
Obrolan panjang dan random mewarnai ke empat orang itu dalam menyusuri malam yang mulai terasa dingin.
Keempatnya baru berpisah saat cafe hampir tutup.
"Aku berharap kita bisa bertemu lagi sebelum kamu pulang ke Indonesia, Mbak Witri." kata Arata yang di sambung acungan jempol oleh Kyu yang sedang meminum sisa bir zero alkoholnya.
Witri hanya melebarkan senyumnya tanpa bisa menjanjikan apa yang diharapkan dua sahabat Jiwo itu.
"Kita bisa bersama mengantar Witri ke bandara kalau kalian mau." kata Jiwo akhirnya setelah menunggu Witri tak memberi jawaban atas harapan kedua sahabatnya. Mata Kyu dan Arata langsung berbinar senang.
"Itupun kalau Witri mau diantar sama kalian..." seloroh Jiwo kemudian.
Wajah sumringah Kyu dan Arata langsung berubah manyun. Sebelumnya mereka sudah senang akan bisa ikut mengantar Witri ke bandara.
"Mau... Terimakasih kalau aku diantar ke bandara sama tiga cowok sekalian. Bakal aman banget aku." kata Witri kemudian dan mampu mengembalikan kembangan senyum di wajah Arata dan Kyu.
"Alhamdulillah...." kata Kyu kesenangan.
"Kami siap mengantar." sahut Arata tak kalah bersemangat.
"Padahal aku tadi cuma basa- basi." gumam Jiwo dengan wajah kesal.
Arata dan Kyu tergelak. Witri menahan tawanya melihat wajah Jiwo yang tertekuk.
"Nggak boleh begitu,Jiwo. Kami adalah penyelamat biar kalian berdua tidak ditemani setan." kata Arata sambil tertawa.
"Betul. Dua orang dewasa yang berbeda gender kalau dibiarkan berdua itu bahaya. Apalagi ada cinta diantara keduanya. Bisa mengundang pihak ketiga untuk bekerja, yaitu setan." sambung Kyu di sela tawa meledeknya.
"Dan kalian merebut pekerjaan setan itu dengan ada di antara aku dan Witri." geram Jiwo kesal. Kyu dan Arata terbahak- bahak melihat wajah kesal Jiwo itu.
"Apaan sih? Nggak jelas banget deh." gumam Witri sambil reflek memukul pelan lengan Jiwo yang langsung terbelalak dengan wajah yang terlihat menahan kesakitan akibat pukulan lembut itu.
"Lebay mulaiiiii...." seru Kyu melihat reaksi Jiwo itu.Jiwo hanya mencebikkan bibirnya.
"Udah ayo pulang." pungkas Arata sambil menyeret lengan Kyu agar segera bergerak.
"Sampai jumpa lusa, Mbak Witri." kata Arata sambil mengangguk sopan pada Witri.
" Assalamualaikum." pamit Kyu kemudian sambil melambaikan tangannya.
"Wa'alaikumussalam." jawab Jiwo dan Witri serentak.
Witri dan Jiwo kemudian menaiki taksi yang belum lama berhenti di depan mereka.
"Langsung masuk kamar atau mau kemana lagi nih?" tanya Jiwo begitu mobil sudah melaju membawa mereka kembali ke hotel tempat Witri menginap.
"Mak sud nya?" tanya Witri kaget dan tiba- tiba merasa gusar. Darahnya tiba- tiba terasa membeku.
Masuk kamar? Maksudnya apa? Mereka berdua masuk kamar gitu? tanya Witri dalam hati ngeri.
Masak sih Jiwo ngajak begituan?
Ya Allah...aku takut...
Aku nyesel datang kesini kalau begini kejadiannya.
Aku takut....
Wajah Witri yang tiba-tiba pias tak luput dari pantauan sudut mata Jiwo.
Duduknya yang sedikit gelisah dengan tangan yang tak berhenti bergantian menyentuh lengannya sendiri semakin memperlihatkan kegusaran Witri. Membuat Jiwo sedikit keheranan.
Witri kenapa jadi gelisah gini? Aku ada salah ngomong lagikah? Ya ampun Wo....demen banget bikin anak orang nggak nyaman...
"Kamu kenapa?" tanya Jiwo sambil menyentuh lengan Witri lembut, berharap mendapat perhatian sejenak dari Witri.
Dia sedikit kaget saat melihat reaksi Witri yang berjengit kaget.
Beneran dia ngelamun nih....
"Enggg....enggak papa. Aku enggak papa." jawab Witri cepat sambil berusaha tersenyum.
Keliatan banget dipaksain senyummu Wit....
"Aku ada salah ngomong?" tanya Jiwo kemudian. Dia yakin ada yang membuat Witri tiba- tiba gelisah gitu.
Karena sedari tadi hanya dia yang terus dekat dengan Witri, kemungkinan besar dialah penyebab ketidaknyamanan Witri saat ini.
Witri bingung dengan pertanyaan Jiwo itu.
