
Witri mengerutkan alisnya saat obrolan dengan Hari tiba- tiba terputus. Dilihatnya ponselnya masih dalam mode panggilan.
Apa ponsel Hari habis baterai? Nggak biasanya suaminya itu sampai kehabisan baterai.
Witri memilih duduk di bangku dekat pintu masuk untuk menunggu Hari datang menjemputnya. Hatinya tiba- tiba gelisah dengan panggilan telpon yang tiba- tiba mati.
Waktu sepuluh menit yang dijanjikan Hari untuk sampai di tempatnya sudah lewat lima menit. Dan ini juga bukan kebiasaan suaminya yang molor dari janjinya.
Hati Witri kian gelisah.
Dicobanya lagi menghubungi Hari, namun tak tersambung. Witri sedikit tenang. Kemungkinan besar memang ponsel Hari habis baterai.
Tapi kalaupun ponselnya habis baterai, Hari tetap sudah sampai di kantornya. Tapi kenapa ini belum sampai juga?
"Mbak Witri...!" panggilan Bang Johan, satpam kantornya yang sedikit berteriak sambil berlari ke arahnya membuat Witri terlonjak di tempatnya duduk.
"Ke...kenapa Bang?" tanya Witri ikut panik melihat wajah pias Bang Johan.
Pikirannya langsung tak karuan.
"I...ini..Mas Hari bukan?" tanya Bang Johan sambil menunjukkan photo di ponselnya.
Kebetulan Hari sudah kenal dengan semua satpam di kantor Witri karena sering meluangkan waktunya untuk sekedar bertegur sapa saat menjemput Witri.
Witri menatap photo seorang pria yang terbaring di sebuah tandu.
"Astagfirullahaladzim...." gumam Witri dengan tubuh gemetar dan langsung terduduk dengan mata yang tak lepas dari layar ponsel.
Itu jelas wajah suaminya. Bahkan badge yang jelas terlihatpun adalah nama suaminya.
"Mari saya antar ke rumah sakit, Mbak." ajak Bang Johan dengan suara pelan agar Witri tak panik.
"Su..suamiku ke..kenapa, Bang?" tanya Witri masih dengan tubuh gemetar.
"Tertabrak mobil yang remnya blong, Mbak." jawab Bang Johan lirih dengan sikap waspada, khawatir Witri pingsan.
""Astagfirullahaladzim, Mas...." lirih Witri kembali terduduk. Dunianya serasa diguncang dengan tak beraturan.
"Ada apa, Han?" suara khawatir muncul dari pintu kantor. Pak Zulkarnain muncul dengan tatapan bingung melihat Witri yang menangis dan gemetar.
"Suami Mbak Witri barusan kecelakaan, Pak. Saya baru saja mengabari Mbak Witri." jawab Bang Johan pelan.
"Astagfirullahaladzim...Trus di bawa ke rumah sakit mana? Kamu tahu, Han?" tanya Pak Zulkarnain langsung terlihat tegang.
"Tahu, Pak. RSUD, Pak." jawab Bang Johan cepat.
"Ya udah. Ayo Wit, ku antar ke rumah sakit sekarang." ajak Pak Zulkarnain sambil sedikit mengangkat bahu Witri agar bisa berdiri.
Witri sudah tidak bisa berpikir lagi. Dia hanya menurut saat Pak Zulkarnain membimbingnya ke arah mobilnya yang kemudian melaju dengan kecepatan semaksimal yang bisa dilakukan di jalanan yang lumayan padat karena masih berada di jam- jam pulang kerja.
Pun masih tetap tak bisa berpikir saat mobil sudah berhenti di area parkir rumah sakit kemudian Pak Zulkarnain membawanya ke bagian resepsionis untuk menanyakan posisi dimana Hari di rawat.
"Hari Prasetyo." jawab Witri saat suster bertanya siapa nama pasien yang dicarinya.
"Korban kecelakaan ya,Bu?" tanya suster itu ramah setelah sekilas menatap layar komputer didepannya.
