
Seperti permintaan Witri, Hari pulang sebelum matahari terbenam.
Hari mengetuk pintu kamar yang tertutup saat dicarinya Witri di seantero rumah tak ditemukan juga.
"Jeng..." panggil Hari saat beberapa kali ketukannya di pintu tak mendapat sahutan.
Dengan hati- hati Hari membuka pintu kamar dan mendapati Witri tengah terlelap dengan posisi yang tak nyaman.
Dia tidur meringkuk dengan kedua kakinya menggantung sebatas betis di tepi ranjang.
Kemungkinan Witri hanya rebahan trus ketiduran.
Hari mendekat dan menatap tampilan Witri dalam jarak satu langkah
Dia berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada seerat mungkin agar tidak menuruti pikiran 'kurang ajar' nya yang ingin membelai tubuh Witri sekalipun seujung jari saja.
Tidak. Jangan. Nanti Witri ngambek kalau kecolongan gitu.
"Cantik. Manis." gumam Hari sambil tersenyum sendiri menatap sisi wajah Witri.
Tatapannya sedikit menurun menatap leher Witri yang terlampiri beberapa helai rambutnya.
Kenapa leher itu keliatan seksi sih?
Hari menghembuskan nafasnya nyaris tersengal.
Ck...katanya mau sabar...baru liat lehernya aja udah kayak gini...Gimana liat lainnya?
Jantung Hari nyaris copot dari tempatnya karena kaget saat tiba- tiba Witri berubah posisi tidur dengan gerakan cepat dan posisi tidurnya sekarang adalah....
Alamakjaaaang....
Hari melongo menatap posisi yang tengah Witri suguhkan di depannya.
Kedua tangan Witri terangkat ke atas kepalanya, membuat kaos berpotongan pendek yang dipakai Witri otomatis ikut naik dan sukses menyuguhi mata Hari dengan pemandangan setengah perut mulusnya.
Glek!!
Tanpa sadar Hari menelan salivanya kasardan tergesa.
Belum cukup sampai disitu saja suguhan senja ini bagi mata Hari.
Saat ini kedua kaki Witri kini menapak lurus di bibir ranjang dan posisi kedua kakinya me ngang kang di pinggir ranjang.
Astagfirullahaladzim istriku...
Hari bergegas membalik tubuhnya membelakangi Witri sambil satu tangannya memegangi dadanya yang berdetak tak beraturan dan satu tangannya memegang kepalanya yang langsung berdenyut.
Berat amat cobaan sabarku ya Allah...
"Eh, Mas!" suara kaget Witri membuat Hari terlonjak saat dia masih menikmati kekacauan dalam detak jantung dan kepalanya.
Hari dengan sungkan membalikkan badannya dengan gerakan kaku dan ragu.
Udah bener belum posisi Witri ya?
Dengan ragu Hari menatap ke arah Witri yang teryata sudah duduk bersila di atas ranjang dan sedang merapikan ikatan rambutnya.
Kaos berpotongan pendek yang dipakai Witri saat itu membuat perut mulusnya kembali sedikit terlihat mengintip kala kedua tangannya terangkat untuk mengikat rambutnya di belakang.
Ya Allah ya Rabb...Witri...geram batin Hari kesal sendiri dengan matanya yang enggan di ajak berpaling.
Hari kembali membalikkan tubuhnya.
Hah, aku nggak punya sabar kalau harus ngadepin kayak ginian.
"Maaf aku ketiduran tadi,Mas." kata Witri sambil beringsut turun dari ranjang.
Wajahnya santai saja menatap Hari yang sedang tak santai saat ini.
"Nggak papa. Kamu pasti capek dari tadi belum Istirahat. Harusnya tadi nggak udah bantuin angkat- angkat perabotan juga." kata Hari sambil tersenyum.
"Terus kalau aku nggak bantuin kamu bisa ngangkat sendiri? Atau lebih suka ngerepotin orang lain ya?" tukas Witri dengan wajah cemberut.
"Ya nggak gitu juga maksudnya..."sahut Hari cepat.
Salah melulu ya ngomong sama perempuan nih...
__ADS_1
"Nanti kita makannya gimana,Mas? Aku belum bisa masak. Belum ada yang bisa dimasak." tanya Witri sambil beranjak duduk di lantai bersandar tembok di dekat pintu kamar.
Kedua kakinya tertekuk di depan dada.
Melihat pose begitu saja pikiran Hari sudah amburadul lagi.
Apalagi mata elangnya malah langsung tertuju menatap ke arah tengah kedua paha Witri yang nampak sedikit membukit.
Hari bergegas memutar kembali tubuhnya.
Aseeeemmm..Mbok yang sopan kenapa sih taaa...mataaaa....
Kenapa juga Witri sembarangan gitu duduknya?
"Duduk yang manis dong, Sayang. Tolong jangan begitu duduknya." kata Hari dengan nada hati- hati sambil menunjuk ke arah kaki Witri walau tak menatapnya.
Raut wajahnya terlihat nggak karu- karuan. Antara menahan malu, rikuh, dan pengen melirik.
Witri bergegas merapatkan kakinya kemudian berselonjor dengan wajah salah tingkah.
Wajahnya bahkan terasa hangat saking malunya.
Mungkin terlihat merah padam di mata Hari.
Hadyeeeeh, sembrono banget sih aku! Bikin malu aja.
"Maaf Mas...Maaf... kebiasaan bar- bar." kata Witri sambil meringis malu.
Kalau ketahuan Bu Dukuh bisa langsung dipecat aku jadi mantunya hari ini juga.
"Seharusnya sih nggak papa kalau kita lagi berdua gini. Tapi kalau sekarang ini jangan begitu dulu. Aku belum kuat." kata Hari sambil meringis malu.
