JANJI JIWO

JANJI JIWO
Asa


__ADS_3

Dua bulan setelah percakapan mereka malam itu Jiwo benar- benar berangkat ke Korea. Bersama enam rekannya, dia menempati kantor perwakilan perusahaan yang melakukan kerjasama dengan salah satu perusahaan tambang di Korea.


Hari- hari sebelum keberangkatan mereka penuh dengan berbagai jadwal pelatihan untuk melancarkan pekerjaan dan komunikasi di negara tujuan.


Jiwo hanya punya waktu senggang dua hari sebelum hari H keberangkatannya dan memilih untuk pulang ke Jogja, menemui ibu dan saudara- saudaranya.


Bagaimanapun dia akan berpisah dengan mereka dalam hitungan tahun. Setidaknya dia ingin membuat sedikit kenangan dengan keluarganya sebagai bekal untuknya merantau jauh ke negeri orang.


Dan VC dengan Witri juga mamaknya ada di sela- sela tiap harinya sebelum kepergiannya.


Sesungguhnya sangat berat untuk memutuskan pergi sejauh itu. Namun dorongan keluarga yang meyakinkannya kalau ibu akan selalu dalam penjagaan mereka, juga semangat dari Witri membuat Jiwo lebih ringan meninggalkan tanah air.


Apalagi JIwo sadar betul kalau dia belum bisa mewujudkan satu keinginan besar ibunya, yaitu menikah.


Flashback on


**************


"Ibu akan semakin lama nunggu kamu nikah, Wo." kata Ibu saat mereka berdua ada di dapur. Jiwo tengah lahap menikmati sayur bobor gantung masakan ibunya, dengan aroma daun kemangi yang menyenangkan Indra penciumannya.


"Makanya ibu janji harus sehat terus ya. Doakan sepulangnya aku dari Korea aku bisa bawa calon mantu buat Ibu." kata Jiwo sambil tersenyum. Jelas dibenaknya ada wajah Witri yang semalam baru saja VC dengannya.


"Kamu mau nikah sama perempuan Korea?!" tanya Ibunya kaget. Jiwo menelan cepat makanannya sambil melambai- lambaikan tangannya untuk mengatakan 'bukan' pada Ibunya.


"Enggak. Aku cinta buatan Indonesia kok, Bu. Tenang saja." kata Jiwo kemudian. Nampak Ibunya tersenyum lega.


"Kalau boleh milih, Ibu maunya punya mantu orang Indonesia saja biar bisa ngobrol. Kalau mantuku orang luar negeri, bingung ngobrolnya, Wo. Bisa- bisa jadi Tarzan Ibumu ini nanti kalau pengen ngobrol." kata Ibu sambil terkekeh.


"Nyuwun pandongane Ibu mawon nggih ( mohon doanya Ibu aja ya) semoga jodohku orang dalam negeri. Semoga bisa ngomong kromo ( bahasa Jawa halus) juga sama Ibu." kata Jiwo kembali tersenyum.


Ibu menatap penuh harap pada Jiwo.


"Kamu sudah punya calon? Anak sini? Siapa, Wo? Kenapa nggak kamu lamar aja dulu? Atau sekalian aja ajak nikah biar bisa kamu bawa ke Korea." kata Ibu bertubi- tubi.


Jiwo tersenyum seusai meneguk minumannya.


"Satu- satu Bu nanyanya. Semangat banget." ledek Jiwo sambil tertawa sengaja menggoda ibunya yang berbinar- binar.


Ah Jiwo merasa bersalah saat melihat binaran penuh harap di sorot mata ibunya. Ternyata pernikahannya mungkin sudah sangat diharapkan oleh ibunya. Sayangnya dia belum bisa mewujudkan harapan ibunya dalam waktu dekat ini.


Ya Allah, sehatkanlah kami dan panjangkan lah usia kami agar hamba bisa mewujudkan harapan Ibu dan melihatnya tersenyum bahagia di hari bahagiaku nanti.


