JANJI JIWO

JANJI JIWO
Bertemu Keluarga Kyu


__ADS_3

Meminta Witri datang ke negara ini? Apa mungkin dia akan mau? Apa mungkin dia nggak akan beralasan ini itu sekedar untuk menolak keinginannya itu secara halus?


"Coba aja dulu. Rayu dia. Kalau dia cinta, pasti akan mau, asal tinggal berangkat aja." kekeh Kyu sambil mengerling. Jiwo tersenyum samar.


Ya nggak mungkinlah dia akan tega meminta Witri datang dengan biayanya sendiri. Lelaki macam apa yang tega begitu secara dia yang punya ide dan keinginan?


"Ya, nanti akan aku coba bicarakan itu sama dia." kata Jiwo akhirnya, mencoba meneguhkan dan membulatkan tekadnya sendiri.


"Usahakan harus berhasil. Aku juga pengen kenal sama mbak calon kakak iparku itu." sahut Esti dari arah belakangnya.


"Heiisss...rasah melu- melu ngomong ( nggak usah ikut- ikutan ngomong)." sahut Jiwo dengan wajah di tekuk. Esti membalasnya dengan mengerucutkan kedua bibir tipisnya sampai seperti bibir bebek, membuat Kyu tertawa gemas melihatnya.


"Bibir kamu lucu sekali, Sayang." kata Kyu tak tahan untuk tak melontarkan kata pujian. Membuat Jiwo kembali mendengus dan Esti kembali tersipu malu.


"Sayang lagi...sayang lagi...Menggelikan." gumam Jiwo kesal.


"Iri? Bilang Boss." ledek Esti sambil terkekeh ditimpali tawa Kyu yang semakin menjengkelkan Jiwo.


"Heh kamu, pulang sana! Pulang!" usir Jiwo sambil mendorong tubuh tinggi Kyu keluar dari apartemennya. Yang di usir hanya tertawa- tawa usil meledeknya.


"Nanti aku jemput jam tujuh malam." kata Kyu sambil menunggu lift untuknya terbuka.


"Nggak usah. Nanti kami berangkat sendiri aja. Kamu repot nanti kalau harus jemput kami juga. Bilang saja kami harus kemana nanti." tolak Jiwo.


"No! Ini salah satu cara kami menyambut tamu dari jauh. Nggak akan merepotkan sama sekali. Pastikan saja calon istriku tampil mengesankan malam ini." kekeh Kyu sambil mengerling. Tentu saja itu ucapan bercanda. Karena bagaimanapun penampilan Esti nanti, Kyu yakin gadis itu akan tetap terlihat cantik.


Jiwo kembali berdecak. Kenapa rasanya menyebalkan sekali begini sih berhadapan dengan orang yang sedang bahagia karena sedang di mabuk asmara?


Apa benar kata Esti tadi kalau dia sebenarnya sedang mengidap perasaan iri?


Astagfirullahaladzim....


"Baiklah...baiklah..." kata Jiwo akhirnya memilih menurut saja.


Dan seperti yang dijanjikan oleh Kyu tadi, lelaki itu sudah muncul kembali di depan apartemen Jiwo dengan tampilan yang terlihat tambah tampan dari ketampanan yang biasa ditampilkannya.


Pun dengan Jiwo dan Esti yang malam itu mengenakan kain batik yang sengaja dibawa Esti dari tanah air.


Jiwo tampak keren dengan setelan kemeja batik motif Cirebonan modern lengan pendek dan celana kain. Sedang Esti nampak imut dengan gamis batik sederhana dan simple saja. Sesuai dengan karakter keseharian Esti yang nggak jaim dan hangat.



Makan malam kali ini memang sengaja dilakukan di rumah keluarga Kyu. Hanya dihadiri oleh keluarga inti Kyu saja. Hanya akan ada Kyu, satu adik perempuannya, kedua orang tuanya, dan satu- satunya kakek Kyu yang masih hidup. Dan mereka semua sudah pernah dikenalkan oleh Kyu pada Esti saat ada kesempatan mereka VC.


Kata Kyu hanya makan malam sederhana, jadi Jiwo dan Esti memakai pakaian semi formal saja untuk tetap terlihat santai namun tetap sopan dan menghargai tuan rumah.


"Kamu cantik sekali." Jiwo masih bisa jelas mendengar Kyu memuji adiknya saat mereka bertiga berjalan ke depan lift. Jiwo sengaja berjalan di depan mereka berdua karena malas kalau harus melihat kemesraan dua makhluk yang sedang kasmaran itu.

