JANJI JIWO

JANJI JIWO
Mengantar


__ADS_3

"Aku nggak ijinkan perempuan sialan itu menginjakkan kakinya di rumah ini! Aku nggak rela dia ikut mengantar Hari ke makam! Nggak sudi aku melihat mukanya!" Bu Dukuh masih terus saja berteriak histeris di dalam kamarnya sambil memukuli kasur dengan kepalan tangannya.


Amarah yang begitu besar pada Witri yang dia himpun sejak dulu seakan memiliki kesempatan tepat untuk meledak saat ini.


Airmatanya tak berhenti mengalir menyertai amukannya.


Kehilangan yang teramat dalam tak bisa ia ungkapkan dengan kalimat duka lara dan sekedar airmata.


Hari adalah kebanggaannya. Anak lelaki yang selalu berlaku sopan dan mengalah padanya.


Sejak kecil Hari selalu patuh dan menurut padanya. Bahkan menjadi tentara adalah keinginannya, bukan cita- cita Hari.


Hanya sekali Hari ngotot dengan keinginan pribadinya, yaitu menikah dengan Witri.


Segala ancaman sudah dikerahkannya pada Hari untuk melemahkan satu- satunya keinginan Hari sepanjang umurnya itu, namun Hari tak bergeming dengan keinginannya itu.


Bahkan ancaman tak mendapatkan warisan pun tak menyurutkan tekad anak itu untuk mempersunting Witri.


Bahkan suaminya ikut memaksanya untuk merestui keinginan Hari.


Tak main- main, suaminya yang selama ini selalu mengalah padanya pun sampai mengancamnya akan menuntutnya cerai bila dia tak merestui Hari.


Karena itulah dengan terpaksa dia mengijinkan Hari meminang Witri.


Dia tak mungkin melepaskan suaminya yang kaya dengan warisan sawah dan punya kedudukan terpandang di kampung. Kalau dia sampai diceraikan, bagaimana hidupnya kelak? Sejak gadis dulu dia nggak pernah merasakan yang namanya bekerja mencari uang.


Kalau dia sampai di cerai oleh suaminya, mau makan apa dia? Siapa yang akan menghidupinya?


Karena itu, walaupun akhirnya mengijinkan Hari meminang Witri, dia tetap tak menyukai menantu yang dianggapnya tak selevel itu.


Walau selama menjadi istri Hari Witri tetap mampu menunjukkan sikap baik dan menunjukkan perkembangan secara pribadi hingga layak dibanggakan sebagai seorang menantu, Bu Dukuh tetap enggan mengakui itu.


Cerita Hari saat menelpon tentang Witri yang bekerja dan otomatis bisa mencari nafkah, juga soal Witri yang bersemangat mengambil kuliah di week end hingga lulus dengan predikat cumlaude, tak juga membuat Bu Dukuh mau menganggap keberadaan Witri.


Mbak Tati hanya mampu terdiam di sampingnya sambil menatap pintu kamar yang sengaja di kunci dari luar untuk mengantisipasi ibunya melakukan tindakan tak terkendali seperti tadi.


"Kamu kenapa dari tadi diam saja? Kamu nggak sedih adikmu meninggal?" bentak Bu Dukuh sambil menatap galak kepada Tati.


"Aku sedih Bu...Sedih banget. Tapi kita juga harus sadar kalau semua ini sudah menjadi suratan tangan buat Hari." kata Tati dengan menunduk sedih.


Ibunya nggak tahu saja kalau sejak mendengar Hari masuk ICU rasanya dia pengen terbang saat itu juga ke Aceh untuk bisa ikut merawat Hari. Tapi sayangnya sebelum kesampaian ke sana,Hari malah sudah pulang dengan tanpa jiwa.


Begitu tadi pagi dikabari bapaknya kalau Hari meninggal, dia langsung pingsan. Begitu siuman langsung secepatnya ke rumah orangtuanya.


Dia kembali menangis sesenggukan di pelukan bapaknya.


"Kamu pasti seneng karena semua warisan turun ke kamu semua." kata Bu Dukuh sambil menatap Tati kesal.


"Astagfirullahaladzim, Bu! Tega sekali Ibu ngomong kayak gitu sama aku." airmata Tati langsung membanjiri pipinya. Hatinya sakit tak terkira dengan ucapan ibunya barusan.


