
Selama perjalanan dengan kereta itu - yang tak sampai dua jam- Witri bisa melihat sisi humanis dan njawani nya Jiwo. Beberapa kali lelaki itu berdiri dari tempat duduknya untuk dia berikan pada perempuan yang kerepotan dengan anak kecilnya atau karena perempuan itu lebih tua darinya.
Turun dari kereta keduanya berjalan berurutan dengan tangan Jiwo yang memegang erat pergelangan tangan Witri yang ada dibelakangnya.
Lelaki itu baru melepaskan pegangan tangannya begitu berada di area yang sudah lapang untuk berjalan berdampingan.
Dua hal kecil ini dapat nilai plus dari Witri. Setidaknya, bagi Witri sikap Jiwo ini sudah bisa meninggalkan konsep lelaki Jawa kuno yang sepengetahuan Witri mereka maunya superior dan cenderung mengesampingkan keberadaan dan kenyamanan perempuan, khususnya pasangannya dimanapun dan apapun konteksnya.
Jiwo tumbuh menjadi lelaki yang sangat manusiawi dan baik, sama seperti Hari dulu.
Dalam hati Witri sangat bersyukur mendapati kenyataan ini.
"Kita mau naik apa setelah dari sini?" tanya Witri saat keduanya hampir keluar dari area stasiun.
"Manut ( ngikut ) kamu aja." jawab Jiwo sambil tersenyum. " Kita bisa jalan santai, bisa naik sepeda, bisa juga naik taksi." kata Jiwo kemudian.
"Tempatnya jauh nggak?" tanya Witri kemudian.
"Enggak sih menurutku." jawab Jiwo. " Jalan kaki sepuluh menit dari sini sudah sampai. Kalau naik sepeda nggak sampai lima menit."
"Kalau naik taksi lamaan nunggunya daripada naiknya ya?" sahut Witri sambil tergelak.
"Gitu deh..." sahut Jiwo sambil meringis.
"Kita jalan kaki aja deh. Nggak panas ini cuacanya. Nyaman buat jalan." putus Witri tak lama berpikir.
"Sip!" sambut Jiwo dengan wajah riang.
Yes! Alam sepertinya sangat mengerti keinginannya saat ini.
Jalan santai, menikmati suasana nyaman dan tenang bersama orang terkasih adalah moment yang sangat berharga dan sering dia impikan.
Alhamdulillah saat ini dia bisa menikmati terwujudnya impian itu.
Berjalan tenang dan senang disisi Witri yang nampak tenang dan sangat santai tanpa beban membuat Jiwo tak pernah melepaskan senyum dari sudut bibirnya.
Entah sudah berapa ribu purnama lamanya dia impikan saat seperti ini dan rasa syukur rasanya sangat pantas dia panjatkan sekarang ini karena mimpi itu bisa terwujud.
Jiwo menikmati setiap langkahnya disisi Witri. Membiarkan dengan senang hati saat sesekali lengan atasnya dicekal oleh Witri saat perempuan itu tiba- tiba merasa butuh pegangan dalam langkah- langkahnya.
Sesederhana ini merasakan bahagia di benak Jiwo.
Tanpa Witri tahu, sebenarnya lengan Jiwo selalu berjaga di belakang punggungnya untuk kenyamanan perempuan itu dari lalu lalang orang yang lumayan padat di jalan yang tengah mereka lewati.
Hari itu, terangnya matahari yang tak bersinar garang mereka nikmati dalam rasa senang dan tenang. Menikmati moment demi moment dalam suasana tempat wisata satu demi satu dengan bahagia yang tak berlebihan namun berkesan begitu dalam bagi keduanya. Saling membuat tersenyum satu sama lain, yang semakin saling bisa menunjukkan kenyamanan.
Witri sudah sama sekali kehilangan rasa canggung di hatinya. Begitupun Jiwo. Hatinya sangat 'lepas' dan bahagia 'memiliki' Witri seharian ini.
"Tahun depan aku berdoa semoga kamu kesini lagi sama Mamak dan Aksa. Waktu itu Aksa pasti sudah lagi lucu- lucunya jalan. Kita ajak dia mainan salju nanti." kata Jiwo saat kedua duduk tenang di atas kereta api di perjalanan pulang mereka.