"Anak mana?" tanya Ibunya lagi dengan suara yang sabar walau dari sorot matanya nampak sekali begitu antusias menunggu cerita darinya.


Jiwo sedikit berpikir untuk menimbang antara akan bercerita atau menyimpan dulu soal asmaranya. Dia takut nanti ibunya kecewa kalau ternyata semua tak sesuai ekspektasinya.


"Aslinya Jawa juga, Bu. Jogja juga. Tapi kami nggak sedang dalam ikatan pacaran sih, Bu." kata Jiwo akhirnya.


"Lhah?! Piye to kowe ki, Wo? ( lhah?! Gimana sih kamu tu, Wo?)" tanya Ibu dengan wajah sedikit kecewa.


Jiwo menatap ibunya dengan tatapan bimbang. Dia hampir lupa belum tahu pasti bagaimana pendapat ibunya kalau dia menikahi seorang janda. Walau baginya sama sekali tak masalah, tapi kita nggak bisa menutup mata pada kenyataan kalau status seorang calon mantu pasti jadi pertimbangan juga bagi orang tua.


Duh!


Apa sekarang saja aku nyari tau gimana pendapat ibu?


Ya, sekarang saja.


"Aku belum tanya sama ibu soal status dia. Aku khawatir Ibu keberatan dengan status dia. Makanya aku diam saja dulu." kata Jiwo akhirnya dengan meluruhkan pandangannya.


Sumpah, hatinya deg- degan setengah mati menunggu reaksi ibunya.


"Status?" wajah Ibu tiba- tiba menegang. Sepertinya beliau langsung tahu maksud omongan Jiwo soal status itu.


"Dia...bukan seorang gadis?" tanya Ibu lirih. Dalam hatinya sesungguhnya berharap pertanyaannya ini akan mendapatkan sangkalan dari Jiwo. Tapi ternyata anak lelakinya itu mengangguk sambil menatapnya gamang.


Ada sesuatu yang terasa anjlog di hatinya. Tidak sakit, hanya...sedikit kecewa.


Anak lelaki kesayangannya yang baik ini kenapa bisa mencintai seorang janda? Apakah perempuan itu mendekati Jiwo dengan niat baik? Atau ada maksud buruk dengan kebaikan yang ada di diri Jiwo?


Astagfirullahaladzim...

__ADS_1


"Iya. Dia...janda..." Jiwo menghentikan ucapannya saat tatapannya bertemu dengan tatapan kaget ibunya walau wajahnya nampak biasa saja.


"Janda...kenapa?" tanya Ibu kemudian.


"Suaminya meninggal beberapa bulan lalu." jawab Jiwo lirih.


"Baru beberapa bulan lalu dan langsung mau sama kamu?!" tanya Ibu kaget.


"Enggak!" jawab Jiwo cepat. Jiwo yakin ibunya salah paham dan pasti mengira janda ini kegatelan.


Aduh, bisa kacau ini.


"Aku suka sama dia sejak kecil dulu, Bu..." kata Jiwo akhirnya memilih untuk bercerita secara lengkap tanpa ada yang dia tutupi lagi.


Cerita cintanya yang tadinya hanya Mbak Rini saja yang tahu, kini dia ceritakan juga pada ibunya.


"Sudah bener kalau kamu ngasih waktu sampai seribu harinya suaminya. Lebih baik begitu untuk semuanya." kata Ibu akhirnya. Wajahnya sudah nampak lega. Dan Jiwo sangat bersyukur akan hal itu. Bisa dipastikan ibunya nggak keberatan dengan status Witri.


Alhamdulillah.


Flashback off


**************


Jiwo semakin memantapkan niatnya untuk meminang Witri sepulangnya dari Korea kelak.


Dia juga berharap kondisi ekonominya semakin kokoh sepulangnya dari Korea.


Sudah ada rencana dibenaknya untuk membuat usaha sebagai investasi sebelum dia memasuki masa ' pensiun' kelak.


