
Mata Witri terbuka saat dirasanya pergerakan kecil di sampingnya.
Hatinya senang tak terkira saat mendapati senyum Aksa di depan matanya.
"Mamama..." celoteh Aksa sambil menepuk- nepuk dada mamanya.
"Haus ya? Pengen nen?" tanya Witri kemudian mengecup dahi lembut Aksa.
"Ne...ne...ne...Mamama ..." beo Aksa dengan nada tak sabar.
Witri bergegas memposisikan tubuhnya agar Aksa bisa menikmati ASI nya dengan nyaman. Ada kelegaaan sejak terjaga tengah malam tadi saat merasakan aktifitas mengASI Aksa sudah seperti biasanya, rakus. Tak seperti beberapa hari belakangan ini yang seperti tak berselera.
"Udah sehat kayaknya nih anaknya mama. Udah kuat lagi mimiknya." kata Witri sambil mengelus pipi Aksa yang sejenak menghentikan isapannya dan menatap Witri.
"Kenapa?" tanya Witri sambil terkekeh yang mendapat balasan senyuman Aksa yang kemudian melanjutkan kegiatan mengisi perutnya dengan nutrisi terbaik dari mamanya.
Witri sangat suka melihat senyum kecil Aksa. Sangat mirip dengan senyum Hari. Sayangnya jarang sekali Aksa mau tersenyum seperti itu. Anaknya ini lebih sering tertawa riang dan tergelak- gelak.
"Kalian udah bangun?" tanya Mamak yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Udah. Dibangunin Aksa." jawab Witri sambil tersenyum.
Mamak mendekat kemudian menyentuh kening Aksa.
"Udah bener- bener ilang panasnya. Mudah- mudahan cepat pulih ya, Le. Kita cepet main lagi di rumah." kata Mamak sambil tersenyum menatap kelahapan Aksa menikmati ASInya.
"Ti...ti..." gumam Aksa seketika melepaskan bibirnya dari jalan ASInya sambil menatap Witri.
"Iya. Uti pengen main sama Aksa. Cepet sembuh ya..." jawab Witri sambil tersenyum.
Ini kali pertama Aksa bisa jelas menyebut Mamak dengan kata Ti, Uti.
"Alhamdulillah, udah tambah pinter manggil Uti." kata Mamak senang.
Aksa kembali menghentikan acara nen nya dan langsung telentang. Matanya seperti sedang mengikuti pergerakan sesuatu yang seperti mengitari ranjang dan pandangannya terhenti di samping Mamak yang sedari tadi berdiri di belakang posisi Aksa yang tadi terbaring miring.
"Liat apa sih semangat banget gitu?" tanya Witri keheranan.
"Ya...ya...." kata Aksa sambil menatap ke arah Mamak.
Witri dan Mamak saling berpandangan bingung.
"Apa?" tanya Mamak dengan pandangan yang nampak sedikit takjub.
"Ya...ya..." ulang Aksa sambil kembali menatap ke samping Mamak.
Ya...ya...biasanya Aksa ucapkan saat dia ditunjukkan photo Hari.
"Ayah?" tanya Mamak sambil menatap Aksa yang membuat Witri terlonjak.
"Mak..."
__ADS_1
"Ya...ya..." lagi- lagi Aksa menatap ke tempat yang sama sambil tertawa- tawa riang
"Ada Ayah nengok Aksa?" tanya Mamak sambil tersenyum. Matanya berkaca- kaca terharu. Beda lagi dengan Witri yang sudah menitikkan airmata.
"Assalamualaikum Ayah..." kata Witri sambil memegang tangan Aksa dan membuat tangan mungil itu dadah- dadah.
"Aksa udah sembuh kok, Yah. Udah sehat." kata Witri lagi sambil menghapus airmatanya sambil menatap ke arah samping Mamak yang dia perkirakan disanalah Hari berada. Hatinya bergolak tak karuan saat ini.
Hari datang? Benarkah? Apakah Aksa bisa melihat Hari seperti dia yang melihat kehadiran Hari saat dia melahirkan Aksa dulu?
Ah, andai saja dia bisa melihat lagi suaminya itu...
"Da...da...ya...ya..." Aksa kembali berceloteh sambil menggerakkan tangannya seperti dadah- dadah dan matanya kembali bergerak mengikuti sesuatu yang nampaknya bergerak menjauh.
"Assalamualaikum Ayah..." bisik Witri di telinga Aksa sambil mengikuti arah pandangan Aksa seolah ingin ikut melepas pergi.
Aksa kembali menatap Witri dengan mata beningnya.
"Ya...ya..." kata Aksa seolah ingin bercerita.
"Iya. Ayah jengukin Aksa ya? Makasih Ayah..." sahut Witri sambil tersenyum yang mendapat balasan kepala Aksa yang kemudian bersembunyi di dadanya dengan gerakan cepat.
"Seneng ya?" tanya Witri gemas walau masih dengan mata berkaca- kaca.
Apa benar Aksa mengenali ayahnya? Apa benar ayahnya Aksa tadi datang menjenguk? Apa mungkin?
Mungkin saja. Nyatanya dulu dia juga melihat Hari menemaninya melahirkan Aksa. Witri yakin yang dia lihat saat itu bukan hanya fatamorgana saja. Dia bahkan masih mengingat hangatnya bibir Hari yang mencium keningnya sebelum kembali pergi.
"Astagfirullahaladzim...Aku mimpi atau apa ini tadi?" gumam Nadi sambil meraup wajahnya sendiri sedikit bingung.
Baru saja dia merasa seperti tengah di ajak ngobrol oleh Hari. Mereka berdua seperti tengah ngobrol di kantor seperti dulu. Hari nampak gagah dengan PDH nya, seperti biasanya.
