JANJI JIWO

JANJI JIWO
Ujian


__ADS_3

Seperti rencana semula, seusai sarapan Witri dan Hari berpamitan pada mamak untuk ke rumah Hari.


Selain untuk berpamitan karena sore nanti mereka berdua sudah harus meninggalkan rumah, Hari juga akan mengambil beberapa berkas yang masih tertinggal di rumah.


"Nanti jangan dimasukin hati apapun suara nggak enak dari Ibu. Memang udah begitu pembawaannya. Udah gawan bayi ( bawaan bayi)." kata Hari sesaat mereka di perjalanan menuju rumah Pak Dukuh.


"Iya." kata Witri tenang.


"Dengerin aja apa yang dibilang Bapak. Bapak beda sama Ibu. Beda jauh. Kami berdua dari kecil lebih suka ngobrol sama bapak ketimbang sama ibu." kata Hari lagi. Witri mengangguk mengerti.


Hari kembali mengingat waktu- waktunya dan Mbak Tati yang lebih banyak berisi cibiran dari ibunya daripada pujian atau komentar positif dari perempuan yang melahirkan mereka itu.


Beda dengan bapaknya yang pintar menunjukkan kesalahan apa yang telah mereka perbuat dengan cara yang halus dan tidak menghakimi. Lalu menjelaskan apa yang seharusnya mereka lakukan agar lebih baik.


Sedikit banyak Witri jelas sudah tahu sifat mertuanya dari gunjingan kanan kiri selama ini.


Bahkan dulu saat kabar dia akan menikah dengan Hari sudah beredar luas, sebagian banyak ucapan simpati para tetangganya adalah agar dia nanti bersabar menghadapi mertua perempuannya.


Sudah kondang kenyinyiran dan kelakuan minus ibu dari suaminya itu.


Witri nggak kaget lagi walau juga nggak suka.


Dia malah kasihan dengan Pak dukuh dan Hari juga mbak Tati. Selama ini bagaimana perasaan mereka harus berhadapan terus dengan Bu Dukuh.


Memasuki halaman luas nan rindang karena ada beberapa pohon mangga dan jambu air juga talok, Witri semakin deg- degan.


Di depan sana pintu utama rumah Pak dukuh sudah terbuka seperti sengaja hendak menyambut kedatangannya.


Tanpa sadar Witri meraih jemari Hari dan menggenggam kelingking suaminya itu dengan erat.


Hari yang tak menyangka dengan genggaman di kelingkingnya dibuat kaget karenanya walau kemudian menyunggingkan senyumannya.


Kemajuan.


Dengan lembut Hari merangkum jemari Witri dan menggenggamnya erat.


"Nggak usah takut. Ada aku. Ada mbak Tati juga."bisik Hari sambil menatap Witri lembut.


Witri tersenyum kaku.


Dia tahu Mbak Tati ada di pihaknya.


Semoga Bu Dukuh sedang pergi jauh.


Witri merasakan debaran dadanya semakin bertalu- talu.


Ini jelas bukan kunjungan pertamanya di rumah Hari.


Dia sudah beberapa kali ada di rumah Hari untuk berkegiatan dengan teman- temannya.


Tapi ini adalah kunjungan pertamanya sebagai menantu keluarga ini.


Witri menatap satu tas kresek lumayan besar yang tengah di tenteng Hari sebagai titipan buah tangan dari mamak untuk besannya.


Semoga Bu Dukuh nggak komen ajaib nanti.


Witri tahu pasti isi buah tangan titipan ibunya itu.

__ADS_1


Ada jeruk, lemper, Mendut, sekaleng biskuit, sekotak bakpia, seplastik geplak, juga satu ayam utuh yang di bacem lengkap dengan sambal dan lalapan yang di kemas dalam satu besek yang rapi.


"Gek lelakon opo kuiiii? Bojone kon nggowo gawan koyo ngono, awake dewe lenggang kangkung! ( kelakuan macam apa ituuuu, suaminya di suruh bawa bawaan kayak gitu, diri sendiri jalan santai!)" suara menggelegar Bu Dukuh berteriak dari samping rumah menyambut kedatangan Witri dan Hari yang belum sampai di depan pintu.


Mereka baru melintasi setengah halaman.


Witri tentu saja kaget bukan main. Tanpa sadar matanya menatap tentengan yang dibawa Hari dengan santai.


"Jangan terprovokasi. Diam saja, Sayang." bisik Hari sambil mengeratkan genggaman tangannya.


Sayang....dia manggil aku sayang...


"Ya masak aku yang laki- laki gagah gini ngebiarin perempuan bawa barang segede gini sih,Bu." jawab Hari dengan nada santai.


Witri menundukkan pandangannya, sibuk menatap genggaman tangan Hari yang tak melemah.


Jangan- jangan ini bisa jadi bahan omelan juga nih...


"Tangan istrimu diajari mandiri, bukan cuma minta buat di genggam aja." sergah Bu Dukuh sambil menatap sinis ke arah tangan keduanya.


Nah kan...


"Dia sudah mandiri tanpa harus diajari, Bu. Dan ini yang menggenggam aku. Bukan dia yang minta." kata Hari sambil tersenyum pada Witri yang melirik sedikit saja pada Hari.


"Kulonuwun, Bu..." sapa Witri sopan sambil melepaskan genggaman tangan Hari dan mangulurkan tangannya pada mertuanya.


