JANJI JIWO

JANJI JIWO
Setia Pada Masa Lalu


__ADS_3

Pagi itu Jiwo sengaja berangkat jauh lebih pagi agar bisa 'menangkap basah' Ayu yang akan meletakkan bekal makan di mejanya.


Masih empat puluh lima menit lagi dari jam mulai kantor, namun Jiwo sudah duduk manis di kursi kerjanya sambil mencari list lagu untuk temannya bekerja.


Tapi sebelum itu dia meraih sebuah pigura yang selama ini masih dia simpan di tempat terdalam lacinya.


Pigura curiannya dari rumah Witri dulu.


Pagi ini dia kembali ingat Witri. Dan dia rindu.


Namun dia juga sadar sepenuhnya, rindunya sudah terlarang. Apalagi cintanya.


Dengan berat hati Jiwo menelangkupkan pigura itu di atas mejanya.


Nanti kalau hatinya masih bandel ingin memaksa melihat photo itu, setidaknya dia tak usah memasukkan seluruh lengannya untuk dapat meraih pigura itu ke dalam lacinya.


Lima belas menit asik sendiri dengan kegiatannya, ekor matanya menangkap kedatangan seseorang yang nampak tadi sekejap menghentikan langkahnya.


"Tumben kamu udah dateng, Wo." sapa Ayu sambil tersenyum manis menatap Jiwo yang menatap santai padanya tanpa senyum.


Ayu langsung tak enak hati melihatnya.


Jiwo nggak pernah nggak membalas senyum siapapun untuknya. Namun kali ini kenapa Jiwo dingin gitu?


Apa ada sesuatu yang terjadi?


"Aku sengaja nunggu kamu buat ngomong


sesuatu, Yu." kata Jiwo straight to the point.


Jantung Ayu langsung berdebar kencang.


Apa Jiwo akan menembaknya? Wajahnya tegang begitu...


Satu sudut hati Ayu mulai berangan- angan indah. Tanpa sadar bibirnya melengkung kecil membentuk senyuman.


"Mau ngomong apa? Serius banget kayaknya." kata Ayu sambil meletakkan satu kotak bekal berwarna putih dari tas yang tadi dijinjingnya di atas meja Jiwo.


Jiwo melirik sekilas kotak bekal itu.


"Aku mohon jangan lagi memberi makanan atau apapun lagi padaku,Yu'. Aku nggak enak terus- terusan kamu kasih. Aku nggak mau ada yang salah paham nantinya." kata Jiwo sambil menatap Ayu dengan tatapan serius.


Ayu nampak kaget dengan ucapan Jiwo padanya barusan.


"Siapa yang akan salah paham? Aku nggak ada pacar. Kamu juga nggak ada pacar kan?" tanya Ayu dengan nada sedikit ragu.


"Tapi jangan lagi berlaku terlalu baik sama aku. Biasa aja kayak cewek lain ke aku. Ya?" pinta Jiwo masih berusaha lembut.


"Aku nggak keberatan ngelakuin semua ini,Wo. Beneran." kata Ayu menyakinkan Jiwo.


"Kamu suka ngasih makan ke orang lain?" tanya Jiwo yang disambut anggukan berkali- kali kepala Ayu.


"Kalau gitu kamu bisa kasih ke orang lain selain aku.Biar merata yang mendapatkan makanan gratis dari kamu.Pasti banyak yang mau dan suka dengan pemberian kamu. Apalagi masakanmu enak." kata Jiwo sambil tersenyum.


Ayu terpaku menatap Jiwo.


Dia tahu Jiwo sedang berusaha membuat garis tegas di antara mereka berdua.


Jiwo ingin mereka menjaga jarak. Tapi Ayu tak mau itu.


Selama beberapa bulan ini memang tak ada perkembangan dalam usaha pendekatannya.Tapi setidaknya Jiwo mau menerima perhatiannya dalam bentuk makanan di setiap paginya.


Jiwo tak pernah menolak seperti hari ini.


Tapi kalau sekarang cowok itu berkata tegas untuk tak memberikan makanan lagi padanya, kenapa?


Apa telah ada hati yang telah memiliki Jiwo tanpa sepengetahuannya?


Nia kah?


"Kenapa nggak mau lagi sama makananku?" tanya Ayu dengan wajah datar.


"Bukannya nggak mau lagi. Aku masih mau kalau suatu hari disuruh makan makananmu lagi. Aku cuma minta ke kamu jangan jadi kebiasaan aja. Nggak enak sama yang lain,Yu'. Kita nggak ada hubungan apa- apa selain pertemanan." kata Jiwo tenang namun membuat hati Ayu terpukul.