Mau mengangguk- membenarkan kalau memang ada yang salah dengan ucapan Jiwo- takutnya apa yang dibilang Jiwo tadi adalah benar; memang Jiwo bermaksud masuk kamarnya. Ah ngeri sekali membayangkan itu.
__ADS_1
Tapi kalau dia menggeleng itu bisa membuat Jiwo menganggap Witri sudah mengerti maksud ucapan Jiwo tadi.
Kok jadi serba salah begini ya posisinya?
Arggggh....Witri bingung mau ngomong gimana.
Jiwo mengingat- ingat kembali semua ucapannya yang mungkin bisa membuat Witri gelisah.
Untung daya ingatnya lumayan bagus, jadi dia langsung ingat pada ucapannya belum lama tadi.
Masuk kamar.
Apakah itu yang membuat Witri salah faham dan gelisah seperti ini?
Mau bertanya langsung soal kemungkinan itu, Jiwo nggak enak hati. Takutnya bukan itu yang jadi penyebab Witri gelisah.
Tapi kalau nggak dibicarakan juga dia takut Witri berpikiran negatif padanya.
Jangan- jangan Witri mengira dia mengajak Witri sekamar dan melakukan yang iya- iya.....Aduuuh....
Memutar otak sebentar untuk mencari kalimat yang bisa ' menjelaskan' namun tidak terkesan ' meluruskan', akhirnya Jiwo berucap "Kamu nanti langsung istirahat ya. Aku juga akan langsung pulang buat istirahat. Besok kamu aku jemput pagi- pagi banget mau nggak? Kita akan main agak jauh naik kereta." kata Jiwo dengan wajah santai berhias senyum manis.
Dalam hatinya meringis saat tanpa dia duga wajah Witri tiba- tiba langsung berseri- seri mendengar ucapannya.
"Iya! Kamu nanti langsung pulang ke apartemenmu kan?" tanya Witri untuk lebih mempertegas keadaan.
"Iya. Setelah mengantar kamu masuk hotel, menemanimu sampai depan kamarmu, nanti aku langsung pulang." jawab Jiwo mempertegas.
"Oke...oke." jawab Witri riang. Tak tersisa sedikitpun kegundahan di raut wajah ayunya.
Jiwo tersenyum di dalam hati.
Ternyata dia tadi takut aku nginep di kamarnya....Hmmmm, travelling juga ternyata pikirannya, kekeh batin Jiwo.
"Tapi kalau kamu minta aku nemenin di kamarmu... ya apa boleh buat, aku siap." kata Jiwo sambil melirik menggoda.
"Nggak!" sergah Witri cepat. "Mana ada aku minta begitu." sambung Witri kemudian dengan wajah memerah.
Ada kelegaan luar biasa di hatinya mendengar 'penjelasan' Jiwo tadi.
Ternyata aku yang terlalu nethink.... Alhamdulillah ya Allah aku aman.
"Besok siap jam berapa buat aku jemput?" tanya Jiwo kemudian.
"Aku ikut kamu aja mau jam berapanya. Mau sebelum subuh juga siap- siap aja aku sih." jawab Witri dengan wajah yakin. Jiwo tertawa pelan.
"Aku yang belum siap kalau sebelum subuh jemputnya." kata Jiwo sambil menggelegas.
"Kenapa emangnya?" tanya Witri dengan wajah penasaran.
"Belum cakep." jawab Jiwo sambil tertawa. Witri hanya mencibirkan bibirnya.
"Ya udah, sebisanya kamu aja jam berapa. Sebelum jemput ngabarin dulu biar kamu nggak perlu nunggu." putus Witri. "Kamu jemputnya jalan kaki kan?" tanya Witri kemudian.
"Iya." jawab Jiwo singkat.
"Aku nggak punya kendaraan disini." sambung nya kemudian.
Ada sedikit rasa malu di hati Jiwo saat mengatakan itu.
"Lagian ngapain juga disini pengen punya kendaraan? Alat transportasi disini gampang dan enak. Deket pula tempat kerjamu sama rumah. Aku juga pasti nggak akan kepikiran buat punya kendaraan kalau tinggal disini." kata Witri sambil tersenyum.
Diam- diam Jiwo bernafas lega mendengar itu.
"Berarti kalau kelak seumpama aku ajak tinggal disini, kamu mau?" tanya Jiwo spontan tanpa di duga Witri. Membuat perempuan itu agak gelagapan.
Kok nanyanya kayak gini sih?
"Memangnya kamu mau tinggal disini seterusnya?" tanya Witri kemudian.
"Belum pasti juga sih." jawab Jiwo sambil menggaruk pelan pelipisnya.
Sebenarnya opsi untuk tinggal dan bekerja di sini akan Jiwo pilih kalau.....
"Udah sampai, Wo." colekan jemari Witri di lengannya membuat Jiwo menjauh dari sekejap lamunannya.
"Iya. Kita udah sampai aja." kata Jiwo mirip keluhan.
Witri menatap Jiwo dengan wajah menahan tawa.
