
Ini bukan ciuman pertama bagi Jiwo. Dengan kekasihnya terdahulu pun dia pernah berciuman walau tidak sering. Hanya pernah beberapa kali.
Namun ciuman kali ini terasa sangat berbeda baginya.
Indahnya perasaan saat ini belum pernah dia rasa sebelumnya.
Witri yang dirasanya ragu atau mungkin hanya malu menerima ciumannya, seakan membuatnya merasa tertantang untuk bisa melenakan perempuan yang dicintainya itu.
Dia harus bisa membuat Witri nyaman agar perempuan itu bisa menerima kemudian menikmati curahan perasaannya yang dia nyatakan dengan ******* lembut bibir kissable yang selalu membuatnya ingin menikmati rasanya.
Rasanya tak ingin berhenti melakukannya. Menikmati gelenyar riang di perut dan dadanya yang berdegup berkali lipat dari biasanya dan jauh dari detak tenang.
Dadanya tengah menggelegar riuh rendah mengiringi gelegak darah yang perlahan terasa semakin memanas.
STOP!!!
Sebuah seruan nyaring melengking begitu saja terdengar di telinga batin Jiwo. Mengagetkannya.
Apa yang tengah dinikmati ini harus segera dia hentikan sebelum setan semakin menguasai keduanya.
Walau matanya malah melirik ke arah ranjang di sudut sana, namun dia tahu kalau kenikmatan ini tidak boleh berlanjut sekarang.
Hamparan kasur yang seperti melambai- lambai memanggilnya sekuat hati dia abaikan.
Alangkah nikmatnya andai dia bisa berbaring berdua di sana, menikmati setiap inci permukaaan kasur itu bersama perempuan di hadapannya ini tanpa sekat dan batas.
Jiwo menghela nafas berat untuk menghalau pikiran erotis itu.
Walau dengan berat hati, mengikuti kesadaran hati yang perlahan kembali, Jiwo menghentikan kemudian melepaskan dengan perlahan luma tan bibirnya dengan lembut.
Kedua kening kini saling menempel.
"Enak." bisik Jiwo di depan bibir Witri sambil tersenyum kecil dan membuat tatapan Witri terangkat.
"Apa?" tanya Witri bingung dengan wajah yang masih memerah. Entah karena malu, atau karena masih dikuasai oleh hasrat.
Namun sungguh, wajah memerah itu mampu dengan mudahnya menyeret khayalan ero tis Jiwo sampai kemana- mana.
Astagfirullah.... ya Allah, kuatkan aku...kuatkan aku....
"Bibirmu enak. Pake banget." kata Jiwo sambil tersenyum malu walau terlihat tengil.
"Ish!" sahut Witri sambil memelintir pinggang Jiwo dengan cubitan mautnya.
"Auwh...! Sakit, Ma!" seru Jiwo sambil meringis kesakitan memegang pinggang yang barusan dipelintir kecil oleh Witri. Kemungkinan besar akan ada bekas biru di sana.
"Ma?! Ma siapa?" tanya Witri dengan tatapan penuh curiga.
Jangan - jangan body disini tapi hati masih kesana kemari nih orang.
"Mama." jawab Jiwo sambil tersenyum. "Mamanya Aksa." sambungnya kemudian meraih tubuh Witri dan memeluknya.
"Mamanya Mas Aksa dan adik- adiknya kelak." kata Jiwo setengah tertawa menyadari khayalannya yang sudah langsung membumbung tinggi akan masa depannya dengan Witri.
"Kayak yang udah yakin banget ya, Pak." kata Witri sambil mendongak dan tertawa pelan. Menatap wajah Jiwo dari bawah dagu lelaki itu.
"Yakinlah! Kita nggak akan terpisah buat kedua kalinya. Nggak mungkin aku biarkan kamu hilang dariku lagi." sahut Jiwo dengan yakin.
Hati Witri menghangat dengan ucapan itu. Walau mungkin hanya sebuah gombalan, namun Witri suka mendengar kalimat itu. Senang saja rasanya mendengarnya walau mungkin itu hanya bualan semata.
