
Keberadaan pakaian di tubuh mereka terasa sangat mengganggu saat ini.
Dengan gerakan secepat kilat Hari yang menegakkan tubuhnya dengan bertumpu pada kedua lututnya melepas kaosnya dan membuat dada Witri berdetak lebih kencang saat melihat pahatan tubuh suaminya itu.
Ini bukan kali pertama Witri melihat tubuh bagian atas milik Hari. Tiap habis mandi Hari biasa keluar kamar mandi hanya memakai celana kolor dan bertelan jang dada. Tapi mengapa kali ini tubuh itu terlihat begitu memikat?
Dada yang terlihat terpahat berbentuk kotak begitu membuat terkesan sangat kuat.
Perutnya juga kotak- kotak. Terlihat ....seksi karena nampak sedikit kemilau oleh keringat yang mereka buat barusan.
"Boleh dilepas nggak kaosmu?" tanya Hari sambil kembali merapat ke arahnya. Tangannya meraih ujung kaos Witri yang juga dipegangi pemiliknya.
Matanya menatap mesra dan merayu ke mata Witri yang rasanya ingin lari dan sembunyi karena malu.
"Nggak usah. Malu." jawab Witri sambil bergegas menrunkan dan merapikan kaosnya yang tadi sudah tersingkap ke atas.
Dia bahkan bergegas meraih selimut untuk menutupi area dadanya.
Hari terkekeh melihat kelakuan Witri barusan.
"Ya udah nggak papa." kata Hari yang langsung menyerang telinga Witri dengan ciumannya.
Suhu tubuh yang belum normal sepenuhnya serta nalar yang belum kembali lurus tadi, kembali terasa di paksa merambat naik lagi seiring petualangan lidah Hari menyusuri daun telinga Witri.
Belum lagi suara hembusan nafas Hari yang terasa hangat dan mulai berat dan tak beraturan, menambah sesuatu yang belum pernah Witri rasakan sebelumnya semakin bangkit dan menguasai akal sehatnya.
Dia malu dan jengah dengan kedekatan ini. Namun raga dan hatinya tak ingin menolak ajakan gerakan tubuh Hari untuk menikmati petualangan baru di malam mereka.
Ini memabukkan.
Witri kembali mengeluarkan suara intimnya. Dan tubuhnya kembali bergerak gelisah saat bagian belakang telinganya menerima kelincahan lidah dan bibir Hari.
Sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya terasa memenuhi hatinya bahkan memaksanya untuk mengeluarkan sisi terliarnya.
Perasaan yang begitu membuncah dan penuh harap bahkan menuntut.
Dia begitu melambung dan tak menginginkan hal lain lagi selain adanya Hari dan kenikmatan yang tengah terasa kini.
Gumaman lirih kian tak henti lolos dari sela bibir Witri dan itu kian membakar hasrat Hari.
Nafasnya terdengar kian memburu seiring tangannya yang kembali merayap ke bagian depan dalam kaos Witri.
Penolakan melepas kaos tadi sudah tak berlaku kali ini.
Nyatanya Witri tak menghentikan tangan Hari yang menarik ke atas kaosnya bahkan sudah meloloskan kaos itu melewati kepalanya.
Diserang di dua titik sensitifnya secara bersamaan tentu saja membuat Witri melambung tak terkendali dan lupa pada dirinya sendiri.
Dia semakin men de sah saat puncak dadanya telah dikuasai oleh ujung telunjuk dan jempol Hari.
Dan sebuah rasa nikmat dan lega yang baru kali ini dia rasakan begitu saja terengkuh saat bibir Hari telah merayap menuruni lehernya dan kini tengah menikmati salah satu aset depannya.
Ini yang dia inginkan dari tadi namun malu memintanya.
Witri menjerit tertahan untuk meluapkan perasaan indah yang tak terperi.
Sesuatu yang basah telah melanda area bawahnya.