__ADS_1


Dia bahkan rela membawa tas yang berisi beberapa potong baju batik untuk semua anggota keluarga Kyu sebagai buah tangan Esti untuk keluarga Kyu nanti.


Sedikit tertegun Jiwo memandang mobil yang akan dikemudikan Kyu menuju rumahnya malam ini. Sebuah sedan mewah keluaran Eropa dengan seri terbaru.


"Mobilmu?" tanya Jiwo sambil menatap Kyu penuh penasaran.


"Bukan." kekeh Kyu malu. "Punya Papaku. Katanya harus membawa mobil terbaik untuk menjemput tamu istimewa kami." kata Kyu sambil membukakan pintu untuk Esti yang akan duduk di belakang.


"Aku merasa keluargamu terlalu berlebihan dalam menyambut kami." kata Jiwo nggak enak hati.


"Never mind. Kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk meyakinkan kalian kalau kami tulus dan sungguh- sungguh dengan niat kami." kata Kyu dengan senyum dan wajah serius.


"Kalau begitu, terimakasih banyak." kata Jiwo sambil menepuk pelan lengan Kyu yang sudah bersiap melajukan mobilnya.


"Ucapkan itu nanti di depan orangtuaku langsung." kata Kyu sambil tertawa ringan.


"Pasti itu." sahut Jiwo sambil tersenyum.


Perjalanan mereka yang setengah jam lebih terisi dengan berbagai pertanyaan dari Esti tentang segala hal ada di sekeliling mereka saat itu. Hingga akhirnya Kyu menghentikan mobilnya di sebuah pelataran parkir di depan sebuah rumah hanok yang terlihat begitu besar namun nampak berkesan begitu hangat.


"Kita sudah sampai." kata Kyu sambil menoleh ke arah Jiwo kemudian ke arah belakang, kepada Esti yang mulai terlihat gusar.


Tak beda dengan perasaan Jiwo yang seketika insecure melihat tampilan rumah khas Korea itu. Sangat tradisional namun sudah bisa terlihat sentuhan kemewahannya.


Sekaya apa sebenarnya keluarga Kyu ini?


Waktu itu Kyu bilang bapaknya seorang pengusaha, meneruskan usaha beberapa toko retail dan jasa laundry yang merupakan warisan dari orangtua pihak papa Kyu.


Sedang Kyu sendiri Jiwo belum lama tahu kalau memiliki usaha jasa cleaning service yang lumayan besar dan juga belum lama ini di terima sebagai seorang dosen.


Kyu yang melihat aura kegelisahan di gestur kedua tamu istimewa keluarganya itu mencoba tetap menampilkan sikap santainya, berharap kedua kakak beradik ini akan tertular sikap relax nya. Dia juga berharap banyak semoga sikap hangat keluarganya nanti akan mampu mencairkan kekakuan sikap keduanya yang baru saja nampak.


"Koyone sugih banget Yo, Mas? ( kayaknya kaya banget ya, Mas?)" bisik Esti sambil berjalan mengikuti langkah Kyu sembari memegang lengan Jiwo dengan rasa grogi.


"Ho o.( iya)". jawab Jiwo singkat Matanya menyusuri area taman depan yang tak terlalu luas namun sangat apik dan cantik tertata berhiaskan berbagai tanaman bunga yang nampak sekali sangat terawat.


Jantung keduanya semakin berdetak kencang saat samar- samar terdengar percakapan beberapa orang dengan bahasa yang hanya sebagian kecil dimengerti oleh Jiwo. Sepertinya keluarga Kyu sudah berkumpul untuk menunggu mereka.


"Assalamualaikum..." sapa Kyu untuk memberitahu kedatangan tamu mereka.


Dan degupan di dada Esti semakin menjadi saat satu demi satu sorot mata dari anggota keluarga Kyu menatap ke arah kedatangannya dan Jiwo.


"Wa' alaikumsalam." jawaban terlontar dari mulut gadis muda berhijab ungu lembut seusia Esti. Dia adalah Aera, adik Kyu yang juga sudah pernah dikenalkan Kyu pada Esti saat mereka VC. Bahkan beberapa kali keduanya sudah bertukar pesan singkat di medsos.


"Hai Esti...selamat datang di negara Oppa - Oppa." sapa Aera riang sambil menghambur cepat memeluk Esti yang masih nampak sedikit salah tingkah. Matanya mengerjap- ngerjap sambil menatap malu- malu dari balik pundak Aera pada tiga orangtua yang menatapnya dengan senyum bahagia.