Bahkan dia rela kehilangan semua jatah warisannya andai bisa mengembalikan adik satu- satunya yang dia miliki.


"Astagfirullahaladzim..." gumamnya lagi sambil mengelus dadanya sendiri agar tak mengeluarkan kata kasar pada ibunya. Wanita yang konon di telapak kakinya terdapat surganya.


Saat ini dia malah langsung iri pada Hari yang tak lagi harus berhadapan dengan sifat buruk ibunya lagi.


Pandangan keduanya serentak menatap ke arah pintu yang terdengar dibuka kuncinya.


Pak Dukuh melongokkan kepalanya di sela pintu yang sedikit terbuka.


"Sudah mau di berangkatkan. Kamu bisa menguasai dirimu nggak,Bu? Kalau masih mau emosi,kamu nggak usah keluar dari kamar aja. Biar aku dan Witri saja yang mengantar Hari ke makam." kata Pak Dukuh dengan tatapan tegas kepada istrinya.


"Nggak! Nggak boleh! Aku nggak ijinkan Witri mendekat ke Hari. Aku nggak ridho!" teriak Bu Dukuh langsung histeris sambil memburu ke arah pintu yang langsung ditutup dengan cepat dan kembali di kunci dari luar.


"Buka, Pak! Bukaaaa!!!!" teriak Bu Dukuh sambil menggedor pintu sekuat tenaga.


Tati menarik paksa tangan ibunya agar berhenti memukuli pintu.


"BU! DENGERIN AKU SEKALI SAJA! BISA NGGAK?!" teriak Tati sekuat tenaga di depan ibunya yang masih berteriak kesetanan.


Bu Dukuh langsung berhenti berteriak karena kaget dibentak oleh Tati. Seumur hidupnya baru sekali ini dia di bentak oleh anaknya sendiri.


"KAMU BERANI MEMBENTAK IBUMU INI? KAMU MAU JADI ANAK DURHAKA??" teriak Bu Dukuh sambil menjambak kerudung Tati. Ditamparnya wajah anak perempuannya itu sekuat tenaga.


"Belum juga dapat warisan kamu sudah berani sama Ibu. Apa jadinya kalau semua warisan jatuh ke tanganmu hah?! Kamu pasti akan tega menelantarkan ibumu ini." kata Bu Dukuh sambil kembali menyakiti anaknya dengan kedua tangannya.


Mbak Tati hanya mampu menangis sambil menyilangkan kedua tangannya di depan tubuhnya yang jadi sasaran pukulan ibunya.

__ADS_1


Hati dan juga harga dirinya telah dibuat hancur sehancur- hancurnya oleh perempuan yang katanya harus selalu dimuliakan keberadaannya dalam hidupnya.


Mendengar teriakan dari dalam kamar yang terkunci dari luar, tetangga yang dipasrahi untuk menjaga di depan pintu berlari cepat ke arah Pak Dukuh yang sedang ikut menyiapkan upacara pemberangkatan jenazah.


Pak Dukuh dan adiknya bergegas masuk ke dalam kamar dan terpaku menatap pemandangan menyedihkan di depan matanya.


Anak perempuannya sudah tak karuan di aniaya oleh istrinya sendiri.


Sekarang tetangga yang ikut menerobos masuk ruangan bergegas menolong Tati yang hanya mampu terisak- isak pilu.


PLAKKK!!!!


Bunyi tamparan keras membuat semua orang yang ada di ruangan itu terpaku.


Tangan Pak Dukuh yang tadi menampar pipi istrinya nampak masih gemetar.


Bu Dukuh yang di tampar hanya terpaku sambil memegangi pipinya yang terasa sangat panas.


Tati yang menyadari peristiwa yang baru saja terjadi kembali menangis pilu.


"Istigfar, Mas...Istigfar..." kata adik Pak Dukuh sambil memegang lengan kakaknya.


Pak Dukuh tak menyahut. Matanya menatap penuh amarah kepada istrinya yang nampak sangat terkejut dengan tatapan itu. Sepanjang usia perkawinan mereka yang hampir empat puluh tahun, belum pernah sekalipun suaminya menatapnya marah seperti itu.


Nyalinya tiba- tiba ciut.


"Aku, Tati,Hari, bahkan semua orang yang mengenalmu wis kesel ngemong polahmu. ( sudah lelah mengasuh/ mengerti kelakuanmu). Di luar sana, anakmu yang mati masih belum di kubur. Kamu sudah mau membunuh Tati juga hah?!!" bentak Pak Dukuh sambil menghadap penuh ke depan istrinya.


