JANJI JIWO

JANJI JIWO
Rumah Dinas


__ADS_3

"Aku pamit ya. Assalamualaikum." kata Hari sambil melambai dan bergegas setengah berlari mendekati Menteng yang sudah ngedumel sambil berjalan cepat.


Jiwo terduduk lemas setelah Hari tak lagi terlihat.


Ya Allah...Aku ketemu suaminya Witri...


"Wa'alaikumussalam..." jawab Jiwo lirih setelah dia sedikit bisa menenangkan hatinya.


Pandangannya masih terarah ke tempat dimana Hari menghilang dari pandangannya tadi.


Hati Jiwo jadi kalut sekarang.


Bukan karena terkenang akan rasa cintanya pada Witri, tapi pada bagaimana perasaan Hari dengan perbincangan mereka tadi.


"Bocor banget siiiih mulutku iniiiii...." gerutu Jiwo sambil menepuk- nepuk pelan mulutnya yang nggak biasanya seember tadi membicarakannya masalah pribadinya.


Dia tadi berpikir nggak apalah sedikit berbagi cerita dengan orang yang nggak dia kenal, toh besok- besok nggak akan ketemu lagi dan pasti nggak kenal dengan orang yang dia bicarakan.


Ternyata oh ternyata....sekalinya ngember malah apes parah.


Perasaan Mas Hari gimana setelah mendengar tadi? Apa dia kesal? Atau malah merasa bersalah karena hadir diantara kisah cinta dia dan Witri? Atau nggak perduli sama sekali?


Semoga Mas Hari nggak perduli sama sekali.


Dan yang pasti semoga dia tidak menginterogasi Witri soal kisah cinta masalalunya.


"Semoga mereka selalu rukun dan bahagia." gumam Jiwo tulus.


Dalam hati dia lega bisa bertatap muka dengan seseorang yang memiliki Witri, terlepas dari kegundahannya tentang bagaimana perasaan Hari sekarang karena perbincangan mereka tadi.


Rasa penasaran tentang siapa sosok yang mampu menggeser posisinya dari benak Witri sudah terjawab kini.


Hari terlihat sangat meyakinkan bisa jadi suami yang baik untuk Witri.


Semoga benar begitu adanya.


"Mas." panggilan pelan dan tepukan pelan di bahunya membuat lamunan Jiwo langsung berantakan.


"Astagfirullahaladzim...." seru Jiwo dengan suara tertahan saking kagetnya dengan kehadiran Wildan yang tau- tau sudah berdiri menjulang di depannya.


"Gitu amat kagetnya." kekeh Wildan kemudian ikut duduk di samping Jiwo dengan santainya.


"Lho kok malah duduk?" tanya Jiwo keheranan.


"Ngadem sebentar. Habis macet- macetan tadi. Ngembaliin mood dulu sebentar." kata Wildan sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan mengedarkan pandangannya. Mencari vitamin untuk matanya dengan melihat pemandangan gadis- gadis cantik dan modis yang banyak berlalu lalang di sekitarnya.


Jiwo ikut kembali menyandarkan punggungnya. Ikut menyantaikan diri sejenak setelah beberapa saat lalu dibuat sport jantung karena keemberan mulutnya sendiri.


"Dari sini langsung ke rumah kan, Mas?" tanya Wildan sambil menoleh, menatap Jiwo yang nampak termangu walau tangannya sibuk dengan ponselnya.


"Iya. Kamu beneran tahu alamat rumah yang bakal aku tempati kan?" tanya Jiwo kembali meyakinkan.


"Tahu Mas...Tahu...Aku udah sering main di daerah rumah itu. Temenku kerja kost di daerah situ. Aku malah udah tahu letak persisnya rumahmu itu." jawab Wildan sedikit kesal.


Selama di Jakarta Jiwo memang mendapat fasilitas tempat tinggal. Sebuah rumah mungil dua kamar yang letaknya tak terlalu jauh dari kantor. Dengan sepeda motor hanya butuh waktu kurang dari dua puluh menit -bila jalanan tak macet- menuju kantor. Itu kata Wildan.


