panas dalam dia." sahut Pak Harsa sambil terkekeh- kekeh.
Pak Herman yang tahu maksud ucapan Pak Harsa ikut tertawa- tawa.
Hari hanya melirik sekilas dan pura- pura tak mendengar ucapan komandan itu.
"Panas dalam apa gejalanya pakai bengong seperti itu? Baru tahu aku..." gumam Menteng yang membuat dua komandannya tertawa dan Hari tak urung ikut tertawa dengan wajah kebingungan Menteng.
"Ini panas dalam 21+...kamu belum ngerti." kata Pak Harsa sambil memulai mengajak berjalan keluar.
"Mengertilah! Saya tidak sebodoh itu soal panas dalam." sangkal Menteng tak terima karena dianggap tak mengerti.
"Panas dalam yang kamu tahu gejalanya cuma bibir pecah- pecah. Tapi kalau panas dalam yang dialami Hari bukan bibir yang pecah, tapi kepala yang mau pecah." sahut Pak Herman yang disambut tawa Pak Harsa dan cengiran Hari.
Tak apalah malam ini dia jadi bahan becandaan. Setidaknya keresahannya tak perlu mereka tahu kebenarannya.
Biar saja mereka mengira dia hanya menahan rindu pada Witri. Bukan menahan kekesalan pada diri sendiri akibat rasa tak percaya diri karena bertemu mantan pacar istrinya.
"Wah, panas dalam varian baru lagi rupanya...Tadi kangen yang ada variannya. Sekarang panas dalam juga ada variannya rupanya." kata Menteng dengan tawa dan anggukan sok mengerti.
Kedua komandan di depannya semakin meledakkan tawanya.
"Iya. Varian panas dalam 21+ namanya." kata Pak Herman disela deraian tawanya.
Hari ikut menertawakan ucapan Menteng.
Temannya itu apa memang masih selugu dulu?
...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...
__ADS_1