Senikmat ini rasanya dimanjakan...Membuat enggan berhenti dan ingin terus menikmati tanpa lelah.
"Suka?" tanya Hari dari depan dadanya.
"Hmmm..." Witri tak rela Hari terlalu lama meninggalkan kenikmatan yang dia ciptakan di dadanya.
Dan jawaban singkat Witri itu nyatanya menjadi awal keindahan dan kenikmatan baru yang bertubi- tubi diberikan Hari padanya hingga ia lelah dan ingin lebih lagi walau dia malu mengakuinya.
Tangan Hari masih tertib dan hanya berkeliaran di daerah atas pusarnya.
Tapi kini dia ingin lebih lagi.
Bagian bawah tubuhnya ingin di jamah juga.
Bagaimana ini?
__ADS_1
Puncak dadanya sudah terasa perih dan Witri sudah berkali- kali mendorong kepala Hari untuk beralih dari sana. Namun sepertinya lelaki itu sangat betah tinggal disana.
Bagaimana kalau dia aku balas? Biar dia tahu perihnya puncak dada kalau terus diserang?
Setelah mengangkat paksa kepala Hari dari dadanya,Witri langsung melancarkan aksi balasannya.
Melakukan semua yang tadi telah dilakukan Hari padanya. Semua. Tanpa terkecuali.
Hari mendapatkan balasan yang sangat sama persis.
Kini dia bisa merasakan sensasi dan debaran dada serta luapan hasrat yang tadi dirasa Hari saat semua cum bu annya berhasil meloloskan sebuah suara yang terdengar begitu intim dari sela bibir suaminya.
Ini menyenangkan dan entah mengapa membuatnya merasa bangga melakukannya.
Suaminya senang menikmati semua yang dia lakukan saat ini.
Inikah yang namanya melayani dan memanjakan? Ternyata rasanya begitu membanggakan.
Keduanya semakin tergulung balutan hasrat yang nyaris semakin membakar mereka.
Namun kegiatan membangun surga dunia mereka tiba- tiba harus terhenti saat terdengar gedoran di pintu depan.
Gedoran, bukan lagi ketukan.
Hari langsung terduduk sambil menangkap kepala Witri ke dadanya.
"Siapa?" tanya Witri berbisik sambil mendongak menatap wajah Hari. Nafasnya masih tersengal-sengal belum beraturan.
"Nggak tahu." jawab Hari ikut berbisik.
"Har...! Bangun,Har...! Si Sul ngamuk." teriak suara dari luar.
"Pak Iksan, Jeng." bisik Hari kemudian bergegas mencari bajunya.
"Sulaiman pasti mukulin istrinya lagi." kata Hari sambil memakai kaosnya.
Witri melongo.
Memukuli istrinya? Lagi? Udah biasa mukulin istri dong?!
"Ya, Pak." terdengar suara Hari sambil membuka pintu.
"Cepet! Lama banget sih! Lagi main ya? Diketuk- ketuk nggak denger." terdengar suara Pak Iksan sambil menjauh. Witri masih mendengar Hari tertawa.
Witri tersenyum malu mendengarnya.
Memang keliatan ya kalau habis begituan?
Witri menunduk menatap tubuhnya bagian atas yang masih polos.
Dirabanya tanda- tanda merah di beberapa tempat di dadanya.
Hasil karya mas bojo.
Witri terkekeh sendiri dengan wajah yang dirasanya menghangat.
Ternyata tubuhnya bisa jadi kanvas buat bibir suaminya, hihihi...
Cukup lama Witri membelai bagian- bagian tubuhnya yang tadi telah disentuh bahkan telah dikuasai oleh Hari.
Ia kembali bertingkah absurd dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena malu.
"Aku kenapa sih ini? Bikin malu aja!" gumam Witri dengan tersenyum malu.
Witri kemudian beringsut turun dari ranjang setelah memakai kembali kaosnya untuk ke kamar mandi.
Dia harus membersihkan dirinya, terutama area bawahnya yang dirasanya telah basah karena kegiatannya bersama Hari tadi.