"Aku nggak keberatan kok tiap hari nyiapin ini buat kamu,Wo." kata Ayu tetap berkeras hati.


"Buat apa? Kamu nggak perlu repot- repot seperti ini ngurusin aku. Aku bisa nyari sarapan sendiri kok." kata Jiwo lebih tegas.


"Tapi aku mau, Wo. Aku yang mau." sahut Ayu cepat dengan hidung yang mulai kembang kempis menahan emosi.


Langkahnya kian merapat ke posisi Jiwo yang masih duduk di kursinya.

__ADS_1


Ayu sudah berdiri menjulang dua langkah di depannya.


"Aku nggak mau, Yu.Please. Jangan buat aku berhutang budi terlalu banyak sama kamu." kata Jiwo


Jiwo bergegas berdiri untuk mengantisipasi gerakan mengejutkan yang mungkin bisa dilakukan oleh Ayu padanya. Menunduk memeluknya misalnya.


Dia kemudian duduk di atas mejanya dengan tangan yang bergerilya di belakang tubuhnya agar pan tat nya tak sampai menduduki mouse atau bahkan menyenggol gelasnya yang dia lupa tadi berposisi di sebelah mana.


Namun yang terjadi malah tangannya menyenggol pinggir pigura dan tergeser ke sudut meja.


Mata Ayu langsung menatap curiga ke arah pigura yang tertelungkup itu.


Sebelum Jiwo menyadari keadaan, Ayu sudah merangsek cepat untuk meraih pigura itu dan melihat penghuninya.


Ayu bergeming menatap seraut wajah gadis yang sedang tersenyum ke arahnya.


Jiwo yang baru menyadari keadaan barusan, hanya terpaku melawan tatapan Ayu padanya.


"Karena diakah?" tanya Ayu sambil mengulurkan pigura itu pada Jiwo.


Setitik airmata sudah bergulir cepat melintasi pipinya.


Tanpa sebuah katapun, photo di pigura itu mampu meremukkan hati Ayu.


Membumihanguskan semua harapan dan angan- angannya tentang dicintai dan dimiliki Jiwo.


Ada gadis lain yang mendahuluinya mewujudkan dan memiliki angan- angannya itu.


Jiwo menerima pigura itu tanpa berkata- kata.


"Orang mana dia?" tanya Ayu sambil menghapus buliran airmata yang kembali hendak melewati pipinya.


"Jogja." jawab Jiwo dengan jelas.


Ayu tersenyum getir.


"Kalian LDR an selama ini?" tanya Ayu walau dengan menguatkan hatinya.


Jiwo menatap Ayu dan menggeleng kecil.


"Soal kami itu nggak penting buat kamu tahu,Yu." kata Jiwo pelan.


Jiwo tak hendak menjawab apapun soal Witri. Apalagi soal hubungan mereka.


Namun Jiwo tak ingin semua itu jadi bahan pembicaraan umum.


Biarlah kisah cinta dan patah hatinya dia sendiri yang tahu.


Dan bila saat ini photo itu yang akan bisa menjauhkan Ayu darinya, Jiwo sangat bersyukur karenanya.


Setidaknya Witri masih 'berlaku' istimewa baginya.


Ayu tersenyum kecut. Dalam hatinya dia malu sendiri dengan ucapan Jiwo barusan.


Ya,kesannya dia sangat ingin tahu tentang kisah Jiwo dan gadis itu.


Walaupun benar itu kenyataannya, namun Ayu juga punya rasa malu kalau sampai terbaca begitu.


"Deal ya...Tak ada lagi kotak makan di mejaku tiap pagi." kata Jiwo akhirnya sambil menatap Ayu dengan tersenyum.


Senyum itu dirasa bukan sebagai penghiburan bagi Ayu saat ini.


Tapi senyum yang disukainya itu seperti senyuman berselaput tajamnya belati untuk hatinya.


Membuat hatinya berdarah dan nyeri tak terkira.


Ayu di buat patah hati pagi ini.


"Yu'..." panggil Jiwo karena Ayu hanya menatapnya dengan tatapan kosong.


"Ya! Aku tak akan lagi mengirimimu sarapan. Lagian ngapain aku ngurusin makan cowoknya orang." kata Ayu dengan tersenyum pahit bahkan memaksakan dirinya untuk tertawa.


Suaranya sangat jelas terdengar begitu sumbang.


Jiwo memaksakan diri ikut tertawa.


"Kamu betul. Ngapain ngurusin aku." kata Jiwo sambil tersenyum kikuk.