"Kamu kapan rencana pindah ke tempatku?" tanya Jiwo kemudian.


Kemarin memang Jiwo meminta Wildan ikut tinggal sama dia saja. Biar dia nggak kesepian aja sih sebenarnya. Dan juga Wildan biar bisa menghemat uangnya. Wildan nggak perlu lagi membayar uang kost. Tapi Wildan belum menjawab tawarannya itu.

__ADS_1


"Kalau aku tinggal di tempatmu bakalan jauh kalau ke kampus, Mas. Angkutan umum juga padat terus kalau dari sana. Aku males." jawab Wildan akhirnya.


"Kalau aku beliin motor buat kamu ke kampus mau nggak?" tawar Jiwo kemudian.


Wildan menoleh pada kakaknya itu sambil tersenyum lebar.


"Mau pakai banget dong, Mas!" jawab Wildan setengah berseru saking girangnya.


"Kalau aku beli motor kamu mau pindah ke rumah?" tanya Jiwo untuk menegaskan lagi keputusan Wildan.


"Mau dong! Kalau ada motor sih mau jauh juga aku nggak papa." jawab Wildan cepat. Jiwo mencebikkan bibirnya dengan ucapan Wildan itu.


"Ya udah, besok kit cari motornya." jawab Jiwo kemudian.


"Nggak hari ini aja,Mas?" tanya Wildan dengan tatapan tak sabar.


"Hari ini gundulmu!" sahut Jiwo sambil menoyor kepala Wildan pelan.


Jiwo kemudian beranjak berdiri dan mulai memegang tuas kopernya.


"Aku aja yang bawa kopernya, Mas." pinta Wildan kemudian mengambil alih handle koper dari tangan Jiwo


"Kalau mau dapet aja baiknya nggak tanggung- tanggung." gumam Jiwo yang hanya mendapat cengiran dari Wildan.


Dengan taksi online kedua kakak beradik itu meninggalkan bandara menuju 'rumah dinas' Jiwo.


Wildan yang ternyata sudah sangat hafal jalan- jalan di ibukota menerangkan jalan- jalan yang bisa Jiwo lalui untuk ke kantornya atau ke tempat fasilitas umum lain yang mungkin nanti akan di butuhkan Jiwo. Sesekali sopir taksi yang mungkin beberapa tahun lebih tua dari Jiwo menimpali keterangan Wildan.


Keduanya sampai di sebuah kompleks perumahan menjelang sore.


Meminta sang sopir taksi untuk jalan lebih pelan begitu mobil memasuki kompleks, Wildan menajamkan penglihatannya menatap ke depan agar rumah tujuan tak terlewat.


"Siap,Mas." jawab sopir tersebut dengan riang.


"Disini, Mas?" tanya sopir itu setelah menghentikan mobil di depan sebuah rumah bergaya tropis minimalis.


Jiwo menatap nomer rumah di pagar berwarna abu- abu.


Sesuai dengan yang diberitahukan padanya. Nomer 41.


"Bener ini kan,Mas?" tanya Wildan sambil menatap Jiwo.


"Bener." jawab Jiwo di susul bunyi klakson yang sengaja dibunyikan sang sopir.


Jiwo berjengit kaget karenanya.


"Maaf Mas ngagetin." kekeh sopir itu. "Biar yang ada di dalam rumah tahu kalau ada tamu." sambungnya.


Jiwo hanya meringis malu karena ketahuan kagetnya.


Dalam hati dia membenarkan juga ide itu. Harusnya akan ada satu orang OB kantor yang menunggunya datang di rumah ini. Katanya namanya Pak Dahlan.


Dan benar saja. Tak lama keluar seorang lelaki tengah baya dari dalam rumah dan menatap penuh penasaran ke arah mobil mereka.


Jiwo bergegas turun untuk menemui lelaki yang dia kira Pak Dahlan.


"Pak Jiwo ya?" tanya lelaki itu dengan ramah.


"Betul, Pak. Saya Jiwo." jawab Jiwo sambil mengulurkan tangan mengajak bersalaman.