Setelah mengucapkan kamsahamnida pada driver taksi, keduanya lalu turun dan melangkah pelan memasuki lobby hotel.
__ADS_1
"Aku nggak perlu diantar sampai depan kamar juga kali, Wo. Udah gede ini." kata Witri saat keduanya melangkah menuju lift.
"Ya nggak boleh gitu juga kali." sergah Jiwo menentang keras ucapan Witri.
"Kamu kan tamuku. Kalau pantas, harusnya kamu aku jamu di apartku. Tapi karena belum mahram dan untuk menghindari hal- hal yang aku inginkan..." Jiwo menahan senyum malunya. "Terpaksa kamu aku carikan tempat yang aman disini." kata Jiwo sambil menahan tawa.
Witri menatap Jiwo dengan wajah salah tingkah.
Oh ternyata dia otaknya travelling juga....
"Harusnya tadi kita nelpon mamak sambil ngeliat Aksa." kata Jiwo saat keduanya ada di dalam lift.
"Tadi aku udah nelpon mamak sebelum pergi." kata Witri yang mendapat anggukan Jiwo.
"Nanti kita nelpon mamak sebentar gimana?" usul Jiwo.
"Mau ngapain?" tanya Witri bingung.
"Mau laporan kalau anak perempuannya nggak aku apa-apain selama kita keluar jalan." jawab Jiwo sudah sambil mengulik ponselnya.
Keduanya sudah keluar dari lift dan melangkah santai menuju kamar Witri.
"Assalamualaikum, Mak..." Witri menoleh cepat saat di dengarnya Jiwo sudah menyapa mamaknya.
Rupanya Jiwo melakukan video call.
"Mak..." sapa Witri sambil tertawa saat Jiwo mengatur posisi ponselnya agar Witri juga masuk frame.
"Kalian lagi dimana itu?" tanya mamak karena melihat keduanya seperti berada di sebuah lorong.
"Di depan kamar hotel, Mak. Saya nganter Witri pulang habis jalan- jalan." jawab Jiwo cepat.
"Ini udah malem lho. Udah kalian cepat istirahat. Ngobrolnya disambung besok pagi aja." kata mamak lugas. Tatapannya sedikit curiga namun juga khawatir.
"Nggih, Mak. Saya langsung pulang sekarang. Assalamualaikum." pamit Jiwo kemudian.
"Mamakku galak kan?" kikik Witri melihat wajah Jiwo yang sedikit gusar.
"Iya." jawab Jiwo sambil meringis malu.
"Pasti mamak khawatir kita berbuat yang aneh- aneh karena jam segini masih bersama." kata Witri kemudian.
"Astaghfirullah..." gumam Jiwo.
"Ya udah... Sekarang kamu pulang ya...Nanti aku telpon mamak biar dia tenang dan nggak khawatir sama kita." kata Witri mengusir dan menenangkan Jiwo.
"Oke." jawab Jiwo lega. "Aku pulang ya... Assalamualaikum." pamit Jiwo sambil meninggalkan seulas senyum manisnya.
Baru saja Witri menutup pintu kamarnya, panggilan dari mamak berdering di ponselnya.
Witri tertawa dalam hati melihat panggilan video di ponselnya.
Fix nih, mamak pasti khawatir sama dia.
"Aku di kamar sendirian, Mak. Jiwo pulang. Nih aku kasih lihat setiap pojok kamar biar mamak yakin." kata Witri begitu panggilan dia angkat dan mamak belum sempat bicara apapun padanya.
Mamak tertawa mendengar kalimat Witri.
"Siapa yang bilang kalau Mamak curiga?" tanya Mamak santai.
"Nggak ada yang bilang, tapi aku yakin Mamak curiga. Tadi aja ngomongnya jutek gitu sama Jiwo. Bikin dia takut." gerutu Witri.
Tawa mamak makin berderai mendengar gerutuan Witri.
"Syukur deh kalau dia masih punya takut sama orangtua." kata Mamak sambil tersenyum.
"Aksa nggak rewel kan, Mak?" tanya Witri kemudian mengalihkan pembicaraan.
"Enggak sama sekali. Sama bapaknya terus seharian ini. Sekarang juga tidur sama bapaknya." jawab Mamak dengan tenang.
"Bang Nadi nginep?" tanya Witri keheranan.
"Iya. Tadi juga udah mamak suruh pulang setelah ngobrol sama Pak RT di depan. Malah dia bilang udah ijin Pak RT kalau mau nginep buat nemenin Aksa karena kamu lagi keluar negeri." kekeh Mamak.
"Malah makin ngrepotin Bang Nadi..." gumam Witri.
"Nggak usah mikir gitu. Dia juga nggak terpaksa melakukannya. Dia kan sayang banget sama Aksa." hibur mamak.
"Aku nggak enak kalau pacar Bang Nadi tahu, Mak." kata Witri gusar.
"Memangnya Nadi punya pacar? Siapa? Kamu kenal?" tanya Mamak tak sabar.
__ADS_1
Witri hanya menarik nafasnya pelan.
...🍁 b e r s a m b u n g 🍁...