"Wah...bisa bangkrut aku." seloroh Witri karena memikirkan akomodasi mereka bertiga bila harus berlibur ke Korea. Dia belum sekaya itu untuk bisa menikmati liburan bertiga keluar negeri.
"Kenapa bangkrut? Memangnya kamu mau beli rumah disini?" tanya Jiwo meledek. Dia tahu maksud omongan Witri. Pasti perempuan itu memikirkan biayanya.
"Ngapain juga mau beli rumah disini?" balas Witri pelan.
"Siapa tahu kamu mau tinggal disini biar kita deket terus." kata Jiwo sambil mengulum senyum.
"Memangnya kamu mau disini terus? Nggak bakalan kerja di Indonesia lagi?" tanya Witri sedikit terperanjat.
"Tergantung sih..." jawab Jiwo mengambang sambil sedikit melirik ke arah Witri yang kini sudah sedikit mencondongkan arah duduknya ke arah Jiwo.
"Tergantung apa?" tanya Witri dengan sedikit penasaran.
"Tergantung kamu..." jawab Jiwo menggantung.
"Kok aku?" tanya Witri sambil menatap heran pada Jiwo.
"Aku akan balik ke Indo kalau kamu maunya begitu kalau kita menikah. Tapi kalau kamu mau kita stay disini juga nggak ada masalah sama sekali." kata Jiwo dengan tatapan mata serius kepada Witri yang langsung tertunduk malu. "Semua senyamannya kamu aja. Soal kerjaan, aku gampang." sambung Jiwo kemudian tersenyum lembut, teduh, dan menentramkan.
Witri tertunduk haru.
Senyamannya dia....Sungguh sepenting itukah kenyamanan hidupnya bagi Jiwo?
"Kenapa harus gitu?" cicit Witri. "Keluarga kita kan di Indo semua." sambung Witri beralibi.
"Terus kenapa kalau keluarga kita di Indo semua?" tanya Jiwo dengan lirikan meledek.
"Ya kan jauh kalau dari sini." kata Witri dengan suara yang jelas sekali tidak yakin dan jawaban yang asal aja.
__ADS_1
"Nggak masalahkan itu?" tukas Jiwo. "Udah biasa juga jauh dari rumah." sahut Jiwo santai, mematahkan alibi Witri dengan cara yang cantik.
"Kenapa harus gitu?" tanya Witri pelan.
"Kenapa apanya?" tanya Jiwo bingung.
"Kenapa harus aku yang jadi alasannya?" tanya Witri dengan sedikit malu.
Ah mungkin hari ini Jiwo akan melihat salah satu sifat jeleknya, yaitu sok iye. Merasa jadi pusat dunianya Jiwo. Malu sekali rasanya ternyata.
"Ya karena selama ini semua hal yang aku lakukan selalu ada kamu didalam pertimbanganku." kata Jiwo sambil tersenyum. Diraihnya jemari Witri yang saling bertaut dipangkuan lalu menggenggamnya lembut.
" Kamu dan kini Aksa juga selalu ada dalam perhitungan langkahku." kata Jiwo lembut kembali menegaskan.
"Gombal!" kekeh Witri sambil mencebikkan bibirnya.
Jiwo tertawa pelan. Padahal barusan dia bicara dengan maksud sangat serius, eh malah dibilang gombal. Susah emang ngomong sama cewek.
"Kok gombal sih? Serius ini aku." kata Jiwo sambil menggoyangkan genggaman tangannya. Kedua pandang mata mereka saling bertemu dan membuat keduanya saling tersenyum.
Kalau nggak ingat sedang ada di kereta, rasanya Jiwo ingin memeluk perempuan di sebelahnya ini.
Dia nggak perduli kalau nanti Witri memukulinya atau marah sekalipun. Dia nggak perduli!
Dia sangat ingin merengkuh tubuh beraroma lembut itu ke dalam dekapannya.
Oh God...aku wis kedanan tenan iki...keluh batin Jiwo.
( Ya Tuhan, aku udah tergila- gila beneran ini...)
Jam sembilan malam keduanya keluar dari stasiun tujuan.
Mereka mampir ke kedai makanan untuk mencari makanan yang menghangatkapn malam ini sebelum mereka beristirahat di kamar masing- masing.
