
"Gimana, Wo?" tanya Kyu sambil menepuk pelan lengan Jiwo yang langsung terlonjak kaget.
"Ha? Apa?" tanya Jiwo di tengah kekagetannya.
Kyu menggeleng agak kesal. Sejak tadi Jiwo seperti nggak bisa di ajak ngobrol. Kelihatan sekali dia sering melamun.
"Kamu ada masalah?" tanya Kyu kemudian.
"Enggak." jawab Jiwo setelah bisa meredakan kekagetannya.
"Trus kenapa melamun terus dari tadi? Ada masalah apa? Cerita saja. Kalaupun aku nggak bisa menolong atau membantu, setidaknya kekusutan pikiranmu bisa sedikit terurai dengan cerita ke seseorang." kata Kyu bijaksana.
Jiwo masih bertahan untuk tak bercerita. Dia bingung mau cerita bagaimana.
"Apa yang bikin kamu gelisah? Pacarmu?" tanya Kyu belum menyerah.
"Hmm..." jawab Jiwo akhirnya.
"Kenapa dia? Selingkuh? Atau minta putus karena kelamaan nunggu?" tebak Kyu kemudian.
"Bukan keduanya." jawab Jiwo pelan.
"Lalu apa? Kamu rindu dia? Pengen ketemu? Pengen peluk?" tanya Kyu sambil tersenyum- senyum. Jiwo ikut tersenyum walau yang keluar adalah senyuman kecut.
Rindu? Iya. Iya banget malah.
Pengen ketemu? Pastinya! Tapi nggak bisa sampai kontrak kerjanya selesai.
Pengen peluk dia? Itu mimpi besarnya. Ingin dia lakukan sepulang dari Korea dan setelah melamarnya. Tapi itu masih lama terjadinya.
Dan benarkah akan bisa terlaksana?
Jiwo merintih sedih sendiri di dalam hatinya.
Sudah setahun lebih dia kembali menjalin komunikasi dengan Witri. Bahkan kini Aksa sudah hampir berumur enam bulan. Jiwo merasa perjuangannya merebut hati Witri belum menunjukkan perkembangan yang berarti.
Bahkan semalam hatinya dibuat sakit saat Witri menanyakan gadis mana yang sekarang menjadi kekasihnya.
"Kok nanyanya gitu? Ya nggak ada cewek lain lah! Aku kan nunggu kamu Wit." kata Jiwo kembali dan selalu menegaskan tentang hal itu.
"Wo, kalau boleh aku menyarankan, coba buka hati kamu buat orang lain. Aku takut aku nggak bisa nerima kamu lagi nantinya. Waktu kamu akan terbuang percuma hanya buat aku yang kayak gini." kata Witri setelah sempat saling terdiam.
Jiwo merasa terusir saat Witri berbicara seperti itu. Sungguh, sakit sekali rasanya.
"Kenapa aku harus mencoba seperti itu? Gimana kalau ternyata nantinya aku sudah membuka hati untuk orang lain dan ternyata kamu bisa menerima aku lagi? Bisa kamu bayangkan bagaimana sedihnya? Bukan hanya kita berdua yang akan sedih dan menyesal seumur hidup, tapi seseorang yang kubukakan pintu hatiku juga akan terluka." kata Jiwo.
__ADS_1
"Dia nggak perlu terluka karena dia akan tetap memiliki kamu. Kalau itu terjadi, pasti aku yang akan pergi agar kalian tetap bahagia." kata Witri sambil tersenyum.
"Jangan mengusirku selama kamu masih sendiri. Aku pasti akan pergi sendiri kalau kamu sudah ada yang memiliki." pangkas Jiwo sebelum Witri memperlebar pembahasan soal buka membuka hati.
"Wo...aku ngerasa nggak adil tahu nggak sih sama kamu?" kata Witri setengah kesal.
Bandel banget sih jadi orang!, batinnya.
Witri nggak suka ditunggu. Penantian Jiwo itu jadi beban tersendiri buatnya yang kini merasa tidak yakin bisa jatuh cinta lagi kepada siapapun itu.
Dulu memang dia cinta sekali pada Jiwo. Sungguh. Bahkan impian masa depan indahnya adalah hidup bersama Jiwo selamanya.
Namun sekarang, saat dia sudah merasakan ketulusan cinta Hari, dia merasa rasa cintanya pada Jiwo bukan tandingannya.
Dan seandainya pun nanti Jiwo bersedia hidup bersamanya dan Aksa, apakah cinta Jiwo nggak akan dia bandingkan dengan cinta Hari?
Tanpa sadar Jiwo menghela nafasnya sesak saat ingat Witri mengatakan semua itu dengan gamblang.
Sakit rasanya. Sakit banget malah. Tapi dia bisa apa?
Walau merasa 'terancam' nantinya akan selalu dibandingkan dengan almarhum Hari, Jiwo bisa merasa yakin kalau dia bisa dan mampu menandingi Hari dalam hal mencintai dan melindungi kedua sosok peninggalan Hari itu.
Jiwo hanya butuh diberi kesempatan untuk membuktikan itu. Hanya itu.
Saat tengah sama- sama terdiam, tiba- tiba terdengar suara seorang lelaki di dekat Witri.
"Aksa bangun, Wit." itu yang Jiwo dengar sebelum Witri dengan panik langsung menyudahi obrolan mereka dan mematikan sambungan telepon.
