
Hari- hari Jiwo di bulan terakhir dia bekerja adalah hari yang lebih sibuk dari biasanya.
Dia harus menyelesaikan semua pekerjaan yang masih ada beberapa yang tertunda tempo hari.
Dia tak ingin meninggalkan perusahaan dengan sisa tugas yang nantinya akan merepotkan penggantinya.
Dia tak ingin meninggalkan kesan buruk di perusahaan yang telah mengubah kehidupannya ini.
Sejak awal bekerja di perusahaan ini dia telah mampu membangun image yang baik dan selama ini dia bisa mempertahankan image itu. Maka diapun ingin meninggalkan perusahaan dengan nama baik pula.
Karena dia selalu lembur, otomatis waktu berkualitasnya untuk bertemu Ifah hanya selama di kantor - pagi sebelum masuk dan di jam istirahat- dan itu membuatnya merasa bersalah pada kekasihnya itu.
Harusnya dia bisa menghabiskan lebih banyak waktu di hari- hari terakhir kebersamaan mereka di tempat yang sama.
Sebanyak mungkin membuat kenangan sebagai pengikat rindu di masa depan.
Harusnya dia bisa lebih sering menyenangkan hati Ifah sebagai bentuk dia sungguh menyayangi gadis itu dan mengistimewakannya.
Namun kenyataan yang terjadi adalah dia nyaris tak bisa memberi waktu istimewa untuk kekasihnya itu.
Malam hari yang diharap akan jadi waktu luang nyatanya tak juga bisa membuatnya mampu menikmati waktu istimewa dengan Ifah.
Sepulang kerja yang selalu sudah nyaris jam sembilan malam membuat Jiwo membawa keletihan yang amat sangat.
Dia tak sanggup lagi membawa tubuhnya untuk menjemput Ifah untuk sekedar menikmati malam dengan jalan atau makan berdua.
Baru terasa nggak enaknya nggak biasa tidur terlalu larut selama ini.
Jam sepuluh malam saja matanya sudah tak mau di ajak hidup.
Jadilah yang ada hanyalah saling mengirim serentetan pesan pendek sambil tiduran hingga dia benar- benar terlelap dan baru menjawab pesan terakhir Ifah paling cepat sebelum dia menjalankan sholat malamnya.
Tumpukan pekerjaannya baru selesai lima hari menjelang kepindahannya.
Dan hanya di lima hari terakhir itu Jiwo baru bisa memiliki waktu yang leluasa untuk Ifah.
Dan tentu saja sisa waktu kebersamaan itu tak lagi mereka sia- siakan untuk menciptakan moment indah sebanyak mungkin agar menjadi kenangan manis yang nantinya akan menjadi pelipur rindu saat jarak merentang diantara dua raga mereka.
Membuat photo manis sebanyak mungkin di tempat- tempat indah agar kelak bisa jadi sedikit pengobat rindu pada kehadiran kekasih hati yang tak berada di sisi.
Semua hal yang membahagiakan sebisa mungkin Jiwo ciptakan untuk membuat senang hati kekasihnya.
Dia tahu perpisahan nanti to akan mudah untuk mereka. Namun sedapat mungkin Jiwo meyakinkan kalau hubungan mereka pasti akan baik- baik saja.
Toh nanti setiap tiga bulan sekali mereka berjanji untuk bisa saling bertemu. Entah nanti Jiwo yang ke Kalimantan ataupun Ifah yang akan mendatanginya ke Jawa.
Semua hal sudah mereka bicarakan dengan detail untuk 'persiapan' menghadapi kenyataan LDR yang harus mereka jalani.
Hati Jiwo sedikit lega mendapati kenyataan kalau di hari- hari terakhir mereka bersama Ifah tetap tenang dan tak terlihat gusar apalagi merajuk.
__ADS_1
Jiwo berpikir itu adalah sikap dewasa yang ditunjukkan Ifah padanya.
"Beneran besok dari sini langsung ke Jakarta? Nggak ke Jogja dulu?" tanya Ifah saat mereka sedang menikmati tekwan yang dia beli sebelum masuk kantor tadi.
Mereka tengah duduk di bangku taman kantor untuk menikmati sarapan mereka sambil sesekali membalas sapaan teman yang mau memasuki gedung kantor.
"Ya bener. Kenapa sih yang kayaknya nggak percaya gitu?" tanya Jiwo penasaran.
"Kalau kamu ke Jogja dulu kan aku bisa nitip oleh- oleh buat camer." kata Ifah kemudian terkikik malu.
Jiwo tertawa.
"Ya udah kalau ngebet banget pengen ngasih oleh- oleh ya beli aja. Ntar aku paketin sama aku kasih tulisan kalau itu dari camannya." kata Jiwo sambil mengerling.
"Beleh juga tuh idenya. Nanti kita pulang kantor nyari oleh- oleh ya?" pinta Ifah dengan semangat membara.
"Iya." jawab Jiwo santai.
Sudah terbayang apa saja yang akan dibeli oleh Ifah untuk keluarganya di Jogja.
Dia pernah bilang oleh- oleh apa saja yang disukai keluarganya kalau dia mudik. Dan sepertinya Ifah menyimpan itu dalam ingatannya dengan lengkap.