Witri tersenyum salah tingkah. Dia mengerti maksud dari kata 'belum kuat' nya Hari.
Dia penyebab ketidaknyamanan kebebasan bertingkah di depan pasangan halal.
Karena Hari ingin menuruti keinginannya beradaptasi dulu dengan keberadaan Hari.
Alasan macam apa itu?
Kalau ada yang mendengar alasannya itu, apa nggak jadi bahan tertawaan dia?
Untuk bisa menerima Hari sebagai satu- satunya lelaki yang harus dia cintai. Hanya Hari. Bukan orang lain.
Bukan pula Jiwo.
Hati Witri seperti di cubit- cubit. Nyeri dan pedih.
Bukan Jiwo ternyata.
Hari yang akhirnya memilikinya.
Lelaki itu yang harus dia cintai dan hargai dalam hidupnya.
Bukan laki- laki lain. Sekalipun laki- laki lain itu adalah Jiwo. Lelaki yang dia cintai.
Witri menunduk sedih tanpa sadar dalam tatapan mata Hari yang juga menatapnya sedih.
Kamu masih mikirin Jiwo ya,Wit? Padahal aku yang di depanmu. Suamimu.
Tanpa sengaja keduanya kini saling menatap dan terkejut karenanya.
Witri yang tadinya hendak mencuri lihat, kaget saat mendapati Hari tengah menatapnya dengan tatapan sedih.
Hari yang menyangka Witri akan tetap menunduk sama kagetnya saat mendapati Witri mengangkat pandangannya dan menatapnya dengan tatapan sedih pula.
Keduanya terpaku di tempat masing- masing dengan pikiran masing- masing.
Maafkan aku ya,Mas. Tolong beri aku waktu sebentar saja lagi.
"Aku mulai banyak nuntut ya?" tanya Hari sambil mengulas senyum setelah keduanya terasa semakin tenggelam dalam tatapan.
"Ha? Enggak...nggak papa. Aku memang harus sering diingatkan, Mas. Tolong jangan bosan menegurku." kata Witri agak gelagapan.
Bahkan kamu masih berusaha memberiku senyum saat matamu tengah menatapku dengan sedih, Mas.
"Beneran nggak papa kalau aku sering negur nantinya? Nanti nggak bakal ngatain aku bawel?" tanya Hari semakin lebar tersenyum.
__ADS_1
Kekakuan diantara mereka barusan perlahan mencair dengan usaha Hari memulai perbincangan dengan nada santai diantara mereka itu.
"Ya tergantung. Kalau bawelnya ngadi- adi aku juga emoh ( nggak mau) nurutin." jawab Witri sambil mencibirkan bibirnya.
"Kan katanya istri harus nurut sama suami..."
"Liat dulu suaminya yang diminta bener apa nggak." sahut Witri cepat.
"Yang nggak bener tu yang kayak apa?" tanya Hari dengan wajah sok mengetes.
"Yang melanggar syariat agama dan HAM." jawab Witri cepat.
"Contohnya?"
"Ya masak aku harus nyebutin contohnya juga sih,Mas?!"
"Ya nggak papa. Lagi longgar ini waktunya." tukas Hari santai.
Dia bahkan sekarang beranjak membaringkan tubuhnya.
Terbaring miring menghadapkan tubuhnya ke arah Witri yang duduk berselonjor di lantai bersandar tembok kamar.
Sekilas mata Hari menatap betis Witri yang ada di depannya.
Mulus.
"Contohnya nyuruh istrinya ikhlas kalau mau dipoligami. Padahal istrinya sudah all out performanya sebagai seorang istri sholehah. Itu aku nggak bakal nurutin." kata Witri akhirnya.
Hari menahan tawanya.
Kok tiba- tiba kesana aja mikirnya.
"Jadi kalau istrinya nggak all out boleh dong ya diturutin kalau suaminya minta poligami?" tanya Hari sambil mengerling.
"Boleh...." jawab Witri santai.
Hari semakin lebar tersenyum sambil menatap Witri.
"Tunggu...tunggu...eh! Maksudnya apa nih?" tanya Witri kaget saat dia memikirkan lebih serius pembicaraan terakhir mereka.
Hari sudah tertawa melihat ekspresi kaget Witri.
"Makanya kalau mau ngomong itu dipikir dulu,Manis."kata Hari sambil bangkit dari rebahannya.
Suara adzan magrib terdengar tak jauh dari rumah mereka.
"Kalau istrinya nggak bisa all out buat suami, berarti boleh?" tanya Hari mengulang sambil tersenyum menatap Witri menggoda.
"Kok gitu..." gumam Witri tanpa sadar dengan wajah kecewa dan khawatir. Suaranya sejenak tercekat.
"Bercanda...Jadi memelas gitu mukanya." kata Hari dengan tatapan riang.
"Mas nggak akan begitu. Sumpah." kata Hari dengan wajah yang tiba-tiba serius.
"Aku...percaya." kata Witri akhirnya setelah pandangan mereka bertemu kembali.
Hari tersenyum lembut.
"Mas ke masjid dulu ya." pamit Hari sambil mengelus pundak Witri lembut.
Witri hanya mampu mengangguk.
"Pulang dari masjid nanti Mas mampir pinjem tikar buat acara nanti." kata Hari sambil melangkah melewati ruang tamu.
"Iya." jawab Witri lagi.
"Jeng..." panggil Hari dari depan pintu ruang tamu.
Witri bergegas keluar kamar.
"Kenapa?" tanya Witri dengan tatapan penasaran.
"I love you." kata Hari lirih namun cukup jelas terdengar oleh Witri.
Witri hanya meringis menanggapinya.
Hari kembali tersenyum dengan hati yang mengkerut kecut.
__ADS_1
...💧💧💧 b e r s a m b u n g 💧 💧💧...