Dia ingin menikmati hari tua dalam kondisi ekonomi yang aman dan nyaman. Karena itu, selama dia masih mampu melakukan hal yang menghasilkan uang halal, sebisa mungkin dia akan lakukan demi kenyamanan hari tuanya bersama keluarganya nanti


...🍁🍁🍁🍁...


Witri baru saja duduk kembali ke kursinya saat ponselnya berdering.


"Dari tadi bunyi terus hapemu." kata Lucia dari meja seberangnya.


"Maaf ya kalau ngeganggu." kata Witri sambil. tersenyum malu.


Witri mengangkat panggilan dari Nadi.


"Assalamualaikum...ya,Bang?" tanya Witri.


"Wa'alaikumussalam...Sorry kalau ganggu. Di WA dari tadi nggak jawab." kata Nadi.


"Tadi meeting. Hapenya aku tinggal di meja." jelas Witri.


"Nanti kontrol kandungan jam berapa?" tanya Nadi to the point.


"Jam tujuh tiga puluh, Bang. Tadi udah dapat konfirmasi dari klinik." jawab Witri.


"OK. Nanti aku anter. Aku pulang langsung ke rumahmu." kata Nadi kemudian.


"Aku berangkat sendiri sama Mamak nggak papa, Bang. Abang istirahat aja." kata Witri bermaksud menolak halus.


"Kalau nggak malem nggak papa kamu pergi sendiri. Tapi nanti kamu perginya malam. Aku antar aja biar tenang semuanya." kata Nadi tegas menampik acara penolakan Witri.


"Ya udah kalau gitu." jawab Witri menyerah. Dia males berdebat karena pada akhirnya Nadi akan tetap melakukan apa yang sudah dia katakan.


Beberapa waktu berinteraksi dengan Nadi, Witri sudah bisa membaca karakter lelaki itu.


Sedikit kaku memang, tapi dia selalu berlaku sebagai pasukan siaga yang menemani masa kehamilannya.


Setiap hari Nadi menanyainya soal dia pengen makan apa atau apa yang dia mau sehubungan dengan masa ngidamnya.


Sebisa mungkin Witri tak ingin merepotkan Nadi soal ngidamnya. Selain sungkan, Witri juga merasa tanggungjawab soal kehamilannya sama sekali bukan kewajiban Nadi.


Harusnya Hari yang bertanggungjawab dan dia repotkan soal keinginan- keinginan ngidamnya. Tapi karena Hari telah berpulang, maka sepenuhnya kewajiban itu sebisa mungkin dia ambil dan jalani sendiri.


Namun bukan berarti Nadi lantas tak berperan menyukseskan masa ngidamnya.

__ADS_1


Seringkali malah lelaki itu yang berhasil memenuhi ngidamnya soal makanan yang kadang sulit dia dapat dengan tiba- tiba membawanya ke rumah.


Tentu saja peran Mamak yang berjalan disini. Saat Nadi tak mendapatkan jawaban memuaskan darinya, lelaki itu akan dengan senang hati bertanya pada Mamak. Dan Mamak akan dengan senang hati pula membicarakan apa yang dia inginkan.


Lagipula sebenarnya Witri memang agak takut untuk keluar malam hari tanpa laki- laki. Lingkungan tempat tinggalnya memang tergolong ramai, namun ramai oleh lelaki yang biasa nongkrong dan Witri risih dengan sapaan- sapaan yang kadang menjengkelkan.


Beruntung pas pertama memeriksakan kandungannya ke klinik, dia dapat jam sepulang kantor, jadi pulang kantor langsung ke klinik dan sampai rumah pas adzan magrib.


Tapi karena kemarin dia lupa untuk mendaftar lebih awal, hari ini dia dapat jadwal pemeriksaan jam tujuh tigapuluh malam.


Seperti janjinya tadi, Nadi sudah muncul di depan rumah dengan mobilnya saat adzan isya tengah berkumandang.