"Aku kira dengan kehilangan Hari hatimu sedikit tersentuh dan membaik, ternyata kematian anakmu sendiripun tak berguna buatmu. Ibu macam apa sih kamu, hah?!"


"Bukan aku yang menyebabkan Hari mati." jawab Bu Dukuh dengan segenap nyali yang tersisa masih berusaha menunjukkan taringnya.


"Kalau kelakuanmu nggak seperti setan, Hari pasti memilih di tugaskan di Solo yang lebih dekat dari rumah dan nggak mungkin Hari memilih ditugaskan di Aceh, yang jauh dari sini. Dia memilih jauh dari sini karena dia menghindari kamu!!! Dia ingin hidup dan rumah tangganya tenang dengan menjauhi kamu! Paham nggak?!" bentak Pak Dukuh masih dengan suara maksimal.


Tatapan menantang dari mata istrinya semakin menyulut emosi yang telah puluhan tahun di pendamnya.


"Seharusnya memang sejak dulu aku menceraikan kamu, Wanti! Bodohnya aku menghabiskan umurku ngemong kamu. Bodohnya aku!" kata Pak Dukuh yang langsung tergugu di pelukan adiknya saking emosinya.


Suasana langsung mencekam.


Bu Dukuh menatap nanar beberapa kerabat yang sudah berdiri di luar pintu kamar. Malunya tak terhingga di bentak- bentak suaminya di depan orang- orang yang mengenalnya.


Pak Dukuh yang baru berusaha meredakan amarahnya langsung kembali tersulut emosinya.


"Mas..." cegah asiknya yang melihat Pak Dukuh langsung mendekat dengan cepat ke arah istrinya yang langsung memundurkan tubuhnya.


Dengan berdiri tegak dan setelah berulangkali menarik dan menghembuskan nafasnya, Pak Dukuh melayangkan pandangannya kepada seluruh kerabat yang ada di sekitarnya.


""Di saksikan kerabat yang ada disini, aku jawab pertanyaanmu barusan, Wanti." kata Pak Dukuh dengan menatap tajam ke arah istrinya.


Bu Dukuh nampak menciut nyalinya melihat tatapan suaminya itu. Sedikit sesal menyelinap di benaknya.


Bagaimana kalau suaminya ini marah besar dan men...


"Mulai detik ini aku menceraikan kamu, Wantini binti Sumarto." kata Pak Dukuh tegas dan jelas. Matanya menatap tajam ke mata istrinya itu tanpa keraguan sedikitpun.


"Pak!"


"Astagfirullahaladzim, Mas..."


"Astagfirullahaladzim, Bapak..."


Begitu banyak suara istigfar di sekeliling orangtua Hari tersebut.


"Aku nggak mau dicerai, Pak!" kata Bu Dukuh dengan wajah yang mulai kebingungan.


Belum juga batinnya selesai berucap soal perceraian, ternyata bapak dari anak- anaknya itu mewujudkannya dalam hitungan detik.


Cerai.


"Aku mohon maaf, Pak...Jangan ceraikan aku..." kata Bu Wantini dengan panik. Dia seperti baru menyadari kalau nasibnya sudah terpuruk.


"Sudah terlambat. Aku sudah mengucapkan kata cerai buatmu. Dan itu berarti aku sudah bukan suamimu lagi." kata Pak Dukuh tanpa sedikitpun mengendurkan wajah kerasnya.


Bu Wanti menghambur ke arah Tati yang langsung dilindungi oleh tetangganya. Mereka takut Tati jadi pelampiasan lagi.


"Nduk...Tati...maafin Ibu, Nduk. Tolong bilang sama Bapakmu, jangan menceraikan Ibu..." kata Bu Wanti dengan tangan mengatup di dada dan wajah memelas.

__ADS_1


Tati tak menyahut.


Dia memilih untuk melipir dan keluar dari kamar itu begitu saja. Begitupun Pak Dukuh.


"Pak! Bapak! Ampuni aku, Pak!" teriak Bu Wanti berusaha mengejar keluar kamar namun langsung di tahan oleh beberapa kerabat lelakinya. Dan tanpa di sangka dia jatuh pingsan.


