
Witri mengedarkan pandangannya ke seantero kamar hotel yang tak terlalu lebar itu.
Sangat rapi dan nyaman di pandangan mata.
Melemparkan pandangan dari tengah kamar dan Witri tertarik untuk melihat suasana jalan di depan hotel dari balkon kamar yang mungil.
Dari balkon kamar yang ada di lantai lima, Witri masih dapat melihat Jiwo - yang nampak kecil- berjalan kaki di trotoar samping hotel.
Tanpa sadar Witri tersenyum melihat langkah cepat Jiwo.
Dulu dia sering kesal dengan langkah Jiwo yang cepat itu karena dia sedikit ngos- ngosan saat mengekor langkah Jiwo kecil yang bergerak lincah seperti anak rusa.
Ya, jaman SD dulu mana pernah mereka jalan beriringan apalagi bersisihan. Malu!
Yang ada saat berangkat dan pulang sekolah Witri jadi tukang mengekori Jiwo. Gitu aja dulu hatinya udah senengnya minta ampun.
Bisa melihat Jiwo yang selalu berseragam rapi juga tatanan rambut yang terjaga rapi - walau celananya sedikit kebesaran- dari pagi saat mereka berangkat sampai siang saat mereka pulang sekolah itu sebuah kebahagiaan tersendiri saat itu.
Langkah Jiwo gesit dan lincah seperti rusa kecil, membuat yang melihatnya ikut bersemangat.
Witri berjengit kaget saat obyek pandangannya di bawah sana tiba- tiba berhenti lalu memutar badannya kemudian mendongak dan menatapnya sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.
Witri tersenyum tak percaya dan sedikit salah tingkah karena tertangkap basah ketahuan sedang menatap Jiwo diam- diam.
Apa iya dia tahu kalau sedang dilihat dari sini?
Jiwo terlihat merogoh kantong celananya dan kemudian menunduk dan nampak sedang melakukan sesuatu dengan benda di tangannya.
Tak lama ponsel di sakunya berdering dan ternyata dari seseorang yang kini masih menatapnya dengan senyuman dari bawah sana.
"Buruan mandi, istirahat. Jangan lupa VC Aksa dan Mamak segera. Tadi kamu janji mau VC lagi sesampainya di hotel. Nggak perlu lama- lama memandangi Si Tampan ini, nanti kita ketemu lagi kok, tenang aja." kata Jiwo dengan nada menghibur yang membuat Witri tertawa tak percaya dengan kata- kata Jiwo barusan.
Berani sekali dia memuji dirinya sendiri senarsis itu. Si Tampan dia bilang?
Witri menggelengkan kepalanya tak bisa menahan geli.
"Iya." jawab Witri setelah meredakan tawanya.
Dibalasnya lambaian tangan dari Jiwo di bawah sana dengan lambaian tangan pula.
Lelaki itu kemudian kembali melanjutkan langkahnya tanpa terlihat menoleh lagi ke arah balkon yang juga segera ditinggalkan oleh Witri yang segera melakukan panggilan video kepada Mamak.
Hatinya berdenyut malu juga menyesal saat dilihatnya Aksa nampak duduk tenang di pangkuan Mamak sambil berceloteh ke arah kamera. Jari- jari mungilnya sibuk menunjuk- nunjuk ke arah kamera seolah ingin merengkuh mamanya.
Witri merasa jadi Ibu yang tak berperasaan dan tega sekali sampai meninggalkan anak hanya untuk main sejauh ini. Berpisah dengan Aksa tiga hari ke depan.
Maafkan Mama ya, Sayang...
__ADS_1
Sampai detik ini pun Witri masih tak percaya dia telah berada jauh dari tempat tinggalnya.Jauh dari orang- orang yang selama ini dikenalnya.
Apakah ini tidak berlebihan dan kelewatan? Seorang perempuan, janda pula seperti dia, rela menyeberangi lautan seluas itu untuk bertemu seorang lelaki yang belum jelas status hubungan mereka.
Apa kata keluarga Hari kalau mereka tahu kelakuannya ini?
Nggak perlu jauh- jauh sampai ke keluarga Hari. Bagaimana pandangan teman- temannya kalau tahu dia cuti untuk terbang ke Korea agar bisa bertemu dengan seorang lelaki pemilik cinta pertamanya?
"Aksa rewel nggak, Mak?" tanya Witri setelah sanggup menepis pikiran- pikiran serem yang bergelayutan di kepalanya barusan.
"Enggak dooong. Dia kan udah biasa sama utinya. Tenang aja kamu. Nikmati masa liburanmu disitu. Aksa biar Mamak dan Bapaknya yang urus." kata Mamak sambil tersenyum menenangkan.
Ah Mamak. Kenapa juga ngasih ijin dia ke Korea, nyamperin Jiwo? Kenapa nggak ngelarang aja, atau ngasih solusi lain?
"Mamak nanti malem nggak ada temennya di rumah." kata Witri berusaha meringis walau hatinya tiba- tiba ingin nangis.
Sungguh, dia merasa bersalah sudah ada di tempat ini. Andai saja bisa balik kanan jalan sekarang juga, itu pasti akan dia lakukan secepat kilat saat ini juga. Dia ingin pulang aja.
