
Hari mengeluarkan senyumnya saat dia terbangun karena merasa ada hembusan angin di dadanya.
Rupanya muka Witri merapat ke dadanya.
Posisi tidur mereka tanpa mereka sadari sudah berganti posisi dengan sendirinya.
Guling yang awalnya di pasang Witri sebagai batas untuk mereka, kini sudah berada di belakang tubuh Witri yang kini malah miring menghadap ke arahnya.
Wajahnya nyaris nempel ke dada Hari namun kedua tangannya tersimpan rapi di antara dengkulnya yang rapat setengah menekuk.
Dan lihat saja gaya tidur Witri yang kayak mau nyari tempat ngumpetin wajahnya ini.
Bikin iba saja.
Mungkin selama ini dia suka guling untuk menyembunyikan wajahnya saat tidur ya?
Apakah itu reflek alam bawah sadarnya yang ingin menyembunyikan kesedihannya seorang diri?
Tangan Hari lembut menyingkirkan helaian rambut Witri yang menutupi setengah wajahnya.
Rambutnya wangi dan halus.
Diusapnya lembut kening Witri yang nampak tak terusik.
"Capek banget ya kamu?" gumam Hari lembut.
Hari langsung memejamkan matanya saat dirasanya Witri bergerak.
"Eh!.... astagfirullahaladzim...aku lupa kalau udah sama Mas Hari." di dengarnya gumaman Witri yang tadi terdengar terlonjak.
Hari memicingkan sedikit matanya dan melihat Witri menunduk melihat tubuhnya sendiri.
"Alhamdulillah masih bener bajuku." gumam Witri lirih dan lega.
Witri menatap tampilan Hari juga belum berubah.
Masih memakai celana pendek dan kaos singlet.
Hari meringis sedih dalam hati.
Nggak mau banget ya aku apa- apain?
Witri membaringkan kembali tubuhnya.
Kali ini memberi batas guling diantara dirinya dan Hari.
Hari menatap punggung Witri yang berbaring setengah meringkuk membelakanginya.
Berapa lama waktu yang kelak harus kugunakan untuk bisa menguasai hatimu, Jeng?
Hari terus menatap punggung istrinya itu hingga kembali jatuh tertidur.
Witri terbangun dengan punggung yang terasa di tempeli sesuatu.
Bergegas dia beringsut dan mendapati telapak tangan Hari terkulai di belakang punggungnya.
Ada kelegaan dan juga rasa tak enak hati saat melihat wajah tenang lelaki yang telah berhak penuh memiliki dirinya itu.
__ADS_1
Lega karena Hari malam tadi tetap berlaku sopan padanya. Tak mencuri kesempatan saat dia tidur atau bahkan memaksanya.
Namun tak bisa dipungkiri juga dia merasa tak enak hati karena belum rela hati menyerahkan tubuh dan hatinya untuk suaminya itu.
Ya memang dia sedang kedatangan tamu bulanannya, jadi bisa dia jadikan alasan untuk tidak melakukan hal yang biasanya dilakukan pasangan pengantin baru di malam pertama mereka.
Tapi setidaknya - kalau Hari mau agresif- mereka bisa melakukan sedikit cum bu an atau sekedar berkenalan bibir atau sesuatu yang lain yang in tim.
Tapi nyatanya malam tadi terlewat dengan tenang tanpa ada adegan romantis 18+ nya.
Mereka malah becanda kayak bocah kecil hingga larut malam.
Mereka berhenti rusuh karena mamak berteriak di depan pintu kamar mereka dan meminta untuk segera tidur.
Ya Allah terus sabarkanlah dia menghadapiku nantinya. Ikhlaskanlah hatiku mendampinginya.
"Kenapa?" Witri tersentak saat lengannya di sentuh lembut oleh Hari yang entah kapan bangunnya.
Aku melamun ya...?
"Ng...nggak papa, Mas. Duh ngagetin aja." kata Witri dengan nada sedikit kesal lalu turun dari ranjang.
Hari meringis.
"Bangun pagi kok langsung melamun. Nggak bagus itu." kata Hari ikut turun dari ranjang.
"Handuk dimana ya, Jeng? Aku kemarin lupa naruhnya." tanya Hari sambil menatap Witri.
"Handuk?"
"Iya. Handukku." jawab Hari dengan wajah santai.
"Mas mau mandi jam segini?" tanya Witri setengah bergumam.
"Iya.....🎶 bangun tidur ku terus mandi...🎶" suara Hari berdendang dengan wajah jenaka.
Witri meringis gemas.
Apa kata mamak nanti melihat Hari mandi di pagi buta? Kan dia malu...
"Melamun lagi..." kata Hari sambil menowel dagunya lembut.
Witri refleks bergerak menepis tangan Hari walau kemudian nampak malu.
"Maaf... refleks." kata Witri dengan wajah menyesal.