Begitu Mamak membukakan pintu, lelaki itu bergegas berpamitan ke masjid dulu.


Nadi muncul kembali saat Witri dan Mamak sudah siap untuk berangkat.


"Udah siap semua?" tanya Nadi dengan sedikit tersenyum begitu melewati pintu depan.


Sepengetahuan Witri pembawaan Nadi memang seperti itu. Tak pernah tersenyum dengan lebar kalau di depan perempuan muda. Beda lagi kalau dia berhadapan dengan anak kecil atau orang tua. Dia bisa sangat ramah dan ceria.


"Sudah. Kamu mau makan dulu?" tawar Mamak.


"Enggak, Mak. Makasih. Tadi sudah makan." tolak Nadi selesai menghabiskan minumnya dalam sekali teguk.


Kebiasaan inipun Witri sudah paham. Kalau minum langsung dihabiskan seperti ini, biasanya nanti Nadi nggak akan ikut turun saat mengantar dia pulang.


"Ya udah yuk kita berangkat." ajak Nadi setelah melirik arlojinya. Masih ada waktu dua puluh menit untuk sampai di klinik. Cukup untuk jalan dan registrasi ulang sebelum jadwal jam yang ditentukan.


"Rencana belanja baju hamil kapan, Wit?" tanya Nadi setelah beberapa saat mobil mulai berjalan tak ada percakapan diantara ketiganya.


Witri sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. Dia bahkan nggak kepikiran belanja baju hamil.


Ya ampun, kenapa sampai nggak kepikiran sih beli baju hamil buat ke kantor?


"Nanti aku beli online aja, Bang. Gampang." jawab Witri akhirnya.


"Kalau mau beli ke toko, bilang. Nanti aku anter. Sekalian ngajak Mamak jalan- jalan. Ya,Mak?" tawar Nadi sambil menatap Mamak dari spion tengah.


"Mamak sih tinggal ikut aja gimana maunya Witri." jawab Mamak sambil tersenyum.


Witri kembali tersentil.


Beberapa bulan Mamak bersamanya memang belum pernah dia ajak jalan- jalan. Rute terjauh Mamak hanya swalayan yang jaraknya lima menit dari rumah dengan dibonceng motor. Selebihnya Mamak hanya jalan kaki saja kalau ingin belanja apapun ke warung terdekat.


"Besok Minggu aku nggak ada kegiatan dari pagi. Kalau pengen ngajak Mamak jalan, kabari aku." kata Nadi kemudian.


"Iya." jawab Witri pelan.


Kenapa lelaki ini jadi bisa dekat begini dengan hidupnya? Sebenarnya apa yang membuat duda ini seolah ingin berperan menggantikan kewajiban Hari?


Dan kenapa Mamak juga terlihat nggak keberatan juga kalau Nadi mendekat kepada mereka begini?


Jangan- jangan Mamak ada maksud menjodohkan dia dengan Nadi.


Ya ampuuuun ...apaan sih, Wit? Tanpa sadar Witri menepuk keningnya.


"Kenapa?" tanya Nadi kaget.


"Eng...gak papa, Bang." jawab Witri sambil nyengir malu."Inget obrolan di kantor tadi." sambung Witri berdusta.


"Kirain pusing atau apa." gumam Nadi sambil kembali menatap jalanan.


"Jangan kebanyakan pikiran yang nggak jelas. Mending buat dzikir biar Aksa jadi anak yang kalem." kata Nadi sambil sekilas menatap Witri.


"Iya..." jawab Witri pelan.


Harusnya kan yang ngomong begitu bapaknya Aksa...


"Sorry kalau aku bawel." kata Nadi setelah sesaat sunyi.


"Nggak papa. Kan bawelnya bawel baik." sahut Mamak karena Witri hanya menjawab dengan anggukan.

__ADS_1


Witri hanya mampu menghembuskan nafasnya pelan.


...💧💧b e r s a m b u n g 💧💧...


__ADS_2