Mendengar suara laki- laki lain di dekat Witri saja hatinya sudah kalang kabut, apalagi saat Jiwo menyadari kalau di rumah Witri saat ini udah sangat malam untuk seseorang bertamu apalagi itu lawan jenis. Tapi kenapa Nadi ada disana hingga selarut ini?
Jiwo mengirim pesan untuk menanyakan soal keberadaan Nadi di rumah Witri di larut malam seperti ini. Namun ternyata pesannya tak terbaca hingga pagi bahkan siang ini. Bahkan bukan centang dua yang ada di pesan yang dikirim Jiwo, tapi centang satu yang tak bertambah jadi dua apalagi sampai berwarna biru. Berarti setelah bertelepon dengannya, Witri langsung mematikan ponselnya.
Bahkan beberapa kali panggilan telponnya ke Mamak di awal jam istirahatnya tadi tak terangkat.
Ada apa ini?
Nggak mungkin kan permintaan Witri semalam agar Jiwo berhenti adalah sebuah kode untuk benar- benar berhenti karena Witri sudah bersama Nadi?
Hati Jiwo semakin tak karuan saat berpikir dan membayangkan hal itu.
Apakah benar adanya ungkapan bahwa yang dekat akan lebih mudah memikat daripada yang sekedar punya niat?
"Astagfirullahaladzim ya Allah...!" seru Jiwo tanpa sadar sambil mengacak- acak rambutnya.
"Wo! Are you OK?" tanya Kyu setelah kaget dengan seruan Jiwo itu.
__ADS_1
"No! Aku sedang merasa gila saat ini." gumam Jiwo sambil berusaha menunjukkan senyumnya. Kyu menepuk pelan bahu Jiwo untuk menenangkan sahabatnya itu.
Tak ada yang ingin Kyu lakukan selain memberi ruang untuk Jiwo melepaskan kegundahan hatinya. Sahabatnya ini bukan tipe orang yang suka menceritakan hal- hal pribadinya. Apalagi masalah percintaannya.
Selama ini yang dia tahu adalah Jiwo memiliki seseorang yang ingin dia lamar begitu tugasnya di negara ini selesai. That's it. Tak ada cerita yang lebih panjang soal siapa sosok perempuan itu. Jangankan profesi atau seperti apa sosoknya, nama saja tak pernah keluar dari mulut Jiwo.
"Kalau butuh teman ngobrol soal ini, aku siap menemanimu,Wo." kata Kyu dengan wajah serius."Walaupun mungkin tak bisa memberi solusi jitu nantinya." sambungnya sambil terkekeh malu.
Jiwo mengangguk pelan. Masih bingung harus ngomongin bagian yang mana kalau akan cerita ke orang lain soal kegalauannya.
Jiwo sadar kalau hubungan yang dijalinnya dengan Witri pasti dianggapan orang lain adalah hubungan tak kasat mata atau bahkan fatamorgana karena pada faktanya tak ada satu ikatan jelas antara dia dan Witri selain janjinya untuk menunggu Witri.
Sebuah janji yang hanya keluar dari dirinya sendiri. Witri tidak pernah menjanjikan apapun padanya tentang hubungan mereka ini ke depannya.
Mereka tidak sedang terlibat dalam sebuah hubungan asmara atau ikatan intim lainnya. Mereka tak bisa di sebut pasangan kekasih sekalipun Jiwo selalu menganggap Witri adalah kekasihnya. Entah apa sebutan yang pas untuk hal yang tengah dijalaninya ini.
Bertepuk sebelah tangan atau bahkan punguk merindukan bulan?
Ingin meminta ketegasan Witri sekarang ini jelas nggak bisa. Dia sudah berjanji akan menanyakan soal perasaan Witri setelah seribu harinya almarhum Hari.
Payah sekali kan kesannya kalau dia harus melanggar janji itu? Janji yang dia buat sendiri tanpa Witri pinta.
Tapi kalau merenungkan ucapan Witri semalam yang kesannya 'mendesaknya' untuk move on, Jiwo saat ini jadi ragu akan perasaan Witri padanya.
Kehadiran pria lain di kehidupan Witri memang tak terpikirkan oleh Jiwo waktu itu. Dia pikir lingkaran kisahnya hanya akan berisi tentang Witri, kenangan Hari, dan penantiannya saja.
Namun bila kenyataan sekarang menyuguhkan kenyataan yang membuatnya bisa sesak dada gini lalu bagaimana?
Nadi tak pernah masuk dalam perhitungannya.
Selain dia tidak kenal, nama Nadi baru muncul di perbincangannya dengan Mamak dan Witri setelah dia ada di Korea ini. Cerita soal Nadi selalu terselip diantara obrolannya bersama Witri dan Mamak.
Jiwo mendengus sedih.
Apa iya dia harus kalah lagi mendapatkan Witri? Kalah lagi oleh seorang tentara yang selalu ada untuk Witri.
"Kyuuuu...aku galau." kata Jiwo akhirnya sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Kyu yang langsung meringis bingung.
"Ya jangan gini juga kepalamu,Wo. Kamu siap jadi bahan gossip kalau ada yang melihatmu bersandar manja padaku gini?" kata Kyu sambil terkekeh geli.
Jiwo bergegas mengangkat kepalanya dari bahu Kyu. Siapa yang sudi digosipkan jadi cowok jadi- jadian?
Ah, kegalauan kadang bikin tingkah jadi nggak terkontrol.
...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...
__ADS_1