"Aku seneng banget, Bang." kata Hari dengan wajah berseri-seri bahagia.
"Kenapa?" tanya Nadi penasaran.
"Aksa bisa manggil ya...ya...gitu, Bang. MasyaaAllah...dia tahu aku ayahnya, Bang! Emang pinter anakku itu." kata Hari sambil tersenyum nampak sangat kagum dan bangga. Nadi ikut tersenyum. Bisa merasakan kebahagiaan yang dirasakan Hari.
Jangankan Hari yang bapak kandungnya, dia aja seneng bukan main saat pertama kali Aksa memanggilnya ba...ba...
"Makasih ya, Bang udah selalu jagain keluargaku." kata Hari sambil menepuk- nepuk lengannya dengan tatapan haru.
"Sama- sama. Aku senang bisa ikut menjaga Aksa." jawab Nadi sambil tersenyum.
"Anggap dia anakmu sendiri ya, Bang. Aku percaya sama kamu." kata Hari lagi.
"Iya. Pasti. Makasih sudah memberikan kepercayaan sama aku. Makasih sudah membuat aku bisa merasakan jadi bapak." kata Nadi dengan terharu.
"Ya, Bang, sama- sama. Aku pergi dulu ya, Bang. Assalamualaikum." pamit Hari kemudian menepuk bahunya lembut sambil tersenyum.
Dan Nadi terjaga sesudahnya.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam...Kamu nengokin Aksa ya,Har?" gumam Nadi lagi sambil menatap nanar ke arah dimana Hari tadi berjalan menjauh.
Ini kali pertama dia mimpi bertemu Hari sejak sahabatnya itu meninggal lebih dari setahun lalu.
Ada keharuan di hatinya dengan 'pertemuannya' barusan.
"Kamu yang tenang di sana ya, Har. InsyaaAllah aku akan jagain Aksa." gumam Nadi lagi.
Dengan ragu Nadi mendekat ke pintu kamar rawat Aksa. Seharusnya Witri dan Mamak sudah bangun dari tadi. Diketuknya pelan pintu kamar dan langsung mendengar sahutan Mamak dari dalam.
"Aksa udah bangun juga?" tanya Nadi begitu masuk dan melihat Aksa tengah anteng di ganti popoknya oleh Witri.
"Bababa..." Aksa langsung menoleh ke arah suara Nadi. Hati Nadi hangat seketika mendengar sapaan Aksa itu. Bahkan suaranya saja Aksa sudah hafal.
"Assalamualaikum anaknya Bapak...Udah sehat ya?" sapa Nadi sambil mengulurkan tangannya yang langsung dipegang erat jari telunjuknya oleh Aksa. Bocah itu kemudian asik berceloteh dengan bahasanya sendiri sambil menggoyang- goyang jari Nadi.
"Udah dong, Pak. Udah sehat. Infusnya udah tinggal sedikit lagi." jawab Witri sambil tersenyum.
"Aku mau keluar nyari sarapan buat kita." kata Nadi sambil sekilas menatap Witri. "Mamak pengen sarapan apa?" tanya Nadi kemudian menatap Mamak.
"Apa aja lah, yang penting nggak ngrepotin." jawab Mamak sambil tersenyum.
"Kamu,Wit?" tanya Nadi kembali mengarahkan pandangannya pada Witri.
Witri nampak sejenak berpikir.
"Apa aja deh, Bang. Samain aja sama pengenaan Abang." kata Witri akhirnya sambil terkekeh. "Yang penting menunya double." sambungnya yang membuat Nadi tersenyum mengerti.
"Udah rakus lagi ya nen nya? Mamamu udah cepet lapar lagi." tanya Nadi sambil menowel- nowel pipi Aksa yang langsung tertawa- tawa senang.
"Pengen cepet sembuh, Pak. Jadi harus nen yang banyak, Pak." sahut Mamak sambil tersenyum mewakili Aksa menjawab.
"Semalam sama sekali nggak rewel ya? Aku nggak denger dia nangis." tanya Nadi dengan agak ragu.
"Iya. Bangun cuma minta nen aja. Habis itu tidur lagi." jawab Witri sambil membuka bungkusan roti sisa semalam yang Nadi bawa kemudian menikmatinya dengan santai tanpa basa- basi menawari sekitarnya.
Untung semalam Nadi membawa beberapa roti, jadi bisa Witri makan sambil mengASIhi Aksa semalam. Tahu sendiri anak cowok, kalau minum belum akan berhenti kalau 'gelasnya' belum nyaris kering yang membuat mamanya langsung kelaparan.
"Mudah- mudahan besok sudah pulih ya, Jagoan..." kata Nadi sambil mengelus pipi Aksa yang lagi- lagi tertawa senang.
"Aamiin..." sahut Witri sepenuh hati. Matanya menatap Mamak yang nampak sibuk mencari sesuatu sejak tadi.
"Nyari apa, Mak?" tanya Witri setelah Nadi pamit keluar.
"Hape. Mamak lupa naruhnya dimana kemarin." jawab Mamak masih dengan kesibukannya mencari. Sedang Witri tak sempat memikirkan ponselnya karena Aksa kembali merengek minta dekapannya.
Setelah sarapan akhirnya diputuskan Mamak pulang sebentar di antar Nadi untuk mengambil pakaian ganti untuk Witri dan Aksa. Witri juga minta dibawakan laptopnya agar bisa bekerja dari kamar rawat Aksa hari ini. Toh Aksa nggak rewel dan bisa disambi nanti.
Tadi dia sudah minta ijin untuk tidak masuk kantor namun bisa tetap mengerjakan tugasnya dari klinik.
...💧💧b e r s a m b u n g 💧💧...
__ADS_1