Sebenarnya akan lebih afdol kalau kita masuk ke kamar yang sama dan berbaring di tempat tidur yang sama, batin Jiwo saat mereka beriringan memasuki hotel tempat Witri menginap.
Ha...ha...Jiwo tidak tahu kalau Witri juga tengah berpikiran nakal seperti itu saat ini walau dia menepis pikiran itu jauh- jauh.
Jangan nekad....Jangan gila....
Bukannya Witri tidak menikmati sentuhan- sentuhan kecil nan lembut yang seharian ini sangat intens Jiwo lakukan padanya, tapi Witri tetap berusaha tak kehilangan nalar dan kewarasannya.
Apalagi dia yang sudah pernah merasakan nikmatnya berenang di lautan hasrat asmara tanpa batas, bersama Hari dulu.
Witri hanya tak ingin terhanyut dengan Jiwo dan kemudian akan menyesal nantinya.
Karena itu dia berusaha tetap waras sekalipun sesungguhnya sangat ingin merasakan keintiman lebih dengan Jiwo.
Dia rindu dimanja dan disentuh. Dia akui itu diam- diam dalam hati.
Dia hanya tidak ingin terjerumus dalam kubangan kenikmatan tak halal.
Menunggu pintu lift terbuka, Jiwo dan Witri sama- sama menunduk menatap genggaman tangan mereka sebelum sama- sama tersenyum sendiri.
Witri melirik sekilas ke arah Jiwo yang tengah menatapnya lembut.
Tanpa saling tahu, kedua tubuh itu kian terasa menghangat seiring darah yang kian berdesir memanas.
Witri merasakan genggaman lembut tangan Jiwo tadi kian mengetat menguasai telapak tangannya.
Witri kian merasakan dadanya berdebar tak karuan.
Tahan Wit, tahan....Sadar...sadar....seru batinnya diantara kegelisahan yang kini melingkupinya.
Pintu lift terbuka dan sepasang anak muda nampak intim melangkah keluar dari lift tanpa memperdulikan keberadaan mereka berdua.
Di dalam hati Jiwo nyengir sendiri dengan dugaannya pada kemungkinan apa yang tadi dilakukan sepasang muda mudi itu di kamar hotel mereka
Ngeres banget pikiranmu Wo...Wo..., kikiknya dalam hati.
Menguasai area lift hanya berdua tak membuat genggaman Jiwo di tangan Witri terurai.
"Nggak kepengen nglepasin apa? Kita lagi di lift, cuma berdua, bukan lagi mau nyebrang jalan, Wo sampai harus gandengan terus gini." kata Witri sambil mengangkat genggaman tangan mereka ke depan.
Jiwo hanya terkekeh sebelum membawa telapak tangan Witri ke bibirnya dan cup! Jemari Witri merasakan bibir lembut Jiwo menyentuhnya.
Wah, berani amat nih cowok! Main kecup aja!
Witri melongo. Matanya berkedip secepat detak jantungnya yang berdetak berkali lipat dari biasanya.
__ADS_1
"Nggak pengen ngelepas lagi. Dan kamu nggak boleh protes." kata Jiwo sambil tersenyum manis.
Witri hanya mampu berdecak dengan wajah pasrah.
"Jangan kayak gini lah, Wo..." kata Witri mirip keluhan.
"Kayak gini apa?" tanya Jiwo sambil menatap Witri dalam. Witri tentu saja nggak berani membalas tatapan itu. Nggak kuat dia.
"Jangan.....ehmm...jangan itu..." kata Witri salah tingkah. Malu rasanya mau ngomong.
"Jangan apa?" kejar Jiwo lagi. Keduanya sudah keluar dari lift dan kini malah berdiri saja di samping pintu lift. Melanjutkan pembicaraan ambigu barusan.
"Sikap kamu..." kata Witri pelan, masih dengan menunduk.
"Sikapku yang mana?" tanya Jiwo lagi sengaja menggoda Witri.
"Ya...sikap kamu seharian ini!" sahut Witri mulai agak ngegas untuk menutupi rasa malunya.
"Emang sikapku kenapa? Sikap yang mana yang kamu nggak suka?" tanya Jiwo pura- pura memasang wajah serius dan nggak mengerti. Dia sebenarnya sangat tahu apa yang dimaksud Witri soal sikapnya seharian ini yang kelewat manis dari biasanya.