"Nggak papa. Aku malah senang. Refleksmu melindungi diri bagus. Aku suka. Dan memang harus bisa begitu." kata Hari sambil mengelus lembut kepala Witri.
"Handukmu ada di belakang, Mas. Di jemuran samping kamar mandi." kata Witri kemudian. Berusaha mengalihkan perhatian Hari padanya.
"Kita nanti habis sarapan ke rumahku sebentar ya, Jeng." ajak Hari sambil mengeluarkan baju ganti dari tas ranselnya.
Witri tersenyum kecil.
Udah luwes aja Hari memanggilnya dengan sebutan Jeng. Nggak pernah lupa.
"Ya." jawab Witri dengan berat hati.
__ADS_1
Semoga nggak lama disana nanti.
Witri jiper membayangkan bagaimana nanti perlakuan ibu mertuanya padanya nanti.
Di rumah ini saja yang notabene bukan rumahnya, ibu mertuanya berlaku bak sang ratu, bagaimana kalau di rumahnya sendiri?
Jangan- jangan dari halaman rumahnya aku sudah harus laku dhodok (jalan sambil jongkok, seperti yang dilakukan di lingkungan kraton).
"Kita disana sebentar saja, nggak sampai sejam. Aku janji. Nanti kamu ikut Mas ke kamar aja. Bagaimanapun kita harus pamit sama orangtua karena kita bakal lama nggak pulang. Apalagi aku. Nggak tahu akan bisa pulang masih dalam keadaan sebagai manusia atau sudah sebagai jenazah nantinya." kata Hari sambil tersenyum.
Dia tahu Witri kurang sreg dengan perilaku ibunya.
Jangankan Witri, dia dan Mbak Tati yang anak kandungnya saja dari dulu kurang suka dengan perilaku ibunya yang suka mengatur dan senang memandang remeh pada orang lain.
Witri melotot kepada Hari.
"Ngomong yang baik- baik aja, Mas. Nggak usah jadi cita- cita, jadi jenazah itu udah pasti buat kita semua. Kayak yang udah punya bekal banyak aja, bercita- cita jadi jenazah." omel Witri dengan wajah kesal.
Hari menggelegas.
"Memangnya kamu akan sedih kalau aku mati muda?" tanya Hari sambil tersenyum meledek.
Bukannya menjawab, Witri malah memukul lengan Hari.
"Aduh!!!"
"Ini baru sehari kita jadi suami istri ya, Mas. Belum adzan subuh pula. Ini masih pagi buta. Belum ada 24 jam kita nikah. Bukannya ngomongin yang indah- indah, malah ngomongin rencana membuatku jadi janda.Niatmu itu apa sih menikah? Mau bikin anak perempuan orang cepet jadi janda?" omel Witri dengan wajah bersungut.
Hari tergelak melihat wajah manyun Witri.
"Ya nggak gitu juga rencananya. Tapi kita kan nggak tahu ajal kita kapan datangnya. Tapi karena kamu sudah bersedia jadi istri seorang prajurit, kamu pasti sudah tahu konsekuensinya. Persiapan mental kamu harus dua kali lipat sewaktu- waktu ditinggal aku selama- lamanya. Jadi, kalau kamu nggak mencintai aku dengan maksimal, nggak papa. Yang penting selama kamu jadi istriku kamu bisa menjaga nama baik, kehormatan, dan kesetiaan kamu saja. Itu sudah cukup buat aku." kata Hari sambil menangkup sebelah pipi Witri yang terpaku.
"Kok gitu ngomongnya..." kata Witri lirih. Dia merasa dihakimi secara halus.
"Kalau kamu terlalu mencintai aku, aku nggak akan tega melihat kamu terlalu bersedih kalau sewaktu- waktu aku harus ninggalin kamu lebih dulu. Makanya cintai aja secukupnya. Sedikit juga nggak apa. Aku terima. Yang penting tulus dan ikhlas." kata Hari sambil tersenyum menatap Witri yang menatapnya dengan pandangan nanar kemudian menunduk.
Mata Witri berkaca-kaca karena merasa bersalah dan juga malu.
Dia malu pada dirinya sendiri.
Dia merasa telah berlaku curang pada Hari atas perasaaannya.
"Kok malah mau nangis..." kata Hari sambil mengusap pelipisnya.
"Ma...af..." ucap Witri sambil meluruhkan airmatanya.
"Maaf kenapa? Nggak papa kalau mau nangis. Itu artinya hatimu lembut." kata Hari yang merengkuh lembut tubuh Witri yang melemah dipelukannya.
Witri menangis sesenggukan di dadanya. Dia merasa bersalah dengan keadaan perasaannya saat ini.
Dia juga merasa telah menyakiti hati Hari. Suaminya.
Maafkan aku ya, Mas. Tolong maafkan.
...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...
Nggak papa ya hari Minggu up.... soalnya kemarin nggak up 😄
__ADS_1