"Hmmm..." sahut Bu Dukuh sambil menerima uluran tangan Witri.


"Weeeiihhh...manten anyar wis tekan kene. (weeeiihhh, pengantin baru udah sampai sini)." suara riang Mbak Tati terdengar mendekat dari arah dalam rumah.


Hari segera mengulurkan bawaannya pada satu- satunya saudara kandungnya itu.


"Makasih ya, Wit. Banyak banget ini..." kata Mbak Tati dengan riang.


"Halah! Ngasih besan kok kayak gitu." sungut Bu Dukuh sambil bergegas masuk.


Witri menggigit bibirnya sekuat tenaga.


Oalah Mak, kelakuan besanmu itu lho...


"Maafkan ibu ya,Wit. Jangan diambil hati." kata Mbak Tati dengan wajah nggak enak hati.


Witri hanya tersenyum penuh pengertian.


Hari hanya menunduk menahan malu.


Hari pertama Witri datang sebagai menantu mendapatkan sambutan sekeras ini dari ibunya.


Ya ampun...


"Ayo masuk..." ajak Mbak Tati sambil meraih lengan Witri yang nampak ragu- ragu melangkah masuk.


"Mas, ayo..." ajak Witri karena Hari masih terpaku di tempatnya.


"Iya...Ayo..." sahut Hari bergegas mengulurkan tangannya menyambut uluran tangan Witri.


"Duuuh yang pengantin baru... gandengan terus kayak truk." seloroh Mbak Tati sambil terkekeh.

__ADS_1


"Ini namanya romantis." sahut Hari sambil tertawa dan menatap wajah tegang Witri yang ikut berjalan di belakang Mbak Tati menuju ruang tengah.


"Pak..." sapa Hari saat dilihatnya bapaknya sedang asik dengan ponsel kecilnya.


"Eh, Ri...Wit...sini...sini..." sambut Pak Dukuh dengan wajah gembira.


Witri mengikuti Hari mengulurkan tangannya pada mertuanya itu.


"Jadi berangkat nanti sore?" tanya Pak Dukuh to the point pada mereka berdua.


"Iya,Pak.Ini kesini niatnya mau pamit sama Bapak dan Ibu. Mohon doanya juga semoga di tempat baru tetap lancar tugasku." kata Hari sopan.


"Bapak selalu doakan kamu selalu sehat, selamat,lancar dalam bertugas dimanapun itu. Kamu juga Wit, yang sabar, yang berani ya kalau nanti ditinggal- tinggal suamimu." kata Pak Dukuh sambil menatap Witri ramah.


"Enggih, Pak.(Iya, Pak)." jawab Witri sopan.


"Kalian akan jauh dari rumah, jauh dari keluarga, harus saling menguatkan dan menjaga. Dalam rumah tangga ada masalah itu wajar. Selesaikan dengan kepala dingin dan dewasa. Jangan diem- dieman kelamaan, nanti dimasuki gangguan dari luar, runyam. Bicarakan dengan tenang semua masalah yang ada. Saling ngemong ( mengasuh), saling ngalah." nasehat Pak Dukuh dengan tenang namun serius.


"Enggih, Pak." jawab Hari dan Witri bersamaan.


"Wit, titip Hari ya. Dirawat sampai gemuk ya..." kata Pak Dukuh sambil tersenyum meledek.


"Aku nggak mau gemuk, Pak..." protes Hari dengan wajah kesal.


"Ya udah kalau nggak mau gemuk. Dirawat aja, Wit sampai kinclong." kata Pak Dukuh sambil menahan senyum.


"Enggih, Pak." jawab Witri sambil menunduk.


"Bu, sini! mau dipamiti anaknya ini lho. Malah kabur- kaburan." panggil pak Dukuh dengan suara agak keras memanggil istrinya yang sedari masuk rumah tadi nggak menampakkan batang hidungnya.


Terdengar sahutan agak keras dari dapur.


"Kalau memang butuh nanti kan juga nyamperin. Ngapain orangtua datengin anak kecil!"


Pak Dukuh menggeleng kesal.


"Ibumu itu kapan mau berubahnya, RI..." gumam Pak Dukuh sedih.


"Yang sabar, Pak..." hibur Hari sok menasehati walau didalam hatinya sendiri dia bertanya apakah dia akan sanggup sesabar bapaknya kalau punya istri berkelakuan seperti ibunya itu.


Witri menunjukkan wajah datar di depan mertua dan suaminya. Sebenarnya bingung harus bereaksi seperti apa dengan kelakuan ibu mertuanya itu.


Kalau mau menuruti hati sih pengen komen balik. Tapi kan itu nggak mungkin dia lakukan.


Bukan karena takut, tapi karena dia nggak sampai hati membuat bapak mertuanya jantungan nanti.


Belum lagi nanti ibu mertuanya pasti menjelek- jelekkan mamak karena nggak becus mendidiknya berlaku sopan pada orang tua.


Sabar...sabar...ini ujian.


...💧💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧💧...


Up nya benar- benar nggak ada sopan santun jamnya ya 😅🙈


💧


💧

__ADS_1


💧


Mohon pencerahannya kalau ada reader yang tahu kabarnya author Renita Wei (writer PILAR HATI 3 KSATRIA)....sedih sekali rasanya, masak tiap ada novel bagus harus ngegantung endingnya....kita jadi kayak jemuran kering di tinggal mudik, merana 🙈


__ADS_2