
"Ini." kata Witri sambil mengulurkan bungkusan beberapa testpack agar Hari melihat.
Hari mengerjapkan matanya.
Kok masih utuh semua?
"Kirain udah nyoba sekalian." kata Hari sambil tersenyum kecil menyembunyikan sedikit rasa kecewanya.
"Sekarang aja, Jeng. Aku pengen tahu sekarang." rengek Hari dengan wajah memelas.
"Tapi kan lebih bagus kalau besok habis bangun tidur." kata Witri mencoba mengelak.
"Coba aja dulu. Aku udah nggak sabar liat hasilnya." desak Hari dengan wajah memelas.
"Besok aja. Kita periksa bareng ke dokter. Kalau kamu udah sembuh." janji Witri mencoba membujuk Hari sekaligus agar Hari bertambah semangat untuk lekas sembuh.
Hari menggelengkan kepalanya.
"Please, Jeng. Aku pengen liat hasilnya sementara, apapun hasilnya. Biar aku nggak penasaran." pinta Hari dengan tatapan mata penuh harap.
Witri menarik nafasnya pelan.
Kenapa jadi suka maksa gini sih dia? Mana pakai merengek pula...
"Ya udah, aku ke kamar kecil dulu." akhirnya Witri kembali menuruti keinginan Hari.
Dengan membawa dua buah testpack, Witri memasuki kamar kecil khusus untuk penunggu pasien di ruang ICU.
Menurunkan celananya di kamar mandi, Witri tiba- tiba ikut berdebar dan juga penasaran dengan hasil yang akan ditunjukkan oleh testpack itu nanti.
Terbayang binar penuh harap di mata Hari tadi. Witri tak tega mengubah binar bahagia dan penuh harap itu menjadi sorot mata menahan kecewa bila hasil yang ditunjukkan alat itu negatif nantinya.
Dan dia sendiri entah mengapa tiba- tiba juga berharap apa yang akan dilakukannya ini akan mengeluarkan hasil yang sesuai dengan harapan Hari nanti.
Terselip sedikit sesal karena dia lengah dengan jadwal datang bulannya sendiri karena fokusnya terampas oleh pekerjaan belakangan ini.
Beruntung Hari menyadarinya lebih awal.
Walau pada akhirnya keinginan Hari membeli testpack untuknya malah mengantar suaminya sampai di ruang ICU saat ini. Satu bagian hal yang sangat Witri sesali.
Witri kembali menitikkan airmatanya sedih.
Andai saja dia tidak seabai itu pada siklus bulanannya dan segera menyadari keterlambatan tamu bulanannya, pasti Hari tak perlu ke apotek sendiri dan mengalami kecelakaan tadi.
Witri tak bisa membayangkan bagaimana murkanya ibu mertuanya saat ini padanya dengan yang terjadi pada Hari ini.
Tapi dia memang secara tidak langsung juga ada andil dengan kecelakaan ini.
Dengan mata berkabut karena airmata, dengan hati berdebar Witri menatap lekat dua tespack yang ada di tangan kanannya. Penasaran dengan hasil akhir yang akan disajikan oleh alat itu beberapa detik ke depan.
Dan degupan jantungnya langsung melonjak ke tempat tertinggi saat dilihatnya kedua alat itu menunjukkan bahwa dia memang tengah berbadan dua.
Witri berjongkok dan menangis bahagia di antara dua lututnya.
"Bu,aku hamil. Aku memang nggak man dul." gumamnya lirih seolah tengah membela diri di depan ibu mertuanya yang bukan hanya sekali dua kali menuduhnya seperti itu.
Seperti baru tersadar kembali, Witri bergegas berdiri kemudian berjalan cepat keluar dari toilet dan menuju ranjang Hari dengan senyum yang tak hilang dari bibirnya walau airmatanya terus saja mengalir.
Tanpa mampu berucap apapun, Witri menyerahkan kedua testpack ke genggaman tangan Hari yang menatapnya dengan sorot mata cemas dan penasaran karena airmata yang terus terbit dari pelupuk mata Witri dan senyum yang menemani isakannya.