Ayu mengangguk pelan.


Dia harus terima semua ini.

__ADS_1


Dia kalah dalam perjuangannya mendapatkan cinta Jiwo.


Menyakitkan sekali rasanya.


Kalau tak malu,Ayu sudah ingin menangis meraung- raung saja saat ini.


Keduanya kembali terdiam.


Tadinya Jiwo akan meminta pada Ayu untuk tetap menganggapnya teman seperti sebelumnya, tapi Jiwo akhirnya memilih bungkam.


Rasanya sulit untuk begitu saja mengubah sebuah perasaan.


Biar sajalah seperti ini dulu.


Ayu pasti juga butuh waktu untuk berdamai dengan perasaannya sendiri.


Semoga saja nanti seiring waktu, akan ada seseorang yang bisa membuat Ayu lupa pada rasa sakitnya hari ini.


Atau bahkan nanti suatu hari Ayu akan bersyukur tak jadi bersamanya.


"Baiklah. Aku balik ke depan dulu." pamit Ayu akhirnya setelah nggak juga dilihatnya Jiwo akan berkata sesuatu.


Tak mudah mengucapkan kata- kata barusan bagi Ayu.


Kakinya seperti terpaku di lantai dan sangat sulit untuk beranjak.


segunung rasa malu pada diri sendiri karena merasa mencintai hati yang salah, sangat membebaninya kali ini.


Ayu baru saja akan berbalik badan saat terdengar suara Ruslan memasuki ruangan lebar yang masih sepi itu.


"Wah kelakuan lu pada! Ternyata begini kelakuan kalian pagi- pagi. Sarapan jasmani rohani kau, Wo?" tanya Ruslan sambil tertawa- tawa meledek.


Ayu hanya tersenyum kecut lalu bergegas berlalu dari sana tanpa menyapa Ruslan.


"Aku nggak disapa dulu nih,Yu'?" tanya Ruslan keheranan.


"Nggak!" jawab Ayu tanpa menoleh.


"Sombong amat sama aku."sahut Ruslan yang belum juga menyadari situasi yang terjadi.


"Eh, kok nggak ada sarapan gratis pagi ini, Wo?" tanya Ruslan cepat saat matanya menyorot ke sudut meja Jiwo, dimana biasannya ada dua kotak makan di sana.


"Nggak akan ada lagi. Badan amalnya udah gulung tikar." kata Jiwo sambil terkekeh.


"Mengundurkan diri barengan mereka?" tanya Ruslan dengan wajah kepo dan keheranan.


"Iya. Per hari ini udah nggak ada lagi makanan gratis dari Ayu dan Nia." kata Jiwo sambil tersenyum lega.


"Nggak keren nih kalau gini..." sungut Ruslan nggak terima karena sudah nggak ada lagi makanan gratis.


Jiwo tak menanggapi ucapan Ruslan.


"Barusan kamu apain si Ayu? Kemarin pas pulang juga aku liat kamu ngomong serius banget sama si Nia. Kamu apain mereka kok hari ini terus nggak ada suplai makanan lagi?" tanya Ruslan dengan tatapan penuh selidik pada Jiwo.


"Aku minta mereka stop ngasih makan aku. Aku nggak mau hutang budi sama mereka terlalu banyak." kata Jiwo santai.


"Aaa....pantas sepi mejamu." kata Ruslan sambil mengangguk mengerti.


"Dua- duanya kau tolak,Wo?" tanya Ruslan semakin kepo.


"Tolak apaan? Mereka nggak ngapa-ngapain kok." elak Jiwo.


"Alah! Kita udah gede ini. Pasti ngerti lah kode- kode cinta dari lawan jenis." sergah Ruslan.


Jiwo tertawa pelan.


"Nggak nyoba nerima salah satu dulu,Wo?" tanya Ruslan penasaran.


"Anak orang mereka itu...bukan bahan percobaan. Apalagi soal rasa. Parah kau!" sergah Jiwo sambil memiringkan telunjuknya di depan dahinya.


"Buat selingan kan nggak papa, Wo." kata Ruslan sambil terkekeh.


"Selingan palamu!" seru Jiwo dengan wajah kesal.


Ruslan semakin terbahak.


"Kamu memang setianya nggak ada lawan,Wo." kata Ruslan di sela tawanya.


Jiwo meringis sedih dalam hati.


Aku masih setia pada masa lalu.

__ADS_1


...💧💧💧 b e r sa m b u n g 💧💧💧...


Nggak papa ya lumayan panjang...😅


__ADS_2