JANJI JIWO

JANJI JIWO
Pacar Sejati


__ADS_3

Witri POV


Sumpah, kesel banget sama si Nurul itu.


Ya ampun Gus...Bagus....Ngapain juga pacaran sama bocah itu siiiih?


Aku malu waktu denger kamu sekarang pacaran sama dia.


"Jangan coba- coba ganggu pacarku apalagi mau merebut dia."


Cu*ihhh !!! Dia pikir Bagus itu satu- satunya laki- laki di dunia ini?


Ngapain aku putusin kalau masih pengen memiliki dia? Edan!


Apa dia nggak tahu love story' kami sampai dengan nggak ada malu berpikir aku akan merebut Bagus?


Sebelum dia memiliki Bagus, aku adalah pemiliknya.


Uluran tangan Bagus yang mengarah ke tanganku dengan cepat bisa ku hindari.


Aku nggak mau sembarangan bersentuhan dengan lawan jenis.


Apalagi jelas ada pacarnya yang buasnya kayak anj*ing gila di depan kami.


Lagian kenapa Bagus sekarang jadi kayak biasa banget mengulurkan tangan untuk menyentuhku.


Dulu pas kami masih pacaran tangannya sangat sopan.


Oh, mungkin dia sudah terbiasa begitu dengan Nurul,pacar barunya itu.


Menurut kabar burung yang kabur- kaburan di telingaku, Bagus dan Nurul sekarang jadi hot couple di sekolah ini.


Gandengan tangan dan saling mengenggam tangan sudah jadi pemandangan seantero sekolah. Mereka akan saling melepas tangan kalau ada kelebatan guru atau staff sekolah.


Bahkan aku denger cerita dari Lita, ada anak kelas sebelah yang memergoki mereka kissing di lab komputer pas les komputer seusai sekolah.


Ada juga cerita Bagus duduk sambil memangku Nurul di ruang Pramuka.


Hadyeeeeh....Rasanya nggak rela Bagus jadi rusak begitu.


Aku yakin mereka pasti sudah melakukan lebih dari itu.


Apalagi Nurul sudah kondang murahannya sama lawan jenis.


Tapi biarlah. Itu sudah pilihan yang Bagus mau.


Dia mendapatkan dari Nurul apa yang tidak bisa aku kabulkan untuknya.


Bahkan Bagus pasti mendapatkan yang lebih dari cium pipi.


Silakan saja.


Selamat menikmati kesenanganmu.


Hati- hati saja di perjalanan cinta kalian.


Ucapan pedas Nurul padaku bisa membuat Bagus meradang.


Aku sedikit kaget dan ngeri melihat amarah di wajahnya itu.


Selama kami berpacaran Bagus belum pernah mengeluarkan ekspresi marah sengeri itu.


Gila, ternyata bisa serem juga dia.


Aku sudah malas dengan perdebatan konyol yang kami lakukan karena kelakuan Nurul.


Aku bahkan baru tersadar ternyata kami jadi tontonan beberapa adik kelas yang nampak jelas memasang kuping walau berakting pura- pura tak perduli.


Ya mana mungkin mereka tak mendengar suara penuh emosi dengan kata- kata menyebalkan dari Nurul.


Suaranya saja teriak- teriak begitu. Ckkkkk!


Aku hampir membalikkan badan untuk pergi kembali ke dalam sekolah.


Aku sudah malu berada di tempat ini dan pastinya akan jadi bahan berita di sekolah besok.


Namun setengah badanku yang sudah berbalik terhenti oleh satu suara panggilan.


Ada dua cowok ternyata.


Mereka tadi luput dari pandanganku.


Aku menatap dengan setengah melayang dan tak percaya saat menyadari salah satu cowok itu adalah Jiwo.


Jiwo!


Ya Allah, aku nyaris berteriak saking tak percaya dan bahagianya.


Dia ada di depan sana. Sedang tersenyum malu- malu.

__ADS_1


Ish, kenapa senyumnya seperti itu sih?