Witri tercenung saat dia melepas kain segitiga penutup bagian inti dirinya itu.
Basah.
Dan dia ingat bagaimana tadi dia merasakan terjangan gelombang kenikmatan yang membuat area bawahnya merasakan sensasi yang menuntut, membuat resah, sekaligus terasa nyaman dan kemudian lega.
__ADS_1
Dia tadi mengalami pelepasan itu.
"Nikmatnya...." gumam Witri dengan senyum mengembang dan tatapan menerawang.
Dia kembali bimbang saat akan memutuskan untuk mandi besar sekalian atau mandi kecil dulu. Siapa tahu kan Hari masih ingin melanjutkan kegiatan mereka lagi nanti, ihihihi....
"Mandi besarnya besok aja deh." putus Witri akhirnya setelah mengambil wudhu. Dia hanya mengguyur badannya kemudian bergegas menyabuni tubuhnya dan kembali tersenyum
saat menyentuh kedua aset depannya.
Kenapa aku pengen lagi sih? Ish, memalukan!
Tanpa sadar Witri menepuk dahinya dengan tangan yang masih penuh dengan busa sabun hingga membuat busa masuk ke dalam matanya dan membuat matanya pedih.
"Aduh!" pekik Witri sambil meringis menertawakan kekonyolannya sendiri.
Witri sedikit tersentak saat di dengarnya panggilan Hari di depan pintu kamar mandi.
Dia tak mendengar Hari membuka pintu depan.
Rumah yang mungil memang sangat memungkinkan semua pergerakan terdengar dari tiap sudut rumah.
"Kamu kenapa, Jeng?" tanya Hari sambil mengetuk pelan pintu kamar mandi.
"Nggak papa. Cuma mataku kemasukan busa sabun." jawab Witri setelah membasuh wajahnya dari busa sabun.
Busa sabun? Dia mandi?
"Kamu mandi?" tanya Hari penasaran.
"Iya."
"Kok udah mandi sih?" tanya Hari dengan nada sedikit kecewa.
Klek.
"Belum mandi besar kok. Cuma tadi nggak nyaman aja yang dibawah, jadi aku mandi. Lagian kirain kamu pulangnya lama." kata Witri tanpa menyadari wajah melongo Hari yang menatapnya dari bawah ke atas, balik lagi ke bawah berulangkali.
Ini pertama kali dia melihat Witri berpenampilan semi hot seperti ini.
Tubuhnya hanya berbalut selembar handuk yang hanya menutupi area dada hingga ke paha bagian atas.
Leher jenjang dan bahu mulusnya berhias helaian rambut yang terlepas dari ikatannya. Terlihat seksi.
Paha yang terekpose juga sangat menggoda untuk di belai.
Glek!
Kerongkongan Hari rasanya tercekik melihat pemandangan tengah malam itu.
"Cepet masuk kamar." kata Hari tanpa berkedip.
"Ha?"
" Jangan pakai baju." kata Hari tanpa melepaskan tatapannya pada belahan dada yang sedikit mengintip.
"Ha?"
"Begitu saja."
"Ha?"
"Aku mandi sebentar biar seger." kata Hari sambil bergegas menerobos lewat samping Witri yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.
Witri masih terpaku beberapa saat sebelum menyadari ucapan- ucapan Hari.
Dia tersenyum malu sambil mendekap dadanya sambil melangkahkan kakinya masuk ke kamar dan menuruti permintaan Hari.
...💧💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧💧...
Nongol lagi setelah berhari- hari ......🙈
Kali ini bersama kemunculan mas Hari, author labil ini ingin memohon maaf sebesar- besarnya bila ada tulisan atau balasan komentar yang menyinggung atau menyakitkan 🙏🙏🙏
__ADS_1
Selamat hari raya Idhul Fitri buat saudaraku yang merayakan.
Mohon maaf lahir batin ya....🤗🤗🤗