
Jiwo menatap dua kotak bekal yang duduk manis di sudut mejanya.
Kotak bekal makan berwarna biru dan putih itu membuatnya bimbang.
Kotak biru berasal dari seorang gadis yang kerja di bagian HRD. Sudah karyawan lama, tapi Jiwo tak pernah memperhatikannya sebelumnya. Sama sekali.
Namanya Dania.
Nia, begitu selama ini teman- temannya memanggil.
Gadis mungil berjilbab dan selalu nampak riang. Matanya bulat dan bersinar- sinar menyenangkan siapapun yang menatapnya.
Jiwo mengenalnya tiga bulan lalu karena harus ke bagian HRD untuk bertemu kepala HRD.
Dia mengenal Nia karena cewek itu yang menemaninya ke gedung lain perusahaan untuk bertemu kepala HRD yang sedang ada di gedung lain perusahaan mereka.
Sebenarnya bukan untuk menemani Jiwo sih, tapi bareng saja untuk ketemu kepala HRD karena Nia butuh tanda tangan secepatnya kepalanya itu untuk sebuah dokumen.
Jadilah keduanya berbincang sambil jalan ke gedung baru yang ada disebelah gedung lama kantor mereka.
Sejak saat itu entah sengaja atau tidak, setiap pagi Jiwo selalu menemukan Nia ada di sekitar pintu lobby kantor dan akan selalu membuatnya membalas sapaan Nia. Lalu setelah semua basa- basi sapaan selamat pagi, keduanya akan terlibat obrolan ringan hingga bel mulai kerja terdengar.
Mereka akan kembali bertemu lagi sore hari saat bubaran kantor kalau Jiwo tidak lembur.
Mereka akan kembali berbincang beberapa saat sampai jemputan Nia datang.
Nia selalu diantar jemput oleh ayahnya yang pensiunan AU.
Tanpa mereka sadari mereka nampak semakin dekat saja walau tak ada yang istimewa dirasa oleh Jiwo dari gadis periang itu.
Jiwo kini berganti menatap kotak bekal berwarna putih.
Bekal berisi sarapan dari Ayu. Resepsionis yang lemah lembut di kantornya.
Gadis Palembang yang berkulit putih dan sangat halus tutur katanya.
Jiwo sudah mengenal Ayu sejak gadis itu bekerja di sini empat tahun lalu.
Sejak awal Jiwo dan Ruslan memang suka bercanda dengan Ayu.Bercanda antar teman kerja saja.
Namun sejak tiga bulan lalu, sikap Ayu padanya bertambah manis. Selalu mengingatkannya untuk tak telat makan.
Tiga bulan lalu Jiwo memang nyaris pingsan di meja resepsionis yang sedang ditunggui Ayu.
Setelah dibawa ke poliklinik perusahaan, ternyata Jiwo menderita maag akut. Sejak tahu hal itu, Ayu jadi rajin membawakannya sarapan.
Kadang memang Jiwo makan, tapi lebih sering dimakan oleh teman- temannya yang belum sarapan dari rumah, atau yang sudah sarapan tapi merasa belum kenyang.
Bukan Jiwo tak pernah menolak pemberian bekal makan itu, tapi dua gadis itu selalu memaksa dengan caranya masing- masing.
Ayu dengan cara menaruh langsung kotak bekalnya dimeja Jiwo setiap pagi sebelum Jiwo sampai di kubikelnya kemudian akan mengiriminya pesan untuk memberitahu Jiwo soal kotak makan itu.
Sedang Nia selalu mengulurkan bekalnya pada Jiwo di depan orang lain yang membuat Jiwo tak sampai hati mempermalukan Nia bila sampai harus menolak uluran bekal itu.
Jiwo tahu dua gadia itu bersaing untuk mendapatkan hatinya.
Bahkan dia mendengar selentingan kalau Nia dan Ayu kini terlibat perang dingin karena 'cinta segitiga' mereka ini.
Jiwo mendengus pelan.
Cinta. Cinta apa?
Bila boleh membandingkan untuk memilih salah satu diantara keduanya,Jiwo lebih suka memilih Ayu.
Pembawaannya yang lemah lembut dan sabar membuat Jiwo menaruh sedikit simpati.
Bukannya Nia tak pantas disukai.Bukan.
__ADS_1
Nia gadis baik.Tapi sikap periang Nia kurang disukai Jiwo. Terlalu rame dan berisik menurutnya.
"Perlu bantuan nggak buat makan yang dipojokan itu,Wo?" tepukan di bahunya membuat Jiwo berjengit kaget.
Hendi adalah salah satu team penyapu bekal gratisnya Jiwo.
"Ada makanan cuma dilirik aja dari tadi.Kamu pikir kotak itu bakalan bertekuk lutut sama lirikan kamu?" ledek Hendi sudah dengan menatap penuh hasrat pada dua kotak bekal di sudut meja Jiwo.
"Kamu bukannya tadi udah sarapan tekwan ya?" tanya Jiwo sambil mengangkat wajahnya, menatap Hendi yang berdiri di sampingnya.
"Udah. Tapi masih muat kalau buat ngabisin isi kotak itu." jawab Hendi sambil terkekeh kecil.
Jiwo berdecak pelan.
Dasar maruk!
"Ruslan tadi bilang lapar.Buat dia aja kalau gitu. Kamu next time lagi." kata Jiwo dengan nada tegas yang disambut anggukan kecewa Hendi yang langsung ngeloyor kembali ke meja kerjanya.
"Ruslan kemana, Wi?" tanya Jiwo padanya Dwi yang duduk di kubik sebelahnya.
"Ke ruangan Pak Teddy barusan." jawab Dwi tanpa menoleh karena sedang tekun dengan komputernya.