"Iya, Sus." jawab Witri kembali ingin menangis.
"Masih di IGD, Bu." jawab suster sambil tersenyum penuh simpati pada Witri yang bergegas menuju IGD setelah mengucapkan terimakasihnya.
"Pak Zul bisa pulang kalau Bapak ada keperluan lain, Pak. Terimakasih sekali sudah mengantarkan Saya sampai sini." kata Witri setelah menyadari keberadaan atasannya di sampingnya berjalan.
Dia ingat obrolan Pak Zul di kantor dengan teman- temannya yang lain kalau akan mengantarkan anak bayinya imunisasi sore ini.
"Iya. Nanti aku langsung pamit kalau sudah tahu kondisi suamimu." kata Pak Zul sambil tersenyum.
Jantung Witri yang sudah bertalu- talu tak beraturan sejak tadi semakin terasa lebih kencang detakannya begitu memasuki bangsal IGD. Matanya menyapu seisi ruangan IGD untuk mencari tahu keberadaan suaminya di salah satu ranjang yang berjajar cukup banyak.
Dilihatnya Pak Zul mendekat ke meja administrasi dan berbincang sebentar sebelum kembali mendekat ke arahnya yang malah terpaku melihat seorang anak yang tengah dikejutkan jantungnya oleh seorang dokter. Di samping kepala anak itu nampak seorang perempuan dengan wajah pucat pasi menangis tanpa suara namun airmata sangat deras mengalir di pipi.
Sangat jelas esa ketakutan dan juga kepasarahan di wajah perempuan itu.
"Suamimu di ujung sana, Wit." kata Pak Zul mengagetkan Witri dan segera mengalihkan perhatiannya dari peristiwa sendu di depannya.
Diikutinya langkah Pak Zul dengan langkah yang terasa sangat berat namun mengambang.
Witri hanya mampu berdiri terpaku saat Pak Zul menyingkap sedikit tirai pemisah antara satu ranjang dengan ranjang lainnya.
Dilihatnya suaminya nampak terpejam tanpa terlihat luka di tubuhnya yang masih terbalut seragamnya.
__ADS_1
Hanya ada alat bantu pernafasan yang terlihat menempel di tubuh Hari.
Di samping Hari nampak seorang pria yang Witri kenali sebagai komandan Hari yang baru.
"Belum siuman." kata Pak Nadi, komandan Hari itu saat dilihatnya Witri perlahan mendekat dengan airmata yang langsung bercucuran.
"Kebetulan Saya pas lewat di lokasi, jadi Saya bisa temani Hari dulu. Siapa yang ngasih tahu Mbak Witri?" Witri bisa mendengar suara Pak Nadi namun dia tak ingin menjawab pertanyaan yang tiba- tiba tak dimengertinya itu.
Perhatiannya langsung tercurah penuh ke tubuh Hari yang nampak tenang terbaring. Bahkan suaminya itu nampak sangat tenang dengan segurat senyum di dalam lelapnya. Seperti saat tidur biasanya.
Dia masih hidup kan? Dia cuma pingsan kan? hanya pertanyaan di batinnya itu yang kini terdengar memenuhi gendang telinganya.
"Tadi di kasih tahu satpam lewat berita di groupnya. Witri biasa nunggu di jemput suaminya pulang kerja." terdengar suara Pak Zul menanggapi Pak Nadi.
"Kejadiannya gimana tadi?" terdengar kembali suara Pak Zul.
"Ada mobil remnya blong, banting stir langsung nabrak motor. Motor kelempar dan kena Hari. Dadanya yang kena." kini suara Pak Nadi yang di dengar Witri.
Tanpa sadar tangan Witri mengelus dada Hari yang sudah terbalut baju pasien.
"Pasti sakit banget ya, Mas." lirih Witri dengan airmata yang semakin deras.
"Dokter sedang menyiapkan ruang rontgen dan CT scan. Mungkin sebentar lagi. Tadi dokter bilang kemungkinan ada rusuk dan tulang belikat atau mungkin tulang selangka yang patah." kata Pak Nadi yang membuat Witri semakin deras menitikkan airmata.