__ADS_1


"Alhamdulillah sudah sampai. Saya Dahlan, Pak." kata lelaki itu dengan sopan. Pandangannya kemudian beralih kepada Wildan yang tengah menurunkan koper dan tas milik Jiwo


"Itu adik saya, Pak." kata Jiwo menjelaskan.


"Hanya berdua saja sama adiknya?" tanya Pak Dahlan kemudian setelah beberapa saat menatap ke rah mobil namun tak ada orang lain lagi yang turun.


"Iya." jawab Jiwo sambil tersenyum. Dia mengerti maksud pertanyaan Pak Dahlan itu.


"Oh ya udah. Mari Saya antar masuk, Pak." kata Pak Dahlan sambil bermaksud mengambil alih membawa koper Jiwo namun di cegah oleh Wildan.


"Biar dibawa yang muda aja, Pak. Nggak papa." kata Jiwo karena melihat raut wajah Pak Dahlan yang nampak tak enak hati.


Pak Dahlan mengangguk kemudian bergegas masuk diikuti Wildan sementara Jiwo membereskan urusan pembayaran dengan sopir taksi.


Jiwo baru beranjak dari halaman saat sopir taksi mulai menjalankan mobilnya dan merangkak menjauh.


Dengan langkah sengaja sangat lambat, Jiwo berjalan melewati pagar rumah sambil menatap dari sudut ke sudut bagian depan rumah yang akan dia tinggali selama bekerja di Jakarta ini.


Sebuah taman kecil ada di sisi kanan gerbang. Tanah seluas tak lebih lima meter persegi itu ditutupi rumput sintetis. Diatasnya ada tiga garden chair yang mengelilingi satu garden table dengan payung di atasnya.


Di satu sisi tembok samping taman nampak beberapa jenis pohon anggrek yang tengah berbunga juga tanaman hijau yang menjuntai menghiasi tembok. Manis di pandang.


di sisi kanan teras mungil -yang menghadap langsung ke taman mungil tadi- ada carport yang bisa untuk memarkirkan satu mobil atau tiga sampai empat motor.


Di teras sendiri ada sepasang kursi minimalis yang mengapit satu coffee table bergaya retro. Keren menurut Jiwo.


"Assalamualaikum..." Jiwo mengucap salam sebelum memasuki rumah dan dijawab oleh Pak Dahlan dan Wildan yang tengah duduk di ruang tamu.


Koper masih nongkrong di sebelah kursi.


"Kok nggak dimasukin?" tanya Jiwo sambil menatap Wildan dan jarinya menunjuk koper.


"Nunggu kamu mau milih kamar yang kanan atau yang kiri." jawab Wildan santai.


Jiwo mencari pintu kamar yang di maksud.


"Di balik partisi itu pintu kamarnya." kata Wildan seperti tahu yang di cari Jiwo.


Jiwo memutari partisi yang tadi dipunggunginya dan dia menemukan ruang keluarga mungil di balik partisi, dan matanya menemukan dua pintu yang saling berhadapan dengan satu ruangan kecil berpintu diantara kedua ruang yang berpintu berhadapan itu.


"Keren ini." gumam Jiwo saat membuka ketiga pintu itu bergantian.


Ternyata itu adalah dua kamar tidur yang dipisah oleh satu kamar mandi kecil di tengah.


"Yang kanan apa yang kiri?" tanya Wildan yang sudah menyusulnya sambil menyeret koper.


"Yang kiri aja." jawab Jiwo kemudian membuka lebar pintu kamar kemudian menuju jendela dan pandangannya bisa langsung ke area carport.


"Mau jadi satpam rupanya." kata Wildan meledek.


Jiwo hanya melengos karena niatnya memilih kamar itu untuk bisa tahu jam berapa adiknya itu pulang diketahui oleh Wildan.


Jiwo baru akan membuka mulutnya saat ponselnya berdering.


Dari Hanifah rupanya.


"Siapa?" tanya Wildan penasaran. Jiwo hanya melirik sekilas pada adiknya itu sebelum berlalu keluar kamar untuk menerima telpon itu.


"Rahasia atau nggak denger sih?" gumam Wildan sebel.

__ADS_1


...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...


__ADS_2