JANJI JIWO

JANJI JIWO
Sebenarnya...


__ADS_3

Mamak kembali ke klinik selepas tengah hari, tidak sesuai dengan permintaan Witri pagi tadi yang minta agar Mamak kembali ke klinik sore saja agar Mamak bisa istirahat lebih nyaman di rumah.


"Nggak papa. Di rumah juga sepi nggak ada teman, mending disini. Tenang bisa ngeliat Aksa. Dia nggak rewel kan?" tanya Mamak sambil menatap Aksa yang baru saja tidur setelah minum obat.


"Enggak. Cuma rewel sebentar tadi nyari bapaknya." kekeh Witri.


"Sudah ngerti nyari dia. Nggak kerasa udah enam bulan aja. Besok tahu- tahu dia udah jalan, lalu nyari bapaknya sendiri, nangis kenceng sambil lari- lari kesana kemari kalau nggak nemuin bapaknya." kata Mamak setengah mengkhayal sambil tersenyum sedih.


Witri sudah bisa menduga Mamak akan bicara apa setelah ini.


"Kita nggak mungkin akan selamanya minta tolong sama Nadi untuk jadi figur bapak buat Aksa. Suatu hari nanti dia pasti akan menikah dan memiliki keluarga sendiri. Memiliki anak sendiri. Sedang Aksa semakin besar nanti tentu akan sangat butuh sosok seorang bapak yang akan bisa dia jadikan sebagai panutan." persis seperti dugaannya. Hal itu yang diucapkan Mamak. Soal sosok seorang bapak untuk Aksa kelak. Witri tak menyahut ucapan Mamak. Dia nggak tahu harus mengucap apa untuk menanggapi hal itu.


Apa yang diucapkan Mamak nggak ada yang salah,. jadi dia nggak mungkin akan menyangkal.


Tapi untuk mengiyakan dan membenarkan hal itu di depan Mamak sama saja dia membuka pintu untuk Mamak berbicara lebih dalam soal jodohnya yang selanjutnya.


Dan dia sama sekali belum ingin memikirkan hal itu. Rasanya baru kemarin dia mengantarkan Hari ke peristirahatan terakhirnya. Bila harus bersama orang lain dalam waktu dekat ini, rasanya dia masih seperti berkhianat pada suaminya.


Nggak. Dia nggak bisa seperti itu.


Soal sosok ayah untuk Aksa saat dia besar nanti, Witri berpikir dia bisa menggantikan sosok itu. Dia bisa menjadi dua sosok sekaligus untuk anaknya.


Dia bisa menjadi Ibu sekaligus ayah untuk anaknya.


Toh sejak bisa memperhatikan sesuatu, Aksa sudah dia kenalkan pada sosok ayah kandungnya. Dan nanti saat Aksa sudah mulai mengerti sebuah cerita, Witri akan dengan sangat rajin menceritakan tentang Hari, ayah kandung Aksa. Dia akan ceritakan semua kebaikan Hari agar Aksa mengagumi dan ingin meniru semua hal baik yang ada pada Ayahnya.


Bukankah hal itu cukup untuk menghindari sebuah pernikahan kedua berdalih demi ayah baru untuk Aksa? Demi sosok lelaki panutan untuk Aksa?


"Hubunganmu sama Jiwo gimana?" tanya Mamak kemudian. Sebenarnya hal ini yang akan Mamak bicarakan dengan Witri.


Witri menempatkan dirinya menghadap Mamak setelah membereskan laptopnya. Hari ini tak banyak pekerjaan yang harus dia bereskan. Jadi menghadapi hampir satu jam laptopnya sudah selesai pekerjaan yang harus hari ini dia setor ke kantor.


"Ya gitu- gitu aja, Mak." jawab Witri jujur.


"Gitu- gitu aja gimana?" tanya Mamak mencari ketegasan.


"Ya...gitu...Biasa aja menurutku." jawab Witri malas. Nggak ada hal yang bisa membuatnya bersemangat untuk membicarakan perihal hubungannya dengan Jiwo sekarang ini.

__ADS_1


"Kalian sudah ada komitmen belum?" tanya Mamak kemudian.


Witri terdiam.


Komitmen ya? Janji Jiwo yang akan menunggu jawabannya sampai seribu harinya Hari itu komitmen bukan ya? Bukan deh kayaknya. Kan Jiwo aja yang mau melakukan itu. Witri nggak ada janji apapun pada Jiwo. Bahkan janji untuk nanti memberi jawaban setelah seribu harinya Hari pun nggak ada dia berikan pada Jiwo.


"Nggak ada komitmen jelas sih menurutku." jawab Witri kemudian dengan nada ragu.


Mamak nampak menyembunyikan kekagetannya.


Masak sih nggak ada komitmen diantara Jiwo dan Witri? Lalu ngapain Jiwo bicara padanya kalau akan serius untuk menunggu dan melamar Witri seusai seribu harinya Hari? Mamak mengira ucapan Jiwo dulu itu adalah sebuah lamaran terselubung. Tapi kok Witri bilang nggak ada komitmen?


Mereka berdua ini gimana sih? Jiwo gimana sih? Sepertinya Mamak harus membicarakan ulang masalah ini dengan Jiwo saat anak itu menelponnya besok.


O ya,Mamak jadi ingat lagi dengan ponselnya yang belum ketemu juga.