"Kamu ngapain kesini?" aku langsung kesal sendiri dengan pertanyaan yang meluncur begitu saja dari mulutku.


Nggak ada manis- manisnya sama sekali.


Nggak ada ramah- ramahnya.


Hhhhhh, kenapa ya kalau di depan dia aku nggak bisa bersikap manis?


Dia pasti ilfeel deh.


Tapi hatiku langsung berubah jadi taman bunga saat dia bilang ingin ketemu aku walau dengan setengah terbata- bata.


Teman yang bersamanya belum terlalu kuperhatikan walau dia yang pertama menyahut ucapanku tadi.


Aku memilih mendekat ke arah Jiwo. Semata agar bisa melepaskan diri dari situasi konyol


dengan Bagus dan Nurul.


Jiwo nampak tersenyum salah tingkah saat aku mendekat ke arahnya.


Dia masih kayak gitu. Masih malu- malu kucing dan nampak grogi.


Menyebalkan!


Padahal kalau dia bisa bersikap penuh percaya diri seperti cowok- cowok yang lain, dia itu keren banget.


"Kamu tahu aku sekolah disini?" tanyaku pada Jiwo setelah jarak kami sudah dekat.


"Ya taulah! Masak sekolahnya pujaaan hati ngga tahu." lagi- lagi temen Jiwo yang menyahut dengan csngengesan.


Jiwo menendang kaki temannya itu.


"Menengo lambemu ki! ( diamlah bibirmu tu!)". geram Jiwo yang hanya mendapat balasan tawa dari temennya itu.


"Wit, kelas dua masih class meeting?" tanya temen Jiwo padaku seperti sudah kenal lama saja nada bicaranya.


"Masih. Kenapa? Pacarmu kelas dua disini?" tanyaku ikutan bernada sok akrab padanya.


"Iya. Kenal Astuti nggak? Kelas dua akuntansi." tanya cowok itu lagi.


"Enggak. Aku nggak kenal banyak orang disini. Jangankan adik kelas, yang seangkatan aja yang aku hapal cuma yang sekelas." jawabku cuek.


"Wuuuuiiiih! Bahasanya orang kondang emang lain." sahut cowok itu sambil menatapku dengan tatapan meledek.


Aku menoleh ke arah matanya memandang.


Oooo, ini yang namanya Astuti.


Adik kelasku itu nampak ragu mendekat saat menyadari keberadaanku di dekat pacarnya.


"Sini nggak papa. Witri sudah ada pawangnya." kata cowok itu seperti tahu keraguan pacarnya karena keberadaanku.


Aku mendelik padanya. Sedang Jiwo hanya tersenyum kecil taanpa bersuara.


"Kamu apa kabar?" tanya Jiwo pelan.


"Baik. Tinggal nunggu hasil ujian PKL." jawabku.


"Kamu udah selesai PKL. aku baru mau berangkat PKL dua bulan lagi." kata Jiwo sambil menatapku.


Dua bulan lagi aku udah lulus dong.


Oh iya...Di sekolah dia sampai kelas empat.


"Kelas empat dong PKL nya." tanyaku kemudian.


Sumpeeeehhh....ini garing banget suasananya. Hufffff!!!!!


"Iya. Aku dapat tempat PKL di Kalimantan." jawabnya kembali menatapku sekilas.


Jauh amat....


"Jauh banget PKL nya...." gumamku.


"Kalau jurusanku memang keluar Jawa semua PKL nya. Ke pertambangan." katanya lagi.


"Kamu jurusan pertambangan?" tanyaku. Jiwo mengangguk sambil tersenyum.


"Sesuai dengan harapanku sejak dulu. Sekolah di jurusan pertambangan." jawabnya dengan rona bangga dan bahagia di wajahnya.


Aku baru tahu dia ambil jurusan tambang.


Katanya sih itu jurusan favorit juga di STM dia. Jurusan calon orang- orang kaya katanya.


"Berapa bulan PKLnya?" tanyaku kemudian.


"Kamu kemarin PKL berapa bulan?" tanyanya balik.