"Kamu mau makan bekalku nggak?" tawar Jiwo pada Dwi.
Kali ini Dwi menoleh sambil tersenyum dan menggeleng.
"Makasih. Masih kenyang." jawab Dwi.
"Ya udah." kata Jiwo mengerti.
"Lagian nggak enak Wo kalau pas kita makan sampai ketahuan Ayu atau Nia.Mereka pasti kecewa dan merasa dimanfaatkan." kata Dwi santai.
Jiwo termangu.
"Aku udah berkali- kali ngomong sama mereka untuk nggak bawain aku bekal, tapi mereka ngeyel." kata Jiwo mencoba membela diri.
"Aku nggak bisa milih." sahut Jiwo pelan.
Aku nggak mau salah satu diantara mereka berdua.
"Kalau nggak mau dua- duanya, kamu harus bersikap tegas.Minimal beri garis batas yang jelas kalau kalian nggak bisa jalan bareng. Salah satu caranya tolak bekal itu. Jangan menggantung perasaan anak orang, Wo. Kasihan. Apalagi sampai memberi mereka harapan palsu.Jangan." kata Dwi bijaksana.
Jiwo menyandarkan kepalanya ke sandaran kursinya.
Kepalanya mendongak menatap langit- langit kantor yang putih bersih.
Apa yang dikatakan Dwi benar adanya.
Kasihan dua gadis itu.
Jiwo nggak bisa memberikan apapun pada dua gadis itu.
Jangankan kepastian, harapan bisa mencintai saja Jiwo nggak bisa.
Cinta di hatinya sudah dia babat habis seiring niatnya mengikhlaskan Witri menjalani takdirnya.
Dan sampai kini tak sedikitpun kuncup cinta baru nampak tumbuh di relung hatinya.
Belum.
Jiwo belum bisa menumbuhkan rasa cinta lagi dihatinya.
"Nanti aku ngomong sama mereka deh." kata Jiwo akhirnya.
"Bagus! Semakin cepat semakin baik,Wo. Baik buat mereka, baik buat kamu juga." sahut Dwi cepat.
"Thanks,Wi." kata Jiwo sambil menoleh sekilas pada Dwi yang tersenyum padanya.
__ADS_1
Dan sore itu juga, dengan ditega- tegakan Jiwo mengulurkan kotak bekal berwarna biru yang kosong pada Nia sambil berkata lugas.
"Mulai besok jangan lagi memberiku bekal ya,Ni.Aku mohon." kata Jiwo sambil berusaha tetap tersenyum dengan wajah serius dan tegasnya.
Wajah gadis itu nampak sekali menunjukkan keterkejutan.
"Kenapa, Mas?" tanya Nia setelah terdiam sejenak.
"Aku harus jaga perasaan pasanganku. Aku harap kamu mengerti ya." kata Jiwo semi berdusta.
Setengah berdusta karena nyatanya saat ini Jiwo tak punya pasangan. Namun bila nanti dia punya pasangan, sudah pasti dia akan berusaha menjaga perasaan kekasihnya bila dia memilikinya.
"Ka...kamu su...sudah punya pa... pacar?" tanya Nia tak mampu lagi menahan kesedihannya.
Wajahnya langsung digelayuti mendung tebal dan nampaknya sebentar lagi akan terjadi hujan di wajahnya.
Jiwo tak menjawab. Hanya langsung menunduk yang dikira Nia mengiyakan dugaannya.
Hatinya hancur seketika.
"Kenapa nggak bilang dari dulu?" tanya Nia lirih sambil mengusap buliran bening di pipinya yang jatuh dari pelupuk matanya.
Jiwo nggak tega melihatnya.
Dia tahu saat ini dia tengah membuat patah hati gadis di depannya ini.
"Maafkan aku, Ni." kata Jiwo penuh sesal.
"Sejak kapan kamu punya pacar? Sejak dulu atau baru?" tanya Nia setelah berhasil menguasai kekacauan perasaannya.
Jiwo memilih tak menjawab pertanyaan Nia.
Jiwo memilih tersenyum saja sambil menggeleng kecil.
Dia nggak mau berbohong.
"Apa Ayu?" tanya Nia kemudian dengan tatapan yang sangat jelas terluka dan kalah.
Jiwo menggeleng pelan.
"Bukan. Bukan dia." jawab Jiwo tegas yang mampu membuat sedikit binaran di mata Nia.
Setidaknya dia tak kalah saing dengan Ayu dalam perebutan cinta ini.
"Lalu siapa? Anak mana?" tanya Nia dengan nada penasaran.
"Kamu nggak perlu tahu,Ni." jawab Jiwo sambil tersenyum meminta pengertian.
"Baiklah kalau kamu nggak mau ngasih tahu, nggak papa. Aku juga bukan orang penting buatmu kan?" kata Nia getir.
Jiwo mematung, bingung harus berkata apa agar tak menyakiti hati Nia lebih dalam namun juga tak menumbuhkan bibit harapan baru bagi gadis itu.
"Ayahmu sudah datang." kata Jiwo saat pandangannya menatap keluar dan melihat ayah Nia.
Lega sekali akhirnya bisa segera keluar dari suasana menegangkan ini.
Gadis itu ikut melemparkan pandangannya ke tempat biasa ayahnya menunggunya.
Dia melangkah begitu saja meninggalkan Jiwo tanpa berpamitan. Namun Jiwo melihat tangan gadis itu berulangkali mengusap wajahnya. Mungkin menghapus airmatanya.
Maafkan aku ya, Ni....
...💧💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧💧...
Alhamdulillah bisa up hari ini walau malem 😅😅😅
Yang punya jatah vote Senin nganggur, boleh ya dilemparin ke Jiwo biar semingit dianya 😄😄😄
__ADS_1
Happy reading semuanyaaaaa....❤️