"Gimana?" tanya Hari dengan wajah penasaran.
Witri hanya mengangguk sambil menghapus airmatanya.
Diciumnya pipi Hari dengan sengalan sisa tangisnya.
"Positif, Sayang?!" tanya Hari dengan tatapan mata takjub.
"Iya. Liat aja itu." kata Witri sambil menunjuk dua benda kecil di genggaman tangan Hari.
Hari mengangkat tangannya pelan dan meletakkan dua benda kecil itu di depan mukanya.
Wajahnya langsung terpana dan senyuman tersemat sempurna di bibirnya.
"Alhamdulillah... Terimakasih banyak ya Allah..." gumamnya sambil mendekap testpack itu di dadanya.
Airmata mengalir dari sudut matanya beberapa saat.
"Kamu harus jaga diri baik- baik mulai sekarang, Jeng. Kamu nggak sendirian lagi, Sayang." kata Hari sambil menatap lembut pada Witri. Ada tatapan bangga di matanya.
__ADS_1
"Makasih ya...Aku bahagia banget." kata Hari lirih dengan mata berkaca- kaca. Witri hanya mampu menjawab dengan mengangguk haru.
Tanpa Witri tahu, Hari sekuat tenaga berkata sedari tadi. Nafasnya rasanya akan habis.
Dalam hatinya Hari sangat memohon, di beri waktu lebih banyak lagi untuk bisa bertemu dengan anaknya nanti. Menjaga anak itu hingga dewasa bersama dengan Witri.
Hamba mohon ya Allah...
"Kamu sesak lagi,Mas?" tanya Witri dengan tatapan mata penuh ketakutan menatap Hari yang kembali merasakan sesak di dadanya dan kini tak mampu lagi menyembunyikannya dari pandangan Witri.
Kali ini sesaknya lebih parah dari sebelum- sebelumnya tadi. Alat bantu pernafasan seperti kehilangan fungsinya.
Dia hanya bisa menarik nafas seperlima dari tarikan nafas normal. Dadanya rasanya ingin meledak.
Hari hanya mampu mengangguk lemah dan Witri bergegas memencet tombol panggilan untuk perawat di sertai suara kepanikannya.
"Ya Allah...ya Allah...Mas...kuat ya, Mas...Kuat, Mas..." tangis Witri kembali pecah saat Hari kembali diperiksa oleh dokter.
Witri *******- ***** jemarinya sendiri dengan kalut untuk meluapkan ketakutan dan kecemasannya.
"Setengah jam lagi suami Ibu akan dipindahkan ke rumah sakit lain. Kami sedang menyiapkan semuanya." kata dokter itu setelah berhasil menangani sesak Hari.
"Ha?" tanya Witri kaget. Pindah rumah sakit?
"Kondisi pasien memungkinkan untuk pindah kok. Tadi komandannya yang mengurus." terang dokter itu lagi.
"Tapi barusan dia sesak begitu." kata Witri dengan cemas.
"Nggak papa, Bu. Masih dalam batas wajar. Bisa langsung tertangani kok." jelas dokter itu.
"Oh... Terimakasih, Dokter." kata Witri dengan wajah lega.
Akhirnya Hari akan bisa mendapatkan penanganan lebih cepat.
Dia harus mengucapkan terimakasih lagi nanti pada Pak Nadi. Untunglah dia tadi bercerita soal dokter menyebalkan yang tadi ditemuinya.
"Aku pindah rumah sakit? Kenapa?" tanya Hari setelah Witri kembali di dekatnya. Dia tadi sekilas mendengar ucapan dokter yang memeriksanya pada Witri.
"Udah nggak sesak nafas?" tanya Witri tak menghiraukan pertanyaan Hari.
Hari mengangguk sambil tersenyum.
"Alhamdulillah..." gumam Hari dengan senyum senang. Semoga sesak nafas yang menyiksanya bisa segera diatasi secepatnya. Sakit di badannya masih bisa dia tahan sampai besok atau lusa pun tak apa. Tapi sesak di nafasnya dia nyaris nggak bisa menahan.