Witri menatap Mamak minta persetujuan karena diminta untuk ke rumah sebelah, ke rumah Pak Dukuh. Jenazah Hari akan segera dikebumikan.


"Yang minta Pak Dukuh kok, Mbak. Bu Dukuh nggak ada. Pingsan. Nggak akan nganter Mas Hari ke makam." kata Mas Totok yang tahu pasti kondisi hubungan mertua- menantu itu.


Witri kemudian mengangguk dan beringsut berdiri.


Dia tadi sudah ikhlas bila tak boleh mengiringi jenazah Hari oleh Bu Dukuh.


Dia berencana ke makam Hari nanti setelah keluarga inti Hari selesai dari makam.


Dia hanya tak ingin menimbulkan keributan.


Jantungnya yang belum berdetak normal kembali berdetak tak beraturan saat mendekat ke arah keranda tempat jasad suaminya berada.


Kami antar kamu ke rumah barumu, Mas, bisik hati Witri pilu.


Dielusnya lembut perut ratanya.


Selesai upacara pemberangkatan jenazah, iring- iringan pembawa jenazah mulai berjalan.


Nampak Pak Dukuh dan Nadi ikut memikul keranda.


Tati, Witri, Mamak, dan beberapa kerabat mengiringi tepat di belakang barisan keranda.


Begitu memasuki area makam, Witri merasa seluruh tubuhnya dingin dan melayang.


Untung dia sedari tadi di pegangi oleh Mamak.


"Yang tabah, Nduk. Kuat ya..." bisik Mamak sambil mengelus lengannya berkali- kali.


"Beneran Mas Hari, Mak?" tanya Witri tanpa sadar sambil menatap keranda yang sudah di turunkan.


"Iya. Hari pulang lebih dulu. Ikhlaskan ya, Nduk biar dia tenang dan bahagia." jawab Mamak lembut.


Witri hanya bergeming.


Matanya jelas melihat prosesi jenazah suaminya turun ke liang lahat lalu diposisikan sebaik mungkin. Airmatanya tak jatuh setetes pun walau dadanya rasanya terhimpit batu ratusan ton. Sesak sekali. Juga sakit.


Dia masih bisa mendengar jelas bapak mertuanya adzan sambil menahan tangis untuk melepas kepergian Hari. Lalu sedikit demi sedikit tanah dijatuhkan untuk memenuhi liang lahat.


Witri langsung merangsek ke depan. Melihat sedikit demi sedikit tubuh gagah berselimut kain kafan itu menghilang dari pandangannya, tertutup tanah.


Jantung Witri rasanya meledak saat tak lagi dilihatnya tubuh suaminya.


"Jangan!" seru Witri tertahan saat para penggali kubur dengan sigap memasukkan tanah ke liang lahat. Tangannya terulur seperti hendak menggapai.


Sampai detik ini dia masih berharap suaminya bangun dan muncul dari liang lahat itu.


Biarpun orang- orang akan takut nanti, tapi dia tak akan takut.


"Bangun, Mas...Ayo pulang." bisik Witri dengan terus menatap pusara Hari tanpa berkedip.


Mamak tak kuasa membendung airmatanya.


Pilu hatinya tak terperi melihat putrinya yang seperti ini.


Hingga akhirnya pusara sudah tertata sempurna, Witri tak bergeming di tempatnya berdiri.


Hingga satu per satu pelayat yang tadi ikut mengiringi ke makam sudah berpamitan pulang, Witri belum juga mendekat ke pusara.


Pikiran dan hatinya kosong. Benar- benar kosong.


"Kita doakan suamimu yuk, Nduk. Kita mendekat ke pusara." ajak Mamak sambil memapah Witri mendekati pusara dimana hanya tinggal ada Pak Dukuh, Mbak Tati dan suami serta dua anaknya, juga Nadi dan Pak Ikhsan.


"Sini, Wit." panggil Mbak Tati dengan suara parau karena sedari tadi menangis.


Witri berjongkok di samping Mbak Tati, mengulurkan tangannya menyentuh pusara Hari tanpa suara.


"Aku akan jagain Aksa dengan baik, Mas. Aku janji." hanya itu yang bisa Witri ucapkan sebelum dia membaringkan tubuh atasnya dengan nyaman di atas pusara seolah dia tengah berbaring di dada suaminya. Dan dia langsung terlelap.


"Wit..."

__ADS_1


...💧💧TBC💧💧...


__ADS_2