Jiwo sudah memberi salam pada tiga sesepuh tersebut sambil mengenalkan dirinya. Tak lama kemudian Esti mengikuti kakaknya memberi salam pada ketiga orangtua keluarga Kyu tersebut.

__ADS_1


Malam ini mereka semua merasa beruntung dengan adanya bahasa Inggris. Entah bagaimana garingnya pertemuan mereka malam itu kalau mereka menggunakan bahasa masing- masing yang jelas kurang dipahami dengan baik oleh lawan bicaranya.


Untunglah mereka semua bisa berbahasa Inggris yang membuat acara makan malam tersebut seperti acara makan malam internasional karena benar- benar bahasa Inggrislah yang mereka gunakan sebagai alat komunikasi.


Esti nampak sangat senang karena sajian makanan yang dihidangkan sanggup menuntaskan rasa penasarannya pada makanan tradisional Korea. Ibu Kyu ternyata memiliki kedai masakan tradisional tak jauh dari rumah mereka ini.


Dan acara membuka buah tangan yang dibawa Esti adalah waktu yang sangat seru untuk mereka saat itu.


Dengan fasih Esti menjelaskan macam- macam motif batik di baju- baju yang dibawanya. Jiwo sendiri sempat keheranan dengan kemampuan Esti membicarakan soal batik.


"Mama dan Papa pernah ke Indonesia sekali. Ke Bali. Jadi belum sempat ketemu baju batik- batik cantik seperti ini. Untunglah besok kami akan ad kesempatan ke pulau Jawa. Kamu harus berjanji membawa kami ke Cirebon, ke Madura, ke Pekalongan, juga ke Jogja." kata Mama Kyu sambil menatap Esti dengan penuh harap.


Kyu tertawa mendengarnya.


"Tujuan utama kita ke Jogja itu,Ma. Itu kota tempat tinggalnya keluarga Esti. Jangan lupa." kata Kyu yang membuat sang ibu tersipu malu.


"Dan Madura, itu terpisah pulau dari pulau Jawa dimana Jogja berada. Cirebon dan Pekalongan ada di propinsi yang berbeda di pulau Jawa." jelas Kyu agar mamanya bisa membayangkan berapa lama waktu yang harus mereka siapkan kalau ingin sampai di tempat impiannya itu.


"Kami bisa sebulan di sana kalau perlu." sahut Aera dengan bersemangat, kompak dengan mamanya yang ingin ke kota pemilik batik- batik cantik itu.


"Pekerjaanmu?" tanya Kyu memotong cepat.


"Gampang lah itu." kata Aera santai.


"Apakah kakek akan kalian tinggalkan di rumah?" tanya kakek Kyu sambil menatap mereka dengan wajah masygul.


"Tentu saja tidak, Kakek."" sahut Esti kemudian beringsut cepat ke samping kakek Kyu.


"Justru kakek harus wajib ada dalam rombongan ke Indonesia nanti. Esti akan sangat senang kalau kakek berkenan hadir disana." kata Esti tulus penuh harap.


Ada kelegaaan yang nampak jelas terpancar dari wajah keriput yang masih nampak sisa ketampanannya itu.


"Tentu saja aku akan sampai di sana. Cucu lelakiku satu- satunya akan menikah. Tentu saja aku harus ada di dekatnya." kata kakek Kyu dengan riang.


"Pastikan jaga pola makanmu, Pa." ledek Papa Kyu pada bapaknya.


"Tentu saja. Aku selalu menjaga kesehatanku selama ini. Kamu yang harusnya malu karena masih suka membantah kalau di beri makanan sehat oleh istrimu." ejek kakek Kyu yang membuat yang berada disitu menahan senyum.


Satu yang bisa Jiwo lihat saat ini. Kehangatan keluarga yang tak dibuat- buat dan juga keterbukaan.


Keluarga Kyu yang kaya adalah keluarga yang hangat dan bersahaja.


Dan dia merasa tak akan salah bila dia melepaskan Esti untuk menjadi anggota keluarga Kyu. Dan kelak memiliki nama baru dengan nama marga Jeong di belakang nama pemberian orangtuanya.


Semoga dilancarkan segala sesuatunya untuk kebahagiaan adik kecilnya ini.


Dan setelah malam ini Jiwo berjanji akan berjuang lebih keras mendekati kebahagiaan untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


...🍁 b e r s a m b u n g 🍁 ...


__ADS_2