"Kamu yang tenang ya, Mas. Biar nggak sesak- sesak lagi." kata Witri sambil mengelus dahi Hari lembut.
"Aku pengen tahu anakku udah berapa minggu di perut mamanya." gumam Hari sambil menatap Witri. Seulas senyum tipis menghias bibirnya.
"Besok kita periksa bareng ya. Kalau kamu udah operasi, udah bisa keluar ruang rawat inap, kita periksakan dia udah berapa minggu di dalam sini." kata Witri sambil mengelus perutnya lembut.
"Besok aja kamu periksa. Minta tolong dianter Teh Lilis. Kalau nunggu aku nanti kelamaan. Aku pengen segera tahu." kata Hari kembali merengek.
"Nggak pengen nemeni aku periksa kehamilan buat yang pertama?" tanya Witri dengan wajah cemberut. Hari terkekeh lirih.
"Kamu belajar mandiri dari sekarang ya. Kamu istri prajurit. Suamimu lagi nggak ada, kamu harus bisa mandiri." kata Hari lirih dengan tatapan sedih.
"Suamiku ada. Tapi lagi sakit. Dia ada disini." sergah Witri dengan hati yang tiba- tiba cemas. Digenggamnya jemari Hari yang masih tetap mengenggam testpack sedari tadi.
Dia nggak suka melihat tatapan Hari barusan. Seperti tatapan akan berpisah lama...
"Testpack nya aku simpen dulu sini." pinta Witri bermaksud mengambil testpack itu.
"Jangan. Nggak usah. Aku mau bawa ini terus sampai aku keluar kamar operasi. Ini kamu simpen kalau kamu udah bawa hasil lab dari dokter kandungan." kata Hari sambil mengeratkan genggamannya pada testpack.
Witri menggeleng tak percaya.
"Nggak malu kalau nanti diliatin orang lain?" tanya Witri sambil tertawa lirih. Lebay sekali menurutnya sikap Hari ini.
"Enggak. Aku bangga mau punya anak. Pengen banget dipanggil Ayah sama anakku." kata Hari sambil menerawang.
"Nyebut aku Mama, kok kamu dipanggilnya Ayah, bukan Papa. Kalau gitu aku nanti dipanggilnya Ibu aja. Biar Ayah sama Ibu." protes Witri.
"Jangan...Mama aja. Aku udah ada yang ku panggil Ibu, udah ada Mamak, udah ada Simbok, yang belum ada, Mama. Kamu mama." kata Hari sambil tersenyum manis menatap penuh cinta kepada Witri.
"Baiklah. Aku akan jadi Mama buat anak- anak kita nanti." kata Witri dengan tersipu malu.
Terbayang di angannya akan ada junior- junior mereka berdua mewarnai kehidupan mereka nantinya. Pasti akan menyenangkan sekali.
"Permisi..." percakapan indah mereka tersela oleh kedatangan dua perawat dan seorang dokter.
__ADS_1
"Kita siap- siap ya, Pak. Kita akan pindahkan Bapak ke RS.Jiwa Kasih." kata dokter itu dengan sikap yang bertambah manis.
Aneh, batin Witri.
"Tapi kondisi suami Saya sangat memungkinkan kan, Dok?" tanya Witri menegaskan sekali kali.
"Iya, Bu. Kami nggak akan berani melepaskan pasien kalau kondisinya tidak memungkinkan. Profesi kami jaminannya." kata dokter itu sambil tersenyum sopan.
"Baik. Terimakasih, Dokter." kata Witri dengan sopan dan hati yang sangat bersyukur.
Hari akan dapat penanganan lebih cepat.
"Ruang operasi di RS. Jiwa Kasih sudah disiapkan. Kemungkinan besar begitu kita sampai disana, bisa langsung ditangani untuk tindakan operasi." jelas dokter tersebut
"Nanti Saya dan seorang perawat akan menemani di ambulance sampai di RS. Jiwa Kasih." sambung dokter itu lagi yang semakin melegakan Witri.
