
Seperti yang dijanjikan sebelumnya, selesai dengan chamchi, Witri mengiringi langkah Jiwo menuju gerobak penjual eomuk yang jaraknya lumayan jauh.
Beruntung matahari nggak nampak batang hidungnya saat ini.
Cuaca cukup sejuk dan berjalan kaki terasa sangat menyenangkan kali ini.
Kali ini Witri dibuat sedikit terpesona dengan performa Jiwo yang nampak lumayan lancar ngobrol memakai bahasa korea dengan ibu- ibu penjual eomuk itu.
Bahkan Witri curiga kalau dia jadi salah satu bahan obrolan mereka berdua karena sesekali Jiwo melirik padanya dan ibu itu juga tertawa menanggapi obrolan Jiwo sambil sesekali menatapnya dengan sopan.
Awas aja kalau nanti nggak mau cerita dia ngobrolin apa, ancam batin Witri pada Jiwo.
Keduanya pergi dari lapak itu setelah sama- sama mengucapkan kamsahamnida pada ibu penjual eomuk itu.
"Tadi ngobrolin apa sama ibu- ibu itu?" tanya Witri saat mereka sudah duduk di sebuah bangku di dekat apartemen Jiwo.
"Aku nggak ngerti sama sekali obrolan kalian." kata Witri lebih mirip keluhan. " Ngomongin aku ya?" tuduh Witri kemudian.
Jiwo tertawa pelan.
"Sukanya su'udzon sama orang." kata Jiwo sambil terkekeh.
"Kalian ketawa- tawa, terus ibu itu sambil ngeliatin aku dikit- dikit. Pasti lagi ngomongin aku kan itu?" tebak Witri tetap keukeuh dengan dugaannya.
"Iya." jawab Jiwo tak mau membuat Witri makin mikir yang aneh- aneh.
"Nah kan! Apa kubilang?" sergah Witri merasa dugaannya seratus persen benar, kalau dia tadi jadi bahan ghibahan Jiwo dan ibu penjual eomuk itu. Bahkan mereka ghibah di depan mukanya!
Ck....ck...ck...hebat sekali mereka berdua. Malang sekali dia yang nggak paham bahasa Korea sama sekali.
"Ibu itu bilang kamu cantik banget. Wajahnya khas katanya." kata Jiwo memotong omelan Witri yang sudah siap meluncur dari balik bibirnya yang sudah mengerucut.
Wajah Witri tiba- tiba tersipu malu.
"Ecieeee yang tersipu malu..." ledek Jiwo sambil menunjuk wajah Witri yang langsung melengos.
"Nggak!" sergah Witri masih dengan memalingkan wajahnya.
Siapa yang nggak GR dipuji oleh wanita lain dengan sebutan cantik masih ditambah embel- embel kata 'banget'? Walau pun bisa saja sih itu bokisan Jiwo aja buat dia. Tapi apapun itu kan tetap wajar dong kalau tersipu saat di puji cantik oleh seseorang?
"Terus ngomongin apalagi tadi?" tanya Witri kemudian, setelah yakin Jiwo sudah nggak akan meledeknya lagi.
"Ibu itu tanya apakah kamu juga sama dengan aku yang dari Indonesia. Aku jawab iya. Bahkan aku bilang kita satu kelas dulu pas di SD." jawab Jiwo tak bohong.
"Ibu itu tahu kamu dari Indonesia?" tanya Witri nggak percaya.
"Hmmm..." jawab Jiwo karena dia sedang mengunyah sepotong eomuk di mulutnya.
__ADS_1
"Aku suka jajan di tempat dia. Jadi sesekali ngobrol juga sama dia. Bisa dibilang dia yang ngajarin aku bahasa Korea sampai agak lancar begini." kata Jiwo kemudian.
"Aku agak terkesima saat liat kamu ngomong bahasa Korea tadi." kata Witri tanpa menyembunyikan wajah kagumnya.
"Aneh ya?" tanya Jiwo sedikit tersipu.
"Enggak sih. Udah kayak oppa- oppa juga ngomongnya." jawab Witri dengan wajah serius. Jiwo meringis malu sekaligus merasa dadanya mengembang karena merasa bangga dengan pujian yang di dengarnya barusan.
"Besok kalau udah pulang ke Indonesia bisa buka kursus bahasa Korea buat calon TKI." sambung Witri yang malah membuat tawa Jiwo meledak.
"Kamu ngeledeknya kebangetan!" kata Jiwo di sela derai tawanya.
Membayangkan dirinya berdiri di depan kelas yang berisi orang- orang dewasa dan mengajari mereka bahasa Korea sudah membuat Jiwo geli duluan.
Tak terbayangkan bagaimana caranya mengajari orang berbahasa asing, apalagi bahasa belibet seperti bahasa Korea ini. Nggak deh. Makasih idenya.
"Kita nanti sholat dimana?" tanya Witri saat dirasanya sebentar lagi mereka harus menjalankan kewajiban mereka sebagai seorang muslim.
"Oh iya...Kamu akan aku ajak ke masjid di dekat sini. Belum lama adanya." kata Jiwo seperti diingatkan.