"Nggak ada luka luar yang keliatan..." terdengar lagi suara Pak Zul. Reflek Witri memindai lengan kanan dan kiri Hari untuk melihat luka gores atau lebam. Hanya ada sedikit luka gores di siku dan sudah di obati.
Entah kalau di kaki atau di bagian dalam tubuhnya.
Witri bergegas berdiri saat dilihatnya seorang dokter dan dua perawat laki- laki mendekati ranjang Hari.
"Pasien bisa kita bawa ke bagian Rontgen sekarang, Pak." kata dokter itu sambil menatap Pak Nadi lalu beralih ke arah Witri.
"Istrinya pasien, Dok." kata Pak Nadi menjelaskan.
"Alhamdulillah sudah bisa didampingi keluarga. Mari Bu kita bawa suaminya ke ruang rontgen." kata dokter setengah bawya itu dengan ramah.
Witri menatap bingung dan cemas kepada Pak Nadi.
"Nggak papa. Temani Hari dulu. Saya bereskan administrasinya dulu lalu nanti saya akan nyusul." kata Pak Nadi memenangkan. "Yang kuat." kata Pak Nadi kemudian menepuk lembut bahu Witri sekilas sebelum beranjak ke bagian administrasi.
"Witri, aku pamit sekarang nggak apa ya?" tanya Pak Zul dengan wajah rikuh.
"Nggak papa,Pak. Terimakasih sekali sudah menemani Saya. Maaf merepotkan." kata Witri dengan wajah terharu.
"Nggak ngrepotin sama sekali." sergah Pak Zul cepat.
"Akan aku utuskan cuti buatmu. Tiga hari dulu. Gimana?" tawar Pak Zul.
"Iya. Terimakasih banyak Pak." kata Witri dengan senyum tipis.
Pak Zul pergi setelah menemani Witri mengurus admistrasi di bagian rontgen.
Meninggalkan Witri yang duduk termangu di sebelah pintu masuk. Menatap penuh resah ke arah brankar yang mulai tak terlihat oleh matanya karena terhalang pintu yang mulai menutup.
"Jangan lama- lama sakitnya, Mas. Aku takut dimarahi Ibu kalau kamu sakit. Aku pasti dibilang istri yang nggak becus jaga suami." gumam Witri sangat lirih.
Ibu. Bapak.
Dia bingung apakah harus mengabari mertuanya sekarang atau nanti saja saat kondisi Hari membaik.
Dia hanya mengguling- gulingkan ponselnya di pangkuannya karena bingung.
"Belum selesai?" Witri terlonjak mendengar suara berat di sampingnya.
Pak Nadi sudah duduk di sampingnya dengan sedikit gelisah.
Kapan datangnya orang ini? Kok aku nggak tahu...
"Belum, Pak. Belum lama masuknya." jawab Witri setelah berhasil mengatasi kekagetannya.
"Sudah mengabari orangtua belum?" tanya Pak Nadi kemudian.
"Be...belum,Pak." jawab Witri dengan bimbang.
"Kenapa?"
"Ha?"
"Kenapa nggak segera mengabari? Takut? Atau lagi musuhan sama orangtua?"
__ADS_1
"Nggak! Enggak, Pak. Enggak musuhan." jawab Witri cepat.
"Kalau begitu kabari mereka tapi jangan bikin mereka cemas.Minta doa mereka." kata Pak Nadi kemudian dengan tatapan tenang. Witri mengangguk pelan kemudian memegang ponselnya namun masih terlihat bingung.
Dia bingung mau menelpon siapa dulu.
"Telpon bapakmu dulu saja. Kalau nelpon perempuan dulu pasti histeris dan heboh, malah bisa bikin kamu tambah panik nanti." kata Pak Nadi memberi saran lagi. Witri kembali mengangguk.
Dengan hati berdebar kencang dan jemari yang masih gemetar, Witri menghubungi bapak mertuanya.
Rasanya ingin saja dia matikan panggilan itu saat di deringan kedua langsung terdengar suara bapak mertuanya.