Genggaman tangan Hari tak lepas dari tangan Witri selama menuju ke ambulance dan terus begitu sampai ambulance berjalan membelah jalanan yang lumayan ramai karena di akhir pekan.
Hari nampak tenang dan nafasnya sangat terjaga. Mereka berdua hanya saling menatap dan berbicara lewat mata dalam diam.
Beberapa kali dokter pendamping menanyakan kondisi yang dirasakan Hari. Sesak atau tidak. Bertambah nyeri atau tidak. Dan selalu di jawab Hari dengan gelengan tegas.
"Saya akan cepat sembuh,Dok." kata Hari dengan penuh keyakinan.
"Aamiin...Semangat yang sangat bagus. Pasti ada yang bikin bisa sangat bersemangat begini." kata dokter itu dengan tersenyum penasaran.
"Saya akan jadi Ayah, Dok." kata Hari dengan mata berbinar- binar dan menunjukkan tespack di genggamannya.
"Waaah...Selamat kalau begitu, Pak. Harus semangat sembuh ini. Sudah ke dokter kandungan?" tanya dokter itu.
"Belum. Besok setelah suami sehat kami baru akan ke dokter kandungan." jawab Witri yang langsung disahut oleh Hari.
"No...Aku tadi bilang besok kamu cek sendiri,Sayang. Kelamaan kalau nunggu aku." kata Hari dengan tatapan protes.
"Tapi kan..."
"No..." sahut Hari, kali ini dengan tatapan tegasnya.
"Iya..." kata Witri pelan. Kembali mengalah agar semangat sembuh Hari tetap terjaga.
"Good..." kata kata Hari sambil tersenyum senang.
"Alhamdulillah...kita sudah akan sampai. Mari bersiap- siap." kata perawat yang duduk di samping sopir.
Witri melongokkan kepala melihat ke depan dan memang dilihatnya ambulance sudah memasuki area rumah sakit.
"Udah sampai?" tanya Hari sambil menatap Witri.
"Udah,Mas." jawab Witri sambil tersenyum namun jantungnya langsung berdebar hebat saat dilihatnya Hari nampak kembali sedikit tersengal.
"Sesak lagi,Mas?" tanya Witri panik yang membuat dokter dan perawat yang tengah bersiap turun langsung menatap Hari dengan waspada.
"Sedikit." jawab Hari pelan.
Hari menatap Witri tak berkedip sepanjang dia diturunkan sampai di depan ruang operasi, membuat Witri semakin tak karuan dengan tatapan itu.
Dia belum pernah melihat Hari menatapnya seperti itu.
Dan sungguh dia takut. Takut sekali.
"Peluk aku, Jeng." pinta Hari sesampai di depan pintu ruang operasi.
Witri terpaku dan kebingungan. Dilihatnya seorang dokter disitu mengangguk ke arahnya.
Dengan pelan Witri mendekatkan tubuhnya ke arah kepala Hari. Tidak menyentuh tubuh depan dan area pundaknya karena ada luka dalam disana.
Witri tak mampu berucap apapun selain kembali menangis. Berat sekali rasa hatinya kali ini. Entah kenapa.
"Cepat sembuh, Sayang." bisik Witri di telinga Hari yang kemudian di susul suara Hari melafalkan kalimat syahadat sangat lancar walau terdengar lirih.
Witri bergegas menegakkan tubuhnya menatap Hari dengan wajah sangat tegang dan mendapati Hari nyaris menutup mata dengan bibir yang bergerak mengucap kata "Allah...Allah..."
"Maaaas....!!!!" teriak Witri yang langsung di tahan oleh sebuah lengan kuat dan hanya mampu melihat ranjang Hari di bawa secepat mungkin masuk ke ruang operasi.
"Mas Hari..." ucap Witri lemah sebelum dia jatuh pingsan karena merasa dunia seketika runtuh menimpanya tanpa ampun.
...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...
Maaf...
__ADS_1