Ah dasar perempuan...nggak bisa dimanisin dikit aja.
"Wo...."
"Mas!" sambar Jiwo cepat sambil merenggangkan pelukannya.
__ADS_1
"Ha?" tanya Witri bingung.
"Belajar panggil aku 'Mas'. Nanti ditiruin Aksa lho kalau kamu manggil papanya ini dengan nama aja." kata Jiwo dengan wajah dibuat merajuk.
"Dih!" cibir Witri dengan wajah kesal namun juga tak bisa menahan tawa.
Pede banget menyebut dirinya sebagai papanya Aksa.
"Atau mau panggil Papa aja?" ledek Jiwo sambil menowel pinggang Witri.
"Apaan sih? Makin gak jelas aja nih orang." kekeh Witri malu.
"Kamu serius ngomong yang tadi?" tanya Witri dengan wajah ragu menatap Jiwo, meninggalkan tema percakapan barusan.
"Ngomong yang mana?" tanya Jiwo sengaja meledek.
"Yang itu...." kata Witri nampak salah tingkah.
Malu sekali rasanya kalau harus mengkonfirmasi ulang soal ajakan Jiwo menikah tadi. Kok kesannya kayak yang ngebet banget pengen dihalalkan gitu.
Walaupun memang begitu sebenarnya, tapi kan harus jaga harga diri juga di depan Jiwo.
"Yang aku bilang enak?" sahut Jiwo sambil menahan tawa melihat wajah kesal dan putus asa Witri.
"Itu memang beneran enak kok. Bisa bikin ketagihan tuh." sambungnya semakin menjadi.
"Bukan itu!" sergah Witri dengan wajah merah padam menahan malu. Kepalan tangannya sudah sampai di lengan Jiwo memukul- mukul pelan dengan kesal.
"Oh bukan itu? Lalu soal apa?" tanya Jiwo sambil meraih kepalan tangan Witri lalu mengecupnya lembut.
Desiran lembut menghentak dada Witri karena kecupan di buku- buku jarinya itu.
Bener- bener bahaya nih kalau nggak segera dibubarkan nih acara berduaan tengah malam gini.
"Soal ajakan menikah." kata Witri kemudian.
"Apakah menurutmu menikah itu hal main- main sampai aku bisa bercanda soal itu?" tanya Jiwo kemudian.
Kedua lengannya memegang kedua sisi bahu Witri yang berusaha menghindari tatapan matanya dengan cara menatap garis- garis zig-zag di sweater yang Jiwo pakai.
"Enggak." jawab Witri pelan sambil menggeleng kecil.
"Tapi..."
"Apapun syaratnya....Aku akan turuti." potong Jiwo kemudian dengan tatapan tanpa keraguan.
Waktu? Sudah sekian tahun waktunya terlewati hanya untuk perempuan ini. Tak masalah bila harus melanjutkannya sebentar lagi.
Keikhlasan menerima? Akan dia buktikan seumur hidupnya nanti tentang itu.
Penghargaan? Dia akan beri itu selama- lamanya.
Apalagi?
Apapun itu Jiwo siap menerima.
"Kamu seyakin ini ya, Wo?" desah Witri resah, entah oleh apa.
"Iya. Aku seyakin ini. Kenapa? Kurang lebih meyakinkan lagi?" tantang Jiwo kemudian.
Witri menggeleng kecil.
"Aku yang jadi takut sendiri kalau kamu begini yakinnya." gumam Witri seperti keluhan untuk dirinya sendiri.
"Takut kenapa?" tanya Jiwo lembut.
__ADS_1
"Aku takut nggak bisa mengimbangi besarnya cintamu. Aku takut nanti kamu kecewa" kata Witri dengan raut sedih.
"Kamu sudah nggak mencintaiku?" tanya Jiwo dengan tatapan sedikit terluka walau bibirnya menyematkan senyum kecil.
"Bukan begitu." sahut Witri cepat.
"Tapi kamu tahu kalaucintaku padamu pernah terjeda oleh cintaku pada Mas Hari." sambung Witri kemudian.