"Enggak kok. Tadi Nadi bilang akan pulang kesini selama kamu nggak di rumah." kata Mamak kembali menenangkan Witri.
"Syukurlah kalau gitu..." gumam Witri lirih. Lega, dan juga malu.
Apa ya yang dipikirkan Nadi soal kepergiannya ini? Apa Nadi akan nuduh dia perempuan gampangan? Atau bahkan murahan?
"Coba kamu jalan- jalan di kamarmu itu, Wit. Room tour biar Mamak bisa tahu kamu dijamu dengan baik nggak sama Jiwo sebagai seorang tamu." kata Mamak sambil terkekeh pelan.
Witri segera menuruti permintaan Mamak, berjalan menjelajahi setiap sudut kamar bahkan sampai ke balkon dan juga lorong depan kamar hotelnya dia tunjukkan ke Mamak.
"Kamu sudah tahu apartemen nya Jiwo belum? Udah mampir sana belum tadi?" tanya Mamak penuh rasa penasaran.
"Belum tahu. Cuma katanya nggak jauh dari sini. Jiwo tadi aja jalan kaki dari sini buat pulang ke apart nya. Tadi sebenarnya ditawarin juga mampir dulu ke apartemennya Jiwo, tapi aku nolak. Keburu pengen rebahan." kata Witri setengah tertawa.
"Ya udah kamu bersih- bersih dulu. Sebelum pulang, sempatkan datang ke apartemennya Jiwo walau sekali." pesan Mamak dengan wajah serius.
"Harus ya?" tanya Witri dengan keheranan dan nada sedikit keberatan. Mamak hanya mengangguk samar namun tegas.
"Setidaknya kamu bisa melihat suasana apartemen dia gimana. Rapi atau enggak. Itu penting menurut mamak. Dari sana kamu bisa memperkirakan serapi apa dia menata kehidupannya." tutur Mamak dengan sorot mata serius walau berwajah santai. Witri mengangguk.
Dalam hati dia sepakat dengan kata- kata mamak.
Menurut pengalaman dan pengamatannya selama ini, orang yang tempat pribadinya berantakan kebanyakan memang cara dia menjalani hidupnya serampangan dan nggak tertata cenderung ngawur.
Orang yang meja kerjanya nggak pernah bisa terlihat rapi, atau ruangannya tak rapi, biasanya orangnya panikan dan nggak bisa berpikir panjang. Grubak- grubuk nggak terarah.
Dan sekarang Witri jadi penasaran seperti apa penampakan asli tempat tinggal Jiwo selama ini.
Harusnya dia tadi langsung mampir ke apartemen Jiwo dulu, jadi bisa nge gap kalau ada unsur ketidakrapian di tempat tinggal cowok itu. Kalau dia datangnya pakai janjian,bisa aja kan Jiwo berjuang beberes dulu buat pencitraan.
__ADS_1
AHA !
Tiba- tiba Witri punya ide.
Dia segera mengirim pesan pada Jiwo.
📤 Shareloc please....
Tak lama pesan itu sudah terbaca dan segera berbalas. Witri langsung membuka map yang dikirim Jiwo.
📥 Mau kesini sendirian? 😄 Berani? 😅
Witri tersenyum kecil. Jangankan hanya jarak segitu, jalan kaki aja nyampai. Jarak ratusan kilo aja dia datang sendiri berani. Buktinya dia udah ada seudara sama Mas Lee Min Ho.
📤 Kamu nanya barusan?! 🙄
Jiwo yang hendak mandi kini terbahak bersandar pintu kamar mandi yang sudah terbuka.
Witri memang juteknya menggemaskan!
📥 Aku percaya kamu pasti berani jalan sendiri sampai depan pintu apartemen ku. 🙌🙌🙌
Witri menyeringai puas.
Liat aja ntar.
📤Aku mandi dulu. Bye !
Jiwo menggeleng- gelengkan kepalanya saking gemasnya.
Masih aja absurd kelakuannya. Selalu sesukanya.
"Tapi aku selalu cinta." gumam Jiwo sambil menutup pintu kamar mandinya diiringi senyuman di bibirnya.
Dia akan mandi bareng sama Witri sekarang.
Dia di kamar mandinya ini dan Witri di kamar mandi hotelnya.
Mandi barengan waktunya. Bukan mandi bersama 😄
Dan memang itulah yang tengah dilakukan Witri.
Perempuan itu telah selesai menyiapkan baju gantinya yang dia ambil dari kopernya kemudian bergegas ke kamar mandi. Menikmati kucuran air hangat menyentuh ujung kepalanya hingga ujung jemari kaki terasa sangat menyenangkan.
Dan kepalanya terus menyusun rencana kecil yang akan segera dia eksekusi seusai dia mandi.
Tak sampai setengah jam dia membersihkan diri,dilanjut memulas wajah dan bibirnya dengan riasan tipis, kemudian sudah siap keluar kamar hotel sambil menggendong tas ranselnya yang berisi beberapa makanan khas Indonesia oleh- oleh untuk Jiwo.
__ADS_1
Mari kita buktikan, serapi apa kamu menata ruanganmu....
...🍁 b e r s a m b u n g 🍁...