__ADS_1


"Tiga bulan. Tapi aku diperpanjang jadi enam bulan." jawabku.


"Kenapa diperpanjang?" tanyanya penasaran.


"Karena katanya aku bagus kerjanya selama PKL. Makanya diminta buat lanjut PKL sekalian magang. Kalau sudah dapat ijazah aku sudah ditunggu untuk langsung masuk kerja ke tempat aku PKL." jawabku sedikit bangga dalam hati.


"Keren! Masih tetap saja hebat pacarku ini." puji Jiwo dengan mata berbinar- binar.


Bukan pujiannya yang membuat hidungku kembang kempis dan dadaku bertalu- talu.


Tapi ucapannya yang bilang kalau aku ini pacarnya yang membuatku ingin salto dan tepuk tangan saking girang dan kagetnya.


Aku pacarnya?! Sejak kapan?!


"Pacar... pacar..." gumamku kesal.


Nah kan, hati dan bibir nggak pernah mau sinkron.


Hatiku berbunga- bunga, namun mulutku tetap saja berbisa kepadanya.


"Lhah kan kita belum pernah putus." katanya sambil tersenyum.


Deg!


Jantungku bertalu- talu mendengar ucapannya itu.


Iya. Kami belum pernah berucap putus dulu.


Ya Allah...Aku selingkuh dong kemarin pacaran sama Bagus?


Tapi sekian tahun Jiwo juga nggak ada gelagat apapun.


Aku bahkan sudah kadang membencinya karena dia nggak pernah mencari kabarku.


Katanya pacaran.....Pacaran model apa kami ini?


"Pacar kok selama SMP nggak ada kabar. Tiga tahun lho Wo SMP tuh! Sekarang juga. Baru ini kamu nyari aku. Aku udah mau lulus SMEA. Mana ada pacaran enam tahun dicuekin Wo?!" geramku kesal.


Jiwo menunduk di depanku.


"Maaf. Aku nggak berani deketin kamu." katanya pelan.


"Dari dulu kamu nggak berubah! Pengecut!" umpatku kesal sambil mendorong bahunya.


Dia terhuyung ke belakang dua langkah karena doronganku.


"Maaf." katanya lagi sambil menatapku penuh sesal.


Kekesalanku rasanya langsung tersulut melihat tatapan mengibanya itu.


Bukan seperti ini yang kuimpikan dalam pertemuan pertama kami setelah sekian lama aku hanya bisa menatapnya diam- diam.


Aku berkhayal dia akan datang sebagai Jiwo dewasa yang penuh percaya diri,sedikit jahil,dan menawan.


Tapi yang tersaji di depanku tetaplah Jiwo yang masih terlihat minder dan sangat mengalah.


Ketampanannya seolah berusaha dia sembunyikan dengan seringnya dia menunduk.


Jauh dari harapanku.


Dan ya, aku kecewa.


Sangat kecewa.


"Temui aku lagi saat kamu sudah jadi Jiwo yang baru. Jiwo yang penuh percaya diri sebagai laki- laki." ucapku akhirnya.


Aku benar- benar dikuasai rasa kecewa siang itu.


"Saat kamu sudah bisa begitu, kamu boleh putusin aku." kataku kemudian menantangnya.


Jiwo menatapku dengan sorot mata yang baru. Penuh harapan.


"Aku nggak mau putusin kamu." katanya lagi.


"Tapi kamu nggak berlaku sebagai pacar yang baik selama ini." sergahku cepat.


Dia mengangguk menyadari.


"Dan aku udah pacaran sama orang lain." kataku kemudian.


"Tapi udah putus kan? Sama cowok tadi. Karena nggak mau di sun." kata Jiwo berbisik, membuatku sangat kaget.


"Kok kamu tahu?!"


"Karena aku pacar sejatimu." jawabnya sambil tersenyum penuh arti.


Ah Jiwo....aku meleleh kali ini....


...💧💧💧 b e r s a m b u n g 💧 💧💧...

__ADS_1


__ADS_2