Ya. Harus Witri akui dia mencintai suaminya. Walau rasa cinta itu dulu tumbuh secara perlahan,seiring kebersamaan mereka dulu.
Bahkan kerinduan akan kehangatan lelaki itu masih sering mengusik malam- malamnya.
Itu yang membuat Witri kini meragu sendiri atas perasaannya pada Jiwo.
Apakah dia masih mencintai lelaki ini sedalam dulu?
Walau pada kenyataannya selama ini hanya Jiwo lelaki yang ada di benaknya selain Hari, namun cukupkah itu untuk dijadikannya bekal untuk mendampingi Jiwo nantinya?
"Tak apa cintamu nggak sebesar cintaku. Seiring waktu, cintamu nanti pasti akan bisa mengimbanginya." kata Jiwo sambil kembali membawa Witri ke pelukannya.
"Dulu kita sudah sepakat akan menikah setelah seribu harinya mas Hari." kata Witri mengingatkan pembicaraan mereka saat Jiwo tiba - tiba muncul di kotanya.
"Aku masih ingat itu, Sayang. Dan kalau kamu masih tetap ingin seperti itu, aku nggak masalah." kata Jiwo mengerti.
"Tapi kalau boleh jujur, setelah yang barusan terjadi, aku merasa berat banget buat nunggu selama itu." kata Jiwo dengan wajah putus asa.
"Kenapa?" tanya Witri heran.
"Masak iya dalam dua tahun ke depan aku cuma bisa membayangkan dan mengenal rasa bibrmu aja. Berat sayaaaang .." rajuk Jiwo yang langsung disusul cubitan pedih di perutnya.
"Pulang sana! Pulang!" usir Witri sambil mendorong lengan Jiwo agar berbalik menuju ke arah pintu keluar.
Jiwo terkekeh- kekeh mencoba menahan tubuhnya agar tak bergerak oleh dorongan kedua tangan Witri di punggungnya.
"Kenapa nggak jadi tuan rumah yang ramah sih kamu? Nawarin nginep kek." kata Jiwo sambil meringis meledek.
"Dih! Jangan mimpi kamu, Kisanak!" seru Witri tertahan sambil tetap mendorong punggung Jiwo.agar segera keluar kamar.
"Ini udah tengah malem,Sayang. Aku takut pulang. Takut di culik." kata Jiwo dengan nada memelas
"Jangan ngadi- adi ya kamu." kekeh Witri.
Dua langkah lagi mencapai pintu, Jiwo tiba- tiba berbalik dan kembali memeluk Witri.
"Goodnight kiss dulu deh kalau gitu." kata Jiwo kemudian langsung kembali bersilaturahmi ke bibir Witri tanpa permisi.
Witri yang tak menduga pergerakan Jiwo hanya bisa mematung saat kembali merasakan sentuhan lembut di bibirnya. Sentuhan sangat dalam walau tak selama tadi.
"Aku pulang dulu ya, Sayang. Mau langsung mandi." pamit Jiwo sambil meringis.
"Mandi?" tanya Witri keheranan. Tengah malam sedingin ini mau mandi? Kurang kerjaan banget
"Butuh peredam api yang bekobar- kobar.", jawab Jiwo sambil mengedipkan sebelah matanya.
Astaga.....Witri tergelak begitu mengerti maksud Jiwo.
"Yang sabar ya....Selamat mandi." kata Witri sambil membukakan pintu kamarnya.
"Boleh minta bantuan sabun, Mas." ledek Witri begitu Jiwo berada diluar pintu dan Witri bergegas menutup pintunya.
Jiwo mengeram keki.
"Dasar cewek nggak bertanggung jawab." kata Jiwo sambil menempelkan bibirnya di pintu. Dia yakin Witri masih ada di balik pintu itu dan pasti sedang menertawakannya dengan penuh kemenangan.
Nasiiiib.....nasiiiib.....
__ADS_1
...💦 b e r s a m b u n g 💦...
Panas sekali ya akhir- akhir ini....🥵🥵🥵