Witri tiba- tiba gagu dan semakin gemetar.
Beberapa kali panggilan mertuanya di seberang telpon tak sanggup dia jawab karena mulutnya seperti membeku tak bisa bergerak.
Dia bahkan hanya bisa menatap dalam kebekuan saat ponsel di tangannya diambil dengan lembut oleh Pak Nadi.
"Assalamualaikum, Pak..."
"...."
"Iya,Pak. Ini teleponnya Mbak Witri."
"...."
"Saya komandannya Hari, Pak."
"..."
"Kami mau mengabarkan kalau Hari mengalami musibah sore ini. Tertabrak mobil dan saat ini sedang di rontgen untuk tahu seberapa parah akibat benturan tadi. Istrinya ada disini, tapi masih shock, Pak." jelas Pak Nadi sambil sekilas menatap Witri yang nampak kebingungan menatapnya.
"Siap, Pak. Mohon kiriman doanya buat kesehatan Hari ya, Pak. Assalamualaikum." kata Pak Nadi kemudian memainkan jarinya di atas ponsel untuk beberapa saat sebelum mengembalikan ke dalam genggaman tangan Witri tanpa bersuara.
Mulut Witri yang akan membuka kembali urung saat dilihatnya pintu ruangan -dimana Hari tadi dibawa masuk ke dalamnya- terbuka dengan lebar lalu muncullah brankar yang membawa Hari yang masih saja terpejam.
Kamu belum bangun juga, Mas...
"Gimana kondisinya?" tanya Pak Nadi pada perawat lelaki yang membawa brankar Hari.
"Nanti hasilnya akan diberitahu sama dokter, Pak. Sabar dulu ya." jawab perawat laki- laki yang mendorong brankar dengan tersenyum ramah.
"Ah ya." jawab Pak Nadi seperti baru sadar dengan sikap agresifnya.
Kini Witri dan Pak Nadi mengiringi Hari dengan berjalan di sisi kanan dan kiri ranjang yang di dorong dengan tanpa tergesa.
"Kita mau kemana sekarang?" tanya Pak Nadi setelah beberapa saat mereka semua membisu.
"MRI, pak." jawab perawat dengan singkat.
"OK." jawab Pak Nadi cepat.
Dalam hati Witri sangat berterimakasih dengan keberadaan Pak Nadi menemaninya.
Lewat Pak Nadi,semua pertanyaan di kepalanya seperti langsung diwakili mencari jawabnya oleh Pak Nadi.
Proses MRI berjalan dengan lancar, dan akhirnya Hari dimasukkan ke ruang ICU.
Airmata Witri kembali menggenang saat mengetahui Hari dimasukkan ke ruang ICU.
Baginya yang orang awam, ICU seolah salah satu pintu gerbang menuju kematian.
*Aku nggak mau kamu pergi,Mas...
Jangan tinggalin aku sekarang...
Aku nggak mau*...
Jerit batin Witri tak berhenti seiring dengan isakan dan lelehan airmata yang berusaha terus dia hapus.
Dia malu pada Pak Nadi yang terus menatapnya dengan khawatir. Tapi air matanya juga seolah tak ingin berhenti untuk menunjukkan betapa sedih hatinya saat ini.
"Saya ke mushola dulu. Nanti Saya akan di sini bergantian dengan tetanggamu untuk menemanimu. Jangan sedih dan takut, kamu nggak sendirian melewati ini." kata Pak Nadi sebelum Witri masuk ke ruang ICU untuk menemani Hari.
"Terimakasih banyak, Pak. Maaf sudah sangat merepotkan." kata Witri sambil tertunduk karena airmatanya kembali luruh.
"Nggak ada yang direpotkan. Kita semua keluarga disini. Sudah, masuklah. Kasihan Hari sendirian nanti." kata Pak Nadi mengakhiri obrolan mereka.
...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...
__ADS_1
Ayuuuk...jangan lupa gambar jempol di sudut kiri di tekan ya...😄😄😄