Lihat saja saat Jiwo menemani Ifah berbelanja oleh- oleh seusai mereka pulang bekerja. Semua makanan ringan berasa manis yang pernah dia sebut telah ada di dalam keranjang belanja.
Ada masing- masing beberapa plastik kue ilat sapi, kue jajak cincin, kue gula gait, dan tak lupa kue keminting, juga amplang yang gurih dan Ifah juga membeli iwak rabuk yang yang bisa dijadikan lauk makan.
"Udah?" tanya Jiwo meledek menatap Ifah yang sudah mengajaknya ke kasir karena keranjang dorongnya sudah penuh.
"Udah." jawab Ifah sambil nyengir melihat hasil keantusiasannya membeli oleh- oleh.
Tadinya dia tadi mau membeli lempok durian juga. Tapi Jiwo bilang tak ada satupun anggota keluarganya yang doyan aroma durian. Jadi dia urungkan membeli itu dan memilih membeli abon kepiting sebagai gantinya yang bisa juga nanti jadi bekal Jiwo ke Jakarta sebagai lauk di awal- awal pertama dia kerja di Jakarta.
"Biar nanti inget terus sama yang di Kalimantan." begitu kata Ifah sambil terkekeh.
"Aku yang bayar ya." bisik Ifah di bahu Jiwo saat mereka berjalan ke arah kasir.
Jiwo menatap Ifah tak setuju.
"Please...kan aku yang pengen ngasih oleh- oleh. Bukan kamu." bujuk Ifah memohon.
"Ya udah. Kamu deh yang bayarin. Makasih ya." kata Jiwo sambil mengelus rambut Ifah sesaat.
"Nanti makan malamnya aku juga yang bayarin ya?" pinta Ifah lagi dengan wajah merayu.
"No!" tolak Jiwo tegas.
"Sekali- sekali,Mas...Ya? Aku kan belum pernah jajanin kamu selama ini." pinta Ifah lagi dengan memaksa.
__ADS_1
"Kamu tuh...Baiklah..." jawab Jiwo akhirnya mengalah lagi.
"Yes! Cakep deh!" puji Ifah sambil terkekeh.
"Udah dari dulu kalau cakepnya." kekeh Jiwo sombong. Ifah mencebikkan bibirnya.
"Nggak boleh kena pujian." kata Ifah sambil tertawa pelan. Jiwo terkekeh menanggapinya.
Keluar dari toko penjual oleh- oleh, Jiwo dan Ifah langsung mencari makan malam mereka.
Menikmati nasi bekepor dengan pilihan lauk berbeda, keduanya nampak hanyut dalam kelezatan makanan pilihan mereka.
Ifah menghayati rasa nasi bekepor dengan lauk daging bumbu hangus, sedang Jiwo menikmati nasi bekepornya dengan telur asin dan ayam cincane.
Ada semangkuk gangan manok yang rencananya akan mereka makan berdua nanti sebagai dessert makan malam mereka.
Dessert yang aneh namun mereka sukai.
Gangan manok. sumber: google
"Makasih ya." kata Jiwo sambil mengangkat dua plastik lumayan besar berisi oleh- oleh yang besok akan Jiwo paketkan ke keluarganya sebagai kiriman dari kekasihnya.
Ifah sendiri hanya membawa masuk seplastik kue keminting dan seplastik amplang yang akan dia. nikmati dengan dua orang teman sekamarnya.
Bisa dia bayangkan bagaimana besok kakak dan adiknya akan mengiriminya banyak pertanyaan tentang kekasihnya.
Ya. Dia memang belum bercerita apapun soal kekasihnya itu pada keluarganya. Masih terlalu dini menurutnya.
Tapi melihat sikap Ifah yang sangat tenang dan bisa menenangkan, Jiwo berpikir ulang untuk terlalu lama menyembunyikan hubungan asmaranya.
Tak apalah dia munculkan sekarang perempuan yang bisa mengetuk hatinya lagi.
Setidaknya dia berharap ibunya akan sedikit tenang mengetahui dia sudah tak lagi jomblo walaupun dia yakin tak lama lagi ibunya akan terus bertanya kapan dia akan menikahi kekasihnya.
Tak apalah. Soal itu bisa dipikirkan nanti saja sambil jalan. Toh Ifah juga pernah bilang belum mau membicarakan soal kelanjutan hubungan mereka lebih serius lagi sebelum setahun menjalaninya dengan Jiwo.Dan Jiwo sepakat dengan hal itu.
Setidaknya tunggu dulu sampai euphoria berlebih karena jatuh cinta dan punya hubungan baru mengendap agar semakin jelas terasa rasa yang sesungguhnya ada dihati.
Sambil berjalan menuju messnya, Jiwo menatap selarik bulan di angkasa malam ini dengan seulas senyum.
Berterima kasih pada dirinya sendiri karena mampu berjuang sampai dititik ini.
Berjuang mengikhlaskan yang memang tak bisa tergenggam, dan berjuang kembali mempercayai bahwa cinta lain yang indah itu ada dan tengah dia jaga saat ini.
Cinta seorang perempuan bernama Hanifah.
...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...
__ADS_1