Memangnya apa yang salah? Toh dia nggak kelewatan banget dalam bersikap dan menyentuh Witri. Hanya sebatas menyentuh area telapak tangannya saja, tidak yang kemana- mana juga. Ya kecuali kecupan di tangan Witri barusan.
Apa salahnya dengan sikap sedikit intim itu? Toh mereka sudah sangat dewasa, dan saling suka pula. Wajar dong sentuhan fisik tipis- tipis. Lagian sedari tadi juga Witri anteng saja dia sentuh. Jadi Jiwo berasumsi perempuan itu welcome saja dengan apa yang dia lakukan. Toh seandainya Witri menolak dengan tegas dan bilang tidak mau ada kontak fisik, Jiwo akan sangat menghargai itu dan tentu saja dia akan menjaga jarak dengan Witri.
"Jangan terlalu manis dan intim, Wo. Kita dua orang dewasa normal." kata Witri akhirnya. Ada khawatir dan resah di nada bicaranya.
"Aku takutnya kita nggak sadar terlalu jauh dalam bersikap satu sama lain." sambung Witri lagi dengan tatapan penuh keresahan.
"Enggak akanlah kita sampai kelewatan sampai yang ke sana." tukas Jiwo cepat dan yakin.
"Aku nggak mungkin menodai orang yang aku cintai, yang aku harapkan jadi ibu dari anak- anakku. Aku nggak ingin hubungan kita sekotor itu juga, Wit. Believe me." sambung Jiwo lagi kembali mencoba meyakinkan.
Witri menunduk. Sedikit lega namun lebih banyak tak yakinnya. Entahlah.
Witri memilih kembali melangkah diikuti Jiwo disampingnya.
Keduanya berjalan pelan masih dengan tanpa sadar bergenggaman tangan hingga berhenti di depan kamar Witri.
"Aku mau masuk " kata Witri sambil menoleh, menatap wajah Jiwo dengan tatapan penuh harap.
Sedikit tersentak dalam hati namun kemudian sebuah senyum kecil terkembang di hati Jiwo yang sedang nakal malam ini.
Tatapan itu tatapan pengharapan. Jiwo tahu itu. Apakah Witri berharap dia singgah ke kamarnya? Hmmm, boleh! Boleh!
"Bisa lepasin tanganku enggak? Aku kesulitan mau ambil key card."
Oohh...kirain...
Dengan senyum salah tingkah Jiwo melepaskan genggaman tangannya dan menyembunyikan tangannya ke sakit jaketnya.
Ditatapnya wajah Witri yang sedang menunduk mencari kunci di tasnya.
Wajah njawani yang berhias dua jerawat di pipinya. Bibirnya masih nampak segar dengan pulasan lipstik berwarna peach.
Entah mengapa bibir itu terlihat sangat menarik malam ini. Mampu membuat hasratnya begitu terganggu.
Ah, dia ingin sekali mengecup bibir itu. Sekilas saja tak apa.
Astagfirullah.....berkali- kali Jiwo istighfar untuk meredam pikiran nakalnya.
Witri bukannya tidak tahu kalau Jiwo menatapnya sejak tadi, dia hanya pura- pura saja bersikap tenang. Sesungguhnya dia berdebar tak karuan sejak tadi.
Masih beruntung dia tak terlihat gemetar saat membuka pintu kamarnya. Akan malu rasanya kalau Jiwo tahu dia grogi saat ini.
Kontak fisik seharian ini dengan Jiwo seperti menyulut kembali api gai rah yang sejak Hari meninggal coba dia padamkan.
Ah ternyata dia masih menginginkan sentuhan dan keintiman itu.
"Aku masuk ya, Wo." pamit Witri sambil menatap wajah Jiwo yang entah mengapa terlihat sangat charming malam ini.
Astagfirullah....jangan ya Allah....doa Witri penuh iba.
"Ya." jawab Jiwo sambil menatap wajah Witri tanpa berkedip.
"Sleep tight." bisik Jiwo sambil mengelus lembut pipi Witri.
Keduanya sama- sama menahan nafas dan hasrat ingin saling memeluk.
...🍁 b e r s a m b u n g 🍁...
__ADS_1