"Oke." jawab Witri pendek. Masjid adalah tempat paling netral dan aman buat mereka yang bukan mahram.
"Kita bisa berangkat sekarang kalau kamu nggak keberatan. Biar kita bisa ikut berjamaah." ajak Jiwo karena dilihatnya sudah tak ada lagi makanan yang harus mereka habiskan.
Semua sudah tandas mereka sikat berdua.
Tinggal dua gelas minuman milik mereka yang masih tersisa seperempat isinya
"Jauh nggak masjidnya?" tanya Witri sambil menoleh ke arah Jiwo yang berjalan di sampingnya.
"Nggak jauh. Hanya dua belokan dari sini." jawab Jiwo sambil balas menatap Witri yang mengangguk- angguk kecil dengan wajah flat nya.
Tetap manis walau dengan wajah datar seperti itu.
"Setelah dari masjid, kamu keberatan nggak kalau kita ke satu tempat lagi?" tanya Jiwo dengan ragu.
"Tapi kalau kamu lelah, kita langsung balik ke hotel juga nggak apa-apa." sambung Jiwo lagi.
"Mau ngajak kemana emangnya?" tanya Witri sedikit penasaran.
"Sedikit menikmati suasana malam aja " jawab Jiwo sambil tersenyum kecil. "Aku mau tunjukin ke kamu cafe tempat biasa aku nongkrong sama sahabat- sahabatku kalau lagi libur kerja." kata Jiwo sedikit bersemangat.
"Boleh..." kata Witri yang membuat Jiwo menarik nafas lega dan memasang senyum bahagia.
Menikmati suasana malam bersama pujaan hati di rantau orang adalah salah satu impiannya. Dan sebentar lagi impian itu akan bisa diwujudkannya bersama Witri. Oh senangnya.
Witri sedikit terperangah saat Jiwo menghentikan langkah di depan satu pintu bangunan yang ada tulisan mosque kecil di daun pintunya.
__ADS_1
"Ini masjidnya?" tanya Witri dengan nada keheranan pada Jiwo yang tersenyum saja sambil mengangguk.
"Kita bukan di Indonesia yang masjidnya segede gambreng walau jamaahnya cuma setengah shaf tiap jamaah sholat." kata Jiwo sambil terkekeh dan berjalan mendahului Witri untuk membuka pintu itu.
Witri meringis dalam hati sambil mengikuti langkah Jiwo.
Senyum Witri mengembang begitu mengedarkan pandangannya di sekelilingnya seusai melewati pintu masuk masjid.
Di kiri kanan pintu masuk ada beberapa gazebo kecil yang bisa muat untuk dua atau tiga orang saja.
Bangunan utama yang di maksud sebagai masjid berupa bangunan terbuka dengan dinding yang hanya setinggi pinggang orang dewasa.
Dinding penuh dengan ornamen bernuansa timur tengah.
"Tempat wudhu cewek ada di sebelah sana." kata Jiwo sambil menunjuk ke arah sudut bagian dalam.
"Nanti kita ketemu disini ya?" pinta Witri sebelum meninggalkan Jiwo.
"Oke." jawab Jiwo sebelum bergegas menuju tempat wudhu untuk laki- laki.
Witri sedikit takjub dengan orang- orang yang ditemuinya di dalam masjid seusai dia berwudhu.
Berbagai ras manusia ada dilihatnya.
Ada yang berwajah khas Korea, ada yang bergaris wajah Hindustan, ada yang berwajah Eropa lengkap dengan mata birunya, ada yang bergaris wajah Melayu, ada yang berwajah Arab juga.
Tidak banyak jamaah di masjid ini, namun seolah seluruh jenis ras manusia ada berkumpul disini. MashaaAllah....
Witri menatap sekilas keberadaan Jiwo di shaf untuk kaum Adam di depan sana.
Dalam hati dia tersenyum.
Lelaki itu taat pada Tuhannya sejak kecil dulu. Dan dia merasa beruntung bisa merasakan sama- sama berjamaah di masjid yang sama bahkan dalam keadaan sama- sama jauh dari negara mereka.
Suara iqamah memutus lamunan singkat Witri.
Seusai memanjatkan doa seusai jamaah shalat, Witri bergegas menuju tempat yang mereka jadikan tempat untuk saling menunggu.
Saat sejenak mengerling ke arah shaf para lelaki tadi, Witri sudah tak melihat sosok Jiwo. Bisa dipastikan lelaki itu sudah lebih dulu menunggunya.
"Sorry harus nunggu." kata Witri begitu sampai di samping Jiwo yang duduk menunggunya di salah satu gazebo.
"Nggak papa. Nggak lama juga kok." jawab Jiwo sambil bergegas berdiri.
Keduanya kemudian mencari taksi setelah mengambil beberapa photo di sekitar masjid.
Dari sini mereka akan ke cafe yang harus di tempuh dengan taksi sekitar lima belas menit perjalanan.
__ADS_1
Witri nggak keberatan saat Jiwo bilang nanti akan mengenalkannya pada dua sahabatnya, Kyu dan Arata.
...🍁 b e r s a m b u n g 🍁...