"Kamu nemuin hape Mamak nggak di sini?" tanya Mamak kemudian.envalihkan pembicaraan daripada lupa lagi sama ponselnya.


"Nggak ada." jawab Witri


"Coba deh kamu miss call..." pinta Mamak. Witri kemudian mengambil ponselnya yang sejak semalam tak dia sentuh dan ternyata dalam posisi mati.


"Nggak ada di ruangan ini, Mak. Tapi nyambung.' kata Witri kemudian ponselnya mati karena kehabisan daya.


"Aduh! Dimana ya? Mamak lupa naruh dimana.' kata Mamak panik. Kalau ponsel itu hilang, kasihan nanti Witri harus membelikannya lagi. Sayang uangnya.


"Coba Mamak ingat kapan terakhir memakai hape itu kapan dan dimana." kata Witri tenang.


Mamak langsung ingat kalau terakhir memegang ponselnya saat Nadi menelpon menanyakan Aksa di klinik. Mamak menerima telpon di depan meja resepsionis karena masih mengurus untuk rawat inap Aksa. Lalu perhatiannya teralih karena di sapa oleh dr.Farida dan keduanya ngobrol lumayan lama. Dan sejak itu Mamak lupa dengan hapenya.


"Ketinggalan di resepsionis deh kayaknya, Wit. Mamak kesana dulu deh." kata Mamak langsung tergopoh-gopoh keluar kamar tanpa bisa di cegah oleh Witri.


Di depan resepsionis Mamak bertemu Nadi yang ingin kembali menjenguk Aksa. Dengan bantuan Nadi yang bisa membuktikan kalau hape yang kemarin ditemukan di atas meja resepsionis adalah benar milik Mamak, akhirnya Mamak bisa tersenyum lega.


"Ada banyak panggilan telpon tapi nggak ada yang berani kami angkat, Bu. Maaf ya..." kata sang resepsionis.


"Harusnya kan tadi diangkat biar cepat tahu ponselnya milik siapa." sahut Nadi dengan wajah sedikit kesal yang membuat ciut nyali sang resepsionis yang langsung menunduk.

__ADS_1


"Ya nggak papa, Mbak." sahut Mamak sambil tersenyum ke mbak resepsionis kemudian mengalihkan tatapannya pada Nadi sambil berucap, "Nggak berani mengangkat telpon karena tahu bukan ponselnya. Sopan itu namanya." kata Mamak sambil kembali tersenyum ke mbak resepsionis yang langsung berwajah sumringah karena merasa tindakannya tidak mengangkat panggilan telpon adalah tindakan yang memang benar.


Namun senyumnya kembali langsung hilang saat melihat lirikan kesal dari mata Nadi padanya.


Aku punya salah apa sama orang satu ini? jutek banget, batin resepsionis itu.


mamak bergegas mengajak Nadi kembali ke kamar rawat inap Aksa setelah mengucapkan terimakasih pada mbak resepsionis.


"Katanya mau istirahat. Kok malah kesini lagi." kata Mamak sambil beriringan dengan Nadi.


"Nggak bisa tidur juga, Mak. Kepikiran sama Aksa terus. Mendingan kesini aja. Kalau ngantuk tinggal baring di bangku depan." kekeh Nadi.


🍁🍁🍁🍁🍁


Jiwo tersenyum lebar saat dilihatnya ada pesan masuk dari Mamak saat dia hampir menyelesaikan jam kerjanya hari ini. Lumayan jauh jaraknya dari saat dia melakukan panggilan telpon siang tadi.


Mamak meminta maaf karena tidak mengangkat telpon darinya karena hapenya ketlisut ( terselip/ nggak tau dimana) sejak semalam dan baru ketemu sekarang.


Jiwo kemudian sekalian menanyakan soal Witri yang sedari semalam juga hapenya susah dihubungi.


Dari mamak Jiwo baru tahu kalau Aksa sedang sakit. Dan Jiwo baru menyadari kalau saat Witri menerima telponnya semalam, perempuan itu sudah ada di klinik menunggui Aksa. Dan ada Nadi disana yang ikut menjaga Aksa.


Ah lelaki itu lagi yang ada buat Witri dan Aksa.


Astagfirullahaladzim....Kenapa aku nggak nanyain Aksa sih semalam? Jelek banget kelakuanku ini. Witri mikir apa sama kelakuanku kemarin? Ngajak ngobrol dia ngalor ngidul tanpa menanyakan Aksa lebih sering.


Jiwo akhirnya memilih menitip pesan pada Mamak kalau akan menelpon Witri lagi malam nanti. Tak lupa juga dia kirimkan doa agar Aksa lekas sehat kembali.


🍁🍁🍁🍁


"Nanti malam Jiwo akan nelpon kamu, Wit." kata Mamak setelah selesai berbalas pesan dengan Jiwo.


Nadi yang tengah becanda dengan Aksa yang digendongnya sekilas melirik ke arah Witri yang mengangguk santai.


"Ya." jawab Witri tanpa ekspresi


Ekspresi macam apa itu? Flat banget.

__ADS_1


Masak dikabari mau ditelpon pujaan hati wajahnya nggak ada riak- riak senangnya. Sebenarnya dia cinta nggak sih sama Jiwo itu?


...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...


__ADS_2